Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Kearifan Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupate

No description
by

Yudha AN

on 8 January 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Kearifan Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupate

Notes
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Alat dan bahan
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana bentuk-bentuk kearifan masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur dalam konservasi air?


TINJAUAN PUSTAKA
3.3. Teknik Pengumpulan data

- Pengambilan data wawancara dilakukan dengan cara snowball sampling atau dilakukan dengan wawancara secara berantai dengan meminta informasi pada orang yang telah diwawancarai atau dihubungi sebelumnya, demikian seterusnya (Poerwandari, 1998).
- Subyek atau sampel dipilih berdasarkan rekomendasi orang ke orang yang sesuai dengna penelitian (Patton, 2002).

Daftar Pustaka
Kearifan Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur dalam Konservasi Air.
Oleh
Yudha Arif Nugroho

Dosen Pembimbing
K. Fajar Wianti, S.Hut, M.Si.

Air merupakan barang milik bersama yang berpotensi mengalami persoalan besar (Hardin, 1968)

Kendati dua pertiga planet kita terdiri atas air, kelangkaan air terus terjadi (Shiva, 2002).


Sehingga, pengelolaan sumberdaya air harus disesuaikan dengan kondisi lokal dan kearifan lokal pada setiap darah karena setiap daerah memiliki karakterisitk yang berbeda-beda


konservasi sumberdaya air yang tepat memiliki peranan yang sangat penting untuk dapat mengakomodasi persoalan kritisnya sumberdaya air dan pendayagunaan sumberdaya air yang berkelanjutan (Kodoeatie et al, 2008)

Kekurangan air bersih nantinya juga akan menimbulkan konflik (Awang, 2005).

masyarakat menjadi salah satu pemegang kunci keberhasilan pelestarian air (Asdak ,2006)

Eksistensi air di suatu wilayah sangat terkait dengan cara-cara masyrakat memanfaatkan dan mengelolanya (Awang, 2005).

Kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai ciri khas suatu komunitas saja, tetapi juga berfungsi sebagai upaya untuk pelestarian lingkungan ekologis suatu masyarakat (Aulia, 2011).




Kemiren salah satu desa yang masih menjaga kearifan lokalnya ( Nur et al, 2010).
Desa ini ditetapkan sebagai cagar budaya untuk mempertahankan identitas masyarakat Using di Banyuwangi (Bapeda (2002) dalam Herawati et al (2004.
Sungai dan mata air Kemiren sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.





Bagaimana proses pewarisan kearifan masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur dalam konservasi air itu berlangsung?
1.3. Tujuan
1. Mengidentifikasi kearifan masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur dalam konservasi air.
2. Mendeskripsikan proses pewarisan kearifan masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur dalam konservasi air.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian mengenai konservasi air berbasis kearifan lokal di Desa Kemiren merupakan penelitian yang baru pertama kali dilakukan. Sehingga dapat membuka wawasan dan membuka khasanah masyrakat tentang nilai kearifan yang mendukung upaya konservasi air.

2.2. Pengelolaan Sumberdaya air
Pengelolaan sumberdaya air adalah upaya merencakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air (Kodoeatie et al, 2008).
2.1. Pengaruh Hutan Terhadap Air
Hutan berpengaruh pada siklus air di muka bumi. Hutan juga berperan dalam pengaturan tata air (Hairiah, 2006).
Air yang dimaksud pada penelitian ini adalah air menurut UU RI No 7 Tahun 2004, yaitu semua air yang terdapat pada, di atas maupun dibawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.
Mata air adalah pemusatan dari pengeluaran air tanah yang muncul pada permukaan tanah sebagai suatau arus yang mengalir (Tolman, 1937).
Sungai menurut Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 diartikan sebagai tempat dan wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan kirinya erta sepanjang pengalirannya oleh garis sempatan.

Kegiatan konservasi air dapat dilakukan dengan cara pengelolaan dan pengaturan sumberdaya air, yang di dalamnya dapat meliputi kegiatan (Mawardi, 2012 dan FAO, 2003):
pemanfaatan sumberdaya air yang ada dengan tetap menyisakannya untuk masa depan.
perlindungan dan manajemen atau adanya regulasi terhadap sumberdaya air.
2.3. Kearifan Lokal
Kearifan lokal meruapkan perwujudan, implementasi artikulasi, pengejawantahan, dan bentuk pengetahuan tradisional yang dipahami oleh manusia atau masyarakat yang berinteraksi dengan alam sekitarya, sehingga kearifan lokal merupakan pengetahuan kebudayaan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tertentu mencakup model-model pengelolaan sumberdaya alam secara lestari termasuk bagaimana menjaga hubungan dengan alam melalui pemanfaatan yang bijaksana dan bertanggung jawab (Suhartini, 2009 dalam Marfai 2012).

