Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Konflik Eksistensial Manusia Menurut Jean Paul Sartre

No description
by

chika yorza

on 31 May 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Konflik Eksistensial Manusia Menurut Jean Paul Sartre

Menurut teori psikologi tentang emosi dari James-Lange,


Beberapa Karakteristik Utama Fenomenologi Sartre dan
Tema-Tema Penyelidikannya
C. Tatapan
2. Perbedaan Kedua antara Persepsi dan Imajinasi
A.Imajinasi
Kelompok 4
Konflik Eksistensial Manuia
Menurut Jean Paul Sartre
SARTRE
Pengaruh sartre tidak memiliki mahzab dan tidak punya sekolah. Namun, banyak pemikiran tentang manusia yang diungkapkan sartre secara gamblang dan berani.
Karena ia memiliki sekelompok pengikut yang fanatik, maka pandangannya menjadi berpengaruh.
Pengaruhnya dalam dunia filsafat pun lebih kuat melalui provokasinya ketimbang transmisinya.

D. TUBUH
Konflik Eksistensial Manusia Menurut Jean Paul Sartre
Afina Septriani (1424090164)
Rizkita Desiyani (1424090229)
Chika Aslia Yorza (1424090176)
Muhammad H. Andrean (1424090327)
Bayu Asyadha (1424090238)
Herbert Spiegelberg

Pemikiran Sartre (1905-1960) dideskripsikan dengan sangat baik oleh Spiegelberg
Menurut Spiegelberg petualangan Sartre pada dasarnya didorong oleh obsesinya untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan
“apakah manusia itu?"
“apakah manusia itu?"
yang menurutnya, manusia selalu berada dalam konflik eksistensial antara
Ada dan Tiada,
antara
pesona Benda dan kecemasan
terhadap Kebebasan
Sarte tidak
menyebut
dirinya sebagai seorang
fenomolog,
tetapi Sartre mengaku pemikirannya
banyak di
pengaruhi oleh fenomologi
Husserl dan Heidegger.


Sartre melihat 2 hal penting dari fenomologi Husserl.


Perlunya menempatkan kesadaran sebagai titik tolak untuk kegiatan atau penyelidikan filsafat
Pentingnya filsafat untuk “kembali kepada realitasnya sendiri” (Zu den sachen selbst).

Gejala gejala dasar manusia seperti kesadaran, emosi, imajinasi dan fantasi harus di selidiki secara langsung, tanpa menggunakan asumsi atau teori prefenomenologis yang deterministik dan mekanistik

EMOSI =
bagian dari perilaku manusia, yaitu sebagai suatu respon terhadap suatu stimulus tertentu.
Kritik dari Sartre mengenai pendapat James-Lange yaitu dikarenakan:
1. Teori James-Lange terlalu abstrak

2.Teori James-Lange bersifat deterministik (penetapan batas).
Karena realitas yang sebenarnya menunjukan bahwa tidak ada determinisme pada manusia.

Dalam penyelidikan fenomenologis, teori seperti itu harus “direduksi” (ditunda) terlebih dahulu.
lalu kita mengamati gejala emosi itu
secara langsung, tanpa perantara asumsi
atau teori.
Emosi
Menurut
Sartre
perilaku yang bertujuan serta berlandaskan pada harapan atau motif tertentu
“bukan saja aktif tapi juga menunjuk pada perilaku manusia yang bebas, yang tidak di determiner.”


Kritik dari Sartre akan penting dan bermanfaatnya fenomenologi Husserl
1. Mengecam idealisme Husserl yang tidak “realistik"
2. Dunia (dan eksistensi) oleh Husserl justru direduksi (ditunda) dan tidak pernah di tempatkan lagi sebagai realitas yang menopang kesadaran.

karena konsepsinya tentang kesadaran tidak dihubungkan dengan adanya dunia. Kesadaran hanya diandaikan oleh Husserl tanpa ada landasan yang menopangnya (Ada).

Fenomenologi Menurut Sartre
Lebih “realistik” karena kesadaran dihubungkan dengan dunia. Menurtnya “menyelidiki kesadaran pasti akan berhubungan dengan menyelidiki dunia.”

