Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

KRITIK KARL MARX TENTANG KAPITALISME

No description
by

Melvin Juliano

on 14 May 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of KRITIK KARL MARX TENTANG KAPITALISME

Riwayat Hidup Karl Marx KRITIK KARL MARX TERHADAP KAPITALISME Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818.

Tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, Universitas yang sangat di pengaruhi oleh Hegel dan guru - guru muda penganut filsafat Hegel, tetapi berpikir Kritis.

Gelar doktor Marx di dapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian.

Setelah tamat ia menjadi penulis untuk sebuah koran liberal radikal dan dalam tempo 10 bulan ia menjadi editor kepala koran itu.

Tetapi karena pendirian politiknya, koran itu kemudian di tutup pemerintah. Esai – esai awal yang di terbitkan dalam periode mulai mencerminkan sebuah pendirian yang membimbing Marx sepanjang hidupnya. Esai-esai tulisan Marx itu secara bebas di taburi prinsip-prinsip demokrasi, mimpi naif komunis utopia dan gagasan aktivis yang mendesak apa yang ia anggap sebagai tindakan politik prematur. Runtuhnya Kapitalisme Revolusi Kaum Proletar TEORI - TEORI KARL MARX Upah Serta Hak Milik Pribadi Teori - Teori Karl Marx Marx menikah pada 1843 dan tak lama kemudian ia terpaksa meninggalkan jerman dan pergi ke Paris. Di Paris ia bergualat dengan gagasan Hegel dan pendukungnya, tetapi ia juga menghadapi dua kumpulan gagasan baru – sosialisme Prancis dan politik Ekonomi Inggris. Dengan cara yang unik dia menggabungkan hegelian, sosialisme dan ekonomi politik yang kemudian menentukan orientasi intelektualnya

Di Prancis ia bertemu Fredrich Engels, anak penguasa pabrik tekstil yang menjadi seorang sosialis yang mengkritik kondisi kehidupan yang di hadapi kaum buruh.

Fredrich Engels juga sebagai sahabat sepanjang hayatnya, penopang finansialnya dan kolaboratornya.

Pada tahun 1849 Marx pindah ke London, ia mulai menarik diri dari aktivitas revolusioner lalu beralih ke penelitian yang lebih serius dan terperinci tentang bekerjanya sistem kapitalis.

Pada tahun 1852, ia mulai studi terkenalnya tentang kondisi kerja dalam kapitalisme di British Museum. Studi-studi ini akhirnya menghasilkan tiga jilid buku Das Capital, yang jilid pertamanya terbit pada tahun 1867; dua jilid lainnya terbit setelah ia meninggal.

Ia hidup miskin selama tahun-tahun itu, dan hampir tidak mampu bertahan hidup dengan sedikitnya pendapatan dari tulisan-tulisannya dan dari bantuan Engels. Pada tahun 1864 Marx terlibat dalam aktivitas politik dengan bergabung dengan gerakan pekerja Internasional.Ia segera mengemuka dalam gerakan ini dan menghabiskan selama beberapa tahun di dalamnya. Namun disintegrasi yang terjadi di dalam gerakan ini pada tahun 1876, gagalnya sejumlah gerakan revolusioner, dan penyakit yang dideritanya menandai akhir karier Marx.

Istrinya meninggal pada tahun 1881, anak perempuannya tahun 1882, dan Marx sendiri meninggal pada tanggal 14 Maret 1883.

Dalam hidupnya, Marx terkenal sebagai orang yang sukar dimengerti. Ide-ide nya mulai menunjukkan pengaruh yang besar dalam perkembangan pekerja segera setelah ia meninggal. Pengaruh ini berkembang karena didorong oleh kemenangan dari Marxist Bolsheviks dalam Revolusi Oktober Rusia. Ide Marxian baru mulai mendunia pada abad ke-20. Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.(Wikipedia)

Walau sistem yang didasarkan pada mekanisme pasar lebih efisien, akan tetapi sistem ini tetap di kecam, karena tidak peduli tentang masalah kesenjangan sosial.

Di dalamnya telah diberlakukan dan dilegalkan penindasan dan perbudakan yang sebesar-besarnya terhadap para buruh. Dari sinilah Marx, sewaktu di Paris, menyerukan bersatu kepada kaum buruh sedunia untuk melawan kapitalisme.

Perlawanan kaum buruh ini pada tingkat yang paling radikal adalah dimanifestasikan dengan terjadinya revolusi proletariat.