Desa Kemiren merupakan salah satu diantara 15 desa yang termasuk dalam wilayah kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Desa ini dibagi kedalam 2 dusun yaitu dusun Krajan dan dusun Kedaleman. Kedua dusun ini masih dibagi-bagi menjadi 28 rukun tetangga dan 7 rukun warga.
Tabel Pemanfaatan dan Kondisi Air Bersih Di Desa Kemiren
Dapat menjadi data primer mengenai dukungan kearifan lokal mereka terhadap konservasi air di Desa Kemiren.
Penjelasan yang mendalam mengenai identifikasi kearifan masyarakat using dalam penggunaan air dan deskripsi proses pewarisan kearifan lokal dalam konservasi air di kalangan masyarakat Using dapat menjadi pertimbangan dalam mengelola kawasan konservasi di kawasan yang lain.
Informasi yang ada juga dapat menjadi bukti bahwa konservasi atau pengelolaan sumberdaya alam terutama sumberdaya air akan berhasil jika dibersamai dengan partisipasi dan kesadaran yang kuat dari masyrakarat.
BAB III. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

- Literatur dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Using.
- Alat tulis
- Kamera
- Perekam Suara
- Program komputer Microsoft word dan Excel
- Buku catatan, dan
- Monografi desa

3.2. Jenis Data yang dikumpulkan
Data Primer
Data primer dikumpulkan dari bentuk-bentuk kearifan lokal masyarakat Kemiren yang berhubungan dengan konservasi air. Bentuk-bentuk tersebut yaitu nilai-nilai yang ada di masyarakat, norma atau aturan khusus, kepercayaan di mayarakat, aktivitas sosial yang masih ada di masyarakat, dan mitos yang berkembang di masyarakat.
Data Sekunder
Data sekunder meliputi pustaka/literatur dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Using. Selain itu, peneliti juga mengumpulkan data debit dan sebaran mata air di desa Kemiren. Data sekunder ini digunakan untuk menunjang data primer dan melengkapi analisis yang mendalam agar diperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan.
3.4. Analisis Data
(Kaelan, 2005)

1. Data apa saja yang masih perlu dicari
2. Keterangan apa yang harus dibuktikan
3. Pertanyaan apa yang belum dijawab
4. Metode apa yang harus diadakan untuk mencari informasi baru
5. Kesalahan apa yang harus diperbaiki.

Mengambil kesimpulan dan verifikasi

Pemahaman, intepretasi, dan penafsiran

‘Display’ Data

Reduksi Data

Tahap analisis FGD (Bungin, 2003):
1. Melakukan Coding terhadap sikap, pendapat peserta yang memiliki kesamaan
2. Menentukan kesamaan sikap dan pendapat berdasarkankonteks yang berbeda.
3. Menentuikan persamaan istilah yang digunakan, termasuk perbedaan pendapat terhadap istilah yang sama tadi.
4. Melakukan klasifikasi dan kategori terhadap sikap dan pendapat hubungan di antara masing-masing kategorisasi yang ada
5. Analisa hubungan mendalam

Asdak, Chay, 2006. Selamatkan Air!. Dalam : http://www.pikiran-rakyat.com (Diakses 28 Mei 2013 pukul 20.00 WIB )
 
Awang, San Afri, 2005. Kelangkaan Air : Mitos Sosial, Kiat, dan Ekonomi Rakyat. Debut Press. Yogyakarta.
 
Aulia, T.O.S dan A.H Dharmawan, 2011. Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Sumberdaya Air di Kampung Kuta. Sodality : Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi dan Ekologi Manusia Vol. 4. (3)
 
Afriani, I., 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Dalam : http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/penelitian/116-metode-penelitian-kualitatif.html (diakses pada tanggal 28 Juli 2013 pukul : 21.00 WIB)
 
Bungin, Burhan, 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
 
Dirdjokoesoemo, B., 1991. Teknik Penyehatan. UNS press. Surakarta.
 
FAO, 2003. Soil and Water Conservation Methods. FAO Publication.
 
