Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Karya Allah dalam Kepelbagaian

No description
by

Addy Lado

on 9 February 2017

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Karya Allah dalam Kepelbagaian

Karya Allah dalam Kepelbagaian
Bahan Alkitab: 1 Petrus 3:15; Galatia 3:28; Kejadian 1:28; Kejadian 11:1-9

Kepelbagaian atau Keragaman?
Mari mengklasifikasikannya bersama-sama...
Bukankah keseragaman itu juga baik adanya?

Kepelbagaian atau keberagaman ciptaan bukan berarti keterpisahan, namun kepelbagaian dalam kesatuan


Memahami Kepelbagaian Manusia menurut Alkitab
Banyak orang yang justru melihat kepelbagaian sebagai jurang pemisah untuk bersatu.

contoh: kampung kristen/kampung islam
Kepelbagaian justru dapat menjadi sarana bagi manusia untuk saling belajar dan memperkaya visi dan pengalaman hidup sekaligus membangun kebersamaan

Manusia yang berbeda-beda itu dapat bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih baik lagi. Di antara semua keragaman ciptaan Tuhan, keragaman budaya manusia - perbedaan etnis dan bahasa -- juga merupakan bagian dari ciptaan Allah yang baik.


menara Babel?
Masih ingatkah dengan kisah
Terkadang, orang Kristen melihat keragaman budaya sebagai bagian dari dunia yang jatuh, sebagai kutukan.

Narasi Alkitab tentang Menara Babel (Kej. 11:1-9) sering digunakan untuk membenarkan pandangan yang negatif ini. Seolah-olah keberagaman merupakan kutukan Allah


C. S. Song, seorang teolog dari Taiwan, mengatakan bahwa peristiwa Menara Babel mengingatkan kita bahwa Allah justru tidak ingin manusia hidup di dalam kelompoknya sendiri dan dengan cara itu menganggap dirinya hebat.

Tindakan Allah yang dilakukan dalam peristiwa Menara Babel adalah mencegah manusia membangun identitasnya terlepas dari kontrol Allah atau kehendak-Nya.


Pertanyaan yang seringkali muncul :

Bukankah keragaman budaya dan etnis manusia sering menjadi sumber perpecahan dan bahkan kekerasan satu sama lain?


Keberagaman manusia tidak ditempatkan dalam pemahaman yang benar, yaitu dalam rangka keutuhan ciptaan namun dalam keterpisahan bahkan dalam arogansi suku, bangsa, ras, agama maupun budaya. Pemujaan terhadap suku, bangsa, budaya dan agama sendiri telah menggeser peran Allah sebagai pencipta.

Kisah Menara Babel (Kej 11: 1-9)
Merupakan upaya manusia untuk membangun bangsa yang seragam. Mereka ingin tetap kumpul menjadi satu, tidak bepencar-pencar, untuk menjamin kesatuan bahasa, yang berarti keseragaman pandangan, budaya dan cara berpikir.

Mereka mau memberi satu nama, yang berarti satu identitas, satu ciri khas. Mereka ingin membangun sebuah menara yang tingginya sampai ke langit, sehingga menjadi kuat, besar, dan ditakuti.


Menara Babel adalah simbol sebuah kesatuan yang ekslusif dan arogan. Juga menjadi lambang ambisi banyak orang dalam politik, bisnis, bahkan agama! Menjadi kelompok yang ekslusif, kuat, dan tak tertandingi.

Bersatu itu tentu baik, membangun kekuatan juga tidak salah. Tetapi segala yang baik dari model pembangunan yang serba seragam itu "barulah permulaan". Kalau pandangan yang seragam itu keliru, akibatnya seluruh bangsa tersesat! Kalau suatu saat mereka punya rencana jahat, seluruh dunia akan hancur. Kalaupun kelompok besar yang sangat kompak itu benar, pandangan mereka pun akan terlalu sempit.
Dunia ini terlalu luas dan terlalu beragam untuk dipahami hanya oleh satu jenis pandangan, ideologi, atau sistem.
Yahya Wijaya
Kemarahan, Keramahan, dan Kemurahan Allah, hlm. 90
Apa yang ada dalam pikiranmu ketika mendengar kata
Silahkan berpendapat!
Masih ingat dengan kisah Pentakosta?
Keberagaman Allah dinyatakan melalui simbol yang sangat kaya makna.
Ketika Allah hadir berbicara kepada mereka tentang jalan keselamatan, IA bukan sedang membuat orang-orang yang berbagaimacam bahasanya itu mengerti bahasa Tuhan, melainkan Tuhanlah -melalui para rasul- yang berbicara dengan bahasa-bahasa mereka.
Berbicara dalam bahasa lain berarti memasuki cara berpikir orang lain, merasakan pergumulan orang lain, mengalami keterbatasan orang lain.
Menurut Shiao Chong,

Dosa dan pemberontakan manusia telah mendistorsi keragaman penciptaan yang diwujudkan dalam ideologi atau pandangan dunia yang menjadi sistemik dalam budaya atau masyarakat.

Dosa dan pemberontakan manusia menyebabkan perpecahan dan sikap yang merendahkan sesama manusia menurut perbedaan ras, etnis, agama maupun gender. Sikap ini telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi mereka yang mengalami diskriminasi itu.

Cth: Genosida Nazi


Shiao Chong. “Racism, Revelation and Recipes: Towards Christian Inter-Cultural Communities”

Galatia 3:28
Paulus menyingkirkan semua perbedaan suku, warna kulit, bangsa, kelas sosial, dan seksual dalam kaitannya dengan hubungan rohani seseorang dengan Yesus Kristus. Semua orang dari berbagai latar belakang yang beraneka ragam memperoleh kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus. Keselamatan diberikan kepada segala bangsa tanpa kecuali, jadi tidak ada diskriminasi dalam hal menjadi ahli waris Kerajaan Allah.

Di dalam Kristus orang bukan Yahudi maupun orang Yahudi disambut ke dalam keluarga Allah karena iman.
Full transcript