Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

PARADIGMA TEOSENTRISME, PARADIGMA ANTROPOSENTRISME, PARADIGM

No description
by

on 27 November 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of PARADIGMA TEOSENTRISME, PARADIGMA ANTROPOSENTRISME, PARADIGM

PARADIGMA
TEOSENTRISME,
PARADIGMA
ANTROPOSENTRISME,
PARADIGMA POSITIVISME
DAN
IMPLIKASINYA TERHADAP
IMAN AKAN TUHAN

Pengertian & Relevansi
Kita hidup di zaman modern yang serba canggih. Hal ini tidak hanya membawa kebaikan kepada hidup manusia, melainkan juga berpengaruh terhadap cara pandang kita terhadap iman akan Tuhan dan keberadaan Tuhan. Bab ini memfokuskan pembahasan pada moderenitas dan implikasi pada hal tersebut.
Zaman Pertengahan dan Paradigma Teosentris
Ciri utama Zaman pertengahan adalah adanya hubungan yang erat antara agama dan pemikiran manusia atau filsafat
Zaman Modern dan Paradigma Antroposentris
ada 2 zaman yang saling berkaitan satu sama lain, yakni zaman Renaissans dan zaman Pencerahan
Zaman Saintifik dan Paradigma Positivisme
Pasca zaman pencerahan , lahirnya zaman saintifik. Saintisme itu sendiri merupakan anak kandung dari positivisme logis . Positivisme logis merupakan kelanjutan dari pencerahan . Dalam sejarah ilmu pengetahuan , positivisme logis merupakan anak dari gerakan ilmu pengetahuan yang dimotori pleh para ilmuan yang tergsabung dalam nLingkaran Wina (1924) yang didirikan oleh ilmuan Moritz Schlick . Gerakan ilmu pengetahuan Lingkaran Wina merupakan elaborasi lebih lanjut dari filsafat empirisme dan positivisme serta metodologi ilmu empiris yang dikembangkan para ilmuan sejak abad ke 19.

Proposisi dasar positivisme logis adalah bahwa hanya ada satu sumber oengalaman yakni pengalaman mengenal data-data inderawi .

Dalil-dalil logika merupakan rentetan taulogi –subjek dan predikat-saja yang selanjutnya digunakan untuk mengolah pengalaman i nderawi menjadi satu keseluruhan uang meliputi data-data.

Penutup
Implikasi dari kelahiran paradigma antroposentris
dan paradigma positivisme
terhadao konsep diri manusia dan iman akan Tuhan :

1. Tema subyektifitas yang doperjuangkan oleh
Rene Descartes dengan tesisnya yang berbunyi “aku berpikir maka aku ada “

2. Skeptisisme terhadap ketuhanan dan agama

3. Sekularisasi (Peniadaan hubungan antara Tuhan dan dunia).

Dampak gerakan humanisme modern dan
humanisme saintifik yang sekularistik adalah manusia dan dunia bergerak secara otonom dan terlepas dari simbol religius .

Rasio manusia yang menghasilkan berbagai kemajuan dan sanggup menyelesaikan kesulitan hidup merupakan tantangan serius bagi orang
yang masih mengimani Tuhan .


Beberapa hal pokok yang akan di bahas:
Paradigma Teologis: Zaman pertengahan, berlangsung pada abad ke-5 masehi sampai abad ke-17 masehi.
Paradigma Antroposentris: Zaman modern, berlangsung pada abad ke-17 masehi sampai abad ke-18 masehi dan berlangsung terus sampai abad-abad setelahnya. Paradigma ini menggantikan paradigma teologis.
Paradigma Saintifik: Zaman saintifik, berlangsung pada abad 19 sampai sekarang. Paradigma ini adalah perkembangan lebih lanjut dari paradigma antroposentris.
Di abad ke-18 dimulai suatu zaman baru yang memang telah berakar pada Renaissance (Masa yang juga disebut masa keraguan,dirinya dan jiwanya saja diragukan. Yang tidak di ragukan hanya dirinya yang ragu itu ,keraguan yang dimaksud disini adalah keraguan metafisik ) dan mewujudkan buah pahit dari rasionalisme dan empirisme.
Masa ini disebut dengan masa pencerahan atau Aufklarung yang menurut Immanuel Kant,di zaman ini manusia terlepas dari keadaan tidak balik yang disebabkan oleh kesalahan manusia itu sendir yang tidak memanfaatkan akalnya. Voltaire menyebut zaman pencerahan sebagai “zaman akal” dimana manusia merasa bebas,zaman perwalian pemikiran manusia dianggap sudah berakhir,mereka merdeka dari segala kuasa dari luar dirinya. Para tokoh era Aufklarung ini juga merancang program-program khusus diantaranya adalah berjuang menentang dogma gereja dan takhayul populer. Senjatanya adalah fakta-fakta ilmu dan metode-metode rasional