Hardin, Garret, 1968. The Tragedy of the Commons. Science 162 : 1243-1248
 
Herawati, I. dkk., 2004. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Using, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Kemendikbud. Yogyakarta.
 
Kaelan, 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Penerbit “Paradigma”. Yogyakarta.
 
Kashef, A.A.I., 1987. Ground water Engineering Me Graw. Hill Book Co. Singapore.
 
Kodoeatie, R.J, dan R. Sjarief, 2005. Pengelolaan Sumber Air Terpadu. Andi. Yogyakarta.

 
Kodoeatie et al., 2008. Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu. Andi press. Yogyakarta.
 
Koentjaraningrat, 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru. Jakarta.
 

Kongprasertamorn, K., 2007. Local Wisdom, Environmental Protction and Community Development: The Clam Farmers in Tambon Bangkhunsai, Phetchaburi Provinc, Thailand. Manusya : Jorunal of Humanities Vol 10 (1) :
 
Malinowski, B., 1944. The Dynamic of Culture Change: An Inquiry Into Race Relation in Africa. Yale University Press. New Haven.
 
Manik, K.E.S., 2003. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Penerbit Djambatan.
Mawardi, Muhjidin, 2012. Rekayasa Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Bursa Ilmu. Yogyakarta.

Moleong, L.J.,1993. Metode Penelitian Kualitatif. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
 
Moleong, L.J., 1985. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remadja Karya. Bandung.
 
Mitchell. B, dkk., 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
 
Nasution, 1992. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Tarsito. Bandung.
Nur, T., dkk., 2010. Pelestarian Pola Permukiman Masyarakat Using di Desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Tata Kota dan Daerah. Vol.2 (1) : .
 


 
Kodoeatie et al., 2008. Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu. Andi press. Yogyakarta.
 
Koentjaraningrat, 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru. Jakarta.
 

Kongprasertamorn, K., 2007. Local Wisdom, Environmental Protction and Community Development: The Clam Farmers in Tambon Bangkhunsai, Phetchaburi Provinc, Thailand. Manusya : Jorunal of Humanities Vol 10 (1) :
 
Malinowski, B., 1944. The Dynamic of Culture Change: An Inquiry Into Race Relation in Africa. Yale University Press. New Haven.
 
Manik, K.E.S., 2003. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Penerbit Djambatan.
Mawardi, Muhjidin, 2012. Rekayasa Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Bursa Ilmu. Yogyakarta.

Moleong, L.J.,1993. Metode Penelitian Kualitatif. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
 
Moleong, L.J., 1985. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remadja Karya. Bandung.
 
Mitchell. B, dkk., 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
 
Nasution, 1992. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Tarsito. Bandung.
Nur, T., dkk., 2010. Pelestarian Pola Permukiman Masyarakat Using di Desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Tata Kota dan Daerah. Vol.2 (1) : .
 


Patton, M.Q, 1980. Qualitativ Evaluation Methodes. Sage Publications. Beverly Hills.
 
Phongphit, S., and N Wichit, 2002. The Learning Process to Sustainable Development. Charoenwit. Bangkok.
 
Poerwandari, E.K, 1998. Metode Penelitian Sosial. Universitas Terbuka. Jakarta.
 
Rajab, 2006. Memberdayakan Kearifan Lokal Bagi Komunitas Adat Terpencil. Dalam : http://www.depsos.go.id/modules (Diakses 28 Juli2013 pukul: 21.00 WIB)
 
Ridwan, N.A., 2007. Landasan Keilmuwan Kearifan Lokal. Jurnal Ibda. Vol. 5 (1) : 27-38
 
Sariono, Agus, 2002. Pola Diolosia dalam masyarakat Using, Bahasa dan Sastra Using. Ragam dan Alternatif Kajian. Tapal Kuta. Jember.
 
Sartini, 2004. Menggali Karifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. Jilid 37 (2) :
 
Shiva, Vandana. 2002. Water Wars: Privatisasi Profit dan Polusi. Terjemahan A. Uzair. Insist Press. Yogyakarta.
 
Silalahi, Ulber, 2006. Metode Penelitian Sosial. Unpar Press. Bandung.

Saputra, H.S.P., 2007. Memuja mantra : sabuk mangir dan jaran goyang masyarakat suku Using Banyuwangi. LKIS Pelangi Aksara. Yogyakarta.
 
