Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Perlawanan terhadap Kolonialisme sebelum Lahirnya Kesadaran

No description
by

Kristin Oktaviani

on 24 November 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Perlawanan terhadap Kolonialisme sebelum Lahirnya Kesadaran

Perlawanan pada masa VOC
Ciri-ciri Perlawanan yang terjadi Sebelum Lahirnya Kesadaran Nasional
Bersifat lokal
Perlawanan terhadap Portugis
Perlawanan terhadap Kolonialisme Belanda
Perlawanan Pattimura di Maluku (1817)
Perlawanan pada masa pemerintahan kolonial Belanda
Perlawanan rakyat di Maluku menandai perlawanan pertama rakyat Indonesia setelah Belanda berkuasa lagi secara penuh di Indonesia
Penyebab : Kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang buruk selama dua abad di bawah VOC
Penyerangan :
Membakar perahu-perahu pos yang ada di pelabuhan
Mengepung dan menduduki Benteng Duurstede
Benteng Deverdijk menjadi sasaran berikutnya yang menewaskan pimpinannya van Den Berg
Belanda berhasil merebut kembali Benteng Deverdijk serta berhasil menangkap dan menghukum mati Kapitan Paulus Tiahahu.
Pada November 1817, pasukan Pattimura semakin tersdesak dan Ia berhasil ditangkap dan sebulan kemudian dijatuhi hukuman gantung di tengah alun-alun Kota Ambon
Perlawanan Kesultanan Palembang
Pendudukan Palembang sangat penting bagi Belanda
Posisi Palembang strategis : menghubungkan wilayah kekuasaan Belanda di Jawa dan SumateraBelanda berkepentingan menguasai pertambangan timah di Bangka dan Belitung (berada di bawah Kesultanan Palembang)
Sultan Badaruddin menyerang pasukan Belanda ketika Belanda lemah pada saat Belanda takluk kepada Inggris melalui Prjanjian Tuntang dan menentang keberadaan Inggris di wilayahnya
Inggris menyerang Palembang pada tahun 1812, menjarah isi istana, dan melantik adik Badaruddin menjadi sultan dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin
Pada tahun 1813, Badaruddimenyerah dan tunduk kepada Inggris
Pada tahun 1818 mengirimkan ekspedisi pertama ke Palembang pasca-Konvensi London (Belanda mengasingkan Najamuddin ke Batavia)
Pada tahun 1819, Belanda mengirimkan ekspedisi kedua
Pada tahun 1823, Belanda menempatkan Palembang di bawah kekuasaan langsung mereka, dan Kesultanan Palembang dihapus
Ahmad Najamuddin (Putra sulung Najamuddin) melakukan perlawanan namun gagal dan Ia menyerah tahun 1825 dan diasingkan ke Banda kemudian Manado tahun 1841
Perlawanan Pangeran Diponogero (1825-1830)
Pengalaman Religius Diponegoro
Putra tertua Hamengkubuwana III
Pada tahun 1805-1808, Ia mengalam pengalaman religui yang Ia yakini bahwa dialah calon Raja Jawa yang ditunjuk secara supernatural
Perlawanan terhadap Kolonialisme sebelum Lahirnya Kesadaran Nasional
Perlawanan dilakukan oleh tiap-tiap kerajaan yang merasa martabatnya dilecehkan dan kedaulatannya dilanggar
Bergantung pada seorang pemimpin kharismatik
Perlawanan dipimpin oleh seorang raja, bangsawan, pemuka agama / yang dianggap memiliki kesaktian dan kekuaihi manusia biasa. Namun karena terlalu bergantung, rakyat akan tercerai berai dan perlawanan berhenti ketika pemimpin itu tewas
Perlawanan bersifat fisik atau mengandalkan kekuatan senjata
Mengandalkan berbagai jenis senjata tradisional khas daerah (bambu runcing, kelewang, pedang, dsb.
Mudah dipecah-belah
Mudah dipengaruhi dengan imbalan untuk melakukan pengkhianatan
(devide et impera)
Portugis hanya mengemban misi dagang, bukan menduduki suatu wilayah kemudian membangun sistem politik dan pemerintahan di tempat tersebut
kolonialisme
a ) Perlawanan Kesultanan Ternate

b ) Perlawanan Kesultanan Demak

c ) Perlawanan Kesultanan Aceh
Kesultanan Ternate
Pemimpin : Sultan Hairun, Sultan Baabullah