Puncak kejayaan kapitalisme, bagi Marx, adalah justru awal runtuhnya kapitalisme. Revolusi ini lahir sebagai sikap kaum buruh yang sudah mencapai tingkat kemuakan dan kebingungan atas kerasnya penindasan dari para pemodal. Di bawah kapitalisme seluruh rakyat pekerja menjadi ’bebas’: mereka bebas bekerja di mana saja, tapi juga sekaligus di-bebas-kan dari  segala bentuk kepemilikan atas faktor-faktor, alat-alat produksi. Dalam kapitalisme, alat-alat produksi itu justru dirampas pula oleh tuan kapital. Lalu, apa yang tersisa dari rakyat pekerja? Mereka hanya memiliki tenaga mereka saja.

Dikarenakan sistem kapitalis mendasarkan diri pada proses pertukaran (adanya alat dan standar nilai tukar), adanya embel-embel hukum permintaan dan penawaran, penjualan dan pembelian, maka rakyat pekerja itu yang tidak memiliki apa-apa lagi, mereka diharuskan menjual tenaga mereka pada mereka yang memegang kepemilikan atas alat produksi, pabrik, industri.

Lalu, berapa mereka jual kemampuan-kerja mereka itu? Tentu sesuai dengan nilainya, yaitu berapa yang dibutuhkan untuk membuat mereka mampu bekerja. Jika mereka menjual kemampuan untuk berkerja delapan jam sehari, maka nilai kemampuan kerja tersebut ialah berapa yang dibutuhkan untuk membuat mereka bekerja selama delapan jam sehari.

Di sinilah salah satu kritik Marx, bahwa rakyat pekerja mesti diberi upah sesuai kemampuan kerja mereka. Teori Krisis Ekonomi Dalam usaha kapitalis memperluas usahanyaatas pasar, kapitalis biasanya akan menurunkan harga.

Namun untuk mempertahankan untung sebagaimana sebelumnya, mau tidak mau produksi harus diperluas, sebab untung yang didapat dari masing-masing barang berkurang maka jumlah satuan harus diperbesar.

Akibatnya, produksi melampaui daya tampung pasar. Terjadilah krisis produksi, si kapitalis terpaksa tidak bisa menjual produksinya lagi, maka ia mengurangi produksinya.

Tindakan pengurangan produksi ini mau tak mau harus dibarengi dengan pengurangan buruh-buruhnya. Orang banyak yang menganggur lagi, akibatnya daya beli pasar makin berkurang lagi. Meski daya beli sangat menurun, si kapitalis yang masih ada harus tetap memperbesar produksinya untuk mempertahankan profitnya meski menjualnya dengan harga murah.

Krisis produksi makin menjadi-jadi. Posisi kelas terjadi ketika adanya perbedaan tujuan masing-masing individu dalam menggunakan sirkulasi modal atau komoditasnya.

Bagi individu yang yang tidak mempunyai kapital atau komoditasnya terbatas, maka ia akan mensirkulasikan komoditas itu sebatas untuk mendapatkan barang atau komoditas baru.

Namun sebaliknya, bagi mereka yang mempunyai modal berlimpah, mereka mensirkulasikan modal dan komoditasnya jelas bertujuan untuk mengakumulasikan modal.

Konflik antar kelas (kelas borjuis dan proletar) terjadi ketika dari pihak kaum borjuis menerapkan sistem “upah subsistensi” yang berfungsi untuk menyambung hidup para pekerja. Artinya, dengan orientasi kaum kapitalis untuk mengakumulasikan kapital, sementara kaum proletar (yang tak mempunyai banyak modal) hanya sekedar untuk mendapatkan komoditas lain yang dibutuhkan

Maka kaum kapitalis cukup memberikan upah kepada buruh sebatas upah itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para buruh. Para kaum borjuis cukup memberikan upah kepada buruh sekedar bisa untuk makan dan memnuhi kebutuhan primer mereka. Sementara mereka tidak diberi upah yang layak supaya mereka juga bisa mengumpulkan modal atau memenuhi kebutuhan sekunder dan bahkan tersier mereka.

Inilah yang menurut Marx bahwa sistem kapitalisme adalah sistem penghisapan. Sistem ini bisa langgeng karena hasil penghisapan dan perampasannya terhadap hak-hak buruh, yang dalam kontek ini adalah nilai tambah yang dihasilkan oleh para buruh itu sendiri Pada Bab 3 buku Capital Marx mengawali dengan diskusi mengenai barter antara dua comoditas, C dan C’. Pertukaran itu terjadi sebagai berikut: C—C’

Ketika uang diperkenalkan, hubungannya berubah menjadi: C-M-C’

Di sini uang merepresentasikan medium pertukaran anatra dua komoditas. Normalnya, dalam proses produksi dari bahan baku menjadi produk akhir, uang dipertukarkan beberapa kali. Fokus dari sistem kapitalis adalah pada produksi barang dan jasa yang bermanfaat, dan uang hanya sebagai medium pertukaran –cara untuk mencapai tujuan.

