Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Untitled Prezi

No description
by

hesyandi ebest

on 10 September 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Untitled Prezi

Kesimpulan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA SEBAGAI RESPON ATAS PERUBAHAN TARIF PAJAK PENGHASILAN BADAN DI INDONESIA
Latar Belakang Penelitian
Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2008 melakukan perubahan tarif pajak penghasilan badan yang semula menggunakan tarif progresif 10%, 15% dan 30% diubah menjadi tarif tunggal dengan besarnya tarif 28% untuk tahun pajak 2009 serta 25% untuk tahun pajak 2010 dan seterusnya melalui Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang akan dimulai diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2009. Pemerintah juga memberikan keringanan tarif pajak sebesar 5% lebih rendah dari tarif yang berlaku umum bagi wajib pajak badan yang berbentuk perseroan terbuka dengan minimal 40% dari jumlah keseluruhan sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2011. Peneliti berharap dapat mengetahui dan membuktikan sampai sejauh mana pengaruh pengaruh perubahan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan terhadap manajemen laba perusahaan.
Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat kuantitatif, yang diperoleh dari publikasi laporan keuangan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data laporan keuangan (auditan) perusahaan di Indonesia dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2011.
HIPOTESIS PENELITIAN
Kewajiban pajak yang turun akan menaikkan laba. Oleh karena itu manajer berusaha memanfaatkan insentif pajak untuk memperoleh laba yang lebih tinggi dengan cara memanipulasi laba atau mengecilkan laba sehingga pajaknya akan semakin lebih rendah. Dengan demikian dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H1: Insentif pajak berpengaruh terhadap manajemen laba.
METODE PENELITIAN
Obyek penelitian di dalam penelitian ini meliputi perusahaan-perusahaan yang telah go public dan sahamnya terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan akhir tahun 2011. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan secara purposive sampling, Purposive sampling merupakan suatu metode pengambilan sampel non probabilita yang disesuaikan dengan kriteria tertentu dengan kriteria sebagai berikut:
Perusahaan go public kecuali sektor perbankan dan keuangan dan sahamnya terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2010-2011.
1. Perusahaan menerbitkan data laporan keuangan tahunan yang lengkap selama periode pengamatan 2010-2011.
2. Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan dalam bentuk rupiah selama periode pengamatan 2010-2011.
HESYANDI 0111A002
Perubahan Undang-Undang Pajak Penghasilan ini bila dianalisis secara keseluruhan bagi wajib pajak badan akan memberikan keringanan beban pengenaan pajak penghasilan dibandingkan dengan peraturan yang berlaku sebelumnya. Jadi secara umum beban pajak penghasilan wajib pajak badan tahun 2009 dan seterusnya dapat menjadi lebih kecil dibandingkan dengan beban pajak penghasilan tahun 2008 dan sebelumnya. Hal ini memungkinkan timbulnya perilaku manajemen untuk menggeser laba dari tahun 2008 dan tahun-tahun sebelumnya ke tahun 2009 dan tahun-tahun berikutnya untuk memperoleh keuntungan beban pajak.
Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1.Apakah perusahaan melakukan manajemen laba sebagai respon atas diberlakukan perubahan tarif pajak Badan di Indonesia (UU No.36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan).
2.Apakah manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan dipengaruhi oleh insentif non pajak.
3.Apakah persentase jumlah saham disetor perusahaan yang diperdagangkan di BEI berpengaruh terhadap discretionary accrual.
IDENTIFIKASI MASALAH
KERANGKA PEMIKIRAN
INSENTIF PAJAK
INSENTIF NON PAJAK
•Earning pressure
•Tingkat utang
•Ukuran perusahaan
•Kepemilikan manajerial
Persentase jumlah
saham
yang disetor
MANAJEMEN LABA
HIPOTESIS PENELITIAN
SAMPEL PENELITIAN
Insentif non pajak dalam penelitian Yin dan Cheng (2004) meliputi: earnings pressure, tingkat utang, ukuran perusahaan, dan kepemilikan manajerial.
H2: Earnings pressure berpengaruh terhadap manajemen laba.
H3: Tingkat utang berpengaruh terhadap manajemen laba
H4: Size berpengaruh terhadap manajemen laba
H5: Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.
Latar Belakang Penelitian
Berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan, terdapat perbedaan tarif pajak penghasilan Badan, yaitu (1) 28% (efektif pada tahun 2009) dan 25% (efektif pada tahun 2010) untuk perusahaan yang belum go public maupun perusahaan yang telah go public tetapi saham disetor yang diperdagangkan di BEI kurang dari 40%; dan (2) 5% lebih rendah daripada tarif pada huruf (1) untuk perusahaan go public yang minimal 40% sahamnya diperdagangkan di BEI.
Dengan adanya peraturan tersebut, maka perusahaan yang memiliki minimal 40% saham yang diperdagangkan di BEI akan memperoleh keuntungan berupa penurunan tarif 5% lebih rendah. Hal ini akan membuat pajak yang dibayarkan menjadi lebih kecil karena memperoleh penurunan tarif. Pajak yang semakin rendah akan membuat laba semakin tinggi. Manajer diduga akan memanfaatkan penurunan tarif tersebut untuk melakukan manajemen laba agar pajak yang dibayarkan menjadi semakin rendah. Oleh karena itu, maka dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H6: Persentase jumlah saham disetor perusahaan yang diperdagangkan di BEI berpengaruh terhadap manajemen laba.
Dalam praktik bisnis, earning atau laba biasanya sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan oleh berbagai pihak yang berkepentingan, misalnya sebagai dasar untuk memberikan bonus kepada manajer, digunakan sebagai dasar untuk menghitung penghasilan kena pajak, dan bisa juga digunakan untuk kriteria penilaian kinerja perusahaan. Dengan diberlakukannya tarif pajak penghasilan 2008 ini perusahaan tentunya akan memanfaatkannya dengan membayar pajak sekecil mungkin. Salah satunya caranya dengan melakukan praktik manipulasi laba. Oleh karena itu biasanya manajer sering juga memanfaatkan peluang untuk merekayasa angka laba (earning management) dengan rekayasa akrual untuk mempengaruhi hasil akhir dari berbagai keputusan antara lain meminimalkan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh perusahaan (Hidayati dan Zulaikha, 2003). Insentif non-pajak dapat berupa fasilitas yang diberikan selain dari pajak. Misalnya yang dikemukakan oleh Yin dan Cheng (2004) dan Guenther (1994) dalam Subagyo dan Oktavia (2010) meliputi: earnings pressure, tingkat utang, ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial.
3. Perusahaan melaporkan laba selama periode pengamatan 2010-2011.
4. Perusahaan yang memiliki kepemilikan manajerial selama periode pengamatan 2010-2011.
Peneliti tidak memasukkan perusahaan sektor keuangan dan perbankan dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan karakteristik laporan keuangan antara perusahaan non keuangan dan keuangan. Tidak semua sampel diambil oleh peneliti, peneliti mengambil acak perusahaan yang akan dijadikan sampel penelitian
Tabel Uji Statistik F
Tabel Uji Statistik t
1. Ace Hardware Indonesia Tbk
2. Akasha Wira Internasional Tbk
3. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
4. AKR Corporindo Tbk
5. Astra Internasional Tbk
6. Astra Otoparts Tbk
7. Sepatu Bata Tbk
8. Primarindo Asia Tbk
9. Gudang Garam Tbk
10. Panasia Indosyntec Tbk
11. Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk
12. Indofood Sukses Makmur Tbk
13. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
14. Kimia Farma Persero Tbk
15. Kedawung Indah Can Tbk
16. KMI Wire & Cable Tbk
17. Krakatau Steel Tbk
18. Kedawung Setia Industrial Tbk
19. Kalbe Farma Tbk
20. Lion Metal Works Tbk
21. Limas Centric Indonesia Tbk
22. Martina Berto Indonesia Tbk
23. Mustika Ratu Tbk
24. Mayora Indah Tbk
25. Bentoel Internasional Investama Tbk
26. Sekar Laut Tbk
27. Semen Gresik Tbk
28. Mandom Indonesia Tbk
29. Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk
30. Unitex Indonesia Tbk
Dari perhitungan Tabel menunjukan F hitung sebesar 3,454 dengan nilai probabilitas yaitu (sig)=0,006. Nilai F hitung > F tabel (2,39), dan nilai sig. lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau nilai 0,006<0,05. Sehingga dapat dinyatakan bahwa semua variabel independen (Insentif pajak, earning pressure, tingkat utang, ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial, persentase jumlah saham yang disetor) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Akrual Diskresioner).
1.Variabel Insentif Pajak (TaxPlan)
Pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel tax plan terhadap manajemen laba menunjukkan nilai t hitung sebesar 3,431. Dapat disimpulkan bahwa nilai t hitung > t tabel (1,67412), artinya Ho ditolak dan Ha diterima, maka insentif pajak (tax plan) berpengaruh terhadap majanemen laba (akrual diskresioner) dengan pengaruh yang signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 (p<0,05).Sehingga hipotesis 1 (H1) diterima.

