Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Kerajaan Banjar

No description
by

muhammad hasni

on 30 March 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Kerajaan Banjar

Keadaan Agama dan Sosial Kerajaan Banjar
Wilayah Kerajaan Banjar
Kerajaan Banjar semakin berkembang dan lama kelamaan luas wilayahnya semakin bertambah. Kerajaan ini pada masa jayanya membentang dari banjarmasin sebagai ibukota pertama, dan martapura sebagai ibukota pengganti setelah banjarmasin direbut belanda, daerah tanah laut, margasari, amandit, alai, marabahan, banua lima yang terdiri dari Nagara, Alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kalua serta daerah hulu sungai barito.
Keadaan Politik Kerajaan Banjar
Kerajaan semakin diperluas ke tanah bumbu, Pulau Laut, Pasir, Berau dan kutai di panati timur. Kotawaringin, Landak, Sukadana dan sambas di sebelah barat. Semua wilayah tersebut adalah Wilayah Kerajaan Banjar (yang apabila dilihat dari peta zaman sekarang, Kerajaan Banjar menguasai hampir seluruh wilayah kalimantan di 4 provinsi yang ada). Semua wilayah tersebut membayar pajak dan upeti. Semua daerah tersebut tidak pernah tunduk karena ditaklukkan,tetapi karena mereka mengakui berada di bawah Kerajaan Banjar, kecuali daerah pasir yang ditaklukkan pada tahun 1663
Thank you!
kesultanan Banjarmasin
Kesultanan Banjar atau Kesultanan Banjarmasin (berdiri pada Tahun 1520, dihapuskan sepihak oleh Belanda pada 11 Juni 1860. Namun rakyat Banjar tetap mengakui ada pemerintahan darurat/pelarian yang baru berakhir pada 24 Januari 1905. Namun sejak 24 Juli 2010, Kesultanan Banjar hidup kembali dengan dilantiknya Sultan Khairul Saleh.
Kerajaan Banjar
(Banjarmasin)
Masa Keruntuhan
Kerajaan Banjar runtuh pada saat berakhirnya Perang Banjar pada tahun 1905. Perang Banjar merupakan peperangan yang diadakan kerajaan Banjar untuk melawan kolonialisasi Belanda. Raja terakhir adalah Sultan Mohammad Seman (1862 - 1905), yang meninggal pada saat melakukan pertempuran dengan belanda di puruk cahu. Setelah dikalahkannya Sultan Muhammad Seman, praktis seluruh wilayah Kerajaan banjar jatuh ke tangan Belanda dan Kerajaan Banjar runtuh.
Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan Negara Daha yaitu kerajaan Hindu yang beribukota di kota Negara, sekarang merupakan ibukota kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.
Asal Usul Kerajaan Banjarmasin
Kemunculan Kerajaan Banjar tidak lepas dari melemahnya pengaruh Negara Daha sebagai kerajaan yang berkuasa saat itu. Tepatnya pada saat Raden Sukarama memerintah Negara Daha, menjelang akhir kekuasaannya dia mewasiatkan tahta kekuasaan Negara Daha kepada cucunya yang bernama Raden Samudera. Akan tetapi, wasiat tersebut ditentang oleh ketiga anak Raden Sukarama yaitu Mangkubumi, Tumenggung dan Bagulung. Setelah Raden Sukarama wafat, Pangeran Tumenggung merebut kekuasaaan dari pewaris yang sah yaitu Raden samudera dan merebut tahta kekuasaan Negara Daha.
Berkat pertolongan Arya Taranggana, mangkubumi kerajaan Daha, Raden Samudera berhasil lolos ke hilir sungai Barito, kemudian ia dijemput oleh Patih Masih (Kepala Kampung Banjarmasin) dan dijadikan raja Banjarmasin sebagai upaya melepaskan diri dari Kerajaan Negara Daha dengan mendirikan bandar perdagangan sendiri. rakyat banjarmasin juga senang karena tidak harus lagi membayar upeti.
Raden Samudera akhirnya menjadikan Islam sebagai agama negara dan rakyatnya memeluk agama Islam. Gelar yang dipergunakan oleh Raden Samudera sejak saat itu berubah menjadi Sultan Suriansyah. Kerajaan Banjar pertama kali dipimpin oleh Sultan Suriansyah ini.
Pembauran penduduk Banjarmasih yang terdiri dari rakyat Negara Daha, Melayu, Dayak dan orang jawa (kontingen dari Demak) menggambarkan bersatunya masyarakat di bawah pemerintahan Raden Samudera. Pengumpulan penduduk di banjarmasih menyebabkan daerah ini menjadi ramai, ditambah letaknya pada pertemuan sungai barito dan sungai martapura menyebabkan lalu lintas menjadi ramai dan terbentuknya hubungan perdagangan.
