Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

SASA

SASA
by

Ummul Masir

on 27 October 2012

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of SASA

Deteksi Kebuntingan Dini Dengan MenggunakanProfil Hormon Progesteron pada Sapi Yang Dikawinkan Melalui Teknik Inseminasi Buatan (IB) Oleh:

UMMUL MASIR
I 111 07010 Di Bawah Bimbingan:
Prof. Dr. Ir. Abdul Latief Toleng, M.Sc
Prof. Dr. Ir. Herry Sonjaya, DEA., DES Pendahuluan Peningkatan jumlah sapi potong dengan penerapan Inseminasi Buatan (IB)
Keberhasilan IB baru 45%. Deteksi Kebuntingan dan berahi kembali sering terjadi
Deteksi Kebuntingan dapat dilakukan dengan metode palpasi rektal dan pengukuran kadar hormon
Pemeriksaan kebuntingan (PKB)
yang digunakan masih secara
konvensional Rumusan
Masalah Penerapan Teknologi RIA
membantu untuk deteksi dini
kegagalan IB Tujuan Kegunaan Memberi informasi mengenai
deteksi dini kegagalan IB Pengambilan sampel di Kabupaten Bantaeng
Analisis hormon dilaksanakan di Laboratorium Radioisotop, Devisi Energi dan Isotop, PKP Unhas Metode Penelitian Waktu dan
Tempat Materi 79 ekor sapi potong umur 2-3 tahun.
Alat yang digunakan: jarum, venojet, freezer, tabung reaksi, rak tabung, sentrifuge, fortex, kapas, alkohol 70%, antikoagulan dan seperangkat alat RIA
Metode
Penelitian Pengambilan
sampel darah
Pengambilan darah di bagian vena jungularis sapi sebanyak 10 cc Darah kemudian disentrifug dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit
Ambil serum darah, simpan dalam freezer -200 C
Pengambilan dilakukan sebanyak 3 kali: Hari 0, 10, 20
Data dianalisa dengan menggunakan metode chi-square non parametik untuk menguji frekuensi data yang diamati dari suatu variabel kategorik sesuai dengan frekuensi harapan (Uyanto, 2009) Hari ke- Keterangan 0 10 20 R R R
R T R
R T T
T T T
T R T
Tidak bunting (Belum berahi)
Tidak bunting (IB tepat waktu)
IB Tepat Waktu (Bunting)
IB Pada Sapi Bunting
IB Tidak Tepat Waktu (Berahi lama) keterangan:
R (rendah) = <1 ng/ml Progesteron
T (tinggi) = > 1 ng/ml Progesteron Analisa profil hormon progesteron Semua ternak diklasifikasikan dalam lima golongan ini kemudian hasil analisa dibandingkan dengan hasil pemeriksaan kebuntingan dini 60 hari setelah IB dengan palpasi rektal Analisa
hormon
Analisa
data Hasil dan
Pembahasan Tingkat kesamaan antara profil hormon progesteron dengan palpasi rektal adalah 73,4%. 37,97% (30 ekor) bunting dan 35,44% (28 ekor) tidak bunting Tingkat ketidaksesuaian 26,6%,
akumulasi dari 16,5% (13 ekor) dan 10,12% (8 ekor). Hasil analisis statistik dengan metode chi-square memperlihatkan adanya hubungan yang sangat nyata antara hasil analisa progesteron dengan palpasi rektal (P < 0.05). Gambar 4.a memperlihatkan kenaikan kadar hormon progesteron dari hari ke-0 hingga hari ke-20. Hal ini berarti terjadi kebuntingan dan dapat dipertahankan sampai hari ke-60 tepat pada waktu pelaksanaan IB serta terdapat aktivitas CL yang menghasilkan hormon progesteron Gambar 4.a Gambar 4.c Gambar 4.b Gambar 4.d Gambar 4(b) memperlihatkan kesamaan hasil deteksi kebuntingan dengan palpasi rektal dan profil hormon progesteron. Sapi induk yang diinterprestasi asiklus menunjukkan sapi-sapi induk yang mengalami gangguan reproduksi dengan ovarium tidak bersiklus. Hormon progesteron yang dihasilkan sangat rendah di bawah 1 ng/ml (Syarifuddin, dkk., 2009). Dari data di atas (Tabel 4) dapat dideteksi terdapat 13 ekor (16.5%) mengalami kematian embrio dini. Grafik kadar progesteron dapat dilihat pada Gambar 4 (c) yang menunjukkan kenaikan hormon progesteron dimana hari ke -0 saat berahi kadar progesteronnya adalah 1,6 ng/ml, kemudian naik menjadi 5,4 ng/ml pada hari ke-10, lalu meningkat lagi pada hari ke-20 hingga 10,5 ng/ml. Dengan demikian sapi tersebut dapat dikatakan bunting. Hasil uji profil progesteron dalam Gambar 4(d) tidak menunjukkan kebuntingan, namun pada saat palpasi rektal dilakukan terdapat aktivitas CL yang menyatakan adanya kebuntinggan Diperkirakan bahwa IB dilakukan pada waktu yang kurang tepat, di saat progesteron >1 ng/ml yang berarti aktivitas ovarium memasuki fase luteal. Kesimpulan Aplikasi teknik Kit Radioimmunoassay (RIA) progesteron dapat digunakan untuk mengukur deteksi kebuntingan pada ternak dengan tingkat keberhasilan pendeteksian mencapai 73,4%. SEKIAN TERIMA KASIH dan
Full transcript