Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Kampung Vertikal

No description
by

frisca Susanto

on 19 March 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Kampung Vertikal

Kampung Vertikal
Penghuni Kampung Kota
Para penduduk kampung secara ekonomi, sosial, dan budaya sebenarnya berintegrasi dengan penduduk kota.
Secara ekonomi, penduduk kampung kota ikut memberikan andil dalam perekonomian kota. Sektor-sektor informal mereka memberikan kemudahan bagi pekerja-pekerja kelas bawah untuk memiliki biaya hidup yang murah
Secara budaya, mereka memiliki keinginan yang sama seperti masyarakat kota pada umumnya untuk bekerja kelas dan menjai orang berhasil.
Secara sosial, mereka terbuang karena masyarakat kota seringkali melihat mereka sebagai 'sampah yang merusak citra kota'. Tetapi, di dalam lingkungan mereka, penghuni kampung kota memiliki organisasinya sendiri.
Lokasi Proyek
Kampung Kota
Kampung kota, atau ‘slum’ adalah sebutan untuk area permukiman bagi masyarakat menengah ke bawah.
Munculnya kampung kota dilatar belakangi oleh masalah ekonomi pedesaan yang membuat orang-orang dari desa mencari peruntungannya ke kota. biasanya, orang-orang ini tidak memiliki keterampilan khusus, sehingga mereka hanya dapat mendapatkan penghidupan dari sektor informal. (Urbanisasi)
Ciri-ciri Kampung Kota: Berletak di kawasan strategis, kepadatan tinggi, banyak terdapat sektor informal (seperti warung), Tidak ada kehidupan pribadi yang terpisah, spontanitas, prilaku yang bebas baik di rumah, maupun di jalanan, dan kekerasan dan kekuatan menjad penguasa.
Lokalitas
Ciri yang bisa mewakili sebuah tempat.
“Unsur alam dan raisonalitas manusia membangun sebuah bentuk arsitektur” - Vitruvius
Lokalitas bukanlah tentang mengulang sejarah, melaikan tentang bagaimana alam, budaya, dan manusia dia suatu tempat mempengaruhi tempat tersebut, menghasilkan sebuah kelokalan yang berbeda di setiap tempat.
Masalah Kampung Kota
Masalah kampung kota dapat dibedakan menjadi dua, yaitu masalah fisik dan masalah sosial.
Kampung Vertikal
Untuk menanggapi masalah membeludaknya jumlah penduduk dan masalah permukiman kumuh, maka diusulkan sebuah proyek 'Kampung Vertikal'.
Yang dimaksud dengan kampung vertikal di sini adalah sebuah hunian vertikal yang dibuat berdasarkan asas ‘kampung’, dimana nilai-nilai yang ada di dalam kampung diterapkan dalam bentuk bangunan bertingkat, sehingga dapat dihasilkan sebuah bangunan hunian yang tidak hanya padat, tetapi juga fungsional dan sesuai dengan pengguna.
Proyek Kampung Vertikal ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tempat hunian bagi masyarakat kelas bawah, dan diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menangani masalah permukiman kumuh dan kepadatan penduduk di kota

Lokalitas Dalam Permukiman
"Housing as a participatory process" - Turner, 1972:204
Turner juga berpendapat bahwa masyarakat harus lebih banyak mengatur proses pengadaan rumah, sehingga dapat menghasilkan lingkungan yang lebih baik dalam arti luas.
Dalam suatu permukiman, rumah merupakan bagian yang tidak dapat dilihat sebagai hasil fisik semata, melainkan merupakan proses yang berkembang dan berkaitan dengan mobilitas sosial–ekonomi penghuninya dalam suatu kurun waktu.
Paradigma sumber daya (Prawoto, dalam buku "Paradigma dalam Bidang Perumahan") melihat pembangunan perumahan sebagai hubungan antara unsur-unsur pendapatan, harga perumahan, biaya perumahan, dan aset (asset yang dimaksud adalah SDM yang dimiliki oleh penghuni, seperti keterampilan, pendidikan, dana, dll), dan menempatkan pemerintah sebagai “fasilitator” yang membantu masyarakat, memberikan wadah yang kondusif bagi masyarakat untuk membangun perumahan mereka.
Hasil Analisa Studi Kasus
Masalah Sosial
Perilaku Menyimpang
Keterasingan Sosial
Pengangguran dan Gelandangan
Sikap Otoriter dari Orang Kuat
Masalah Fisik
Masalah Kesehatan
Masalah kebersihan (yang biasanya berakibat pada banjir)
Rawan Kebakaran
Urbanisasi dan Kampung Kota
Kampung Kota merupakan bentuk dampak dari Urbanisasi
(Berdasarkan BPS Jakarta) Terdapat sekitar 20%-30% penduduk Jakarta yang tinggal di daerah pemukiman kumuh (Kampung Kota)
Tingkat Urbanisasi ke Jakarta yang setiap tahunnya terus meningkat dapat menyebabkan pembeludakkan pemukimah kumuh dalam bentuk Kampung Kota ini.
Kampung kota yang terus bertumbuh dan mengakibatkan banyak masalah pada akhirnya harus diperbaiki demi kebaikan kota.
Lokasi: Marunda, Jakarta Utara
Luas Bangunan: 5860m2/ Twin Blok
Jumlah Bangunan: 5 Twin Blok, 6 Lantai
Tipe Hunian: 30m2
Jumlah Unit hunian: 500 (100/Twin Blok)