Kerajaan Banjar yang berdiri pada 24 september 1526 sampai berakhirnya perang Banjar yang merupakan keruntuhan kerajaan Banjar memiliki 19 orang raja yang pernah berkuasa. Sultan pertama kerajaan Banjar adalah Sultan Suriansyah (1526 - 1545), beliau adalah raja pertama yang memeluk Agama Islam. Raja terakhir adalah Sultan Mohammad Seman (1862 - 1905), yang meninggal pada saat melakukan pertempuran dengan belanda di puruk cahu.
Sultan Suriansyah / Raden Samudra
Sultan Suriansyah sebagai Raja pertama mejadikan Kuin Utara sebagai pusat pemerintahan dan pusat perdagangan Kerajaan Banjar. Sedangkan Sultan Mohammad Seman berkeraton di daerah manawing - puruk cahu sebagai pusat pemerintahan pelarian.
Raja Raja Penguasa Kerajaan Banjar
1. Pangeran Samudra yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah, Raja pertama yang memeluk Islam.
2. Sultan Rahmatullah
3. Sultan Hidayatullah
4. Sultan Mustain Billah, Marhum Penambahan yang dikenal sebagai Pangeran Kecil. Sultan inilah yang memindahkan Keraton Ke Kayutangi, Martapura, karena keraton di Kuin yang hancur diserang Belanda pada Tahun 1612.
5. Ratu Agung bin Marhum Penembahan yang bergelar Sultan Inayatullah
6. Ratu Anum bergelar Sultan Saidullah
7. Adipati Halid memegang jabatan sebagai Wali Sultan, karena anak Sultan Saidullah, Amirullah Bagus Kesuma belum dewasa
8. Amirullah Bagus Kesuma memegang kekuasaan hingga 1663, kemudian Pangeran Adipati Anum (Pangeran Suriansyah) merebut kekuasaan dan memindahkan kekuasaan ke Banjarmasin
9. Pangeran Adipati Anum setelah merebut kekuasaan memindahkan pusat pemerintahan Ke Banjarmasin bergelar Sultan Agung
10. Sultan Tahlilullah berkuasa
11. Sultan Tahmidullah bergelar Sultan Kuning
12. Pangeran Tamjid bin Sultan Agung, yang bergelar Sultan Tamjidillah
13. Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah
14. Pangeran Nata Dilaga sebagai wali putera Sultan Muhammad Aliuddin yang belum dewasa tetapi memegang pemerintahan dan bergelar Sultan Tahmidullah
15. Sultan Suleman Al Mutamidullah bin Sultan Tahmidullah
16. Sultan Adam Al Wasik Billah bin Sultan Suleman
17. Pangeran Tamjidillah
18. Pangeran Antasari yang bergelar Panembahan Amir Oeddin Khalifatul Mu'mina
19. Sultan Muhammad Seman yang merupakan Raja terakhir dari Kerajaan Banjar
Wilayah terakhir Kesultanan Banjar antara tahun 1826-1860 yang telah menyusut, karena wilayah sekelilingnya telah diserahkan kepada perusahaan VOC Belanda oleh Sultan Banjar. Wilayah Banjar yang lebih kuno terbentang dari Tanjung Sambar sampai Tanjung Aru
Dalam hikayat banjar disebutka bahwa Pangeran Samudera mengirim duta ke Demak untuk mengadakan hubungan kerjasama militer. Utusan yang di utus tersebut adalah Patih Balit, seorang pembesar kerajaan Banjar. Utusan pn dating menghadap Sultan Demak dengan membawa beberapa hadiah sebagai tanda persahabatan berupa sepikul rotan, seribu buah tudung saji, sepuluh pikul lilin, seribu bongkah damar, sepuluh biji intan. Penggiring duta kerajaan ini sekitar 400 orang. Dan pihak kesultanan Demakpun menerima utusan keajaa Banjar ini, dan sebagai pemegang syiar Islam tentunya pihak Demakpun meminta kepada utusan kerajaan Banjar, agar Raja Banjar dan semua pembesarnya memeluk agama Islam.
jadi masuknya adalah sekitar abad ke-15 dan 16. Adapun masuknya adalah berasal dari wilayah kepulauan Jawa yakni wilayah Demak yang saat itu sebagai kerajaan yang bercorak Islam.
Sejarah Keagamaan Negara Banjarmasin
Manusia banjar berasal dari tiga golongan :
a. Golongan Banjar Batang Banyu yang di dominir Suku Maanyan.
b. Golongan Banjar Muara yang di dominasi oleh Suku Ngaju.
c. Golongan Banjar yang bersuku Banjar Bukuit yang disebut Banjar Hulu.