Lebih dekat dengan fenomenologi hermeneutik Heidegger dalam 2 hal:
Dalam hal “realistiknya”

Dalam hal analog yang terdapat dalam pengertian dari konsep yang di kemukakan oleh Sartre.

Ada beberapa konsepsi dari Heidegger yang diambil alih
dan dimodifikasi
oleh Sartre
Contoh: “Ada-dalam-dunia” digunakan Sartre untuk mendeskripsikan “struktur dunia imajiner,”
Dua Tema Utama Filsafat Sartre "Kebebasan" dan "Ada"
Peranan Fenomenologi Dalam Perkembangan Pemikiran
Sartre

Dalam Saint Genet, Sartre merumuskan :
merekonsiliasikan (mendamaikan) subjek dan objek.

Usaha ini barangkali didorong oleh pengalaman fundamental Sartre tentang kebebasan (diri sebagai (subjek) dan tentang benda
(objek)).
Kedua pengalaman ini, dalam pandangan Sartre, merupakan symbol kondisi manusia yang
(di satu pihak) mengalami dirinya sebagai makhluk bebas, tapi ( di lain pihak ) selalu dihadapkan pada kuasa atau daya tarik Benda.
Pengalaman tentang kebebasan, sejak semula memperlihatkan pandangan Sartre yang muram
“Keberadaan kita, pada dasarnya adalah keberadaan yang ‘terlempar‘ tanpa kita sendiri menghendakinya demikian.“
membenarkan pernyataan itu :

“ Kita semua dapat menyelidiki masa kanak-kanak kita sendiri yang kehadirannya ke dunia sama sekali tanpa pemberitahuan, sehingga tidak bisa lain kecuali mengaburkan kesadaran diri kita sendiri. "
Dalam pandangan Sartre, pengalaman tentang kebebasan, dan tentang kesadaran diri, bukanlah pengalaman yang mudah dan mengenakkan.
Kebebasan ternyata penuh dengan paradox dan sekaligus menyesakkan.
Kebebasan “ dibebankan “ kepada kita oleh situasi yang tidak kita pilih, dan tanpa alternative lain kita harus menerimanya begitu saja.
Kebebasan bukanlah sesuatu yang mapan dan padat, sebaliknya kebebasan itu amatlah rapuh dan selamanya berada dalam posisi yang rentan dan terancam.
Ancaman sesungguhnya berasal dari Benda.
Benda mempunyai daya tarik dan daya pikat yang luar biasa besar, mampu menjerat dan menghancurkan kebebasan. Kebebasan merupakan sasaran empuk dari pesona dan kuasa Benda, yang keberadaannya luar biasa masih dan melimpah-ruah
Kedua pemikiran tersebut ( kebebasan dan Benda ) membawa Sartre pada
pandangan dualistiknya :
dualisme antara ada yang subjektif dan ada yang objektif, antara pour-soi dan en-soi, antara kebebasan dan Ada. Dan antagonism dari kedua “ instansi “ tersebut pulalah, yang diusahakan oleh Sartre untuk direkonsiliasikan dalam filsafatnya.

Francis Jeanson, mengadakan penelaahan atas hamper seluruh karya dan biografi Sartre

“haram jadah“ (bastardy)
dan “kebanggaan“ (pride).
ia coba menjawab pertanyaan dengan dua tema dari pemikiran Sartre, yakni
Sartre meyakinkan dirinya bahwa eksistensinya adalah tidak sah, tidak
pada tempatnya, dan tidak dikehendaki.
“Aku adalah haram jadah yang konyol"
Eksistensi manusia pada prinsipnya adalah sia-sia, absurd, penuh permusuhan dan syakwasangka
Mendapatkan pembenarannya di dalam pengalaman Heidegger tentang
“ keterlemparan “,
dimana manusia sesungguhnnya tidak mengetahui asal-usul dan alasan keberadaann hidup kita sendiri
Petunjuk kedua terdapat pada tema
“kebanggaan“
, membawa Sartre pada humanism eksistensial :
"kebanggaan"
bahwa manusia adalah satu-satunya pusat dari realitas
Atas
“ kebanggaan “
itulah Sartre, mengikuti Husserl, hendak menghapus Benda-benda dari kesadaran.
Benda-benda adalah lawan tunggal kebebasan.
Perlawanan-perlawanan Sartre terhadap Benda-Benda, adalah klimaks dari semangat pemberontakan Promothus melawan universum yang telah dibangun terutama sejak zaman Romantik.
Perlawanan Sartre itupun adalah perlawanan Kartesian dalam menaklukkan kegelapan bawah sadar pada zamannya, atau semangat Kantian dalam mempertahankan otonomi manusia dari Kuasa-Kuasa di luar manusia.