Penyebab perlawanan : monopoli perdagangan, intervensi terhadap urusan internal Kesultanan Ternate, penyebaran agama Kristen

Sultan Hairun ditangkap dan dihukum mati tahun 1570
Portugis berhasil diusir dari Maluku tahun 1575 dibawah pimpinan Sultan Baabulah dan menyingkir ke Pulau Timor dan berkuasa sampai akhir abad ke-20
Kesultanan Demak
Pemimpin : Raden Patah, Sultan Trenggono, Fatahillah

Penyebab perlawanan : Portugis ingin menguasi pulau Jawa dan terganggunya aktivitas dagang karena monopoli Portugis

Demak dapat menghalau Portugis pada tanggal 22 Juni 1527 dibawah pimpinan Fatahillah

Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (Kemenangan yang Gemilang)
Kesultanan Aceh
Pemimpin : Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1518), Sultan Alaudin Riayat Syah (1537-1568), Sultan Iskandar Muda (1607-1638)

Penyebab perlawanan : Banyak pedagang muslim yang pindah ke Aceh dan membuat Aceh maju dengan pesat, sehingga Portugis menyerang Aceh

Tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun perlawanan rakyat Aceh tetap berlanjut hingga Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641
Perlawanan terhadap VOC dan pemerintah kolonial Belanda dimulai sejak awal abad ke-17 - 20
Perlawanan pada abad ke-17

Sultan Agung dari Mataram ( 1613-1645)

Sultan Iskandar Muda dari Aceh (1635)

Sultan Hasanudin dari Kerajaan Makassar (1667)

Untung Suropati dan Trunojoyo dari Jawa (1670)

Ibnu Iskandar dari Tanah Minang (1680)

Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten (1684)
Perlawanan pada abad ke 19 - 20
Pattimura dari Maluku (1817)
Sultan Barabuddin dari Palembang (1817)
Tuanku Imam Bonjol dari Tanah Minang (1822-1837)
Pangeran Diponegoro dari Jawa (1825-1830)
I Gusti Ketut Jelantik dari Bali (1850)
Pangeran Antasari dari Kalimantan (1860)
Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro, Cut Nyak Dien dari Aceh (1837-1904)
Anak Agung Made dari Lombok (1895)
Raja Sisingamangaraja dari Tapanuli (sekitar tahun 1900)
Perlawanan Kesultanan Mataram
Sultan Agung adalah raja terbesar Mataram yang memiliki cita-cita :
Mempersatukan seluruh Jawa dibawah Mataramn
Mengusir Kompeni (VOC) dari Pulau Jawa

Serangan pertama Mataram terhadap VOC adalah ke kantor dagangnya di Jepara pada tahun 1618

Serangan kedua menyerang Batavia yang dilakukan dua kali pada tahun 1628 dan 1629 namun penyerangan ini juga gagal

Sultan-sultan Mataram : Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said
Perlawanan Kesultanan Gowa atau Makassar
Faktor-faktor yang mendorong perkembangan Makassar :
Letak Makassar yang sangatdalam lalu lintas perdagangan Malaka-Batavia-Maluku
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis 1511, yang membuat pedagang pindah ke Makassar
Posisi Makassar sebagai pelabuhan transit lada-lada yang berasal dari Kesultanan Banjar
Penyebab : VOC ingin menguasai perdagangan Malaka-Batavia-Maluku
Perang diawali dengan perliucutan dan perampasan terhadap armada VOC di Maluku oleh pasukan Hasanuddin yang kemudian dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669)
Kesultanan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanuddin tunduk pada Perjanjian Bongaya tahun 1667 :
Gowa mengakui monopoli perdagangan oleh VOC
Semua pihak Barat kecuali VOC harus meninggalkan wilayah kekuasaan Gowa
Gowa diwajibkan untuk membayar kerugian perang
VOC membangun benteng-benteng di Makassar
Gowa harus mengakui lkedaulatan Kesuktanan Bone
by : Kristin
Vivian
Jessika
Olivia
Edgina
Lieliana