Tetapi Marx menunjukkan bahwa sangat mudah bagi kapitalis uang untuk memulai memandang dunia secara berbeda dan lebih sempit, hanya dari sudut pandang “mencari uang” ketimbang “memanfaatkan barang dan jasa”. Marx merepresentasikan cara berpikir bisnis baru ini sebagai berikut: M-C-M’

Dengan kata lain, pengusaha menggunakan uang untuk menghasilkan komoditas C, yang pada gilirannya dijual untuk mendapatkan lebih banyak uang M’. Dengan memfokuskan pada uang sebagai awal dan akhir aktivitas mereka, maka sangat mudah untuk kehilangan dasar tujuan aktivitas ekonomi (menghasilkan dan mempertukarakan barang). Tujuannya bukan lagi C, tetapi M. Teori Nexus Uang Keterasingan Marx begitu lugas menjelaskan hipotetiknya bahwa tidak akan ada nilai barang tanpa melalui kerja. Dengan kata lain, hanya dengan kerjalah suatu bahan, barang atau komiditi itu bernilai tambah.

Misalnya ada balok kayu bernilai 1juta dan setelah dibuat lemari nilainya menjadi 1,4 juta. Maka terdapat selisih 400ribu. Nilai 400 ribu itulah yang disebut nilai tambah yang dihasilkan oleh kerja manusia terhadap bahan-bahan itu.

Lalu kemana 400 ribu itu ????? Seharusnya nilai 400 ribu itu sepenuhnya diserahkan kepada mereka yang telah melakukan kerja. 1 juta + Pekerja = 1,4 juta Namun para kapitalis tersebut akan menolaknya. Mereka dipihak pemerintah karena merekalah yang memberi kekayaan negara, terutama di negara-negara berideologi liberalisme.

Jika pemerintah tidak mengimbangi hak-hak kaum proletar dan mengejar untung dari para majikan tersebut, sebuah gerakan anarkisme pun terjadi dan mungkin akan menciptakan revolusi.

Pasca revolusi maka terciptalah perubahan dari kapitalisme yang mencekik menjadi negara sosialis yang mendukung rakyat atau kaum proletar.


Darwin
Nathaniel Mulia
Michael Kihi
Joshua Kristanto
Melvin Juliano Akan tetapi, dibawah sistem kapitalis, pembagiannya pun beda; dari 1,4 Juta hasil penjualan itu,1 juta kembali pada si kapitalis, 200 ribu lagi untuk keuntungan dia (si kapitalis), 50 ribu untuk cadangan modal usaha, 50 ribu untuk biaya adminitrasi, 100 ribu untuk yang bekerja (buruh).

Bagi Marx, seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh para pekerja, yang ada di dalam modal kapitalis tersebut seharusnya diberikan kepada pekerja.Sementara bagi kaum pemodal, ia sebenarnya hanya mempunyai modal pokok itu saja. Kalau mau megambil seharusnya yang dia ambil adalah modal pokoknya saja.

Kenapa? Karena dia tidak ikut bekerja menghasilkan nilai tambah itu. Namun dalam dunia kapitalisme yang berlaku tidak demikian.

Disinilah lahir konsepsi tentang ’keterasingan’. Keterasaingan bagi Marx adalah kondisi seseorang dipisahkan secara sistemik dengan kerja dan hasil kerjanya TERIMA KASIH Dalam pemikiran Karl Marx, kaum proletar adalah kelas kedua dalam stratifikasi sosial yang ia ciptakan. Proletar adalah kelas yang menerima gaji oleh kelas pertama yaitu kelas majikan.

Mereka bekerja guna memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sedang kelas majikan bekerja dengan mencari untung atau laba.

Kelas Proletar sering menjadi target eksploitasi para majikan yang berorientasi kapitalis ini. Untuk itu mereka sering diperas tenaganya dan diberikan gaji yang rendah guna kepentingan meraup laba sebesar-besarnya.

Oleh karena itu, proletar yang kehilangan kebebasannya akan memprotes tirani kapitalis tersebut dengan demonstrasi dan hal-hal lain yang diperlukan.

Namun para kapitalis tersebut akan menolaknya. Mereka dipihak pemerintah karena merekalah yang memberi kekayaan negara, terutama di negara-negara berideologi liberalisme.

Jika pemerintah tidak mengimbangi hak-hak kaum proletar dan mengejar untung dari para majikan tersebut, sebuah gerakan anarkisme pun terjadi dan mungkin akan menciptakan revolusi.
2011-012-140
2011-012-144
2011-012-169
2011-012-314
2011-012-344
Full transcript