Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

MAKNA PROKLAMASI KEMERDEKAAN DAN RESPON RAKYAT DAERAH TERHAD

No description
by

Saphira Nada

on 16 February 2016

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of MAKNA PROKLAMASI KEMERDEKAAN DAN RESPON RAKYAT DAERAH TERHAD

MAKNA PROKLAMASI KEMERDEKAAN DAN RESPON RAKYAT DAERAH TERHADAP PEMBENTUKAN NEGARA DAN PEMERINTAH INDONESIA

design by Dóri Sirály for Prezi
Indonesia baru berumur satu bulan sejak diproklamasikan.
Sejumlah kalangan menilai gaung proklamasi kemerdekaan belum terdengar merata ke seluruh pelosok tanah air.
Pemerintah masih dianggap terlalu lemah sehingga ada keraguan masyarakat atas kedaulatan Republik Indonesia.
"Komite Aksi" menginsiasi rapat raksasa sebagai bentuk unjuk kekuatan republik yang baru merdeka.
19 September 1945
Namun ide pemuda dan mahasiswa ini tak sepenuhnya diterima oleh Pemerintah Indonesia saat itu.
Pada 17-19 September 1945, Pemerintah menggelar Rapat Kabinet dan KNIP.
pada pukul 16.00, tanggal 19 September 1945,Presiden Soekarno mengatakan kepada peserta Rapat Kabinet bahwa ia akan menghadiri Rapat IKADA.
Rapat Kabinet berakhir. Hampir semua menteri yang ikut Rapat Kabinet tersebut kemudian bersama Soekarno menghadiri Rapat Raksasa IKADA. Presiden Soekarno sendiri dijemput oleh pemuda-mahasiswa dari Komite Aksi.

RAPAT RAKSASA DI LAPANGAN IKADA
Sebelum Indonesia merdeka Kasultanan maupun Pakualaman, diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri / menjadi negara sendiri. Ketika Jepang meninggalkan Indonesia, kedua kerajaan tersebut telah siap menjadi sebuah negara sendiri yang merdeka, lengkap dengan sistem pemerintahannya (susunan asli), wilayah, dan penduduknya.
Kelompok 4 :
Alan Bhadrika 1
Farid Wajdi 10
Razaqa Dhafin 28
Nabila Fani 21
Nadiah Ayu 23
Nadya Intan 24
Micheal Ivan 17
Saphira Nada 33
Shania Salsabila 34
Makna Proklamasi
telah diserukan kepada warga dunia akan adanya sebuah negara baru yang terbebas dari penjajahan negara lain
telah lahir sebuah negara baru yang memiliki kedudukan yang sama dengan negara negara lain yang telah ada sebelumnya
tonggak awal munculnya negara baru dengan tatanan kenegaraannya yang harus dihormati oleh negaranegara lain di dunia

Makna Proklamasi
Dari sudut hukum, proklamasi merupakan pernyataan bangsa Indonesia untuk menetapkan tatanan hukum Indonesia dan menghapuskan tatanan hukum kolonial
Dari sudut politik ideologis, proklamasi merupakan pernyataan bangsa Indonesia yang lepas dari segala belenggu penjajahan dan sekaligus membangun perumahan baru, yaitu perumahan Negara Proklamasi Republik Indonesia yang bebas, merdeka dan berdaulat penuh.

Makna Proklamasi
Proklamasi merupakan puncak perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.
Dengan proklamasi kemerdekaan tersebut, maka bangsa Indonesia telah lahir sebagai bangsa dan negara yang merdeka, baik secara de facto maupun secara de jure
Menaikkan Martabat Bangsa

Makna Proklamasi
Proklamasi Kemerdekaan ialah suatu alat hukum internasional untuk menyatakan kepada rakyat dan seluruh dunia, bahwa bangsa Indonesia mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri untuk menggenggam seluruh hak kemerdekaan yang meliputi bangsa, tanah air, pemerintahan dan kebahagiaan rakyat.
Proklamasi sebagai dasar untuk meruntuhkan segala hal yang mendukung kolonialisme, imperialisme dan selain itu proklamasi adalah dasar untuk membangun segala hal yang berhubungan langsung dengan kemerdekaan nasional.

PENYEBARAN BERITA PROKLAMASI
Pendahuluan
Setelah kemerdekaan diproklamirkan bukan berarti perjuangan bangsa sudah selesai, tetapi tetap berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperoleh. Hal ini tidak terlepas dari peran para tokoh yang berjuang menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan.

MEDIA PENYEBARAN
Kantor berita Domei
Siaran radio
Kawat telepon
Pers dan surat kabar
Anggota PPKI dari daerah
Sarana lain

Pada 17 Agustus 1945 puku1 18.30 WIB, wartawan Kantor Berita Domei, Syahrudin  menyampaikan salinan teks proklamasi kepada Waidan B. Panelewen.
Ia segera memerintahkan kepada Markonis (petugas telekomunikasi), F. Wuz untuk menyiarkan berita tersebut tiga kali berturut-turut.
Karenanya, Kantor Berita Domei disegel Jepang pada 20 Agustus 1945.
Para pemuda lalu membuat pemancar baru di  Menteng 31 dengan kode panggilan  DJK 1. Tokoh yang berperan antara lain: Sutamto, Susilaharja,  dan Suhandar.