XI IPA
Bab 2/SMT 1/2015
Kondisi Sosial Politik di Jawa
Semakin kuatnya campur tangan Belanda terhadap urusan internal kerajaan, terutama sejak zaman H.W. D
Raja-raja diperlakukan seperti vassal (bawahan) dari Batavia
Secara Internal, lingkungan istana diwarnai praktik korupsi dan persengkoklan yang merusak ketahanan serta kestabilan kerajaan
Perlawanan Diponegoro meluas sampai ke beberapa daerah di Jawa Tengah (Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang, Rembang)
Belanda membangun benteng pertahanan Benteng Stelsel, dimana sistem ii berhasil mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro
Diponegoro ditangkap Magelang, Jawa Tengah, lalu diasingkan ke Manado tahun 1830
Wafat di tempat itu tanggal 8 Januari 1855

Perang Padri
Perang Saudara : Kaum Padri lawan Kaum Adat (1803-1821)
Pelaku : Golongan Ulama VS Golongan Adat

Penyebab : Perselisihan sosial di Tanah Minang
Golongan Ulama ingin memberlakukan syariat Islam di seluruh Tanah Minang (Gerakan Padri). Golongan Adat tetap mempertahankan kebiasaan dan kepercayaannya yang membuat kaum Padri dan kaum Adat pecah thn 1803
Kaum Padri memenangkan beberapa pertempuran dan membuat kemenangan kaum Padri nyaris sempurna
Kaum Padri juga mengislamkan orang-orang Batak yang dianggap sebagai penyembah berhala

Langkah kaum Padri terhambat oleh tibanya orang Belanda di Padang tahun 1819
Kaum Padri Melawan Belanda-Kaum Adat (1821-1832)
Kaum Adat meminta bantuan Belanda yang membuat Tuanku Imam Bonjol (kaum Padri) menghadapi dua lawan sekaligus : Adat dan Belanda

Syarat : Perjanjian 1821 menyataka menyerahkan Minangkabau kepada Belanda dan tidak lagi mempunyai kekuasaan yang nyata atas Minangkabau

Pada thun 1825, Belanda memprakarasikan perjanjian damai dengan kaum Padri (Perjanjian Masang)
Belanda menghadapi perang yang lebih besar di Jawa
Kaum Padri bukanlah lawan yang mudah dikalahkan
Belanda juga menghadapi perang lain di Eropa, terutama dengan Belgia
Kaum Padri-Adat Melawan Belanda (1831-1838)
Penyebab : Belanda melanggar Perjanjian Masang

Tuanku Imam Bonjol melakukan perjanjian damai dengan Kaum Adat yang di kenal dengan nama Plakat Puncak Pato (Piagam Bukit Marapalam)

Menyadari perlawanan yang semakin hebat dari kaum Padri-kaum Adat, pemerintah Belanda mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang

Tanggal 17 Agustus 1837, Benteng Bonjol secara keseluruhan berhasil ditaklukan oleh Belanda. Namun, Tuanku Imam Bonjol beserta beberapa pengikitnya berhasil meloloskan diri

Setelah itu, Belanda mengajak Tuanku Imam Bonjol untuk berunding. namun, bukannya di ajak berunding, Imam Bonjol ditangkap dan dalam keadaan sakit di bawa ke Bukittinggi dan selanjutnya ke Padang.


Perang Aceh (1873-1904)
Latar belakangnya adalah Belanda ingin mewujudkan Pax Netherladica, yaitu:
Menguasai seluruh Nusantara termasuk Pulau Sumatra serta membebaskannya dari segala pengaruh dan intervensi dari negara-negara lain seperti Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat.
Memperluas akses seluas-luasnya bagi pengusaha-pengusaha swasta asing untuk melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia terutama untuk membuka perkebunan dan pertambangan.
Inggris merasa lebih baik menyerahkan Aceh kepada Belanda daripada kepada Prancis/Amerika Serikat. Maka terjadi pertukaran besar antara Inggris dan Belanda melalui Traktat Sumatra 1871, yang berisi :
Belanda diberi kebebasan penuh di Sumatra atas persetujuan Inggris.
Belanda menyerahkan Ghana di Afrika ke Inggris.
Inggris boleh mengirimkan kuli-kuli kontrak India ke Suriname.
Pedagang Inggris dan Belanda mempunyai hak-hak yang sama di Sumatra, yaitu dari Siak ke arah utara.
Traktat ini membuat Inggris terlibat Perang Ashanti dan Belanda terlibat dalam Perang Aceh.
Hurgronje mengajukan suatu kesepakatan politik baru dengan mereka, yang disebut dengan Pernyataan Singkat (Korte Verklaring). Isinya bahwa penguasa Aceh mengakui kekuasaan Belanda serta tunduk kepada perintah Belanda.
Belanda membentuk pasukan marsose, yaitu pasukan gerak cepat untuk menghancurkan kantong-kantong pertahanan rakyat Aceh. Pasukan inilah yang menewaskan Teuku Umar.
Perlawanan di lanjutkan oleh Cut Nyak Dien dan berakhir ketika Cut Nyak Dien ditangkap tahun 1905.