Sartre mengakui bahwa usaha untuk merekonsialisasikan
antara subjek dan objek
antara kebebasan dan benda
antara kebebasan-subjektif
dan ada-objektif
Berikut adalah perjalanan pemikiran Sartre :
ternyata bukan merupakan
usaha yang gampang.
Dalam usahanya untuk mengadakan rekonsiliasi, dan bagaimana fenomenologi berperan dalam memecahkan kesulitan yang dihadapi oleh Sartre
1. Periode Prafenomologis
Komitmen dan concern Sartre untuk merekonsialisasikan pertentangan
antara kebebasan-subjektif dan ada-objektif
sudah ada, bahkan ketika ia masih muda dan belum berkenalan dengan fenomenologi.
Dalam suratnya kepada Les Nauvelles Litteraises,
menunjukkan kenyataan itu.


Dalam surat yang dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan para mahasiswa tentang gagasan-gagasan Sartre yang dianggap kontroversial pada saat itu, dipaparkan olehnya kondisi manusia yang penuh dengan paradoks.

Salah satu ilustrasi yang diberikan oleh Sartre sendiri untuk menunjukkan paradoks manusia itu – untuk menunjukkan pertentangan antara kebebasan dan Ada – adalah
sikap atau tindakan manusia relijius.
Sungguh sebuah ilustrasi yang menunjukkan ateisme Sartre yang radikal!
Tulis Sartre
“dilandasi oleh kepercayaan bahwa manusia baru menjadi manusia, dan bersatu dengan Ada absolut. Manusia relijius memandang dirinya sebagai Kehadiran Yang Absolut dalam situasi yang relatif”.
Sikap seperti itu, adalah sikap yang dilandasi oleh kepercayaan yang absurd dan sia-sia.

Maka dari itu, Sartre memandang manusia sebagai “nafsu yang tidak berguna”, sebagai “gairah yang sia-sia” (Man is a useless passion).
2. Periode Psikologi Fenomenologis
pendekatan dan interpretasi Sartre atas masalah kebebasan dan Ada,
bukan saja lebih “ilmiah” dan konkret,
tetapi juga mulai bebas dari pesimisme yang muram dan pikiran yang masih diliputi kekaburan.

Emosi adalah perilaku yang dipilih, yang berasal dari kebebasan manusia.
Konsekuensinya, manusia tidak dapat menghindar dari resiko atau tanggung jawab yang mungkin ditimbulkan oleh emosi,
karena “…perilaku emosial dilandasi oleh motif dan harapan pelaku.”
Studi Sartre menghasilkan kesimpulan
bahwa emosi mempunyai makna, karena emosi merupakan perilaku yang berlandaskan pada pilihan-pilihan, motif-motif, dan harapan-harapan tertentu. melalui emosi, kesadaran berusaha mencapai sasarannya secara “magis”, yakni dengan cara melarikan diri dari realitas.
Imajinasi
, yang dirumuskan Sartre sebagai
“tindakan menarik diri dari kenyataan kausal,”


mempunyai makna, karena ditujukan untuk melepaskan diri dari determinisme Ada.
Hal itu tampak dari fungsi negatif pada kenyataan, yang bersumber dari imajinasi.
Imajinasi dapat membebaskan diri dari kausalitas dan “berpetualang” secara tak terhingga.
3. Periode Ontologi Fenomenologis
Sartre kini relative lebih siap memecahkan persoalan tentang
Ada dan kesadaran-bebas
, dan menghubungkannya kedalam suatu sintesis baru.
Dan fenomenologi dipandang mampu menjalankannya.
kesadaran

