Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Kerajaan Islam di Indonesia

No description
by

Almer Fadhilezar

on 7 April 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Kerajaan Islam di Indonesia

Kerajaan Islam di Indonesia

Kesultanan Samudra Pasai
Warisan Sejarah Samudera Pasai
Penemuan makam Sultan Malik as-Saleh yang bertarikh 696 H atau 1297 M, dirujuk oleh sejarahwan sebagai tanda telah masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-13. Walau ada pendapat bahwa kemungkinan Islam telah datang lebih awal dari itu. Kejayaan masa lalu kerajaan ini telah menginspirasikan masyarakatnya untuk kembali menggunakan nama pendiri kerajaan ini untuk Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe.
Samudera Pasai
Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia. Letaknya yang sangat strategis membuat Kerajaan ini menjadi kerajaan yang besar dan berkembang pesat pada zaman itu. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah bin Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521. Berdasarkan Hikayat Raja-Raja Pasai diceritakan bahwa Sultan Malik as-Shaleh sebelumnya hanya seorang kepala Gampong Samudra bernama Marah Silu. Setelah menganut agama islam berganti nama menjadi Malik as-Shaleh. Wafat tahun 696H 1297M.
Samudera Pasai
Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam di Asia Tenggara. Dari Kerajaan Samudra Pasai inilah kader-kader Islam dipersiapkan untuk mengembangkan Islam ke berbagai daerah. Salah satunya ialah Fatahillah. Ia adalah putra Pasai yang kemudian menjadi panglima di Demak kemudian menjadi penguasa di Banten.
Pemerintahan Samudra Pasai yaitu Monarki. Islam merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, walau pengaruh Hindu dan Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari catatan Ma Huan dan Tomé Pires, telah membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan ini memudahkan penerimaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana diceritakan dalam Sulalatus Salatin.
Sultan Malik as-Saleh (1267-1297 M)
Sultan Muhammad Malik az-Zahir (1297-1326 M)
Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (1326 - 1345M)
Sultan Ahmad Malik Az-Zahir yang memerintah (1345-1383M)
Sultan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir yang memerintah (1383-1405)
Sultanah Nahrasiyah, yang memerintah (1405-1412)
Sultan Sallah Ad-Din yang memerintah (1405-1412)
Sultan Abu Zaid Malik Az-Zahir (1412 -1455)
Sultan Mahmud Malik Az-Zahir II, memerintah (1455-1477)
Sultan Zain Al-‘Abidin, memerintah (1477-1500)
Sultan Abdullah Malik Az-Zahir, yang memerintah (1501-1513)
Sultan Zain Al’Abidin, yang memerintah tahun (1513-1521)
Batu nisan dan prasasti peninggalan zaman Kerajaan Samudera Pasai di kompleks pemakaman Tengku Batee Balee, Desa Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Aceh.
Peta Wilayah
Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai
Almer Fadhilezar
Kesultanan Aceh Darussalam
Kesultanan Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di provinsi Aceh, Indonesia. Bentuk pemerintahannya yaitu Monarki Absolut. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Bandar Aceh Darussalam dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada tanggal 8 September 1507. Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Pada awalnya kerajaan ini berdiri atas wilayah Kerajaan Lamuri, kemudian menundukan dan menyatukan beberapa wilayah kerajaan sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya pada tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh diikuti dengan Aru.

Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1571.
Kesultanan Aceh Darussalam
Kejayaan
Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636) atau Sultan Meukuta Alam. Pada masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama. Pada tahun 1629, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Sayangnya ekspedisi ini gagal, meskipun pada tahun yang sama Aceh menduduki Kedah dan banyak membawa penduduknya ke Aceh.
Kemunduran
Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Tiku, Tapanuli, Mandailing, Deli, Barus (1840) serta Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan sehingga terjadi perang saudara.
Sultan Aceh Darussalam
Sulthan Ali Mughayat Syah (1496-1528)
Sulthan Salah ad-Din (1528-1537)
Sulthan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar (1537-1568)
Sulthan Husin Ibnu Sultan Alauddin Ri`ayat Syah (1568-1575)
Sulthan Muda (1575)
Sulthan Sri Alam (1575-1576)
Sulthan Zain Al-Abidin (1576-1577)
Sulthan Ala al-din mansyur syah (1576-1577)
Sulthan Buyong atau Sultan Ali Ri`ayat Syah Putra (1589-1596)
Sulthan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal Ibnu (1596-1604)
Sulthan Ali Riayat Syah (1604-1607)
Sulthan Iskandar Muda (1607-1636)
Sulthan Iskandar Tsani (1636-1641)

Total Sultan-sultan di Aceh Darussalam ada 35 Sultan yang pernah berkuasa.

Peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam
Makam Sultan Ali Mughyat Syah
Makam Sultan Iskandar Muda
Masjid Raya Baiturrahman
Mata Uang Kesultanan Aceh
Gunongan adalah tempat yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda, terletak di Taman Putro Phang sebagai tempat bermain.
Lonceng Cakra Donya adalah hadiah dari Tiongkok yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho sebagai bentuk kerjasama antara Aceh dengan Tingkok
Peta Wilayah Kekuasaan Kesultanan Aceh Darussala
Sumatra
Kerajaan Demak
Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa. Beribukota di Demak Bintara. Menurut tradisi Jawa, Demak sebelumnya merupakan kadipaten dari kerajaan Majapahit, kemudian muncul sebagai kekuatan baru mewarisi legitimasi dari kebesaran Majapahit. Lokasi Kerajaan Demak, yang pada masa itu berada di tepi laut, berada di kampung Bintara, saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Fatah (1478-1518) pada tahun 1478. Hal ini didasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit yang diberi tanda Candra Sengkala: Sirna hilang Kertaning Bumi, yang berarti tahun saka 1400 atau 1478M. Menurut cerita rakyat Jawa Timur Raden Fatah merupakan keturunan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit yaitu Raja Brawijaya V yang menjabat sebagai adipati kadipaten Bintara, Demak. Raden Fatah selalu memajukan agama Islam di Pulau Jawa di bantu oleh para wali (Walisongo) dan saudagar Islam sehingga terbentuk Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.
Pemerintahan Kerajaan Demak
Kerajaan Demak menjalankan sistem pemerintahan
teokrasi
, yaitu pemerintahan berdasarkan pada agama Islam. Raja - raja yang memerintah Demak :
Raden Fatah : Pada masa pemerintahan Raden Fatah, dibangun masjid Demak yang proses pembangunan masjid itu di bantu oleh para wali atau sunan.
Adipati Unus : Memerintah tahun 1518-1521M. Beliau mendapat julukan "Pangeran Sabrang Lor" atas usaha beliau memimpin pasukan Demak melawan pasukan Portugis. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kerajaan maritim yang besar
Sultan Trenggana:Sultan Trenggana berusaha memperluas daerah kekuasaannya hingga ke daerah Jawa Barat. Pada tahun 1522 M kerajaan Demak mengirim pasukannya ke Jawa Barat di bawah pimpinan Fatahillah. Daerah-daerah yang berhasil di kuasainya antara lain Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Dengan kemenangan itu, Fathillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (berarti kemenangan penuh). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 22 juni 1527 M itu kemudian di peringati sebagai hari jadi kota Jakarta.

Kemunduran & Peninggalan Kerajaan Demak
Kemunduran Kerajaan Demak disebabkan oleh Perang antar saudara dalam memperebutkan kekuasaan. Peninggalan Kerajaan Demak yaitu :

Masjid Agung Demak
yang di bangun oleh Wali songo pada tahun 1478 .
Piring Campa
merupakan pemberian Ibu Raden Fatah yang bernama Putri Campa .
Saka Tatal
merupakan saka ( tiang ) Utama Masjid Demak di buat oleh Wali Songo . Tiang buatan sunan Kalijaga tersebut di buat dari tatal yang diikat dengan rumput rawadan . Tiang ini mengandung pelajaran persatuan .
Peta Wilayah Kerajaan Demak
Kerajaan Mataram
Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada abad ke-17. Kerajaan ini dipimpin suatu dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang mengklaim sebagai suatu cabang ningrat keturunan penguasa Majapahit. Munculnya Kerajaan Mataram ini diterangkan didalam Carita Parahyangan. Pada tahun 1558 Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang. Pada tahun 1584 Ki Ageng Pemanahan meninggal. Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru di Mataram dengan gelar "
Panembahan Senapati".
Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian dari Mataram yang beribukota di Kotagede.

Pemerintahan Kerajaan Mataram
Sutawijaya : bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601. Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senopati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.

Mas Jolang : Jolang hanya memerintah selama 12 tahun (1601-1613), tercatat bahwa pada pemerintahannya beliau membangun sebuah taman Danalaya di sebelah barat kraton. Pemerintahannya berakhir ketika beliau meninggal di hutan Krapyak ketika beliau sedang berburu.

