Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL

No description
by

Tantry Febrinasari

on 12 December 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL

Manual Sistem Jaminan Halal
PT. Mashita Golden Nusantara

Profil Perusahaan
Komponen Sistem Jaminan Halal
Profil Umum
Perusahaan swasta atau penanaman modal dalam negeri (PMDN)
Beroperasi sejak tanggal 4 Agustus 2012
Bergerak dalam bidang pengolahan produk seasoning, terutama yang berbasis MEAT and SPICES berbentuk POWDER (KALDU SAPI)

Visi dan Misi
Purchasing
QA/QC
Sistem Administrasi
PT Mashita Golden Nusantara harus membuat suatu sistem yang dapat ditelusur secara accountable.
Sistem administrasi yang disusun harus dapat menelusuri penggunaan bahan untuk tiap jenis produk (per jenis, per pemasok).
Administrasi SJH secara lengkap dimulai dari administrasi department Purchasing, Receiving, QC, Produksi, Warehouse dan Pengiriman (Export).
Form bukti pelaksanaan administrasi tiap departemen dilampirkan dalam manual SJH sesuai dengan lingkup implementasi SJH PT Mashita Golden Nusantara

Management Review
Dokumentasi yang diperlukan dalam perencanaan SJH adalah:

1. Pandual halal yang dikeluarkan oleh LPPOM MUI
2. Pedoman penetapan titik kritis
3. SOP Pembelian bahan
4. SOP Pemeriksaan dan penerimaan bahan
5. SOP Penggantian dan penambahan pemasok baru
6. SOP Penggunaan bahan baru
7. SOP Produksi
8. SOP Perubahan komposisi dan pengembangan produk baru.
Pendidikan dan Pelatihan
Tujuan dari pelatihan adalah :
1. Meningkatkan pemahaman karyawan tentang
pengertian halal haram, pentingnya kehalalan suatu
produk, titik kritis bahan dan proses produksi.
2. Memahami SJH

VISI:
“Memberikan produk berkualitas dengan cita rasa nusantara yang memiliki keunggulan kompetitif untuk tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan terkemuka di dunia”

MISI
Mengutamakan kualitas pada setiap produk
Berinovasi secara berkala, baik dari segi produk maupun aspek yang lain
Mampu bersaing dengan sehat
Me-mashita-kan indonesia dan dunia

Budaya
- Love
- Integrity
- Reliable
- Inovative
- Competence
Produk
Kebijakan Halal
Nabati
Hewani
Mikrobial
Bahan Lain
Organisasi
Sistem Jaminan Halal
Bahan
GENERAL
MANAGER
(Tantry F.)
KOORDINATOR AUDITOR
HALAL INTERNAL
(Samsul W. dan Ruth T.)
PURCHASING
(Indriani W.)
QA/QC
(Kukuh P.)
R&D
(Razanah A.)
PRODUCTION
(Hadi M.)
WAREHOUSE/PPIC
(Aldila S.)
LPPOM MUI
SOP Pembelian Bahan:
1. Pembelian bahan baku sesuai dengan daftar yang diketahui LP POM MUI
2. Identitas bahan baku sesuai dengan daftar pada sertifikat halal
3. Dokumen pembelian barang dipelihara
SOP Penerimaan bahan datang:

1. Identitas bahan baku sesuai dengan yang tertera pada daftar bahan yang
diketahui LPPOM MUI. Identitas mencakup nama bahan, produsen, negara asal,
logo halal dan dokumen pendukung.
2. Bahan yang telah di cek kriteria halal diberikan perlakuan yang berbeda berupa
pemberian halal pas
3. Penyimpanan pada gudang produsen dipastikan terpisah dari kontaminasi bahan
non-halal
4. Distribusi bahan dipastikan terpisah dengan bahan non-halal dan menggunakan
kemasan/wadah yang bebas dari najis dan barang haram
5. Dokumen penerimaan barang dipelihara
SOP Penggantian dan Penambahan Pemasok Bahan Baru:

1. Bagi bahan berkategori kritis, maka diperiksa apakah pemasok baru telah memiliki sertifikat
halal dari MUI atau lembaga yang diakui oleh MUI
2. Bila tidak ditemukan pemasok baru maka perlu dilakukan pemeriksaan spesifikasi teknis yang
menjelaskan asal asul bahan dan diagram alir proses pembuatan bahan tersebut serta
dikonsultasikan melalui internal auditor
3. Bukti jaminan bahan dibeli sesuai data yang tertera pada sertifikat atau dokumen halal
4. Membuat perjanjian dengan pemasok bahwa pemasokan harus sesuai dengan yang tertera pada
dokumen halal
5. Rencana penggantian digunakan setelah mendapat persetujuan dari LP POM MUI
6. Dokumen data pemasok aktif maupun tidak harus dipelihara
SOP Pemeriksaan Bahan:

1. Mengecek dan menyesuaikan bahan baku yang akan digunakan dengan melakukan pemeriksaan pada
jenis bahan baku, dokumen pengiriman, nama supplier, kondisi fisik bahan baku dan kebersihan bahan
dan alat transportasi yang digunakan.
2. Mengecek nama bahan, kode bahan, produsen, namadan lokasi pabrik diperiksa kesesuaiannya dengan
daftar bahan yang telahdiketahui oleh LPPOM MUI untuk produk non Material.
3. Memberikan status halal pass bagi produk yang telah diperiksa dan sesuai dengan kriteria.
4. Memerintahkan bagian pergudangan untuk memisahkan antara bahan yang sudah melalui halal pass
dengan bahan yang belum diperiksa
5. Memerintahkan bagian pergudangan untuk membebaskan bahan yang telah melalui halal pass dari
najis.
6. Apabila terdapat bahan baku yang tidak sesuai dengan kriteria maka akan dilaporkan kepada KAHI dan
dikembalikan kepada bagian Purchasing untuk dikonfirmasikan ke produsen terkait
SOP:
1. Bahan baku datang selalu diberi kode status halalnya
2. Hanya memberi QA halal pass pada bahan baku dan produk yang sertifikat
halalnya masih berlaku
3. Selalu komunikasikan dengan auditor internal, jika terdapat bahan baku atau
bahan yang tidak bisa mendapatkan QA halal pass, karena sebab tertentu
(sertifikat halal kadakuwarsa, bahan baku baru yang belum jelas
kehalalannya,dll)
4. Perintahkan ke bagian gudang, jika terdapat bahan yang tidak mendapatkan
halal pass dari QA untuk disimpan terpisah

Acuan Teknis:

a. Lembaga sertifikasi halal dari bahan baku diakui oleh LP POM MUI
b. Nama bahan baku , produsen dan distributor disusun oleh KAHI dan
dilaporkan ke LP POM MUI
c. SOP lanjutan untuk bahan baku dengan produsen yang baru

Acuan Teknis:
a. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah
disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LP POM MUI.
b. Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan
produk (Sertifikat per pengiriman, wilayah berlakunya Sertifikat Halal,
masa berlaku Sertifikat Halal, dan lain-lain).
c. SOP pemeriksaan bahan
R & D
Acuan Teknis:
a. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun
oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI
b. Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan produk
(sertifikat pengiriman, wilayah berlakunya sertifikat halal, masa berlaku
sertifikat halal, logo halal pada kemasan, dll)
c. Tabel hasil identifikaso titik kritis keharaman bahan
d. SOP penggunaan bahan baru