2.Variabel Earning Pressure (EPRESS)
Pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel earning pressure terhadap manajemen laba menunjukkan nilai t hitung sebesar 3,006. Dapat disimpulkan bahwa nilai t hitung > t tabel (1,67412), artinya Ho ditolak dan Ha diterima, maka earning pressure berpengaruh terhadap majanemen laba (akrual diskresioner) dengan pengaruh yang signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,004 (p<0,05).Sehingga hipotesis 2 (H2) diterima.

3.Variabel Tingkat Utang (DEBT)
Pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel tingkat utang (Debt) terhadap manajemen laba (akrual diskresioner) menunjukkan nilai t hitung sebesar 0,112. Dapat disimpulkan bahwa nilai t hitung < t tabel (1,67412), artinya Ho diterima dan Ha ditolak, maka tingkat utang (Debt) tidak berpengaruh terhadap majanemen laba (akrual diskresioner) dengan pengaruh yang juga tidak signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,911 (p>0,05).Sehingga hipotesis 3 (H3) ditolak.
4. Variabel Ukuran Perusahaan (SIZE)
Pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel ukuran perusahaan (Size) terhadap manajemen laba (akrual diskresioner) menunjukkan nilai t hitung sebesar 0,215. Dapat disimpulkan bahwa nilai t hitung < t tabel (1,67412), artinya Ho diterima dan Ha ditolak, maka ukuran perusahaan (Size) tidak berpengaruh terhadap majanemen laba (akrual diskresioner) dengan pengaruh yang juga tidak signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,831 (p>0,05).Sehingga hipotesis 4 (H4) ditolak.

5. Variabel Kepemilikan Manajerial (MGTOWN)
Pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel kepemilikan manajerial (MGTOWN) terhadap manajemen laba (akrual diskresioner) menunjukkan nilai t hitung sebesar 0,758. Dapat disimpulkan bahwa nilai t hitung < t tabel (1,67412), artinya Ho diterima dan Ha ditolak, maka kepemilikan manajerial (MGTOWN) tidak berpengaruh terhadap majanemen laba (akrual diskresioner) dengan pengaruh yang juga tidak signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,452 (p>0,05).Sehingga hipotesis 5 (H5) ditolak.

6. Variabel Persentase Jumlah Saham yang Disetor (Stock)
Pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel persentase saham yang disetor (Stock) terhadap manajemen laba (akrual diskresioner) menunjukkan nilai t hitung sebesar 1,485. Dapat disimpulkan bahwa nilai t hitung < t tabel (1,67412), artinya Ho diterima dan Ha ditolak, maka persentase saham yang disetor (Stock) tidak berpengaruh terhadap majanemen laba (akrual diskresioner) dengan pengaruh yang juga tidak signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,144 (p>0,05).Sehingga hipotesis 6 (H6) ditolak.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil pengujian hipotesis 1 menunjukkan bahwa variabel Insentif pajak (TAXPLAN) berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba di perusahaan manufaktur

2. Hasil pengujian hipotesis 2 menunjukkan bahwa variabel EPRESS berpengaruh positifdan signifikan terhadap perilaku manajemen laba di perusahaan manufaktur

3. Hasil pengujian hipotesis 3 menunjukkan bahwa variabel DEBT tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap perilaku manajemen laba di perusahaan manufaktur

4. Hasil pengujian hipotesis 4 menunjukkan bahwa variabel SIZE tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap perilaku manajemen laba di perusahaan manufaktur

5. Hasil pengujian hipotesis 5 menunjukkan bahwa variabel MGTOWN tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap perilaku manajemen laba di perusahaan manufaktur