Zaman Saintifik dan
Paradigma Positivisme
2 hal yang berlaku
dalam ilmu pengetahuan :

1. Bagaimana proporsi ilmu pengetahuan
dapat diversifikasikan dengan
membenturkan proposisi data
2. Bagaimana proporsi ilmu pengetahuan tersebut dipahami melalui
analisis logis atas proporsi
Nam et ipsa scientia potestas est (Francis Bacon ) =
Ilmu pengetahuan adalah kekuasaan .
Manusia dalam kerangka
paradigma positivisme :

- Manusia adalah data atau fakta empiris yang dapat diobservasi dan verifikasi .
- Manusia adlaah objek bagu ilmu oengathuan yang bersifat positivistik .
- Sedangkan Tuhan adalah sesuatu yang tak bermakna karena Tuhan tidak bisa diobservasi dan verifikasi . Baginya ,
Tuhan adalah kesia-siaan.

Agama mengutamakan iman pada wahyu Allah
Filsafat mengutamakan kemampuan rasio manusia
Agama menekankan pada “percaya “
Filsafat menekankan pada pemahaman
Agama berpijak pada keyakinan
Filsafat berpijak pada nalar manusia

Zaman Pertengahan dan
Paradigma Teosentris
Dalam gereja katholik pada zaman itu, paradigma teologis ada 2 yaitu paradigma patristik dan paradigma skolastik.

Paradgima patristik menekankan kesatuan antara filsafat dan wahyu Allah.

Paradigma skolastik adalah kelanjutan dari paradgima patristic, yakni menggunkan rasio manusia untuk menjelaskan iman dan wahyu Allah. Akan tetapi dalam perkembangannya, muncul keraguan di kalangan skolastik bahwa antara iman dan rasio merupakan dua hal yang berbeda.

Salah satu contoh pengadopsian filsafat Yunani untuk menjelaskan teologi katolik, yaitu dalam pemikiran Thomas Aquinas tentang kodrat dan Rahmat. Menurutnya, kodrat itu merupakan sesuatu yg melekat dalam diri manusia sejak semula, sehingga rahmat Tuhan tidak menghancurkan kodrat.

Kalangan Islam juga menggunakan filsafat Yunani untuk menjelaskan teologi Islam

Zaman Pertengahan dan
Paradigma Teosentris
Ibn Sina memperbaiki konsep tentang :
- Sebab dari segala sebab
- Prinsip Utama dari segala prinsip itu
Caranya memperbaiki itu dengan membangun konsep mengenai (tidak niscaya) dan wajib (keniscayaan).

Dari perbedaan ketidakniscayaan dan
keniscayaan tersebut lahirlah konsep filosofis.
Pengadopsian filsafat Yunani berguna untuk menjelaskan wahyu.

Allah membawa implikasi yang besar terhadap politik kekuasaan dan ilmu pengetahuan.
Contoh :
- Teori Geosentris Ptolomeus
- Kitab Pengkhotbahan 1:5

Thank You...
ANGGOTA KELOMPOK
Calvin Sugandi
Gilang Gegono
Juliana Gunawan
Cindy Laurencia
Evi Juniati
Sharon Oroh
Putri Hapsari
Muhamad Febriyanto
Zaman Reinassans
Zaman Pencerahan
- Berlangsung pada abad 16M

- Humanisme Klasik : manusia sebagai mahkluk yg menggunakan pikiran secara terus menerus untuk memahami lingkungan alam

- Penekanan baru dalam Humanisme Klasik pada era Reinassans yakni individualitas manusia.

- Humanisme Reinassans
• Menempatkan manusia sebagai mahkluk universal
• Manusia sebagai subjek
• Manusia sebagai nilai utama
• Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan diri

- Contoh : Refleksi Kritis Giovanni Pico della Mirandola dalam karya Oration on The Dignity of Man (1956)
Full transcript