pada prinsipnya kurang terang dan kurang massif
Ada
adalah gelap, massif, dan melimpah-ruah.
Karena kekurangannya tersebut, maka ia adalah kekurangan Ada. Kesadaran tidak mungkin tanpa adanya Ada.
Kesadaran bukan hanya membuka jalan bagi Ketiadaan, tetapi juga membuka kemungkinan untuk pemaknaan Ada. Tanpa kesadaran, tidak ada makna
Kesadaran adalah kesadaran yang bereksistensi.
Pemberian makna pada Ada, pada prinsipnya adalah pemberian makna oleh kesadaran yang
berada-dalam-dunia.
Kesadaran merupakan imbangan dari dunia, dan keduanya membentuk satu kesatuan yang tidak terpisahkan
4. Periode Eksistensialisme Fenomenologis
Eksistensialisme Sartre menjadi sangat terkenal setelah ceramahnya, kemudian diterbitkan buku kecil Eksistensialisme
Adalah Suatu Humanisme.

Sartre menulis dalam
naskah ceramahnya

Manusia tidak lagi dipandang sebagai
“gairah yang sia-sia”,

melainkan dipandangnya sebagai
“anugerah”.

Dasar dari perhubungan antar manusia tidak lagi diinterpretasikan sebagai konflik, melainkan “kebersamaan”.

Dalam periode ini “pembebasan” eksistensi manusia dalam bentuk perjuangan social dan komitmen yang tinggi pada revolusi social kaum proletar.
Dalam pandangan Sartre, kita perlu
“mencegah pendekatan yang
terlalu subjektif dan objektif
pada gejala manusia."

Aulya Tri Ramadhani (1424090283)
Rara Ayu Pratiwi (1424090329)
Khansa Azzahra Ridha (1424090305)
Rina Puspitasari (1424090276)
Ratika Purnama Sari (1424090293)
Maulidya Soraya (1424090312)
Nabila Citra Ramadhani (1424090291)

Mega ( )

A. Tema Penyelidikan Sartre: Kesadaran
1. Penolakan atas Ego Transendental Husserl dan Interpretasi Sartre tentang Fenomenologi Eksistensi Manusia

Kita telah mengetahui bahwa ajakan Husserl untuk
“kembali kepada realitasnya sendiri”
pada akhirnya menjadi
“kembali kepada ego Transendental”.
Baginya kesadaran adalah gejala yang sangat menarik perhatian.

Menurutnya, menempatkan ego pada tingkat transcendental berarti masuk kedalam dunia ideal, dan akhirnya terjebak kedalam idealisme.
Tetapi Sartre tidak mau mengulang apa yang telah dilakukan Husserl, yakni untuk menempatkan ego pada tingkat transendental.
Sartre coba “menurunkan” ego transendental ketingkat eksistensial, atau ke tingkat ego sebagai manusia konkret (realite humanine).
Dengan demikian, fenomenologi,bukan lagi fenomenologi transedental, melainkan fenomenologi eksistensi manusia.
2. Kesadaran dan fenomenologi
Kesadaran pra-reflekti
f
adalah kesadaran yang langsung terarah pada objek perhatian kita,tanpa kita sendiri berusaha untuk merefleksikannya.
Kesadaran reflektif
adalah kesadaran yang membuat kesadaran pra reflektif menjadi tematik, atau dengan kata lain kesadaran yang membuat kesadaran yang tidak disadari menjadi “kesadaran yang disadari”.
Di dalam fenomenologi, kesadaran pra-reflektif kita akan objek, kita refleksikan atau kita buat menjadi tematik, sehingga kita menjadi paham apa makna sesungguhnya dari perbuatan-perbuatan kita itu dan bagaimana objek-objek dari perbuatan kita itu kita maknakan.
3. Karakter Negatif Kesadaran
Kajian awal Sartre dalam Psikologi fenomenologis, khususnya tentang gejala imajinasi, sudah memperlihatkan perhatiannya pada karakter negative kesadaran.
“Imajinasi” terarah pada objek yang tidak-ada, pada objek-objek yang dimana pun tidak menampakkan kehadirannya.
Menurut analisis Sartre,
kesadaran adalah sumber yang menciptakan ketiadaan.
Kesadaran tidak lain dan tidak bukan adalah sumber atau asal-usul yang melahirkan ketiadaan.
“Wujud sebenarnya dari ketiadaan adalah ketidakhadiran dari bagian-bagian yang hilang dalam totalitas Ada.”
Akan tetapi apa yang hilang dalam totalitas Ada sebetulnya tidak bersumber dari Ada sendiri, melainkan dari negativitas kesadaran,yakni dalam perbuatan “menidak” terhadap Ada.
Dibalik negativitas kesadaran itu terkandung harapan atau pengharapan. Ketiadaan berhubungan dengan harapan kesadaran.

