Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Untitled Prezi

No description
by

Muhammad Ilyas Ridho

on 9 February 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Untitled Prezi

Teknologi & Hunian Zaman Purba
Zaman Batu Tua
Palaeolitikum artinya zaman batu tua. Yaitu zaman dimana batu-batu yang digunakan masih sederhana dan kasar. Zaman ini berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Sebaran artefak dan peralatan paleolitik cukup luas sejak di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTT, NTB, dan Halmahera. Kebudayaan zaman palaeolitikum di Indonesia secara umum dibagi menjadi kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.
Zaman Batu Madya
Zaman batu Madya atau batu tengah yang dikenal zaman Mesolitikum. Hasilnya lebih maju apabila dibandingkan hasil zaman Palaeolitikum. Walapun demikian, kebudayaan zaman Palaeolitikum tidak serta punah, tetapi mengalami penyempurnaan. Flakke dan alat – alat dari tulang mengalami perkembangan. Garis besarnya kebudyaan Mesolitikum terbagi menjadi 2 kelompok yang ditandai lingkungan tempat tinggal. Yakni di pantai dan di gua.
Zaman Batu Baru
Pada zaman batu baru atau Neolitikum terjadinya perubahan pola hidup manusia. Pola hidup food gathering digantikan dengan food producing . Mereka mulai mengenal bercocok tanam dan beternak untuk menghasilkan bahan makanan. Manusia zaman purba sudah memiliki pengetahuan tentang kualitas bebatuan karena batu yang sering digunakan adalah jenis batuan kersikan seperti gamping, tufa, kalsedon, dan jasper. Hidup bergotong royong mulai dikembangkan. Di zaman Neolitikum dibagi menjadi 2 tahap perkembangan.
Kelompok 2
X IPA 1
Muhammad Ilyas Ridho
Muhammad Iskandar Zulkarnain
Putik Sekar Madani
Rabela Nada Prastiwi
Salsa Ghaitsa Nabilah
Kebudayaan Ngandong.
Kebudayaan ini banyak ditemukan alat – alat dari batu dan tulang. Alat – alat dari tulang berasal dari tulang binatang dan tanduk rusa yang digunakan sebagai penusuk atau belati. Selain itu, ditemukan alat – alat seperti tombak yang bergerigi. Di Sangiran ditemukan alat – alat dari batu, bentuknya seperti kalsedon atau yang sering disebut dengan flakke.
Kebudayaan Pacitan
Seorang ahli, Von Koenigswald pada tahun 1935 beliau menemukan hasil teknologi bebatuan di daerah Punung. Yang ditemukannya adalah kapak genggam atau kapak perimbas yang bentuk ujungnya agak runcing dan masih kasar. Alat-alat ini digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian.
Pantai
Kjokkenmoddinger istilah ini berasal dari bahasa Denmark. Kjokken berarti dapur. Modding diartikan sampah. Kjokkenmoddinger merupakan tumpukan – tumpukan kulit siput dan kerang di sepanjang pantai Sumatra Timur. Pada umumnya jaman Mesolitikum bahwa manusia bertempat tinggal di tepi pantai.
Pada tahun 1925, Von Stein Callenfels menemukan jenis kapak genggam yang diberi nama Pebble yang dikenal dengan kapak Sumatra. Kapak ini terbuat dari batu kali yang pecah. Disamping kapak Pebble juga ditemukan jenis kapak pendek dan jenis batu pipihan. Di jawa batu pipihan umumnya untuk menumbuk dan menghaluskan jamu.
Kebudayaan Kapak Lonjong
Bentuk keseluruhan alat ini lonjong seperti telur dengan ujung lancip ditempatkan tangkai dan pada bagian ujung yang lain diasah sehingga tajam. Kapak yang berukuran besar dinamakan Walzenbeil dan yang kecil dinamakan Kleinbeil.
Kebudayaan Kapak Persegi
Nama kapak ini berasal dari penyebutan oleh Von Heine Geldern. Kapak ini berbentuk persegi panjang dan berbentuk trapesium. Kapak yang besar sering disebut dengan Belium atau Pacul. Sementara yang berukuran kecil dinamakan Tarah / Tatah. Alat – alat ini tersebar di kepulauan Indonesia bagian barat. Seperti Sumatra, Jawa, dan Bali. Kapak persegi cocok sebagai alat pertanian.
Zaman Logam
Zaman logam di Indonesia hanya mengalami zaman Perunggu dan Besi. Berbeda dengan zaman logam di Eropa yang memiliki zaman tembaga. Beberapa contoh benda-benda zaman logam antara lain: kapak corong, nekara, moko, dan berbagai barang perhiasan. Beberapa benda hasil kebudayaan logam ini juga terkait dengan praktik keagamaan misalnya nekara.
Pola hunian manusia purba memiliki dua karakter khas yaitu kedekatan dengan sumber air dan kehidupan di alam terbuka. Beberapa contoh yang menunjukkan pola hunian seperti itu adalah situs-situs purba di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo (Sangiran, Sambungmacan, Trinil, Ngawi, dan Ngandong) merupakan contoh kecenderungan manusia purba menghuni lingkungan di pinggir sungai.
Hunian
Manusia purba yang nomaden atau berpindah-pindah, sehingga tidak meninggalkan jejak. Mereka hidup dalam komunitas-komunitas kecil dengan mobilitas yang tinggi dan terilosasi dalam hutan tropis dan ketiadaan kontak dengan dunia luar menutup kemungkinan untuk terpengaruh budaya luar.
Gua
Pada tahun 1928 – 1931 Von Stein Callenfels berhasil melakukan penelitian yang ditemukan misalnya ujung panah, flake, dan batu penggilingan. Juga ditemukan alat – alat dari tulang dan tanduk rusa. Kebudayaan ini banyak ditemukan di Besuki, Bojonegoro, dan Sulawesi Selatan.
Kesimpulan
•Zaman purba terbagi menjadi 2 zaman yaitu zaman batu dan zaman logam.
•Zaman batu tediri dari zaman Palaeotikum (batu tua), Mesolitikum (batu madya), dan Neolitikum (batu baru).
•Zaman logam di Indonesia terdiri dari zaman perunggu dan besi.
•Pola hunian manusia purba adalah tinggal di gua-gua yang dekat dengan sumber air dan hidup dengan nomaden atau berpindah-pindah sehingga terkadang tidak menimbulkan jejak.
Full transcript