Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Kajian pelaksanaan program Inseminasi Buatan sapi

No description
by

silvia lestarie

on 17 October 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Kajian pelaksanaan program Inseminasi Buatan sapi

Kajian Pelaksanaan Program Inseminasi Buatan Sapi Potong di Jawa Barat
Jurnal Penelitian Siti Darodjah Rasad' , Sondi Kuswaryan', Dewi Sartika , Rukmantoro Salim
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat

Latar Belakang Penelitian
Teknologi Inseminasi Buatan (IB) telah sejak dahulu berkembang di masyarakat peternak, terutama sapi perah, karena teknologi tersebut telah mampu memperbaiki mutu genetik ternak sapi perah. Kaitannya dengaercepat peningkatn sapi potong, penerapan program IB ternyata mampu mempan populasi sapi potong, hal ini terbukti dari kondisi di daerah-daerah Jawa Barat, terutama semakin bertambahnya permintaan akan straw semen beku untuk sapi potong menunjukka kepercayaan peternak akan teknologi atau program IB .



Faktor-Faktor Pengaruh Keberhasilan IB
faktor betina
faktor semen beku
faktor sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini inseminator.

Induk betina akan merespon program IB apabila saat dilakukan IB kondisi induk sedang dalam keadaan estrus (berahi), untuk betina dara sudah dalam usia dewasa kelamin, serta memang si
unduk tersebut tidak mempunyai catatan penyakit terutama penyakit reproduksi .
tujuan dari lB tersebut adalah adanya kebuntingan hasil IB dengan seminimal mungkin pelaksanaan inseminasi. Parameter yang diukur untuk pelaksanaan IB adalah Service per onception (S/C) yakni berapa kali dilakukan inseminasi sampai terjadi kebuntingan, Conception Rate (CR) yang merupakan angka kebuntingan dari sekelompok induk yang di inseminasi, dan jumlah kelahiran (Bearden et al.,, 2004)

evaluasi keberhasilan pelaksanaan IB di suatu daerah dapat juga dilihat dari perkembangan jumlah akseptor (peserta IB), dimana hal ini mencerminkan adanya perubahan pemahaman dan wawasan peternak pemilik sapi potong terhadap inovasi teknologi IB
Inseminasi Buatan didefinisikan sebagai proses memasukkan semen ke dalam organ reproduksi betina dengan menggunakan alat inseminasi . Prosesnya secara luas mencakup penampungan semen, pengenceran dan pengawetan semen sampai pada deposisi semen ke dalam saluran reproduksi betina (Ax
et al
., 2000) .
Keuntungan IB
Keuntungannya adalah IB dapat mempercepat penyebaran dan peningkatan mutu genetik ternak .
Melalui penggunaan bioteknologi IB, efisiensi penggunaan pejantan unggul yang terbatas jumlahnya dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan semen secara optimal .
Perkawinan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi IB, memungkinkan seekor pejantan untuk mengawini lebih banyak betina daripada perkawinan alami yang dapat dilakukannya.
Selain itu, melalui teknologi IB potensi genetik seekor pejantan unggul dapat tersebar luas, tidak hanya pada daerah tempat pejantan itu berada tetapi juga pada daerah lainnya yang terpisah oleh jarak dan waktu .
MATERI DAN METODE

• Bahan penelitian yang digunakan data sekunder dari laporan kegiatan IB di 19 kabupaten di Jawa Barat sejak tahun 2003 hingga 2007. Metode yang digunakan berupa metode deskriptif, yaitu studi kasus di beberapa kabupaten di Jawa Barat

• Selanjutnya data dianalisis untuk melihat sampai sejauhmana pencapaian keberhasilan program IB sapi potong lokal . Adapun parameter yang dievaluasi adalah angka S/C, CF, Jumlah Akseptor 113, Inseminasi, Kebuntingan dan kelahiran .