Ketika ketiga golongan itu terbentuk maka masyarakat Banjar memulai atau membentuk sebuah Kerajaan Tanjung Pura dengan Agama Budha, percampuran kebudayaan antara kebudayaan pertama dengan kebudayaan Jawa di mana kebudayaan Maanyan, Bukit dan melayu menjadi inti, yang kemudian membentuk Kerajaan Dipa dengan agama Budha, yang ketiga adalah perpaduan dengan kebudayaan jawa yang membentuk kerajaan Negara Daha dengan agama hindu. Yang terakhir lanjutan Negara Daha dalam membentuk Kerajaan Banjar Islam dan perpaduan suku Ngaju, Maanya dan Bukit. Dari perpaduan yang terahir inilah ahirnya melahirkan kebudayaan dalam Kerajaan Banjar.
Perkembangan Ekonomi
perkembangan perekonomian di Kalimantan selatan mengalami kemajuan yang pesat sejak akhir abad ke-16 sampai ke-17 M. Dalam masyarakat banjar terdapat susunan dan peranan sosial yang berbentuk segitiga piramid. Lapisan teratas adalah golongan penguasa yang merupakan golongan minoritas. Sedangkan mayoritas dalam masyarakat adalah golongan terbawah yang terdiri dari petani, nelayan dan lain-lain
Hubungan dengan Kerajaan Lain
Setelah menjadi Raja di Banjarmasih, Raden Samudera dianjurkan oleh Patih Masih untuk meminta bantuan Kerajaan Demak. Permintaan bantuan dari Raden Samudera diterima oleh Sultan Demak, dengan syarat Raden Samudera beserta pengikutnya harus memeluk agama Islam. Syarat tersebut disanggupi Raden Samudera dan Sultan Demak mengirimkan kontingennya yang dipimpin oleh Khatib Dayan. Setibanya di Banjarmasih, kontingen Demak bergabung dengan pasukan dari Banjarmasih untuk melakukan penyerangan ke Negara Daha di hulu sungai Barito. Setibanya di daerah yang bernama Sanghiang Gantung, pasukan Bandarmasih dan Kontingen Demak bertemu dengan Pasukan Negara daha dan pertempuran pun terjadi. Pertempuran ini berakhir dengan suatu mufakat yang isinya adalah duel antara Raden samudera dengan Pangeran Tumenggung. Dalam duel itu, Raden Samudera tampil sebagai pemenang dan pertempuran pun berakhir dengan kemenangan banjarmasin.
Full transcript