Rumah Susun Marunda
Program Ruang Unit Hunian
Masalah Rumah Susun
Hanya memandang masalah permukiman sebagai sebuah masalah fisik
Melupakan faktor pehuni dalam proses perancangan
Kurangnya pemenuhan fasilitas umum bagi para penghuni
Denah
&
Tampak
Kampung Kali Code
Kampung Kali Code adalah sebuah perkampungan yang terletak di Yogyakarta, di tepi Kali Code. Sebelum tahun 1983, kampung yang berpenghuni sekitar 35 keluarga dengan reputasi slum area, sering dianggap sebagai sampah masyarakat, miskin, tidak sehat, serta populer dengan kasus-kasus kriminalitas dan prostitusi. Profesi para penghuni wilayah Gondolayu tersebut hanyalah seputar pengayuh becak, pemulung, atau pedagang asongan.
Arsitek Romo Mangun mejadi orang pertama yang mencetuskan rencana untuk memperbaiki kampung ini.
Program Perbaikan Kampung
Peta Tata Letak Perbaikan
Kampung
Gambar Perencanaan
Balai Kampung
Kampung Vertikal yang
Bhineka
Oleh Yu Sing
Konsep Bangunan
Menurut Yu Sing dan tim designnya, “KAMPUNG VERTIKAL merupakan TRANSFORMASI dari KAMPUNG eksisting STREN KALI, tanpa menghilangkan KARAKTER LOKAL dan KEKAYAAN BENTUK, WARNA, MATERIAL, VOLUME, GARIS LANGIT (skyline) bangunan, POTENSI EKONOMI, KREATIVITAS WARGA, dll”.
1. Maksimal 4 lantai.
2. Lantai 1 sebagai ruang publik :Warga terlibat dalam pengelolaan wisata dan penyediaan fasilitas lainnya (warung, restoran, toko oleh-oleh/kerajinan, pelatihan pengelolaan sampah, penginapan warga / homestay, dll). Penambahan fasilitas publik sebagai solusi saling menguntungkan dengan pemkot dan dapat meningkatkan ekonomi warga.
3. Tahap pembangunan dimulai dari pembangunan struktur rangka, pemilik masing2 hunian mengisi dinding dan lain-lain sesuai kebutuhan dan selera masing-masing.
4. Penggunaan kembali material bekas rumah warga (dengan sistem mosaik, penggabungan beberapa jenis material yang berbeda).
5. Hunian warga akan terdiri dari beberapa blok kampung vertikal yang saling terpisah sebagai antisipasi kebakaran dan kebutuhan ruang terbuka.
6. Pagar balkon / railing sebagai tempat jemuran.
7. Pemanfaatan atap maupun dinding sebagai tempat menanam aneka jenis pepohonan: sayuran, tanaman obat, rempah-rempah dan tanaman rambat.
8. Bentuk bangunan dikembangkan dari bentuk-bentuk geometri rumah warga di masing-masing kampung, yang beragam dan dinamis.
9. Warna-warni seperti rumah warga eksisting merupakan pembentuk suasana menyenangkan.
10. Pencahayaan alami dan ventilasi silang pada semua ruangan hunian.
Hunian Pada
Bangunan
Pada dasarnya, unit hunian dibuat berdasarkan modul ruang 4x4.
Gambar Eksterior Kampung Vertikal
1. Biaya pengerjaan. Pengerjaan bangunan bertingkat, terutama yang sudah melebihi 4-5 lantai, pastinya akan memerlukan keahlian khusus yang akan memakan biaya yang cukup besar.
2. Besaran ruang efektif. Karena biaya pengerjaannya yang cukup mahal, maka perlu diperhatikan besaran ruang yang efektif yang diperlukan sehingga besar hasil perancangan tidak akan berlebihan dan dapat membantu menekan biaya pengerjaan.
3. Pemilihan bahan dan konstruksi. Dalam pengerjaan bangunan bertingkat, bahan bangunan dan cara konstrukri bangunan sangat pelu diperhatikan. Bahan bangunan haruslah merupakan bahan yang murah, tetapi juga tahan lama dan kuat. Dan konstruksi bangunan haruslah sebuah konstruksi yang mudah dibangun agar biaya pengerjaan tidak melambung.
Hasil Analisa Studi Kasus , Dilihat Dari Sisi Hunian Bertingkat
Hasil Analisa Studi Kasus , Dilihat Dari Sisi Kampung dan Lokalitas
1. Penghuni kampung. Karena kampung ini dibangun bagi para penghuni, makan dalam proses perancangan pun harus memperhatikan para penghuni sebagai bahan pertimbangan. Sifat, kebiasaan, budaya dan ekonomi penghuni harus selalu menjadi dasar dalam melakukan perancangan.
2. Pembangunan untuk kemajuan. Tujuan dari pembangunan sebuah kampung adalah untuk meningkatkan taraf hidup para penghuni. Sehingga, perencanaan kampung vertikal harus mempertimbangkan bagaimana kampung vertikal yang dirancang ini dapat meningkatkan ekonomi dan kesehatan penghuni setempat.
3. Penggunaan bahan lokal. Melihat dari contoh kasus Kali Code dan Kampung Vertikal versi Yu Sing, keduanya memafaatkan bahan-bahan yang digunakan oleh para penduduk setempat untuk diterapkan dalam perancangan mereka.