HASIL PENELITIAN
Dari hasil evaluasi keberhasilan program IB di Jawa Barat, terlihat adanya peningkatan dari tahun ke tahun baik dari aspek jumlah akseptor IB, Inseminasi, kebuntingan dan kelahiran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik 1 berikut :




Anggota Kelompok
Prelly Augustira 2001101200
Muhamad Ramdhan 200110120067
Bayu Herdiansyah 2001101200
E. Silvia Lestarie 200110120092
Dian Rizqi H 200110120114
Lutfi 200110120000

Pengertian Insenminasi Buatan
Dari Gambar 1 terlihat bahwa Dinas Peternakan Jawa Barat telah berupaya membuat target kinerja pelaksanaan IB Sapi Potong di 19 kabupaten di Jawa Barat, dan selanjutnya dari realisasi yang berhasil dicapai menunjukkan adanya tendensi peningkatan yang nyata dari tahun ke tahun (sejak 2003 - 2007) .
Pada tabel 1 berikut dapat dilihat, jumlah akseptor Sapi Potong peserta IB di Jawa Barat pada kurun waktu 2 tahun (2006-2007). Dengan melihat data akseptor tersebut, dapat diasumsikan potensi ataupun gambaran populasi Sapi Potong di beberapa kabupaten di Jawa Barat. Dari tabel I terlihat bagaimana potensi sapi potong di beberapa kabupaten di Jawa Barat. Hal ini mencerminkan bahwa Sapi potong memang berkembang dengan baik, walaupun dibeberapa Kabupaten masih rendah potensinya.
Dari Tabel tersebut, selayaknya masih perlunya peningkatan fasilitas pendukung IB di beberapa Kabupaten di Jawa Barat, terutama apabila dikaitkan dengan jumlah akseptor IB yang sudah banyak serta juga perlu mendapat perhatian kondisi lapangan daerah atau sentra peternakan sapi potong yang terkadang sulit dijangkau, sehingga hambatan jarak masih merupakan faktor kendala
Pengembangan sentra sapi potong masih terkonsentrasi di Kabupaten-kabupaten di Jawa Barat, sedangkan di kota-kota besar masih belum terlihat, hal tersebut disebabkan karena adanya persaingan lahan dengan fasilitas permukiman sehingga lahan-lahan untuk peternakan sapi potong makin terdesak ke daerah-daerah kecil . Kondisi ini sebetulnya justru menambah biaya pemasaran, karena jarak menjadi salah satu kendala meningkatnya harga jual sedangkan penerimaan peternakan masih tetap rendah --> dikaji lebih dalam erat kaitannya dengan pola perkembangbiakan sapi potong tersebut yang merupakan faktor utama dalam penyediaan hasil produknya yaitu daging sapi .
Dari hasil kajian data yang diperoleh, dapat dievaluasi bahwa program IB di beberapa Kabupaten di Jawa Barat telah menunjukkan hasil yang sudah cukup baik, ini dapat dilihat dari capaian beberapa parameter yang dapat dijadikan ukuran keberhasilan pelaksanaan IB . Adapun faktor utama yang perlu disoroti adalah dari jumlah akseptor, yang dari tahun ke tahun meningkat, ini menunjukkan bahwa kesadaran dan pemahaman peternak sapi potong akan program IB tersebut cukup baik
Pembahasan Penelitian
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah faktor induk sapi yang sangat mempengaruhi keberhasilan program IB . Dari faktor tersebut, akan memberikan nilai S/C dan CR (angka kebuntingan)
Dari data yang diperoleh di lapangan, memang ada kecenderungan penurunan angka kebuntingan (dari tahun 2006-2007) . Hal ini kemungkinan bukan dari faktor induk sapi, tetapi mungkin saja dari faktor sumber daya manusia, dalam hal ini inseminator selaku operator pelaksanan IB . Selain ketrampilan dalam inseminasi, juga diperlukan ketelitian dalam deteksi estrus sapi-sapi peternak yang akan dilayani.
Strategi Untuk Mendukung Pelaksanaan Kinerja IB
Pengembangan Mutu Bibit sapi potong,
Pengembangan pakan ternak sapi potong,
Pengendalian Penyakit Reproduksi dan Kesehatan Hewan
Permodalan, dengan pemberian kredit lunak kepada petemak dan investor yang akan menanamkan modalnya di bidang perbibitan dan penggemukkan sapi potong
Peningkatan mutu daging sapi potong

KESIMPULAN

Mengacu kepada permasalahan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pelaksanaan IB di beberapa kabupaten di Jawa Barat masih rendah disebabkan karena rendahnya sarana prasarana pendukung pelaksanaan IB. Kondisi ini kemungkinan diakibatkan atau erat kaitannya dengan kondisi daerah peternakan sapi potong yakni lokasi para peternak yang terkadang berjauhan sedangkan pos IB yang kurang, menjadi kendala pelaksanaan program IB tersebut

TERIMA KASIH
Full transcript