4. Kebebasan
“Setiap bentuk kesadaran dalam hubungannya dengan dunia”
“selalu ditandai oleh terputusnya dan negasi terhadap relasi-relasi kausal. Bahkan, untuk menjadi dirinya sendiri, kesadaran harus bebas terlebih dahulu dari kausalitas tersebut.”
demikian Sartre menulis
Kita bisa melihat adanya unsur positif dari pandangan Sartre berkaitan dengan pilihan dan penentuan bentuk dan makna eksistensi kita sendiri.
“menjadi diri kita sendiri mungkin kalau kita memilih sendiri dan menentukan sendiri bentuk eksistensi kita.”
Kebebasan pada prinsipnya, dan pada awal mulanya, “dibebankan” pada manusia dalam situasi yang sudah tertentu dan yang bukan merupakan pilihannya, tetapi manusia bebas sebebas-bebasnya untuk mengubah makna situasinya itu, yakni melalui perbuatan-perbuatan dan usaha-usaha yang dipilih dan ditentukan oleh dirinya sendiri.
Kebebasan tidak mungkin terwujud tanpa situasi-situasi yang sudah terwujud, tanpa situasi-situasi yang tidak dipilihnya.
5. Kecemasan
kecemasan adalah keadaan mencekam, yang disebabkan oleh ancaman dari ketiadaan.
Akan tetapi Sartre mengartikan istilah ini dalam artinya yang terbatas dan praktis.

Kalau manusia (baca: “kesadaran”) identik dengan kebebasan maka jaminan keberadaan dan kelangsungan hidup diri dan eksistensinya sepenuhnya tergantung pada kebebasan itu.
Kecemasan olehnya dihubungkan dengan kebebasan dan tanggung jawab.
Kecemasan adalah gejala universal dan menyergap siapa saja, saat ia menyadari bahwa ia hidup sendirian dan harus memikul dipundaknya sendiri, seluruh tanggung jawab yang bersumber dari kebebasannya itu.
Akan tetapi, baik kebebasan maupun tanggung jawab itu sebetulnya
“terlalu berlebihan”
,
“terlampau berat untuk dipikul”
Karena konsekuensi apapun yang mungkin timbul akibat kebebasan itu bukan saja harus dipikul sendirian, tetapi juga bisa menggoyahkan segenap eksistensinya.
Contohnya: salah memilih pasangan hidup atau mendapat tekanan sosial politik yang tidak menguntungkan dari pihak penguasa seperti pada jaman orde baru, tidak mustahil bisa menghancurkan masa depan (eksistensi) saya, yang telah lama saya jalani dan saya rencanakan dengan penuh pengharapan.

6. Malafide
Sartre mengakui bahwa kecemasan tidak sungguh-sungguh dan tidak selamanya disadari oleh manusia.

Kecemasan menyergap begitu saja pada manusia pada situasi-situasi tertentu dan berlangsung pada taraf kesadaran pra-reflektif (yang ekuivalen dengan ketidaksadaran psikoanalisis).
Dalam malafide
, manusia menipu dirinya sendiri dengan cara menyangkal kebebasannya dan menutupi kecemasannya.
Manusia mengidentifikasikan diri dengan objek
(benda atau ada) dan tidak mengakui dirinya sebagai subjek ( “kesadaran bebas”).
Contoh konkret misalnya terjadi pada banyak individu, yang mengasalkan segala kegiatan dari “takdir” atau “nasib” atau dari kekuatan-kekuatan diluar dirinya, yang menurutnya tidak bisa ditentang atau dihindari.
Apa yang sebenarnya hendak dikatakan oleh manusia malafide dalam pernyataan-pernyataan tersebut adalah
“semuanya itu bukanlah kehendak saya, atau tidak ada sangkut pautnya dengan kemauan saya, jadi apapun yang terjadi, bukanlah tanggung jawab saya”
Malafide juga bisa tampil pada ilmuwan atau psikolog yang meyakini teori-teori deterministik, dan menjadikan teori tersebut sebagai alasan untuk menyangkal kebebasan dan tanggung jawabnya.
Teori yang menyatakan bahwa
“watak manusia terbentuk oleh pengalaman-pengalamannya pada masa kanak-kanak awal” atau faktor-faktor biologis sangat menentukan perilaku agresif”
oleh manusia malafide bisa dijadikan sebagai alasan untuk dimakluminya perbuatan-perbuatan amoral tertentu atau agar dibebaskannya dari tanggung jawab moral, yang seharusnya dipikul oleh dirinya.