17 Agustus 1945, jam 17:30. Syahruddin, pewarta dari kantor berita Domei masuk ke Hoso Kyoku (Sekarang RRI), melompati pagar untuk menyerahkan kertas dari kepada M. Yusuf Ronodipuro untuk disiarkan.
Studio radio sudah di jaga ketat setelah bom Hiroshima dan Nagasaki.
Beruntung, studio siaran luar negeri tidak dijaga. Kabel di studio siaran dalam negeri di lepas dan disambungkan ke studio siaran luar negeri.
Tepat pukul 19.00 teks proklamasi berhasil disiarkan, Yusuf Ronodipuro.
Mengetahui itu, Jepang menutup Hoso Kyoku dan menyiksanya. Namun, selepas itu mereka merakit lagi alat pemancar di lab Abdurrahman Saleh, yang dinamakan Voice of Indonesia (cikal bakal RRI).

KANTOR BERITA DOMEI
SIARAN RADIO
KAWAT TELEPON
Adam Malik yang waktu itu sebagai wartwa menyampaikan teks proklamasi melalui telepon kepada Asa Bafaqih
Kemudian penyebaran diteruskan kepada Penghulu Lubiw. Selanjutnya diteruskan ke daerah-daerah yang telah terhubung kawat telepon (telegram).


surat kabar
Harian “Suara Asia” di Surabaya adalah Koran pertama yang menyiarkan berita proklamasi.
20 Agustus 1945 secara serempak surat kabar diseluruh Jawa memuat berita tentang proklamasi kemerdekaan dan UUD
Para pemuda yang berjuang lewat pers, antara lain B.M. Diah, Sukarjo Wiryo Pranoto, Iwa Kusuma Sumantri, Ki hajar Dewantoro, Otto Iskandardinata, GS.S.J. Ratulangi, Adam Malik, Sayuti Melik, Sultan Yahrir, Madikin Winohito, Sumanang SH, Manai Sophian, dan Ali Hasyim.

ANGGOTA PPKI DARI DAERAH
Berita proklamasi secara resmi dibawa dan disebarluaskan keluar Pulau Jawa melalui para anggota PPKI yang berasal dari daerah yang kebetulan menyaksikan peristiwa proklamasi dan menghadiri sidang PPKI.
Anggota tersebut antara lain:
Teuku Muhammad Hasan (Sumatera),
Sam Ratulangi (Sulawesi),
Ketut Puja (Nusa tenggara),
AA Hamidhan (Kalimantan).
sarana lain
Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia juga disebarkan melalui :
Pampflet INDONESIA MERDEKA
Poster-poster
Coretan di tembok dan gerbong kereta api.
Pengerahan massa
Penyampaian dari mulut ke mulut
Keampuhan cara itu terbukti dan berdatangannya masyarakat ke lapangan Ikada untuk mendengarkan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan.

TUJUAN RAPAT RAKSASA IKADA
Untuk mendekatkan emosional Pemerintah Republik Indonesia dengan rakyat Indonesia bahwa Indonesia telah merdeka.
Untuk menunjukkan terhadap tentara sekutu bahwa rakyat Indonesia siap menghadapi apa saja yang hendak mengganggu kemerdekaan Indonesia.
meyakinkan kepada jepang bahwa indonesia telah merdeka, mengusir jepang dari indonesia, mengambil alih kekuasaan dari tangan jepang, dan mengambil tindakan terhadap kekejaman jepang


Pidato Bung Karno :
“ Kita sudah memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Proklamasi ini tetap kami pertahankan, sepatahpun tidak kami cabut. Tetapi dalam pada itu, kami sudah menyusun suatu rancangan. Tenang, tentram, tetapi tetap siap sedia menerima perintah yang kami berikan. Kalau saudara-saudara percaya kepada Pemerintah Republik Indonesia yang akan mempertahankan proklamasi kemerdekaan itu walaupun dada kami akan robek karenanya, maka berikanlah kepercayaan kepada kami dengan tunduk kepada perintah-perintah kami dengan disiplin. Sanggupkah saudara-saudara? Perintah kami hari ini, marilah sekarang pulang semua dengan tenang dan tenteram, ikutilah perintah Presidenmu sendiri tetapi dengan tetap siap sedia sewaktu-waktu. Saya tutup dengan salam nasional,
MERDEKA.”