Setyobudi, W. T., 2010. Teknik Moderasi Focus Group Discussion (FGD). Dalam : http://inspirewhy.com/teknik-moderasi-focus-group-discussion-fgd (diakses pada tanggal 28 Juli 2013 pukul : 21.00 WIB )
 

Sindhunata, 1982. Dilema Usaha Manusia Rasional Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer Dalam Rangka Sekolah Frankfrurt. Gramedia. Jakarta.

Sumintarsih, dkk., 1993. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Dalam Hubungannya Dengan Pemeliharaan Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta. Dirjen Kebudayaan RI. Yogyakarta.
 
Suripin, 2002. Pelestarian Sumberdaya tanah dan air. Andi offset. Yogyakarta.
 
Spradley, James P., 1972. Foundations of Cultural Knowledge Culture and Cognition : Rules, Maps and Plands (Ed. James P. Spradley). Chandler. San Fransisco.
 
Sudarmadji, dkk., 2011. Konservasi Mata Air Berbasis Masyarakat di Unit Fisiografi Pegunungan Baturagung, Ledok Wonosari dan Perbukitan Karst Gunung Sewu, Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Teknosains Vol. 1 (1) : 1-69.
 
Saleh, T dan R. Rasul, 2008. Pengenalan Pengelolaan Sumberdaya Air. Dalam: http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/db20326d7baed0dca1bebc8428f6f2ee4fbd2e0b.pdf. (diakses 28 Juli 2013 pukul : 21.30 WIB)
 
Todd, D.K., 1980. Ground Water Hidrology. John Wiley & Sons. New York
 
Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839)
 
Verhoef, P.N.W., 1992. Geologi Untuk Teknik Sipil. Erlangga. Jakarta.
 
Wardah, E.Z., 2010. Tradisi Perkawinan Adu Tumper di Kalangan Masyarakat Using. Jurnal Hukum dan Syariah. Vol. 1 (1) : 1-120




Mohon Kritik Saran
BAB 1.
PENDAHULUAN
BAB II
Bentuk Kearifan Lokal
Nilai
Nilai adalah sebuah harga yang juga menjadi dasar dari persepsi etika dalam berperilaku. Nilai ditentukan dan dibentuk dari keadaan sekitar dan tingkah laku komunal muapun individu (Marfai, 2012).
Norma atau Aturan Khusus Aturan
Ketentuan yang mengikat warga di masyarakat dan dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendalian tingkah laku yang ada di masyarakat (http://kbbi.web.id/norma).
Norma atau Aturan Khusus Aturan
Ketentuan yang mengikat warga di masyarakat dan dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendalian tingkah laku yang ada di masyarakat (http://kbbi.web.id/norma).
Kepercayaan
Sesuatau yang dipercayai berupa anggapan, harapan, atau keyakinan bahwa sesuatau yang dipercayai itu benar dan nyata (http://kbbi.web.id/percaya) .
Ditambahkan oleh Negoro, 2012 :
Ideasonal (norma, nilai, dan mitos)
Mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diuangkapkan dengan cara gaib (http://kbbi.web.id/mitos).
Aktivitas sosial (upacara adat/keagamaan)
Kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat atau umum yang berada di desa Kemiren. Tentunya disini yang berkaitan dengan konservasi sumberdaya air.
BAB IV
Deskripsi Umum Wilayah

Tabel Batas Wilayah Kemiren
Desa Kemiren dan Suku Using
Menurut Bappeda (2002) dalam Herawati et al, (2004), Kemiren merupakan salah satu wilayah yang masyarakatnya masih dianggap memiliki budaya asli using sehingga oleh pemerintah kabupaten Banyuwangi, Kemiren ditunjuk sebagai desa wisata adat suku Using.
Masyarakat Using kurang lebih menempati 13 kecamatan dari 24 kecamatan. Ketigabelas kecataman tersebut adalah Genteng, Sempu, Singojuru, Songgon, Rogojampi, Srono, Turing, Gambiran, Banyuwangi, Giri, Glagah, Kalipuro, dan Licin. Lainnya merupakan campuran atau basis dari suku Jawa Mataraman, Madura, dan Bali.
Bab V
Hasil dan Pembahasan

5.1. Bentuk Kearifan Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi dalam Konservasi Sumberdaya Air
5.1.1 NILAI
a. Orang Kemiren terkenal kolot dan memiliki rasa eman yang kuat.
b. Tidak boleh mengganggu hak orang lain. Sampai ada ungkapan yang berbunyi “padha-padha ciptaan Allah aja padha deksio mring sapadha-padha”, maksudnya sama-sama ciptaan Tuhan tidak boleh menyakiti dan memperlakukan semaunya sendiri.
c. Air merupakan sumber kehidupanDalam filosofi mereka, air adalah salah satu dari 3 sumber penopang kehidupan manusia (air, udara, dan bumi) dimana ketiganya membentuk unsur kehidupan.
d. Selalu menyisakan untuk anak cucu kelake. Kerukunan dan kegotong royongan yang kuat
5.1.2 Norma atau Aturan Khusus
Gambar 4. Barong Kemiren dan Garuda Kecil


