Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

PERKEMBANGAN INTELEKTUAL REMAJA

No description
by

khairul bariah

on 20 February 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of PERKEMBANGAN INTELEKTUAL REMAJA

Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Intelek/Kognitif
Manusia memiliki perbedaan satu sama lain dalam berbagai aspek, antara lain dalam :
bakat,
minat,
kepribadian,
keadaan jasmani,
keadaan sosial, dan
intelegensinya.


Karakteristik Perkembangan Intelegensi
Hubungan antara Intelektual dan Tingkah Laku Moral
Piaget memiliki pandangan dasar bahwa setiap organisme memiliki kecenderungan inheren untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Intelegensi sebagai bentuk khusus dari penyesuaian penyesuaian organisme baru dapat diketahui berkat dua proses yang saling mengisi, yaitu yang sering disebut dengan istilah asimilasi dan akomodasi
SIDE A
SIDE B
istilah intelegensi telah banyak digunakan, terutama didalam bidang psikologi dan pendidikan, namun secara definitif istilah itu tidak mudah dirumuskan. Banyak rumusan tentang intlegensi seperti yang dikemukan oleh Singgih Gunarsa dalam bukunya psikologi remaja (1991), ia mengajukan beberapa rumus intelegensi sebagai berikut :
PERKEMBANGAN INTELEKTUAL REMAJA
THANK YOU!
Menurut English & English dalam bukunya “ A Comprehensive Dictionary of Psychological and Psychoanalitical Terms”, istilah intellect berarti antara lain : (1) kekuatan mental dimana manusia dapat berpikir , (2) suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berknaan dengan berpikir ( misalnya menghubungkan, menimbang dan memahami) dan (3) kecakapan, terutama kcakapan yang tinggi untuk brpikir (Sunarto & Hartono,2006 : 99).
1. Intelegensi merupakan suatu kumpulan kemampuan sseorang yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dngan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.
2. Intelegensi adalah suatu bentuk tingkah laku tertentu yang tampil dalam kelancaran tingkah laku.
3. Intelegensi meliputi pengalaman-pengalaman dan kemampuan bertambahnya pengertian dan tingkah laku dngan pola-pola baru dan mempergunakannya secara efektif.
4. William Sterm mengemukakan bahwa intelegensi merupakan suatu kemampuan untuk menyesuaikan diri pada tuntutan baru di bantu dngan pnggunaan fungsi berpikir.
5. Binet berpendapat bahwa intelegensi merupakan kemampuan yang diperoleh melalui ketrurunan, kemampuan yang diwarisi dan dimiliki sjak lahir dan tidak terlalu banyak dipengaruli oleh lingkungan. Dalam batas-batas tertentu lingkungan turut berperan dalam pembentukan kemampuan intelegensi.
Pada usia remaja, IQ dihitung dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan yang terdiri dari brbagai soal (hitungan, kata-kata, gambar-gambar, dan semacamnya). Dan menghitung berapa banyak pertanyaan yang dapat dijawab dengan benar, kemudian mmbandingkannya dngan sebuah daftar ( yang di buat berdasarkan penelitian yang terpercaya )
Lingkungan dimana seorang hidup mengalami perubahan yang terus-menerus. Supaya seseorang dapat bertahan ia harus mempertahankan keseimbangannya dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Piaget (dalam E. Prayitno,1992) berpendapat dimanapun anak akan mengalami 4 periode perkembangan berfikir, yaitu:

1. Perkembangan berfikir sensorimotorik.
2. Perkembangan berfikir preoprasional.
3. Perkembangan berfikir konkret.
4. Perkembangan berfikir formal.
Periode perkembangan sensomotorik meliputi enam fase perkembangan sebagai berikut:
 Usia sampai 1 bulan meliputi kemampuan berfikir reflek, kemampuan mengerak-gerakkan anggota badan walaupun belum terkoordinasi, kemampuan untuk mengakomodasi dan mengasimilasikan berbagai kesan yang diterimanya dari lingkungannya.
 Usia sampai 4 bulan, kemampuan memperluas skemata yang dimilikinya secara heriditas.
 Usia sampai dengan 8 bulan, kemampuan menghubungkan antara perlakuannya terhadap benda dengan akibat yang terjadi pada benda itu.
 Usia sampai dengan 12 bulan, kemampuan memahami bahwa benda “tetap ada” walaupun untuk sementara menghilang dan pada waktu yang akan datang dapat muncul kembali, kemampuan melakukan percobaan, kemampuan menentukan tujuan kegiatan tanpa tergantung pada orang lain.
Pekembangan ini berlangsung antara usia 2-6 tahun. Penggunaan istilah opersional di sini dimaksudkan sebagai gambaran bahwa anak mempergunakan aktifitas mental dalam berfikir.
Tingkah laku egosentris anak dapat dilihat dari ciri tingkah laku seperti berikut:
Berfikir imaginatif, menganggap bahwa khayalan sebagai suatu realita atau sesuatu benar-benar terjadi sehingga muncul apa yang disebut “dusta”atau “khayal”.
Berbahasa egosentris, anak berdialog/berbicara dengan dirinya sendiri karena fikirannya tertuju pada dirinya sendiri.
Memiliki ‘aku’ yang tinggi.
Perkembangan bahasa yang cepat, dimana anak pada usia ini menguasai kata sekitar 200-2000 kata.
Periode perkembangan berfikir konkret berlangsung pada usia 6-12 tahun. Dikatakan berfikir konkret karena anak hanya mampu berfikir dengan logika jika untuk memecahkan persoalan-persoalan yang sifatnya konkret atau nyata yaitu dengan cara mengamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pemecahan persoalan itu
Setelah melewati periode berfikir konkret, anak akan mencapai kemampuan berfikir formal yang ditandai dengan dikuasainya kemampuan sebagai berikut:
Kemampuan berfikir abstrak, yaitu kemampuan menghubungkan berbagai konsep tanpa disertai peristiwa-peristiwa atau benda-benda konkret.
Kemampuan berfikir logis dengan objek-objek abstrak.
Kemampuan untuk mengintropeksi diri sendiri.
Kemampuan dalam mempelajari peranan-peranan orang dewasa.
Kemampuan dalam menyadari kepentingan masyarakat dilingkungannya.