Harus Memperhatikan :
Harus Memperhatikan :
Luas Wilayah : 31,80 Ha
Terdiri atas : 9 RW, 101 RT
Jumlah Penduduk : 27.679 Jiwa ( 4.869 KK )
Kepadatan : 87.040,38 jiwa/km2

Batas Wilayah
Utara: Kel. Jembatan Besi
Barat: Banjir Kanal Barat
Selatan: Kel. Duri Pulo
Timur: Kel. Duri Utara

Pekerjaan Penduduk
70% Home Industry (dalam bentuk konveksi, percetakan, dsb.), berdagang dalam bentuk warung (menjual makanan, kebutuhan rumah tangga, pulsa, dsb.), pekerja industry, pedagang kaki lima, dsb.

Pembagian Penggunaan Lahan
Perumahan : 94,40 %
Industry : 2,5 %
Kantor/gudang : 0,75 %
Lainnya : 2,35 %

Pembagian Jenis Hunian
Permanen : 40%
Semi Permanen: 57%
Non Permanen: 3%
Jumlah Rumah Tangga Miskin: 479
Kalianyar Terhadap Jakarta
Kelurahan Kalianyar
Berdasarkan kepadatan Penduduk
Peta Kawasan Strategis
Peta Pola Ruang
Kalianyar Terhadap Lingkungan Sekitar
1 : Stasiun Kereta Duri
2 : Kawasan perdagangan Roxy. Pada kawasan ini terdapat berbagai pusat perdagangan dan jasa yang berstandard menengah ke bawah.
3 : Universitas Trisakti
4 : Universitas Tarumanagara
5 : RS Suber Waras yang merupakan salah atu rumah sakit yang menerima pelayanan Kartu Sehat Jakarta
6: Season City, bangunan mix use dengan pusat perdagangan grosir pada lantai bawahnya.

Lingkungan Kelurahan Kalianyar
Peta Pembagian RW
Peta Persebaran Fasilitas Kampung
Besaran Proyek

Perencanaan pembangunan kampung vertikal ini akan mencakup keseluruhan Kelurahan Kalianyar sebagai sebuah masterplan. Keluarahan Kalianyar ini kemudian akan dibagi bersadarkan jalanan utama di dalam kelurahan yang membagi keluarahan menjadi 9 bagian. Setiap bagian ini kemudian akan mewakili 1 RW, dimana di dalam setiap RW akan dibagi kembali menjadi beberapa RT.