Mas Rangsang : Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung juga menaklukkan daerah pesisir supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Beliau juga merupakan penguasa yang secara besar-besaran memerangi VOC yang pada saat itu sudah menguasai Batavia. Karya Sultan Agung dalam bidang kebudayaan adalah Grebeg Pasa dan Grebeg Maulud. Sultan Agung meninggal pada tahun 1645.
Terpecahnya Mataram
Terjadi kekacauan politik karena pada saat itu VOC mengangkat mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja Mataram karena VOC tidak menyukai Amangkurat III karena selalu menentang VOC. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah "ahli waris" dari Kesultanan Mataram.
Peninggalan Kerajaan Mataram
Masjid Kota Gede
Pasar Legi KotaGede di Yogyakarta
Sisa-sisa Reruntuhan Benteng KotaGede
Komplek Pemakaman Pendiri Kerajaan Mataram Islam di KotaGede
Peta Wilayah Mataram
Kesultanan Banten
Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di Provinsi Banten, Indonesia. Berawal sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan. Dalam proses perluasan kawasan itu Maulana Hasanuddin (Fatahillah), putera Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut dan beliau mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri. Pada awalnya kawasan Banten dikneal dengan nama Banten Girang yang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Lalu kedatangan pasukan Fatahillah dari Demak ke wilayah tersebut untuk perluasan wilayah sekaligus penyebaran dakwah Islam.
Pemerintahan Kesultanan Banten
Seiring dengan kemunduran Demak,Banten yang sebelumnya vazal dari Kerajaan Demak, mulai melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang mandiri. Maulana Yusuf anak dari Maulana Hasanuddin, naik tahta pada tahun 1570 melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Tokoh utama pendiri Kesultanan Banten :
1. Fatahillah (mangkat pada tahun 1570)
2. Hasanuddin Sultan Banten I (1552 - 1570)
3. Pangeran Yusuf Sultan Banten II (1570 -1580)
4. Maulan Muhammad Sultan Banten III (1580 – 1596)
Masa kejayaan Banten pada pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (bertahta 1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten.Dibawah beliau Banten memiliki armada yang kuat dan menaklukan Kerajaan TanjungPura (Kalbar) dan keluar dari tekanan VOC.
Kemunduran Banten disebabkan oleh perang saudara antara keturunan penguasa Banten maupun gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Akibat konflik yang berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vassal dari VOC.


Peninggalan Kesultanan Banten
Istana Kaibon
Masjid Agung Banten
Reruntuhan Keraton Surosowan
Mahkota yang dipakai Sultan Banten
Kesultanan Cirebon
Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda. Pendirian kesultanan ini sangat berkaitan erat dengan keberadaan Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon didirikan pada tahun 1552 oleh panglima kesultanan Demak, kemudian yang menjadi Sultan Cirebon ini wafat pada tahun 1570 dan digantikan oleh putranya yang masih sangat muda waktu itu. Berdasarkan berita dari klenteng Talang dan Semarang, tokoh utama pendiri Kesultanan Cirebon ini dianggap identik dengan tokoh pendiri Kesultanan Banten yaitu Sunan Gunung Jati.
Terpecahnya Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon terpecah menjadi tiga. Ketiga bagian itu dipimpin oleh tiga anak panembahan Girilaya, yakni :

1. Pangeran Martawijaya atau sultan Kraton Kasepuhan, dengan gelar Sepuh Abi Makarimi Muhammad Samsudin (1677 – 1703)

2. Pangeran Kartawijaya atau Sultan Kanoman, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677 – 1723)

3. Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon, dengan gelar pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677 – 1713)


Perubahan Gelar
Perubahan gelar dari “panembahan” menjadi “sultan” bagi dua putra tertua pangeran girilaya dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Sebab, keduanya dilantik menjadi sultan Cirebon di Ibukota banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Adapun pangeran wangsakerta tidak diangkat sebagai Sultan, melainkan hanya panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para ilmuwan keraton.
Penyebab Runtuhnya & Peninggalan Kesultanan Cirebon
Kematian Panembahan Girilaya, sehingga terjadinya kevakuman kekuasaan.
Terjadinya perpecahan antar putra putra raja cirebon.
Adanya ikut campur VOC dalam mengatur tatanan kerajaan Cirebon.
Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, ketika kekuasaan pemerintahan kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon.
Keraton Kasepuhan
Masjid Sang Cipta Rasa
Keraton Kanoman
Jawa
Pemerintah Kesultanan Banten
Full transcript