Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Perspektif dalam Politik Global

No description
by

sagung alit

on 28 May 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Perspektif dalam Politik Global

Perspektif dalam Politik Global
Kelompok 4
Analisis Kasus Dowry System di India
dengan Perspektif Feminisme
Latar Belakang
India menjadi salah satu negara paling berbahaya bagi kaum perempuan (Thomson Reuters Foundation for Sustainable Development).

Data kependudukan PBB menemukan fakta bahwa 50 juta anak perempuan dianggap ‘hilang’. Hilangnya para perempuan tersebut meliputi aborsi janin perempuan, pembunuhan bayi perempuan serta perdagangan perempuan

Salah satu bentuk diskriminasi perempuan di India yakni adanya sistem dowry. Hal ini dapat dilihat berdasarkan data tahun 2010, dimana terdapat sekitar 8.391 kasus pelanggaran terhadap wanita di India yang bermuara pada tradisi Dowry.

Dowry system merupakan sebuah pemberian berupa mas kawin yang diberikan kepada calon mempelai laki-laki dalam tradisi India.

Selain uang, dowry juga bisa berupa perhiasan atau barang-barang lainnya.

Berkembangnya Dowry System menyebabkan tumbuhnya Dowry Murder.

Dowry murder adalah pembunuhan terhadap perempuan karena tidak memberikan atau membawa maskawin yang cukup sesuai dengan permintaan keluarga laki-laki.

Praktik dowry yang berlangsung di India menyebabkan ketakutan bagi kaum perempuan maupun bagi keluarga yang memiliki anak perempuan.

Kasus Dowry System menjadi perhatian internasional karena di dalamnya terjadi ketimpangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.

LSM-LSM Perempuan menyuarakan kesetaraan gender dan ketimpangan kuasa dalam institusi perkawinan

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pada pasal 16 bahwa menikah adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari hak asasi manusia, terutama hak untuk mendapatkan kebebasan dari bentuk diskriminasi.

Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang tertera pada pasal 23 dan Kovenan Hak-Hak Atas Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR) pada pasal 10.

Kedua Kovenan tersebut kemudian diadopsi ke dalam Konvensi Penghapusan Terhadap Segala Bentuk Diskriminasi Perempuan (CEDAW). Konvensi ini akan lebih memiliki concern dalam melindungi hak-hak perempuan serta martabat perempuan itu sendiri.

India telah meratifikasi Konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.


kasus dowry system dianalisis dengan
menggunakan dua pendekatan feminisme yaitu
feminis konstruktivisme dan feminisme marxisme.


Rumusan Masalah
Bagaimanakah rasionalitas feminisme marxisme dan feminisme konstruktivisme dalam menganalisis praktik Dowry system di India sebagai bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan ?
LANDASAN TEORI
FEMINISME
Lahir dari kritik bidang kajian HI abad ke-20 yang sebagian besar memfokuskan diri pada isu-isu mainstream.

Dunia hubungan internasional seolah-olah representasi dari laki-laki, sehingga terjadi ‘hegemoni maskulin’ di bidang politik, ekonomi, dan sosial

Relasi gender yang tidak setara menyebabkan perkembangan dunia semakin menjadikan posisi laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, dan masuk ke pemikiran masyarakat dan terinternalisasi ke dalam pola hubungan masyarakat.

Perdamaian akan tercipta jika menggunakan cara berpikir dan karakter feminitas.

ASUMSI FEMINISME
Pandangan dunia bersifat maskulinitas yang penuh akan kekerasan, konflik dan ego pribadi

Hubungan erat antara teori dengan kebiasaan, dimana laki-laki lebih cenderung melibatkan diri dengan lingkungan fisik dan sosial disekitarnya, sehingga menciptakan pandangan dari masyarakat sebagai sosok yang dominan dan kuat.

Adanya marjinalisasi gender perempuan dalam masyarakat.

Feminisme Marxisme

Feminisme Konstruktivisme
FEMINISME MARXISME
Perempuan borjuis tidak mengalami penindasan seperti perempuan proletar

Perempuan tidak bisa mengembangkan dirinya jika secara sosial dan ekonomi masih terikat laki-laki

Fokus pada analisis kelas, Melihat pola relasi kekeluargaan dianggap sebagai suatu eksploitasi terhadap kaum perempuan.

FEMINISME KONSTRUKTIVISME
Budaya merupakan suatu produk sosial. Menyebabkan terciptanya kelas.

Fokus melihat pengaruh gender terhadap politik global dan cara bagaimana politik global membentuk ide tentang gender.

Politik gender termasuk dalam politik dunia, di mana akan tercipta aturan berbasis linguistik tentang bagaimana negara berinteraksi dengan aktor internasional lain ataupun warga negaranya.


ANALISIS FEMINISME KONSTRUKTIVISME
DAN FEMINISME MARXISME
DALAM KASUS DOWRY SYSTEM
FEMINISME MARXISME
Feminis marxist berusaha menghilangkan budaya patriarki di India, dengan kesetaraan kepada perempuan dan laki-laki.

