Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

MANAJEMEN PENDIDIKAN SEKOLAH INKLUSI

No description
by

Syahrul Satura

on 9 December 2016

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of MANAJEMEN PENDIDIKAN SEKOLAH INKLUSI

Apa itu pendidikan inklusi?
Pendidikan inklusi merupakan program pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah bagi seluruh peserta didik termasuk ABK yang dilibatkan dalam kurikulum, lingkungan, dan interaksi yang ada di sekolah.
Manajemen Pendidikan Sekolah Inklusi
Merupakan proses pengaturan dan pengelolaan sumber daya dalam penyelenggaraan sekolah inklusi yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, berkaitan dengan tujuan, efektivitas, serta efisiensi penyelenggaraan sistem pendidikan bagi seluruh siswa tanpa terkecuali.
Menurut Depdiknas Direktorat PSLB (2007, hlm. 10-18), manajemen inklusi meliputi:
manajemen komponen;
manajemen pelayanan khusus;
manajemen mutu terpadu.
Manajemen Komponen
Manajemen kesiswaan
Manajemen kurikulum
Manajemen proses pembelajaran
Manajemen proses penilaian
Manajemen pendidikan dan tenaga kependidikan
Manajemen sarana dan prasarana
Manajemen pembiayaan
Manajemen sumber daya masyarakat
Manajemen pelayanan khusus
Dalam pelaksanaan manajemen pelayanan khusus ini tenaga kependidikan khusus bertanggung jawab dalam hal sebagai berikut (Depdiknas Direktorat PSLB ,2007, hlm.16).

Manajemen Kepesertadidikan
Manajemen kepesertadidikan ini meliputi perencanaan dan pelaksanaan asesmen baik asesmen psikologis, akademis dan fisik, dalam rangka membuat profile peserta didik.
b. Manajemen Kurikulum

Manajemen kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan khusus peserta didik yang diperoleh dari profile tiap-tiap peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. Secara diagramatis manajemen kurikulum pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusi dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2 Sistem Manajemen Sekolah Penyelenggara Pendidikan InklusiSumber: Depdiknas Direktorat PSLB ,2007, hlm.15
c. Sarana Prasarana

Dalam Pedoman Khusus Penyelenggraan Pendidikan Inklusi (2007, hlm. 12), anak berkebutuhan khusus memerlukan sarana prasarana dalam proses pembelajaran di sekolah meliputi peserta didik:

(1) tunanetra/low vision; kaca mata, teleskop, reglet, mesin ketik Braille; (2) tunarungu seperti; alat bantu dengar, alat pengukur tingkat pendengaran, kamus sistem isyarat bahasa Indonesia; (3) tunagrahita dan berkesulitan belajar; alat bantu belajar mengajar; (4) tunadaksa, seperti: ramp (lantai landai sebagai pengganti tangga), kursi roda; (5) berbakat (gifted and talented): buku-buku referensi, alat praktek, laboratorium, alat kesenian dan olah raga yang memadai untuk memenuhi rasa ingin tahu dan minat anak berbakat.
GOAL!
MANAJEMEN PENDIDIKAN SEKOLAH INKLUSI
Nisa Jihan Novala
Rani Fitriani
Rizkia Nur Utami

Siti Nurul Zanah
Syahrul Satura
Zenica Sonia P

Manajemen Mutu Terpadu
Dalam pelaksanaan sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, pengelolaannya dilandasi oleh pola manajemen mutu terpadu, meliputi prinsip-prinsip (Depdiknas Direktorat PSLB ,2007, hlm.16-17) sebagai berikut:
mengutamaan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) seluruh peserta didik, orang tua, dan masyarakat terutama dalam proses pembelajaran di sekolah;
perbaikan terus menerus (continous improvement) dengan melaksanakan evaluasi program
kebiasaan berbicara dan komunikasi dengan fakta (speeking with fact), dengan melakukan pengoleksian data (colecting data), pengolahan data dan penyajian data, tentang kepeserta didikan, sarana dan prasarana, ketenagaan, keuangan, kurikulum dan sistem evaluasi;
d. sikap menghargai orang lain (respect for people) yang diwujudkan dalam suasana sekolah yang akrab dan ramah terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.
d. sikap menghargai orang lain (respect for people) yang diwujudkan dalam suasana sekolah yang akrab dan ramah terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.