Perlawanan Sisingamangaraja XII (1870-1907)
Kehadiran Belanda memicu terjadinya Perang Tapanuli (1870-1907)

Alasan utama terjadinya perang ini adalah Raja Sisingamangaraja XII tidak senang daerah kekuasaannya diperkecil oleh Belanda.

Keinginan untuk menguasai Tapanuli itu disamarkan oleh Belanda dengan dalih melindungi misionaris Protestan (zending) dari Jerman yang telah memasuki Sumatran.

Raja Sisingamangaraja tidak menentang kehadiran zending. Ia hanya mengingatkan para zending agar tidak menjadi alat kekuasaan Belanda di wilayahnya.

Pada pertempuran tanggal 17 Juni 1907, Raja Sisingamangaraja XII gugur bersama putri dan 2 orang putranya. Gugurnya Raja Sisingamangaraja XII menandai berakhirnya perang Tapanuli.
Perlawanan Kerajaan-Kerajaan di Bali (1846-1849)
Perang dengan kerajaan-kerajaan Bali berlangsung selama 3 tahap, yaitu tahun 1846,1848 dan 1849.

Serangkaian perang itu dipicu oleh kegigihan raja-raja Bali mempertahankan Hak Tawan Karang, yaitu hak yang dimiliki kerajaan-kerajaan Bali untuk merampas seluruh muatan beserta penumpang kapal-kapal asing yang karam di perairan Bali.

Belanda mengultimatum raja Buleleng agar mengembalikan muatan kapal Belanda yang di rampas, namun hal tersebut di hiraukan oleh raha Buleleng, sehingga Belanda menyerang Kerajaan Buleleng.

Belanda pun memenangkan nya. Pada saat Belanda mengira Buleleng telah menyerah, G.K. Jelantik membangun persekutuan dengan kerajaan-kerajaan lain untuk menyerang Belanda.

Belanda kemudia menyerang Jagaraga. Disinlah rakyat Bali bersumpah memerangi Belanda sampai titik darah penghabisan. Karena sumpah ini, perang tersebut terkenal dengan nama Perang Puputan, yang berarti perang sampai mati.

Perlawanan Kesultanan Banjar (1859-1905)
Tahun 1859, meletuslah Perang Banjar, yaitu perang antara Kesultanan Banjar melawan penjajah kolonial Belanda.
Alasan terjadinya perlawanan rakyat Banjar, antara lain sebagai berikut :
Belanda terlalu banyak campur tangan dalam urusan internal Kesultanan.
Belanda memonopoli perdagangan lada, rotan, damar, serta emas dan intan.
Rakyat hidup menderita karena beban pajak serta kewajiban kerja rodi membuka jalan dalam rangka mempermudah akses Belanda ke daerah-daerah pertambangan Belanda.
Belanda bermaksud menguasai daerah Kalimantan bagian selatan karena di daerah ini ditemukan batu bara.
Belanda semakin memperluas kekuasaan wilayahnya di Kalimantan bagian selatan, sehingga wilayah kerajaan menjadi semakin sempit.
Pada bulan April, pecah sebuah pemberontakan besar di Banjarmasin, dipimpin oleh Pangeran Antasari.
Belanda mengultimatum Pangeran Hidayatullah untuk menyerah, namun hal tersebut di abaikan. Akhirnya Pangeran Hidayatullah di tangkap Belanda dan diasingkan. sepeninggal, Pangeran Hidayatullah, Antasari menjadi pusat kesetiaan kerajaan bagi orang-orang yang anti-Belanda hingga ia meninggal.
Pada tahun 1905, Sultan Muhammad Seman dari keluarga Antasari terbunuh dan peristiwa ini mengakhiri garis kepemimpinan raja. Perlawanan rakyat terhadap Belanda benar-benar berakhir ketika Sultan Muhamman Seman wafat.
Full transcript