Feminisme marxist mencoba menerapkan ide bahwa sistem matrilineal lebih pantas diterapkan di Dunia, karena bagi mereka dunia akan lebih harmonis jika dikendalikan oleh sifat feminin yang mengutamakan sisi kelembutannya.

Merupakan salah satu pendekatan feminisme yang fokus pada analisis kelas dan melihat pola relasi kekeluargaan.

Isu yang diperdalam oleh feminis adalah isu yang terkait dengan kesenjangan ekonomi, kehidupan keluarga ataupun domestik yang berada dalam sistem kapitalisme.

Bentuk posisi rendah perempuan dalam:
Struktur ekonomi
Terjadinya pola relasi ketimpangan kelas
Terjadinya perbedaan perlakuan antara perempuan kelas atas dan perempuan kelas bawah

Struktur Sosial
Ketimpangan adanya budaya patriarki di dalam rumah tangga.
Budaya patriarki dilihat ketika pihak laki-laki mendapatkan keistimewaan daripada perempuan.

Akibat budaya dowry system
Munculnya anggapan bahwa perempuan di India dianggap sebagai beban dari orangtua.

Beban ini dirasakan bukan hanya di pihak keluarga (secara ekonomi), juga ada beban psikologis yang dirasakan setiap anak perempuan India.

Dari semua ini berdampak “hilang”nya banyak perempuan India.

“Hilang”nya perempuan India
Hilangnya perempuan India banyak juga dilakukan oleh orangtuanya sendiri. Anak dapat dijual ataupun sengaja dibunuh ketika tahu janin yang dikandung adalah perempuan.

Hilangnya perempuan India juga dapat diakibatkan oleh pihak suami yang membunuh secara langsung ataupun banyaknya tekanan yang diberikan yang mengakibatkan bunuh diri.

Kaum feminis ini melihat bahwa perempuan akan terus tereksploitasi dan tidak bisa mengembangkan diri secara ekonomi dan sosial jika terus berada dalam ketergantungan dengan pihak laki-laki.

Feminis marxist menekankan bahwa sudah saatnya perempuan tidak terus menerus mau untuk melakukan pekerjaan domestik.

Feminis marxist berusaha menghilangkan budaya patriarki di India, dengan kesetaraan kepada perempuan dan laki-laki.

Feminisme marxist mencoba menerapkan ide bahwa sistem matrilineal lebih pantas diterapkan di Dunia, karena bagi mereka dunia akan lebih harmonis jika dikendalikan oleh sifat feminin yang mengutamakan sisi kelembutannya.

FEMINISME
KONSTRUKTIVISME
Asumi dasar Feminisme Konstruktivisme [FK] adalah bagaimana ide-ide tentang gender mampu mempengaruhi politik global, sebaliknya bagaimana politik global membentuk ide-ide gender.

FK melihat bagaimana norma-2 dalam gender bisa diaplikasi sebagai pendekatan untuk memahami pola interaksi masyarakat.

Kaum Feminisme berargumen: banyak sekali prilaku laki-laki dan perempuan terkait erat dengan norma sosial yang secara tradisi membatasi tindakan mereka.

Secara kodrati, FK setuju adanya perbedaan prilaku antara perempuan dan laki2, dan memiliki batas-2 dalam bertindak, sebagai patokan norma yang berlaku.





Secara alami, kaum laki-laki lebih kuat dibandingkan kaum hawa, tetapi dalam berinteraksi adanya norma-2, sehingga mesti berpijak pada norma yang berlaku yakni, keadilan bagi kedua pihak.

Pada dasarnya perilaku para aktor terikat pada praktik sosial karena yakin akan norma, dan identitas yang temukan saat berinteraksi.

Dan menjadi seorang laki-2 hanya salah satu bentuk dari identitas sosial. Dimana identitas yang terbentuk dibarengi dgn norma yg berlaku, selama orang tersebut menggunakan identitas tersebut.










Feminisme Konstruktivisme dan Dowry System

Dalam kasus Dowry systim [DS], FK tidak mempermasalahkan jika memang sebagai budaya yang berlaku di India. Karena merupakan produk sosial, jika menghilangkan adalah pelanggaran terhadap norma.

Akan tetapi, dalam perkembangannya DS justru berubah corak dari budaya menjadi dowry murder, dowry death. Dan ototmatis menyalahi norma, kemudian pihak perempuan dirugikan.

Dan apa yang terjadi di India memperlihatkan laki-laki seolah-2 tidak menjalankan norma yg seharusnya. Tetapi, sebaliknya bersembuyi di ranah tradisi budaya turun temurun dan berlapis, laki-2 merasa lebih tinggi derajat sosialnya dibandingkan kaum perempuan.



Ilustrasi Dowry System
FK mengakui antara perempuan dan laki-2 berbeda secara kodrati. Laki-2 dilahirkan dan digambarkan maskulin, kuat, rasional dan lebih bertanggung jawab sehingga dianalogikan sebagai kesatria, dibandingkan perempuan.