5.1.3. Kepercayaan
Sejarah Buyut Cili sendiri tidak ada yang tahu pastinya. Menurut cerita tetua Kemiren yaitu Serad dan Timbul, Buyut Cili adalah bekas patih sakti yang lari karena kalah perang. Keberadaan makamnya sendiri juga tiba-tiba sudah ada. Buyut Cili diyakini masyarakat sering memberi petuah ke masyarakat lewat mimpi.
Selain itu, masyarakat juga percaya dengan siluman (roh halus) yang tinggalnya berada di pohon-pohon besar, tempat-tempat angker, dan di beberapa mata air.

5.1.4. Aktivitas Sosial
A. Seni Budaya
1. Barong 2. Gandrung 3. Kuntulan 4. Angklung 5. Gedogan 6. Gamelan Bonang 7. Jaran Kecak
8. Macapatan 9. Bordah

5.1.4. Aktivitas Sosial
B. Upacara Adat atau Selametan
1. Selametan di sungai atau DAM
Selametan ini dilakukan oleh para petani sebelum menggarap sawah. Sebelum selametan ada acara bersih-bersih ke DAM, sungai, dan saluran-saluran irigasi. Tujuan dari selametan ini agar air mengalir ke sawah tidak bermasalah dan tidak membawa penyakit.

2. Selametan Kebon
Dilakukan agar kebon atau pohon yang ada di dalamnya dapat berbuah.

3. Selametan Sumber air ketika sumbernya mengecil
Masyarakat Kemiren memiliki kebiasaan “nyelameti” sumber air ketika debitnya menurun. Mereka meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memperbesar debit mata air.
Merupakan selametan rutin untuk seluruh sumber air yang diadakan pada hari Rabu terakhir pada bulan Sapar. Seluruh sumber air mulai dari mata air, sungai, dan HIPPAM diberi sesaji. Sesajinya memakai jenang putih dan jenang abang serta tidak ketinggalan pecel pithik atau sego golong. Sehabis selametan masyarakat makan bersama di lokasi sumber tersebut.
Menurut para tetua desa, pada hari itu Nabi Idir datang menyucikan air dari bala-bala dan sumber penyakit. Agar manusia tidak terkena penyakit dan bala tersebut, mereka tidak boleh mengambil air dari jam 6 pagi sampai jam 1 siang. Sanksi seandainya melanggar sebenarnya tidak ada. Namun menurut Serad, “selama ini masyarakat sangat patuh terhadap larangan itu. Pernah ada yang melanggar mengambil air, waktu mau diminum tiba-tiba airnya menjadi darah. Sehingga masyarakat sudah takut sendiri untuk melanggar.“

4. Rebo Wekasan
5.1.5. Mitos
5.2. Kearifan Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur dalam Konservasi Air
5.2.1. Kearifan Masyarakat Desa Kemiren dalam Pemanfaatan Sumberdaya Air Dengan Tetap Menyisakannya Untuk Masa Depan
a. Mandi, Cuci, Kakus (MCK), Minum, dan Memasak
b. Pengairan Sawah dan Kebun
c. Wisata Kolam Renang
d. Dipercaya bisa menyembuhkan orang sakit
e. Bagian dalam acara macapatan dan sesaji di Makam Buyut Cili

a. MCK, Minum, dan Memasak
- Kebanyakan ditopang dari mata air.

- Penggunaan sumur dibatasi. Jika ditelusuri lebih dalam, pembatasan atau peniadaan pemakaian sumur ini merupakan prinsip konservasi. Konsep pengelolaan air tanah seperti yang dijelaskan oleh Suripin (2002), termasuk di dalamnya pengambilan air tanah melalui sumur yang perlu dibatasi. Pengambilan air tanah melalui sumur-sumur jika tidak dibatasi akan mengakibatkan lengkung penurunan muka air tanah (depression cone).