Secara hereditas, individu memiliki potensi yang dapat menyebabkan perbedaan dalam perkembangan berpikir mereka. Berkembang atau tidaknya potensi tersebut tergantung pada lingkungan. Ini berarti bahwa apakah anak akan mempunyai kemampuan berfikir normal, di atas normal, atau di bawah normal sangat tergantung pada lingkungan (Ali & Asrori, 2004: 35).
Faktor- faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelektual Remaja
1. Factor Hereditas
2. Factor lingkungan
Semenjak dalam kandungan, anak telah memiliki sifat-sifat yang menentukkan daya kerja intelektualnya. Secara potensial anak telah membawa kemungkinan, apakah akan menjadi kemampuan berpikir setaraf normal, di atas normal, atau di bawah normal
a. Keluarga
Intervensi yang paling penting dilakukan oleh keluarga atau orang tua adalah memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang kehidupan sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang merupakan alat bagi anak untuk berpikir.

b. sekolah
guru hendaknya menyadari bahwa perkembangan intelektual anak terletak diantaranya
Beberapa cara di antaranya adalah sebagai berikut.
• Menciptakan interaksi atau hubungan yang akrab dengan peserta didik
• Memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk berdialog dengan orang-orang yang ahli dan berpengalaman dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, sangat menunjang perkembangan intelektual anak.
• Menjaga dan meningkatkan pertumbuhan fisik anak, baik melalui kegiatan olahraga maupun menyediakan gizi yang cukup, sangat penting bagi perkembangan berpikir peserta didik.
• Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik, baik melalui media cetak maupun dengan menyediakan situasi yang memungkinkan para peserta didik berpendapat atau mengemukakan ide-idenya.
Usaha Sekolah Dalam Mengembangkan Intelektual Remaja
1. Pendidik menerima peserta didik secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard).
2. Pendidik menciptakan suasana di mana peserta didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain. Memberi penilaian terhadap peserta didik dengan berlebihan dapat dirasakan sebagai ancaman sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri.
3. Pendidik memberi pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku peserta didik, dapat menempatkan diri dalam situasi peserta didik, serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka (empathy).
4. Menerima remaja secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard).
5. Memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku remaja. Menempatkan diri dalam situasi remaja, serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka (empathy).
6. Memberikan suasana psikologis yang aman bagi remaja untuk mengemukakakn pikiran-pikirannya sehingga terbiasa berani mengembangkan pemikirannya sendiri.

kesimpulan
Secara hereditas, individu memiliki potensi yang dapat menyebabkan perbedaan dalam perkembangan berpikir mereka. Berkembang atau tidaknya potensi tersebut tergantung pada lingkungan. Ini berarti bahwa apakah anak akan mempunyai kemampuan berfikir normal, di atas normal, atau di bawah normal sangat tergantung pada lingkungan. Perkembangan intelektual dipengaruhi oleh dua factor utama, yaitu hereditas dan lingkungan. Yang termasuk dalam faktor lingkungan yaitu keluarga dan sekolah . Ikhtiar pendidikan, khususnya melalui proses pembelajaran, guna mengembangkan kemampuan intelektual setiap peserta didik harus di pupuk dan dikembangkan agar potensi yang dimiliki setiap individu terwujud sesuai dengan perbedaan masing-masing.
khairul bariah
rizka masfurah
asyura aulia
yuliana bru padang
yunita gebrina
reka mulya casturi
arival hakimi
angga nugraha
Full transcript