PERHITUNGAN JUMLAH UNIT HUNIAN

Jumlah Penduduk: 27.679 Jiwa
Jumlah KK: 7.019
Jumlah Penduduk/KK: 3,94 = ± 4 Jiwa/KK
(Diasumsikan bahwa setiap 1 KK = 1 hunian)

Jumlah Hunian Secara Keseluruhan: 7019 Hunian

Jumlah RT = 101
Jumlah RW = 9

Jumlah RT dalam 1 RW: 101:9 = ± 12 RT/RW

Jumlah Hunian: 7019 Hunian
Jumlah RT = 110

Jumlah Hunian Setiap 1 RT : 7019:110= 63,8 Hunian = ± 64 Hunian

Sehingga, banyaknya hunian dalam 1 RW yang akan dirancang secara mendetail adalah: ± 768 Hunian.

Analisa Program Ruang
Diagram Tipologi Kegiatan
Digram Penggunaan Ruang
Program Ruang
Zoning
Dari 4 lantai yang ada, akan dibagi kembali menjadi 2, dimana 3 lantai teratas akan dijadikan area hunian, dan 3 lantai terbawah akan dijadikan area fasilitas publik. Sirkulasi vertikal dianggap sebagai Jalan Lokal Sekunder, dan memiliki fungsi yang sama. Lorong-lorong area hunian menjadi gang.

Pada Dasarnya, kampung vertikal ini akan dinaikkan 4 lantai ke atas. Tujuannya adalah agar tidak memerlukan adanya lift (berdasarkan kemampuan manusia, dimana penggunaan tanga maksimal untuk 4 lantai).
Jalanan yang membagi setiap wilayah RW berubah fungsi menjadi Jalan Lingkungan Primer. Fasilitas publik yang dipakai bersama-sama oleh seluruh penduduk kelurahan kemudian dibagi-bagi berdasarkan letaknya pada keadaan saat ini, dan berdasarkan area layanannya. Sehingga, program ruang pada setiap satuan RW akan berbeda-beda.

Zoning Fasilitas Umum
RW1
Luasan: 25.600 m2
Jumlah RT: 11 (720 hunian)
Program ruang: Area Industri Kecil, Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid

RW2
Luasan: 24.500 m2
Jumlah RT: 9 (600 hunian)
Program ruang: Sekolah, Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid

RW3
Luasan: 52.500 m2
Jumlah RT: 15 (980 hunian)
Program ruang: Area Industri Kecil, Sekolah, Lapangan Olah Raga, Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid


RW4
Luasan: 20.800 m2
Jumlah RT: 8 (530 hunian)
Program ruang:Gereja, Puskesmas, Kantor Kelurahan, Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid

RW5
Luasan: 27.800 m2
Jumlah RT: 11 (720 hunian)
Program ruang: Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid

RW6
Luasan: 45.500 m2
Jumlah RT: 17 (1.110 hunian)
Program ruang: Pasar, Sekolah, Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid

RW7
Luasan: 22.500 m2
Jumlah RT: 9 (590 hunian)
Program ruang: Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid

RW8
Luasan: 43.400 m2
Jumlah RT: 16 (1.050 hunian)
Program ruang: Sekolah, Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid

RW9
Luasan: 14.200 m2
Jumlah RT: 5 (330 hunian)
Program ruang: Area komersil, Area hunian, pos satpam, kantor RW, Poliklinik, masjid

Program Satuan RW
Gubahan Massa Kasar RW3
Jumlah RT: 15
Jumlah hunian: 980
Hunian/RT: 65, per lantai: 22 , luas: 22x26 = 572 + 40 = 612 m2 = 620 m2
Luas Area Fasilitas Publik: Sekolah (5000), Area Industri (3000), Masjid (300), Lapangan (6500), r. serbaguna: 150, area komersil (3000). Total: 17.950
TERIMA KASIH
FRICA - 315100071
STUPA 8.17
Oleh: Frisca - 31510071
Kalianyar, Tambora
Beberapa poin yang menjadi pertimbangan dalam merancang proyek ini adalah:

1. Menghasilkan sebuah hunian yang sesuai dengan kebiasaan hidup penduduk kampung setempat, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya
2. Memberikan kebebasan pada penghuni untuk merancang sendiri unit hunian mereka, dan memberikan kebebasan untuk mengekspresikan kepribadian mereka pada unit hunian (dalam bentuk denah yang fleksibel)
3. Melihat penduduk setempat bukan hanya sebagai penghuni, tetapi juga pengelola yang ikut berpatisipasi dalam menjaga keberlangsungannya Kampung Vertikal.
4. Menerapkan unsur-unsur yang sudah terbentuk pada kampung ke dalam bentuk hunian vertikal
5. Menghargai usaha para penghuni untuk menghidupi dirinya dengan memberikan wadah bagi para penghuni untuk menjalankan usahanya.
6. Memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan penghuni.
Full transcript