- Pembatasan penggunaan air. “Aturannya normalnya untuk setiap bulan, masyarakat berhak mengambil air sebanyak 20 kubik. Lebih dari itu kena denda, katakan 21 kubik didenda seribu rupiah. Setiap 1 kubiknya didenda seribu rupiah. Penggunaan sanyo (pompa air) juga tidak diperbolehkan. Karena sanyo ini menyedot banyak air” Suradi. Hal ini sesuai dengan prinsip konservasi sumber daya air. Prinsip konservasi air yang dikemukakan oleh Suripin (2002), dapat dilakukan dengan melaksanakan efisiensi pemakaian atau penggunaannya.
b. Pengairan Sawah dan Kebun
Menggunakan sungai sebagian besar ditambah mata air
Sepanjang tahun masyarakat menanam padi karena air melimpah sepanjang tahun
Menggunakan sistem pengairan bergilir
Untuk kebun hanya pada saat musim kemarau yang disalurkan dengan diesel atau bambu.
c. Wisata Pemandian
d. Dipercaya bisa menyembuhkan orang sakit
e. Bagian dari acara macapatan dan sesaji di makam Buyut Cili
5.2.2. Kearifan Masyarakat Desa Kemiren dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumberdaya Air
Menurut warga, selametan adalah bentuk dari meminta keselamatan, rasa bersyukur, mencegah bala, meminta sesuatu dan nyaur nadzar. Artinya disini masyarakat selalu menjunjung tinggi alam dengan keyakinan bahwa alam merupakan bagian dari kehidupan mereka yang harus dijaga dan dirawat bersama. Meminjam kata dari Keraf, bahwa selametan merupakan bentuk rekonsiliasi ketika bencana atau bala itu datang. Mereka meminta maaf, meminta izin, atau meminta keselamatan lagi.
Masyarakat atau komunitas adat Using memahami bahwa alam adalah suatau kesakralan yang menyimpan sejuta misteri yang sulit dijelaskan dengan menggunakan akal budi, sehingga membangkitkan sikap kagum penuh rasa hormat. Masyarakat Using memiliki cara pandang manusia sebagai intergal dari alam, sehingga menurut Keraf (2002) hal itu menciptakan perilaku tanggung jawab, penuh sikap hormat dan peduli terhadap kelangsungan semua kehidupan di alam semesta, telah menjadi cara pandang dan perilaku mereka.
5.2.3 Kearifan Masyarakat Desa Kemiren dalam Pemeliharaan dan Pelestarian Vegetasi di Sekitar Sumber Air di Desa Kemiren
5.3. Keadaan Sumberdaya Air di Desa Kemiren
5.3.2. Sumberdaya Air di Desa Kemiren
5.3.3. Kualitas dan Kuantitas Air di Kemiren
Air yang berasal dari sumber (mata air) masih murni dan asli, sehingga dalam pemanfaatan untuk minum, masyarakat tidak pernah memasaknya terlebih dahulu. Mereka langsung meminum air tanpa dimasak terlebih dahulu.
Menurut masyarakat, di desa Kemiren tidak pernah terjadi banjir ketika musim penghujan dan tidak pernah terjadi kekeringan ketika musim kemarau, bahkan musim kemarau yang sangat panjang pun.
Keadaan aliran sungai Jongmergi dan Bendo cukup jernih meskipun musim penghujan. Meruntut dari teori Arsyad (1989), bahwa keadaan aliran sungai yang jernih ini pertanda bahwa sungai bersumber dari aliran bawah tanah.
Debit fluktuatif. Merupakan saalah satu tanda sungai belum rusak. Menurut Kodoatie et al (2005), salah satu ciri kerusakan sungai atau daerah aliran sungai adalah perbedaan ratio debit maksimum dan minimum.
5.3.4. Kelestarian Air di Desa Kemiren
5.4. Proses Pewarisan Kearifan Masyarakat Desa Kemiren dalam Konservasi Sumberdaya Air
1. Terun Temurun (Pengkaderan)

Fungsi Sesepuh :
- Menjaga nilai, norma, seni budaya, aktivitas sosial, dan kepercayaan yang ada di Kemiren
- Mengingatkan warga tentang pentingnya kearifan tersebut
Gudang pengetahuan kearifan
- Mengingatkan pelaksanaan selametan.
2. Orang tua mengingatkan kepada anak
3. Didukung oleh Lingkungan yang kuat dengan nilai budayanya
4. Kerukunan dan kegotong-royongan yang kuat
5. Seni budaya yang masih lestari.
Bab VI
Penutup