SOP Perubahan formula dan pengembangan produk:
1. Prinsip perubahan formula dan pengembangan produk baru adalah mengutamakan pada daftar
bahan yang telah diketahui LPPOM MUI
2. Perubahan formula yang menghasilkan produk baru harus diajukan dalam proses sertifikasi halal
baru
3. Perubahan formula yang tidak menghasilkan produk baru dan tidak menggunakn bahan baru
(reformulasi komposisi) tidak perlu dilaporkan kepada LPPOM MUI
4. Perubahan formula yang tidak menghasilkan produk baru tetapi menggunakan bahan baru
(penggunaan bahan alternatif) harus mengacu kepada SOP penggunaan bahan baru
5. Rencana pembuatan formula baru yang tidak menghasilkan produk baru dilaporkan kepada LP
POM MUI melalui internal auditor.
6. Formula baru dapat digunakan setelah mendapat persetujuan oleh LP POM MUI
7. Apabila formula baru tidak mendapatkan persetujuan maka formula baru tidak dapat digunakan
SOP Penggunaan Bahan Baru:
1. Bahan baru yang diperiksa apakah bahan termasuk kategori kritis dan telah memiliki
sertifikat halal dari MUI atau dari lembaga yang diketahui oleh LPPOM MUI
2. Bila bahan tidak memiliki sertifikat halal disarankan untuk mencari bahan alternatif
yang sama atau sejenis yang telah memiliki sertifikat halal dari LPPOM MUI atau dari
lembaga yang telah diketahui oleh LPPOM MUI
3. Bila bahan alternatif yang sama tidak didapatkan maka perlu pemeriksaan spesifikasi
teknis yang menjelaskan asal-usul bahan dan diagram alir proses pembuatan bahan
tersebut serta dikonsultasikan kepada LPPOM MUI melalui internal auditor.
4. Rencana penggunaan bahan baru dilaporkan kepada LPPOM MUI melalui internal
auditor
5. Bahan baru dapat digunakan setelah mendapat persetujuan oleh LPPOM MUI
Production
SOP Produksi:
1. Pembuatan lembar pemeriksaan produksi (checklist production sheet) harus mengacu pada formula dan matriks bahan
yang telah diketahui oleh LPPOM MUI.
2. Bahan yang dapat digunakan dalam produksi halal hanya yang terdapat dalamdaftar bahan yang telah diketahui oleh
LPPOM MUI dan telah mendapat halalpass.
3. Bahan dipastikan terbebas dari kontaminasi najis dan bahan yang haram.
4. Lini produksi dipastikan hanya digunakan untuk bahan yang halal.
5. Apabila lini produksi juga digunakan untuk bahan yang belum disertifikasi halal, maka prosedur pembersihan dipastikan
dapat menghilangkan/menghindariproduk dari kontaminasi silang.
6. Bila ada produk yang tidak disertifikasi mengandung turunan babi, alat dan liniproduksi dipastikan benar-benar terpisah.
7. Harus dipastikan bahwa di area produksi tidak boleh ada bahan-bahan ataubarang-barang yang tidak digunakan untuk
produksi.
8. Catatan produksi (production checklist) didokumentasikan dengan baik danlengkap.
9. Proses Mixing (pencampuran) hanya dilakukan dengan bahan baku yang sejenis dengan kualitas yang berbeda untuk
memenuhi spesifikasi produk.
10. Proses mixing disesuaikan dengan spesifikasi produk yang akan dihasilkan.
Acuan Teknis:
a. Daftar bahan meliputi nama nama bahan, pemasok dan
produsen yang telah disetujui auditor halal internal dan
diketahui oleh LPPOM MUI.
b. Formula produk sesuai dengan matriks bahan.
c. SOP produksi halal.
Warehouse/PPIC
SOP:
1. Menyusun prosedur administrasi pergudangan yang dapat menjamin kehalalan bahan
dan produk yang disimpan menghindari terjadinya kontaminasi dari segala sesuatu yang
haram dan najis dengan memisahkan antara penyimpanan produk halal dan yang haram
dan najis
2. Menyimpan produk dan bahan sesuai dengan daftar bahan dan produk yang telah
disusun
3. Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam sistem keluar masuknya bahan dari dan ke
dalam gudang
Acuan Teknis:
a. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen
yang telah disetujui auditor halal internal dan diketahui oleh
LPPOM MUI.
b. Tanda pada kemasan/pallet (nama dan kualitas bahan, tgl
masuk, nama supplier, kualitas) yang harus disesuaikan
dengan dokumen kehalalan.
Sistem Dokumentasi
Dokumen yang harus dijaga antara lain :
1. Pembelian Bahan
2. Penerimaan Bahan
3. Penyimpanan Bahan
4. Komposisi dan Pengembangan Formulasi
5. Produksi (proses Produksi dan Pembersihan Fasilitas Produksi)
6. Penyimpanan Produk
7. Pengiriman Produk
8. Evaluasi dan Monitoring (laporan berkala)
9. Kegiatan Pelatihan dan Sosialisasi
10.Tindakan Perbaikan dan Ketidaksesuaian
Sosialisasi Sistem Jaminan Halal
Metode sosialisasi:
Briefing awal kerja
Pemasangan poster
Bulletin internal
Komunikasi internal-eksternal PT Mashita Golden Nusantara
Yang didokumentasikan saat melaksanakan komunikasi:
1. Prosedur komunikasi internal-eksternal
2. Audit Supplier
3. Internal Memo Perusahaan
4. Poster
5. Rekaman harian (logbook) komunikasi internal-eksternal
6. Surat-surat keluhan, tanggapan, notulen, berita acara