B. Metode Fenomenologi dan Psikoanalisis Eksistensial
Berdasarkan pada hasil interprestasi tentang kesadaran, Sartre lalu memperkenalkan suatu metode fenomenologis “baru” yang ia sebut “Psikoanalisis Eksistensial”.
Hasil studinya itu membawa Sartre pada kesimpulan,
bahwa psikoanalisis dapat membantu usahanya untuk menerangi dan menganalisa aspek-aspek gelap dari kesadaran yang selama ini memang merupakan pusat perhatiannya.
“Psikoanalisis yang bertujuan untuk menggali dan mengungkap sampai kebawah permukaan perilaku manusia yang tampak, sesuai dengan minat saya untuk memahami kesadaran secara lebih mendalam” demikian tulis Sartre
.
Ia pun keberatan atas konsepsi-konsepsi para psikoanalisis tentang “ketidaksadaran” sebagai sesuatu yang gelap dan tidak dapat ditembus oleh kesadaran.
Ia pun menyangkal adanya kenyataan libido, kehendak untuk berkuasa, Id dan Superego serta mekanisme-mekanisme bawah sadar seperti represi dan sublimasi.

Gejala yang hendak diungkap dan digali maknanya oleh sartre melalui psikoanalisis eksistensialnya, tidak lain adalah gejala yang sama dengan yang digali oleh psikoanalisis, yakni “ketidaksadaran”.
Hanya saja gejala ketidaksadaran itu harus bisa diuji dan dialami langsung melalui faktor-faktor yang bisa dijangkau oleh kesadaran.
Salah satu faktor utama yang patut kita perhatikan adalah
“pilihan dasar manusia” (fundamental choice)
yang dengannya kita bisa menjelaskan segenap bentuk perilaku manusia baik perilaku praktis, teoritis dan emosional.

Beberapa Ilustrasi tentang Gejala Manusia, Hasil dari Praktek Fenomenologi Eksistensial Sarte
Fenomenologi Sartre tentang imajinasi dituangkan dalam L’imaginaire (1940) yang dinamakan
“Psikologi Fenomenologi tentang Imajinasi”
.

Namun karya tersebut harus di tinggalkan dan membatasi perhatian kita pada perbedaan antara persepsi dan imajinasi, menurut
empat karakteristiknya :
1. Perbedaan Pertama antara Persepsi dan Imajinasi
3. Perbedaan Ketiga antara Persepsi dan Imajinasi
4. Perbedaan Keempat antara Persepsi dan Imajinasi
Tidak terletak pada kehadiran dan ketidakhadiran suatu citra (image), melainkan pada cara terarahnya kesadaran kita pada objek intesionalnya.
Melibatkan cara kita mengalami objek. Pada persepsi kita tergantung pada observasi, pada imajinasi tergantu pada quasi – imajinasi.
Imajinasi menghadirkan karakter objeknya dengan karakter negatif yakni sebagai sesuatu yang tidak ada atau kekurangan objeknya.
Imajinasi jauh lebih spontan, kreatif, dan produktif dibanding persepsi
B.
EMOSI
Sartre mengajukan pertanyaan

Pertanyaan tersebut mengandung pengertian bahwa emosi memilki struktur
teleologisnya (telos = bertujuan).

Dalam hal ini emosi berarti :
bentuk perilaku yang bermakna tujuan.