Makna Penting Rapat Ikada
Rapat tersebut berhasil mempertemukan pemerintah Republik Indonesia dengan rakyatnya.
Rapat tersebut merupakan perwujudan kewibawaan pemerintah Republik Indonesia terhadap rakyat.
Menanamkan kepercayaan diri bahwa rakyat Indonesia mampu mengubah nasib dengan kekuatan sendiri.
Rakyat mendukung pemerintah yang baru terbentuk. Buktinya, setiap instruksi pimpinan mereka laksanakan
Pembuatnya adalah Sunaryo. Dengan filosofi patung sebagai berikut, bagian pertama monumen adalah plaza dengan ukuran 19X19 m yang melambangkan tanggal 19, kemudian landasan dengan tinggi 4 m, serta patung manusia setinggi 5 m, mengandung arti 4+5=9, angka 9 berati bulan September atau 4 dan 5 analog dengan tahun 45 atau 1945. Landasan ini dibagi menjadi 7 segmen yang melambangkan Sapta Patria Seni Nilai Perjuangan, yang terdiri dari nasionalisme, patriotisme, heroisme, pantang menyerah, kebersamaan, tanpa pamrih dan percaya diri

RESPON DARI SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO XI
Jogjakarta Tak terpisahkan dari RI
AMANAT 5 SEPTEMBER 1945
Kami Hamengku Buwono IX, Sultan Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat menjatakan:
Bahwa Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia.
Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat mulai saat ini berada ditangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja kami pegang seluruhnya.
Bahwa perhubungan antara Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia, bersifat langsung dan Kami bertanggung djawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.


PIAGAM 19 AGUSTUS 1945
“Ingkeng Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panotogomo, Kalifatullah Ingkang Kaping IX Ing Ngayogyakarta Hadiningrat, pada kedudukannya, Dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kangjeng Sultan akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga, untuk keselamatan Daerah Yogyakarta sebagai bagian daripada Republik Indonesia.”

Respon rakyat aceh terhadap proklamasi
Saat berkunjung ke Aceh tahun 1948, Bung Karno dengan sengaja menemui tokoh Aceh, Daud Beureueh. Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan “Kakanda (kakak)” dan terjadilah dialog yang sampai saat ini tersimpan dengan baik dalam catatan sejarah :
Presiden Soekarno : “Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.”

Daud Beureueh : “Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.”

Presiden Soekarno : “Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”

Daud Beureueh : “Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya.”

Presiden Soekarno : “Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam.”

Daud Beureueh : “Maafkan saya Saudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden.”

Presiden Soekarno : “Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan Kakak itu.”

Daud Beureueh : “Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon (sambil menyodorkan secarik kertas kepada presiden) sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.”



Mendengar ucapan Daud Beureueh itu Bung Karno langsung menangis terisak-isak. Airmata yang mengalir telah membasahi bajunya. Dalam keadaan sesenggukan,




Soekarno berkata, : “Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi presiden. Apa gunanya menjadi presiden kalau tidak dipercaya.” Dengan tetap tenang, Daud Beureueh menjawab, “Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi sekadar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang.”
















Sambil menyeka airmatanya, Bung Karno mengucap janji dan bersumpah,


Bung Karno bersumpah : “Waallah Billah (Demi Allah), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan Waallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?”


Daud Beureueh menjawab, : “Saya tidak ragu Saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Saudara Presiden.”
Soekarno mengucapkan janji tersebut pada tahun 1948. Setahun kemudian Aceh bersedia dijadikan satu provinsi sebagai bagian dari NKRI. Namun pada tahun 1951, belum kering bibir mengucap, Provinsi Aceh dibubarkan pemerintah pusat dan disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Aceh yang porak-poranda setelah berperang cukup lama melawan Belanda dan kemudian Jepang, lalu menguras dan menghibahkan seluruh kekayaannya demi mempertahankan keberadaan Republik Indonesia tanpa pamrih, oleh pemerintah pusat bukannya dibangun dan ditata kembali malah dibiarkan terbengkalai.

Bukan itu saja, hak untuk mengurus diri sendiri pun akhirnya dicabut. Rumah-rumah rakyat, dayah-dayah, meunasah-meunasah, dan sebagainya yang hancur karena peperangan melawan penjajah dibiarkan porak-poranda. Bung Karno telah menjilat ludahnya sendiri dan mengkhianati janji yang telah diucapkannyaatas nama Allah. Kenyataan ini oleh rakyat Aceh dianggap sebagai kesalahan yang tidak pernah termaafkan.


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia melahirkan keberanian untuk menegakkan kedaulatan Indonesia di wilayah masing – masing.

Di aceh berita ini sampai pada 24 agustus 1945.

Karena Jepang melakukan tindakan tindakan untuk menutup – tutupi berita kemerdekaan indonesia.

Berita mengenai kemerdekaan indonesia diperoleh dari orang yang bekerja di bagian jaringan radio dan telegraf.

Sejak saat itu rakyat aceh melaksanakan tindakan heroik terhadap jepang di berbagai tempat di Indonesia.

Rakyat Indonesia segera merebut tempat – tempat strategis yang masih dikuasai oleh Jepang, berusaha melucuti senjata Jepang dengan tujuan :
a. Mendapatkan senjata sebagai modal perjuangan selanjutnya.
b. Mencegah agar senjata Jepang tidak jatuh ke tangan Sekutu/Belanda.
c. Mencegah agar senjata Jepang tidak digunakan untuk membunuh rakyat.


Pertanyaan
-Luthfi : apakah ada negara yang mengetahui kemerdekaan indonesia pada bulan agustus?
-Iqbal : apakah proklamasi pada 17 agustus sudah de facto dan de jure? dan kalau iya, kenapa ada rapat KMB pada desember 1949?
Full transcript