6.1. Kesimpulan
1. Kearifan teridentifikasi dari nilai, norma atau aturan khusus, kepercayaan, mitos, dan aktivitas sosial serta terwujud dalam upaya pemanfaatan, perlindungan sumberdaya air, dan pemeliharaan vegetasi sekitar sumberdaya air. Model kearifan tersebut ternyata mampu menjaga kelestarian air yang ada di Kemiren.
2. Proses pewarisan kearifan masyarakat Kemiren dalam konservasi sumberdaya air dilakukan dengan cara turun temurun atau kaderisasi dan melalui seni budaya. Serta didukung dengan lingkungan yang mampu mendorong masyarakat agar selalu menaati nilai, norma atau aturan khusus, kepercayaan, mitos, dan aktivitas sosial yang ada.
6.2. Saran
1. Kearifan lokal menjadi suatu hal yang menarik untuk dikaji dan mempunyai peran penting dalam dinamika lingkungan khususnya pelestarian sumberdaya air. Kearifan masyarakat desa Kemiren dalam konservasi air nyatanya juga telah berhasil melestarikan air yang ada. Maka hal ini perlu terus dilestarikan. Kearifan perlu dilestarikan dalam suatu masyarakat guna menjaga keseimbangan dengan lingkungannya.
2. Keberhasilan pewarisan kearifan dari generasi tua kepada generasi muda memiliki andil besar dalam kelestarian sumberdaya air. Kearifan yang terbukti dapat melestarikan lingkungan perlu terus dijaga dan dilestarikan dengan mewariskannya kepada generasi muda. Pewarisan kearifan pada masyarakat Kemiren sampai saat ini masih baik. Namun tidak menutup kemungkinan kearifan akan luntur. Lunturnya kearifan bisa disebabkan oleh modernitas dan tuntutan kebutuhan ekonomi yang tinggi. Ketika modernitas dan kebutuhan ekonomi yang tinggi tidak berhasil mengubah paradigma masyarakat, maka kelestarian kearifan akan tetap terjamin. Tantangan ini yang juga perlu diselesaikan oleh masyarakat Kemiren agar proses pewarisan kearifan mereka dapat berhasil.
“ayo bareng-bareng bangun rumah tangga, ayo bareng-bareng bangun masyarakat. Harus giat bekerja dan jangan malu dengan pekerjaannya agar memiliki masa depan cerah. Jangan punya pikiran aneh-aneh kepada siapapun, tidak boleh iri dengki. Harus tepo seliro dan harus ingat sama yang di atas. Dalam berkeluarga juga harus setia dengan pasangan, bersama-sama membangun keluarga yang harmonis. Juga harus selalu ingat dengan anak. Sumberdaya alam dan harta yang dimiliki sekarang jangan dihabiskan sekarang, Harus disisakan untuk anak cucu kelak.”
Gambar 10. Pembagian Musim-musim Pertanian


Kolam Renang di W.U
mata air Sarto
mata air Salak
Kedung Rum
Dari pemaparan tentang pemanfaatan sumberdaya air tersebut, masyarakat Kemiren ternyata telah melakukan pemanfaatan secara efisien, efektif, dan equity (adil dan rata) untuk kebutuhan di masa depan. Hal ini merupakan implementasi dari konsep konservasi Arsyad (1989). Pemanfaatan sumber air secara efisien dan efektif adalah pemanfaatan sumber air secara berkelanjuatan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil.
1.5. Keaslian Penelitian
Tabel Penelitian Terdahulu mengenai Konservasi Air

Tabel Penelitian Terdahulu yang dilakukan di Desa Kemiren

Tabel Penelitian Terdahulu di Fakultas Kehutanan
tentang Kearifan Lokal dan Konservasi Air


Penelitian dilaksanakan dalam kurun waktu 1,5 Bulan. Waktu penelitian terbagi ke dalam beberapa tahapan-tahapan yaitu :
observasi lapangan atau pra penelitian berlangsung pada minggu kedua bulan Februari 2013
tinggal bersama masyarakat atau live in pada minggu ketiga bulan Februari 2013
wawancara narasumber berlangsung pada minggu ketiga bulan Februari 2013.
pengambilan data kedua, yaitu melakukan wawancara, FGD, dan data pendukung yang berlangsung pada minggu pertama sampai dengan minggu ketiga bulan November 2013.
1. Live In
Live in ditujukan untuk mengenal lebih dekat pola kehidupan dan kebiasaan masyarakat. Adanya live in, sekaligus dapat mengakrabkan antara peneliti dan obyek. Hal ini tentunya dapat mempermudah pengambilan data dan agar informan atau responden lebih terbuka dengan peneliti. Pada saat melakukan live in peneliti melakukan observasi awal lapangan.
2. Wawancara
Dafta narasumber pada pengambilan data I

