Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

BAB 6 REVOLUSI MENEGAKKAN PANJI-PANJI NKRI

No description
by

kencana indah

on 1 May 2016

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of BAB 6 REVOLUSI MENEGAKKAN PANJI-PANJI NKRI

1. Kondisi Awal Indonesia Merdeka

Laksamana Lord Luis Mountbatten

Penyerahan Jepang kepada sekutu tanpa syarat tanggal 14 Agustus 1945 membuat analogi bahwa sekutu memiliki hak atas kekuasaan Jepang di berbagai wilayah.

Belanda adalah salah satu negara yang berada dibalik kelompok Sekutu.

Belanda ingin kembali berkuasa atas Indonesia karena Indonesia dalam Vacuum of Power atau kekosongan pemerintah.

Belanda yang ingin kembali ke Indonesia berhadapan kembali dengan bangsa Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaanya.

Oleh karena itu, terjadilah konflik Indonesia-Belanda dan berbagai upaya diplomasi untuk menuju penyelesaian akhir konflik tersebut.

Sekutu masuk ke Indonesia melalui beberapa pintu yaitu seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Setelah Perang Dunia II, terjadi perundingan Belanda dengan Inggris di London yang menghasilkan Civil Affairs Agreement .

Isinya tentang pengaturan penyerahan kembali Indonesia dari pihak Inggris kepada Belanda, khusus yang menyangkut daerah Sumatera, sebagai daerah yang berada di bawah pengawasan SEAC (South East Asia Command).




2. Kedatangan Sekutu dan Belanda
A. Menganalisis Perkembangan & Tantangan Awal Kemerdekaan
BAB 6 REVOLUSI MENEGAKKAN PANJI-PANJI NKRI
Tanggal 4 Januari 1946 ibu kota RI pindah ke Yogyakarta.
Pada 1 Oktober 1946, Indonesia mengeluarkan uang RI yang disebut ORI (Oeang Republik Indonesia), uang NICA dinyatakan tidak sah sebagai alat tukar.
Struktur kehidupan masyarakat berubah. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama.
ORI tampil dalam bentuk uang kertas dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks UUD 1945
ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu A.A. Maramis.
Namun peredaran ORI tersebut sangat terbatas dan tidak mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. Di Sumatera yang beredar adalah mata uang Jepang
Didalam perundingan itu dijelaskan langkah-langkah:
Fase Pertama,
tentara sekutu

akan mengadakan operasi militer untuk memulihan keamanan dan ketertiban.
Fase kedua
, setelah keadaan normal, pejabat-pejabat NICA akan mengambil alih tanggung jawab koloni itu dari pihak Inggris yang mewakili sekutu.

Tanggal 24 Agustus 1945 hasil perundingan itu disahkan

Berdasarkan persetujuan Postdam, isi
Civil

Affairs Agreement
diperluas
:
Inggris bertanggung jawab untuk seluruh Indonesia termasuk daerah yang berada di bawah pengawasan SWPAC.

Pasukan tentara kerajaan Inggris yang mendapat tugas masuk ke Indonesia terbagi dua, yaitu :
SEAC (South East Asia Command
) di bawah pimpinan Laksamana Lord Luis Mountbatten Untuk wilayah Indonesia bagian Barat.
SWPC ( South West Pasific Command)
untuk wilayah Indonesia bagian Timur.
Kedatangan pasukan Sekutu ke pulau Jawa dan Sumatra ada di bawah komando Asia Tenggara (South East Asia Comand atau SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Lord Luis Mountbatten.

Perwira Sekutu yang pertama kali datang ke Indonesia, yakni pada tanggal 14 September 1945, adalah Greenhalgh.

Tugas Greenhalgh adalah untuk mempersiapkan pembentukan Markas besar Serikat di Jakarta.

Kedatangan Greenhalgh disusul oleh berlabuhnya kapal penjelajah Cumberland yang mendarat kan pasukan di Tanjung Priok pada tanggal 29 September 1945.

Kapal itu membawa Panglima Skadron Penjelajah Inggris, yakni Laksamana Muda W.R Patterson.

Pasukan Sekutu yang bertugas di Indonesia ini merupakan komando bawahan dengan tiga divisi dari SEAC yang di beri nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) dan ada di bawah pimpinan Letnan Jendral Sir Philip Christison.



Tugas dari pada AFNEI di Indonesia adalah melaksanakan perintah Gabungan Kepala Staf Serikat yang di berikan kepada SEAC, di antaranya adalah :

Menerima penyerahan dari tangan Jepang.
Membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu.
Melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk di pulangkan.
Menegakan dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintahan sipil.
Menghimpun keterangan tentang penjahat perang dan menuntut mereka di depan pengadilan Sekutu
Di Indonesia pasukan AFNEI dibagi dalam 3 divisi, yaitu :
Divisi India ke 23 ditempatkan di Jawa Barat, dipimpin oleh Mayjend. DC. Hawthorn
Divisi India ke 5 di tempatkan di Jawa Timur, dipimpin oleh Mayjend EC Mansergh
Divisi India ke 26 ditempatkan di Sumatera, dipimpin oleh Mayjend HM Chambers
Keadaan Indonesia pada awal kemerdekaan masih belum begitu mapan.

Bangsa Indonesia harus berhadapan dengan tentara Inggris atas nama Sekutu dan juga NICA (Belanda) yang berhasil datang kembali ke Indonesia.

Pemerintah telah terbentuk, tetapi karena baru awal kemerdekaan tentu masih banyak kekurangan. TNI juga sudah dibentuk.

Kondisi perekonomian sangat memprihatinkan, terjadi inflasi yang sangat berat. Hal ini dipicu karena peredaran mata uang rupiah Jepang yang tak terkendali, sementara nilai tukarnya sangat rendah.

Saat itu berlaku 3 jenis mata uang :
De Javaesche Bank
Mata uang pemerintah Hindia Belanda
Mata uang rupiah Jepang

Setelah NICA datang ke Indonesia juga memberlakukan mata uang NICA.

Belanda (NICA) melakukan blokade dan memberikan tekanan serta teror terhadap pemerintah Indonesia.


Kedatangan pasukan-pasukan Sekutu itu di sambut dengan sikap netral oleh pihak Indonesia.

Setelah di ketahui bahwa pasukan Sekutu/Inggris itu datang membawa orang-orang NICA yang dengan terang-terangan hendak menegakan kembali kekuasaan Hindia Belanda, sikap pihak Indonesia berubah menjadi minimal curiga, maksimal bermusuhan.

Orang-orang NICA dan KNIL di Jakarta, Bandung dan kota-kota lain kemudian memencing kerusuhan dengan cara mengadakan provokasi-provokasi bersenjata.

Christison telah memperhitungkan bahwa usaha pasukan-pasukan Sekutu tidak akan berhasil tanpa bantuan Pemerintah Republik Indonesia.

Karenanya Christison berunding dengan Pemerintah Republik Indonesia dan mengakui de facto Republik Indonesia pada tanggal 1 Oktober 1945.


Kedatangan tentara sekutu
Full transcript