“apakah fungsi emosi dalam eksistensi manusia?”
Sartre mengkritik teori – teori klasik tentang manusia
Menurut teori tersebut

emosi adalah : proyeksi mekanis dari kejadian – kejadian fisiologis dalam kesadaran dan
Sartre memandang

emosi adalah : jaringan cara – cara yang teratur untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Selain itu Sartre mengkritik para psikolog gestaltis
Menurut para psikolog gestaltis
menginterpretasikan emosi sebagai “penyelesaian yang masih ‘kasar’ atas konflik – konflik.”

Menurut Sartre
“keyakinan mereka atas konsepsi ketidaksadaran pada akhirnya menggoda mereka untuk menghubungkan tujuan – tujuan tersebut……..”
Ciri utama dari tatapan bahwa :
Ia mempunyai akibat nyata dari kesadaran, yang mengalami dirinya ditatap oleh orang lain.

Tatapan mampu :
“membekukan” objeknya, “memperkuda” atau “membuat kaku” apa yang ditatatapnya
Deskripsi fenomenologis Sartre ini memasuki diskusi tentang “ Orang Lain” (dunia sosial).

Secara umum deskripsi fenomenologi tentang tatapan dan tentang orang lain ini baru tampak dan bisa di jelaskan dalam kaitannya dengan gejasla kesadaran.
Gejala tubuh oleh Sartre dilihat dalam perspektif filsafat sosial
Namun Sartre tidak mengarahkan pada tubuh sebagai objek penelitian ilmiah

melainkan ,
Pada tubuh sebagaimana dialami langsung secara sadar oleh kita dan fungsi tubuh dala kaitannya dengan relasi kita (orang lain).
Dalam sehari – hari kita mengalami sendiri sebagai tubuh – subjek bukan tentang aktivitas otak.
Meliputi tiga “dimensi” atau “ segi” berikut ini :
1. Tubuh Saya Bagi Saya Sendiri
2. Tubuh Saya Bagi Orang Lain
3. Tubuh Bagi Saya Yang Menyadari Adanya Dimesni Kesadaran Orang Lain akan Tubuh Saya

1. TUBUH SAYA BAGI SAYA SENDIRI
Bahwa pada tingkat kesadaran pra – reflektif kita “ mengada” pada –atau “menghidupi” – tubuh kita.

Bahwa kesadaran kita secara otomatis “terlibat” dalam tubuh kita dan mengidentifikasikan diri dengannya

2. TUBUH SAYA BAGI ORANG LAIN
Tubuh sebagaimana tampak bagi orang lain merupakan gejala tubuh yang sangat kaya
Rupa – rupa pandangan orang lain tentang tubuh kita :
a. sebagai bahan cemoohan
b. sebagai objek pemuas nafsu seks
c. sebagai tubuh yang dikagumi

3. TUBUH BAGI SAYA YANG MENYADARI ADANYA DIMENSI KESADARAN ORANG LAIN AKAN TUBUH SAYA
Perasaan malu atau segan yang bersifat badaniah adalah ungkapan khas dari kesadaran kita akan kesadaran orang lain terhadap tubuh kita.
PENGARUH
Pengaruh Sartre
KESIMPULAN
Sartre mengatakan kalau dia bukan seorang fenomenolog
tetapi pemikiran sartre banyak di pengaruhi oleh fenomenolog Husserl dan Heidegger
sehingga ia menghasilkan fenomenologi eksistensial. Dimana teori yang ia buat lebih dekat dengan fenomenolog Heidegger yaitu lebih realistik (kesadaran dihubungkan de ngan dunia)
ia menarik tema tentang mendamaikan subjek dan objek dimana subjek adalah kebebasan, dimana kebebasan adalah pengalaman ttg kesadaran sendiri atau manusia dan objek adalah benda atau dunia.
Lalu dalam fenomenologi eksistensinya, sarte memperlihatkan fenomenologinya dengan menjelaskan gejala dasar manusia seperti imajinasi, emosi, tatapan dan tubuh.
Manusia menurut sartre atau subjek atau kesadaran memiliki kebebasan dalam hubungannya dengan objek atau dunia yang di pengaruhi dengan gejala gejala manusia seperti imajinasi emosi tatapan dan tubuh
Full transcript