Daftar narasumber pada pengambilan data II

3. FGD
Focus group discusion adalah diskusi terfokus dari suatu group untuk membahas suatu masalah tertentu, dalam suasana informal dan santai. Metode FGD yang bersifat kualitatif memiliki sifat tidak pasti, berupa eksploratori atau pendalaman terhadap suatu masalah yang tidak dapat digeneralisasi (Setyobudi, 2010)
Peserta FGD tersebut adalah Serad, Suradi, Harsono, Fajar, Niptah, Asnan, dan Tuki
4. Pengumpulan Data Pendukung
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mendatangi instasi seperti BAPPEDA Banyuwangi, Dinas Pengairan, Kelurahan Desa Kemiren, BPS, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dan Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi.
Untuk data fisik, peneliti mengambil sebaran mata air dengan alat GPS. Untuk pengukuran debit mata air dengan menggunakan Volumetric Method. Caranya adalah aliran air dimasukkan pada bejana ukur, kemudian dicatat waktu untuk memenuhi bejana tersebut sehingga di dapat volume per satuan waktu.
Keterangan :
Q = Debit aliran (liter/detik)
V = Volume tampungan (liter)
t = Waktu pengukuran (detik)
3.5. Kerangka Pemikiran
Jika dilihat dari kualitas dan kuantitas air di desa Kemiren, kearifan masyarakat terhadap konservasi sumberdaya air yang dilakukan oleh masyarakat Kemiren dinilai cukup berhasil. Hasil FGD dengan masyarakat terkait kuantitas dan kualitas air menunjukan :
Keadaan aliran sungai Jongmergi dan Bendo cukup jernih meskipun musim penghujan. Meruntut dari teori Arsyad (1989), bahwa keadaan aliran sungai yang jernih ini pertanda bahwa sungai bersumber dari aliran bawah tanah. Ini menandakan bahwa fungsi hidrologisnya masih baik, dimana tanah mampu menyerap air dengan baik, sehingga tidak ada aliran permukaan.
Dari segi kuantitas, air di Kemiren juga tidak pernah kering. Saat musim hujan tidak pernah banjir dan saat musim kemarau tidak pernah kekurangan air. Masyarakat juga berpendapat bahwa kuantitas air sekarang dan dulu tidak pernah berubah secara signifikan.
Debitnya juga tidak pernah berbeda jauh saat musim kemarau dan musim hujan. Debit yang tidak fluktuatif ini merupakan saalah satu tanda sungai belum rusak. Menurut Kodoatie et al (2005), salah satu ciri kerusakan sungai atau daerah aliran sungai adalah perbedaan ratio debit maksimum dan minimum. Semakin besar rationya maka dikatakan semakin rusak DAS atau sungai tersebut. Sesuai juga dengan teori Arsyad (2012), jika fungsi hidrologi tanah baik maka hanya sedikit air yang mengalir sebagai aliran permukaan sehingga fluktuasi debit sungai pada musim hujan dan kemarau tidak terlalu berbeda besarnya.
Keadaan penutupan lahan di sekitar mata air dan sungai juga masih bagus, biasanya di pinggir mata air ini tumbuh bambu, pohon durian, pohon kemiri, rerumputan tebal seperti terlihat pada gambar 16. Ini menjadi bukti bahwa kearifan masyarakat Kemiren mampu menjaga vegetasi atau tutupan lahan di sekitar sumber air. Masyarakat sadar pentingnya menjaga vegetasi sekitar sumber air. Masyarakat sudah sadar bahwa menjaga tutupan lahan dan fungsi hidrologi merupakan cara konservasi air. Hal ini sesuai dengan teori Arsya (2000).
Aktivitas di Makam Buyut Cili
Aktivitas selametan
Orang berdoa di dalam makam
Makan bersama
Pecel pithik
Mengambil air di
mata air mata air wuluh
Mencuci di mata air pakem
Pohon Durian Si Bajul
Pohon Durian si Ketot
Keadaan Sekitar Mata air Tompo
Sekitar mata air Duren
Sekitar sungai Sobo
Mata air Waru
Mata air Pandan
Mata air Gembirit
Mata air Supri
Full transcript