Bentuk-bentuk pelatihan yang dapat dilakukan :

1. Pelatihan eksternal
- Pelatihan yang diselenggarakan oleh LPPOM MUI
- Pelatihan lain yang relevan

2. Pelatihan internal
- Pelatihan yang diselenggarakan oleh internal perusahaan
- In-house training
Komunikasi Internal dan Eksternal
1. Melakukan komunikasi internal antara berbagai tingkatan
dan fungsi organisasi
2. Menerima, mendokumentasikan dan menanggapi
komunikasi dari pihak luar termasuk LPPOM MUI.
Penanganan Produk untuk yang Tidak Memenuhi Kriteria
4. Simulasi Penarikan Produk (Mock Recall)
1. Melakukan pertemuan dengan pihak-pihak yang
terkait antara lain :
- Dep. QC
- Dep. Purchasing
- Dep. Warehouse
- Dep. Produksi
- Dep. Marketing
- Dep. Maintenance
- Dep. Exi
2. Tujuan dari pertemuan ini adalah :
Menentukan masalah yang terjadi (tanggal, waktu, keadaan temuan dan mengevaluasi resiko yang terjadi)
Mengidentifikasi produk (jenis, kode produksi)
Total jumlah produk dalam distribusi dan jumlah barang yang diterima oleh konsumen
Perkiraan tingkat resiko yang terjadi
Usulan strategi untuk menghubungi semua yang menerima produk Mashita
3. Semua informasi didokumentasi pada
LKS (Lembar Ketidaksesuaian)
5. Manajemen melakukan verifikasi
terhadap prosedur penarikan produk
Internal Audit
Tujuan:
1. Menentukan kesesuaian SJH PT Mashita Golden Nusantara dengan standar
yang telah ditetapkan oleh LPPOM MUI.
2. Menentukan kesesuaian pelaksanaan SJH PT Mashita Golden Nusantara
dengan perencanaannya.
3. Mendeteksi penyimpangan yang terjadi dan menentukan tindakan perbaikan
dan pencegahan.
4. Memastikan bahwa permasalahan yang ditemukan pada audit sebelumnya telah
diperbaiki sesuai dengan kerangka waktu yang telah ditetapkan.
5. Menyediakan informasi tentang pelaksanaan SJH kepada Manajemen dan
LPPOM MUI
RUANG LINGKUP

1. Dokumen SJH
a. Kelengkapan dokumen SJH
b. Kelengkapan spesifikasi bahan
c. Kelengkapan, keabsahan dan masa berlaku sertifikat halal bahan
d. Kecocokan formula / komposisi bahan dengan daftar bahan halal
e. Kecocokan dokumen pembelian bahan dengan daftar bahan halal
f. Kelengkapan dan kecocokan dokumen produksi dengan daftar bahan halal
g. Kelengkapan dan kecocokan dokumen penggudangan dengan daftar bahan dan daftar produk halal.
h. Uji mampu telusur (traceability) system

2. Pelaksanaan SJH
a. Organisasi Manajemen Halal
b. Kelengkapan Dokumen Acuan Teknis Pelaksanaan SJH
c. Implementasi dokumen
d. Pelaksanaan sosialisasi SJH
e. Pelatihan
f. Komunikasi internal dan eksternal dalam pelaksanaan SJH
g. Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan SJH
h. Pelaporan internal dan eksternal Pelaksanaan SJH
i. Pengambilan bukti berupa form-form atau hal-hal lain tentang pelaksanaan SJH di perusahaan jika dianggap perlu.

PELAKSANAAN AUDIT INTERNAL

1. Waktu Pelaksaan
Sekurang-kurangnya sekali setiap enam bulan atau pada saat terjadinya perubahan –perubahan yang mengkin mempengaruhi status kehalalan produk

2. Metode Pelaksanaan
a. Wawancara
b. Pengujian dokumen
c. Observasi lapangan dan fisik

3. Pelaksana (Auditor)
Tim Auditor Halal Internal: Pelaksana audit internal dilakukan oleh AHI dari departemen yang berbeda (cross audit).