Mekanisme peningkatan mutu terpadu pada pengelolaan sekolah inklusi dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan PDCA yaitu melalui pentahapan perencanaan atas aspek yang akan ditingkatkan mutu layanannya (Plan), selanjutnya di tindaklanjuti dengan tindakan langsung (Do) setelah semuanya berjalan, dilakukan cek bagaimana pelaksanaannya (Check), apakah sesuai dengan perencanaan atau tidak, dan langkah akhir dari kegiatan peningkatan mutu adalah melakukan tindakan lanjut (Action) (Depdiknas Direktorat PSLB ,2007, hlm.17).
Pembagian Tugas Pimpinan Sekolah Inklusi
1. Kepala Sekolah
2. Wakil Kepala Sekolah
3. Tata Usaha
4. Guru Pendidikan Khusus (GPK)
5. Guru Kelas
6. Guru Mata Pelajaran
7. Tenaga Ahli
8. Peserta Didik
9. Komite Sekolah
10. Guru Bimbingan dan Konseling
Pembinaan Sekolah Inklusi
Berdasarkan pedoman umum penyelenggaraan pendidikan inklusi Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral MANDIKDASMEN Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (dalam Ardana, 2014, hlm. 4) dalam mekanisme penyelenggaraan pendidikan inklusi, calon sekolah penyelenggara pendidikan inklusi harus memenuhi kriteria sebagai berikut meliputi:

Kesiapan sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan inklusi (kepala sekolah, komite sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua);
Terdapat anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah;
Tersedia Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari PLB (guru tetap sekolah atau guru yang diperbantukan dari lembaga lain);
Komitmen terhadap penuntasan wajib belajar;
Memiliki jaringan kerjasama dengan lembaga lain yang relevan;
Tersedia sarana penunjang yang mudah diakses oleh semua anak;
Pihak sekolah telah memperoleh sosialisasi tentang pendidikan inklusi;
Sekolah tersebut telah terakreditasi;
Memenuhi prosedur administrasi yang telah ditentukan
Shapon-Shevin (dalam Ardana, 2014, hlm.20) mengemukakan lima profil pembelajaran di sekolah inklusi, meliputi;

Pendidikan inklusi berarti menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang hangat, menerima keberagaman, dan menghargai perbedaan.
Penerapan kurikulum yang multilevel dan multimodalitas dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi.
Pendidikan inklusi berarti mempersiapkan dan mendorong guru untuk mengajar secara interaktif.
Pendidikan inklusi berarti menyediakan dorongan bagi guru dan kelasnya secara terus menerus serta penghapusan hambatan yang berkaitan dengan isolasi profesi.
Pendidikan inklusi berarti melibatkan orang tua dalam proses perencanaan dan pendidikan inklusi sangat tergantung kepada masukan orang tua pada pendidikan anaknya.
Kegiatan monitoring dilaksanakan secara berkala, minimal satu kali dalam satu tahun (Direktorat PLB dalam Hastomo, 2015). Pembinaan, pengawasan, dan evaluasi menurut Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta yaitu:

Pembinaan, pengawasan, evaluasi penyelenggaraan pendidikan inklusi dilaksanakan oleh Dinas.
Pengawasan sekolah yang melaksanakan pendidikan inklusi dilakukan oleh Pengawas Satuan Pendidikan, Pengawas Pendidikan Luar Biasa (PLB), dan Pengawas Pendidikan Agama.

Laporan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Walikota.
Keuntungan dan Kelemahan Manajemen Sekolah Inklusi
Kelebihan atau keuntungan manajemen sekolah inklusif

Anak akan memperoleh keadilan layanan pendidikan,
Anak dapat berpartisipasi dalam kehidupan di sekolah tanpa memandang kekurangan yang disandang.
Anak merasakan perlakuan dan persamaan hak, harkat dan martabat dalam memperoleh layanan pendidikan
Anak dapat bergaul dan berinteraksi secara sehat dengan teman-temannya yang normal,
Kekurangan dari manajemen sekolah inklusif

Untuk dapat disebut sebagai sekolah inklusi dibutuhkan sarana dan prasarana yang dapat mengakses kebutuhan individual anak yang tidak gampang dipenuhi oleh sekolah yang telah menyatakan diri sebagai sekolah inklusi.
Untuk dapat disebut sebagai sekolah inklusi yang sebenarnya juga dibutuhkan tenaga pendidik dan tenaga non pendidik yang tidak serta-merta dapat dipenuhi oleh sekolah yang memproklamirkan diri sebagai sekolah inklusi.
Meskipun disebut sebagai sekolah Inklusi yang secara teoritis bisa menerima semua anak tanpa memandang normal atau tidak normal, namun dalam praktik di lapangan sekolah inklusi biasanya hanya menerima anak cacat yang berkategori ringan, bukan yang berkategori sedang atau berat.
Full transcript