6. Hasil pengujian hipotesis 6 menunjukkan bahwa variabel STOCK tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap perilaku manajemen laba di perusahaan manufaktur
FENOMENA
Insentif pajak yang diberikan oleh pemerintah terkadang memberikan kesempatan bagi manajer untuk memanfaatkan kompensasi yang diberikan. Adanya peraturan pajak baru yang memberikan tambahan insentif sebesar 5% bagi perusahaan yang telah go public serta adanya kompensasi 5 tahun untuk perusahaan yang mengalami kerugiaan (loss firm), mendorong manajer untuk memanfaatkan insentif tersebut dengan melakukan manajemen laba. Selain insentif pajak, insentif non pajak yang merupakan insentif yang dilakukan oleh perusahaan, juga turut menyumbang peran dalam manajemen laba yang dilakukan oleh manajer. Perusahaan cenderung akan menetapkan suatu kebijakan menyesuaikan dengan peraturan pemerintah, dalam hal ini adalah peraturan perpajakan.
Penelitian juga dilakukan oleh Subagyo dan Oktavia (2010) dalam mendeteksi adanya manajemen laba terkait dengan perubahan Undang-undang. Dalam penelitiannya menggunakan pendekatan discretionary accrual dan merupakan pengembangan dari penelitian Yin dan Cheng (2004) namun disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Hasil dari penelitian ini berhasil membuktikan bahwa hanya perusahaan yang memperoleh laba (profit firm) yang memanipulasi labanya guna meminimalkan beban pajak, serta dipengaruhi oleh insentif pajak dan insentif non pajak, sedangkan untuk perusahaan yang mengalami kerugian (loss firm) tidak melakukan manajemen laba dan hanya dipengaruhi oleh insentif non pajak saja, dan untuk presentase jumlah saham disetor perusahaan yang diperdagangkan di BEI tidak berpengaruh terhadap perusahaan.
Fenomena
Operasionalisasi Variabel
a. Menghitung total akrual

TACCit = NIit – CFOit................................................................(1)
Yang terdiri dari:
TACCit = Total akrual perusahaan i pada tahun t
NIit = Laba bersih (net income) perusahaan i pada tahun t
CFOit = Kas dari operasi (cash flow operation) perusahaan i pada tahun t


b. Menghitung koefisien dari regresi akrual
Discretionary accrual merupakan perbedaan antara total akrual (TACC) dengannondiscretionary accrual (NDACC).Nondiscretionary accrual diketahui denganmelakukan regresi sebagai berikut:
TACCit / TAit-1 = 1 (1/TAit-1 ) + 1 ((ΔREVit - ΔRECit ) /TAit-1) + 2 (PPEit/TAit-1) + it………………………………………………………..(2)
Yang terdiri dari:
TACCit = Total akrual perusahaan i pada tahun t
TAit-1 = Total aktiva perusahaan i pada tahun t-1
ΔREVit = Pendapatan perusahaan i pada tahun t dikurangi pendapatan tahun t-1
ΔRECit = Piutang usaha perusahaan i pada tahun t dikurangi pendapatan tahun t-1
PPEit = Aktiva tetap perusahaan i pada tahun t
it = error term perusahaan i pada tahun t
Operasional Variabel
c. Menghitung tingkat akrual yang tidak normal
Regresi yang dilakukan di (2) menghasilkan koefisien α1, β1 dan β2.Koefisien α1, β1dan β2 tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi nilai nondiscretionary accrualmelalui persamaan sebagai berikut :
NDACCit= 1 (1/TAit-1 ) + 1 ((ΔREVit - ΔRECit ) /TAit-1) + 2 (PPEit/TAit-1) + ε …………………………………………….(3)

NDACCit = Nondiscretionary accrual pada perusahaan i pada tahun t
ε = Error

d. Menghitung discretionary accrual
Setelah mendapatkan nilai nondiscretionary accrual, kemudian menghitung nilaidiscretionary accrual dengan cara mengurangkan total akrual (hasil perhitungan (1))dengan nondiscretionary accrual (hasil perhitungan (3)).
DACCit = (TACCit/TAit-1) – NDACCit ....................................................... (4)
DACCit = Discretionary accrual perusahaan i pada tahun t
Model untuk mengukur earnings management yang menggunakan proksi discretionary accrual salah satunya adalah model modified Jones. Perhitungan discretionary accruals menggunakan model Jones (1991) yang telah dimodifikasi oleh Dechow et al. (1995) dalam Subagyo dan Oktavia (2010) yaitu sebagai berikut:
Variabel x1= Insentif pajak
Operasional Variabel
Variabel Bebas : Insentif non pajak (X2)
•Earning Pressure
(Laba tahun berjalan – laba tahun lalu) / Total asset awal tahun
•Tingkat Utang
Diukur dengan menggunakan rasio kewajiban jangka panjang terhadap asset awal tahun
•Ukuran perusahaan
Variabel size pada penelitian ini diukur dari logaritma natural asset
•Kepemilikan manajerial
diukur dengan menggunakan variabel dummy, diberi angka 1 jika dewan direksi memiliki kepemilikan saham di perusahaan, dan diberi angka 0 untuk yang lainnya.
•Persentase jumlah saham yang disetor :
Saham disetor perusahaan yang diperdagangkan di BEI <40% = 0
Saham disetor perusahaan yang diperdagangkan di BEI >40% = 1
Operasional Variabel
Variabel Persentase jumlah saham yang disetor (X3)
Full transcript