4. Pihak yang diaudit (Auditee)
- Purchasing, QC/QA, Produksi, Warehouse, Exim, PPIC, Human Resources Development

Tindakan Perbaikan
Persyaratan :
1. Tindakan perbaikan atas pelaksanaan SJH dilakukan jika pada saat
dilakukan audit halal internal ditemukan ketidaksesuaian pelaksanaannya.
2. Tindakan perbaikan harus dilakukan sesegera mungkin, jika temuan yang
didapatkan berdampak langsung terhadap status kehalalan produk.
3. Semua bentuk tindakan perbaikan dilakukan oleh perusahaan dengan
dibuatkan berita acara serta laporan dan terdokumentasikan dengan baik.
Persyaratan :
1. Kaji ulang manajemen secara menyeluruh atas SJH dilakuakan
dalam jangka waktu tertentu, paling tidak 1 tahun sekali.
2. Kaji ulang manajemen dilakukan dengan melibatkan seluruh
bagian yang terlibat dalam SJH termasuk Manajemen Puncak.
3. Pertemuan kaji ulang dilaporkan dan dibuatkan rekamannnya.
Kaji ulang manajemen dilakukan karena berbagai hal antara lain:
1. Perubahan system manajemen perusahaan yang mempengaruhi peran
SJH secara menyeluruh atau sebagian, misalnya perubahan peranan
auditor halal internal.
2. Ketidaksesuaian yang sering ditemukan dalam pelaksanaan SJH.
Pertemuan kaji ulang diaporkan dan dibuatkan laporannya dalam
notulen.
Identifikasi Aktifitas Kritis
Identifikasi Titik Kritis Penyembelihan
Identifikasi Titik Kritis Penyimpanan dan Lini Produksi
Identifikasi Titik Kritis Distribusi
Identifikasi
Titik Kritis Bahan
Matriks Bahan
Thank You :)
"Karena cita rasa yang terbaik adalah cita rasa Nusantara"
PT. Mashita Golden Nusantara berkomitmen hanya akan memproduksi produk seasoning halal menurut Syariat Islam secara konsisten dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen termasuk konsumen muslim. Dengan menerapkan tahapan-tahapan proses produksi yang aman, berkualitas, dan memenuhi Syariat Islam sesuai dengan ketetapan MUI.
Dengan kebijakan ini, maka PT Mashita Golden Nusantara menjamin:

1. Menggunakan bahan baku yang halal dan terbebas dari najis serta memenuhi standar halal sesuai dengan Syariat Islam.
2. Mengugunakan bahan penolong yang sudah dinyatakan halal oleh LPPOM MUI.
3. Menjamin pelaksanaan proses produksi sesuai SOP dan terbebas dari bahan haram dan najis.
4. Seluruh produk akhir yang dibuat oleh PT. Mashita Golden Nusantara disertifikasi oleh LPPOM MUI.

Seluruh karyawan PT. Mashita Golden Nusantara senantiasa bekerja berdasarkan prosedur kerja dan instruksi kerja yang telah ditetapkan dan hanya menggunakan bahan baku serta melaksanakan proses produksi yang sesuai dengan persyaratan kriteria halal LPPOM MUI yang dituangkan dalam Sistem Jaminan Halal PT. Mashita Golden Nusantara.
Kebijakan Halal ini ditetapkan oleh Manajemen PT. Mashita Golden Nusantara. Sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap Sistem Jaminan Halal yang diterapkan dan disosialisasikan ke seluruh karyawan dan akan melakukan evaluasi secara berkesinambungan hingga meningkatkan kesadaran karyawan dalam melaksanakan Sistem Jaminan Halal dengan baik dan sempurna.

Bogor, 1 Desember 2013

PT. Mashita Golden Nusantara
Masita Ardi
President Director


Nama produk:
Kaldu Sapi Mashita (Bubuk)
Jenis bahan baku yang diolah :
Garam
Penguat rasa (monosodium glutamat, dinatrium inosinat, dan guanilat)
Gula
Bumbu rasa daging khas dan sumsum tulang sapi (mengandung bawang, seledri, terigu, susu, telur, kedelai, pewarna karamel)
Lemak nabati
Dekstrin
Lada
Ekstrak sapi (daging dan sumsum)
Antikempal silikon dioksida
Perisa dinatrium suksinat
Kunyit
Pengatur keasaman asam sitrat
Full transcript