Pemahaman ini yang dikuatirkan oleh FK, yang melihat dunia dalam tataran politik global yang membentuk ide-2 tentang gender justru membuat menciptakan ketimpangan antara antara perempuan dan laki-laki. Karena laki2 menggunakan kekuatan untuk memonopoli dan berkuasa.

Ide-2 tentang gender yang dibentuk oleh dunia akan terus-menerus berkembang dan terserap ke ranah domestic state, membudaya dalam masyaakat dan menyebabkan sebagian besar negara menganut sistem patriaki.

Bagian ini dikritik oleh para FK. Walau di satu sisi FK mengakui perbedaan kodrati itu, tetapi tidak seharusnya menyebabkan perempuan berada dalam kondisi tertindas.

Jika melihat kasus DS, awalnya berubah pemberian warisan kepada anak perempuannya yang akan menikah sebagai bekal ketika hidup dengan suaminya.

Semakin perkembangannya bias gender yang menyebabkan penyalah-gunaan sistem patriaki, maka para perempuan India justru dituntut oleh suaminya untuk memberikan hadiah atau warisan ketika akan menikah atau setelah menikah, sebagai bentuk penghormatan kepada kedudukan suaminya.

Dowry System: Heritage, Torture & Death
Kasus Dowry System inilah yang menyebabkan efek yang berlapis kepada kaum perempuan India.

Suatu budaya justru menjadi akan meningkatnya penindasan, terhadap perempuan yang berujung penyiksaan ataupun kematian.

Bagi FK, perbedaan sudut pandang laki-2 akan kondrati inilah yang menyebabkan hak-hak dasar dan fundamental perempuan India terabaikan.

Bagi Perempuan India, Dowry System, melanggar norma-norma DUHAM dan CEDAW dan perlu usaha konkrit, sistimates dan terpola, untuk menyelesaikan ketimpangan dari kasus Dowry ini.

FK merasa tindakan rasional dari pemerintah India untuk menyelesaikan ketimpangan hak antara laki-2 dan perempuan, terlepas dari pemahaman budaya yang mengikat kehidupan masyarakat India.

Beberapa pemahaman mengatakan bahwa, budaya adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran normatif manusia.

FK membantah pemahaman tersebut. Bagi FK, kesadaran manusia harus tetap ada, dan menempatkannya di posisi teratas agar, tetap bertindak sesuai normatif—sekalipun sebuah budaya dan warisan turun-temurun.
Untuk mengidentifikasi DS, FK menekankan pada peran gagasan dan ide-ide konstruktif untuk menentang ketidakadilan kondisi perempuan India dalam kehidupan sosialnya.

FK menyoroti dan menilai bahwa DS adalah sebuah rekonstruksi budaya di luar kesadaran normatif dalam masyarakat India.

FK menawarkan sebuah evolusi [revolusi] terhadap tradisi sejarah di India, dengan mengubah mindset laki-2 dalam memahami hak-2 dasar seorang perempuan.

Menurut FK hal ini suatu tantangan, waktu dan usaha keras karena berhadapan dengan budaya dan kepercayaan yang sudah turun-menurun. Tapi bukan tidak mungkin, karena kesetaraan antara perempuan dan laki-2 sehingga terciptakan keadilan dalam kehidupan demokratis di India.

Solusi Feminisme Konstruktivisme terhadap Dowry System
Bagi FK, perbedaan kodrati bukan alasan untuk menindas, tetapi mengandung nilai saling melengkapi satu sama lain agar terciptanya hubungan yang harmonis.

Idealnya pemahaman FK, bahwa bukan hanya mematenkan pluralisme kehidupan, kebebasan, dan persamaan hak saja, tapi penghargaan yang layak bagi perempuan India, agar tidak terjajah oleh budayanya sendiri.

FK berharap bukan hanya usaha konkrit dari masyarakat dan pemerintah India, tapi konstribusi dunia luar [OI, pengiat hak-hak perempuan] agar kasus DS tidak terus menerus kehidupan perempuan India tidak terkukung oleh budaya di tanah lahir mereka sendiri.

Perbandingan
Feminisme Konstruktivisme
dan
Feminisme Marxisme

KESIMPULAN
Rumusan Masalah
Kaum feminis konstruktivis menawarkan untuk merevolusi tradisi sejarah yang ada di India, dengan mengubah cara pandang laki-laki dalam memahami hak-hak dasar seorang perempuan.

Feminisme marxis ingin mencoba menerapkan ide bahwa sistem matrilineal lebih pantas diterapkan di dunia, karena bagi mereka dunia akan lebih harmonis jika dikendalikan oleh sifat feminin yang mengutamakan sisi kelembutannya.
TERIMA KASIH
GENDER?
BAGAIMANA MUNCULNYA
FEMINISME?
FEMINISME DALAM
HUBUNGAN INTERNASIONAL
RELEVANKAH FEMINISME
DALAM MENGANALISIS
KASUS DOWRY SYSTEM?
Full transcript