Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

No description
by

Norman Sasongko

on 9 October 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

Sunnah dalam arti syariah yaitu apa yang bersumber dari Rasul baik perkataan, perbuataan,dan ketetapan.
MENURUT HASBI , Sunnah mempunyai 2 sifat
Penetapan hukum (tasri)
Pedoman untuk menetapkan suatu hukum, di gunakan untuk memenuhi hajat manusia kepada hukum dan tata aturan hidup, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan pergaulan hidup masyarakat.
Kedudukan Sunnah dan Fungsinya
Kedudukan sunnah dan menurut dalil syara berada pada posisi keduan setelah Al-QURAN.
AS-Sunnah berfungsi sebagai penjabar atau penjelas dari AL-QURAN
FUNGSI-FUNGSI AS-SUNNAH terhadap AL-QURAN
AS-Sunnah berfungsi memperkuat apa yang telah ditetapkan oleh AL-QURAN
As-sunnah berfungsi sebagai memperjelas atau merinci apa yag telah digariskan dalam Al-qur’an (penjelasan dari ayat yang mujmal).
As-sunnah berfungsi sebagai menetapkan hukum yang belum diatur dalam Al-qur’an.
Tiga bentuk Sunnah
Sunnah Qauliyah(ucapan)
Sunnah Filiyah (perbuatan)
Sunnah Taqriyah (persetujuan)
SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM
PEMBAGIAN AS-SUNNAH BERDASARKAN SANAD
Sunnah mutawatir (hadits mutawatir)
Sunnah masyurah (hadits masyur)
Sunnah ahaad (sunnah ahad)
KEHUJJAHAN HADITS
Sudah menjadi kesepakan dari kalangan kaum muslimin bahwa sunnah rasulullah yang dimaksudkan sebagai undang-undang dan pedoman umat yang harus diikuti asal saja sampainya kepada kita dengan sanad (sandaran) yang sahih, hingga memberikan keyakinan yang pasti (mutawatir) atau dugaan yang kuat (ahad) bahwa memang benar datang dari rasulullah adalah menjadi hujjah kaum muslimin dan sebagai sumber hukum dari mujhtahid, untuk memetik hukum syara’.

Argumentasi tentang kedudukan sunnah sebagai hujjah tersebut berdasarkan dari beberapa ayat Al- qur’an, as-sunnah, ijma’ sahabat dan logika :
Surat Ali-imran : 32
Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

Surat An-nisa : 59
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Hadits rasulullah SAW yang artinya :
“aku menasihatkan kepada kamu agar kamu taqwa kepada Allah, taat dan patuh, biarpun seorang hmaba sahaya yang memerintah kamu, sungguh orang yang hidup lama diantara kamu nanti, bakal mengetahui adanya pertentangan-pertentangan yang hebat. Oleh karena itu hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnah ku, sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah dengan taringmu jauhkan mengada-adakan perkara, sebab perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah padahal setiap bid’ah itu tersesat dan setiap yang tersesat itu dineraka”.
Ijma’ para sahabat
Bahwa selama mereka tidak mendapatkan ketentuan hukum suatu kejadian di dalam Al-qur’an, maka mereka meneliti hadits yang dihafal oleh para sahabat dan tak seorang pun diantara mereka yang mengingkari sunnah rasulullah apabila yang diriwayatkan oleh sahabat lama itu dapat diiyakini kebenarannya.
Secara logika memang logis, karena :
Al-qur’an sebagai undang-undang dasar asasi tidak menjelaskan secara rinci baik mengenai cara-cara melaksanakan maupun syarat dari beberapa perintah yang membebaninya kepada umat, jadi sunnah lah yang menjelaskan rinciannya adalah rasulullah baik dengan perkataan, perbuatan ataupun pengakuannya.
Andai kata sunnah tidak berfungsi sebagai hujjah, maka sulitlah manusia untuk melaksanakan perintah Allah karena tidak tahu cara-cara dan syaratnya.
AS-SUNNAH YANG QHAT’I DAN DZANNI
Dilihat dari segi datangnya (wurudnya),hadits mutawatir dan mansysurah termasuk sunnah yang Qhat’I, sedangkan hadits ahad termasuk sunnah yang Zhanni karena sanadnya tidak pasti atau berainan.
Dengan demikian, dari segi datangnya sunnah itu ada yang Qhat’I dan ada pula yang Zhanni sebagaimana pada Al-qur’an.
KELOMPOK 6
Muhammad Hafidz
Hertiana Eva Y. L. T
Norman Sasongko
Riska Kurnia devi
Arif Gustian Setiaji
Full transcript