Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Detail 1

No description
by

Jefri Efranda

on 9 October 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Detail 1

KONTEN
Pendahuluan
Fungsi Hati
Tes Fungsi Hati
Penyakit Gangguan Fungsi Hati
Farmakokinetik pada Gangguan Fungsi Hati
Farmakodinamik pada Gangguan Fungsi Hati
Prinsip Penggunaan Obat pada Gangguan Fungsi Hati
Obat-obat yang Harus Dihindari pada Pasien dengan Gangguan Fungsi Hati
Peran Apoteker dalam Terapi Gangguan Fungsi Hati
Contoh Kasus
Hati merupakan organ yang sangat penting dalam pengaturan homeostatis tubuh, meliputi:
• Metabolisme
• Biotransformasi
• Sintesis
• Penyimpanan
• Imunologi

PENDAHULUAN
GANGGUAN FUNGSI HATI
Gangguan Fungsi Hati
Kelompok 1 A

ERSA YULIZA (1441012011)
JEFRI EFRANDA (1441012019)
NANA HASTUTI (1441012027)
RAMADENI (1441012035)
RIKI ERISMAN (1441012039)
ROZI VEBI FEBRIANIE (1441012043)
TRISKA HANDAYANI (1441012053)
YULI YUNITA (1441012061)
Berat kira-kira 1,2-1,8 Kg atau kira kira 2,5% dari berat tubuh orang dewasa.
FUNGSI HATI
1. Biotransformasi Obat (Inaktivasi/ aktivasi)
Kebanyakan obat larut lemak dimetabolisme dihati, terdiri dari 2 fase:
Fase 1 : reaksi oksidasi, hidrolisi, dan reduksi,dimediasi oleh enzim sitokrom P-450, yang mana terikat dengan membrane reticulum endoplasma disamping hepatosit.
Fase 2 : reaksi konjugasi untuk glukoronida, asetat, atau sulfat, mungkin dimediasi dalam hati dengan enzim sitosolik yang terdapat dalam hepatosit.
2. Penyimpanan
Hati menyimpan energi, vitamin, mineral, darah dan substansi lain yang berperan dalam pembentukan dan regenerasi darah.
3. Homeostasis (glukosa)

4. Sekresi (garam empedu)

5. Ekskresi (kolesterol, bilirubin)
6. Sintesis
Sintesis protein plasma (albumin, transferrin, lipoprotein)

7. Pembentukan (dan destruksi)
25-hidroksilasi vitamin D3 (vitamin D3 atau kolekalsiferol adalah prekursor dari 1,25-dihidroksikolekalsiferol, bentuk aktif vitamin D).
Produksi 1,25-dihidroksikolekalsiferol memerlukan hidroksilasi molekul kolekalsiferol posisi 1- α dan posisi 25. Hidroksilasi pada posisi 25 terjadi di hati, hidroksilasi pada posisi 1-α terjadi di ginjal.

8. Metabolisme (karbohidrat,protein dan lemak)

9. Detoksifikasi

10. Klirens

11. Filtrasi

12. Penyeleksian dan perlindungan
Fagositosis mikroorganisme yang berkembang dalam
darah dan juga sel darah merah yang tidak berguna.
TES FUNGSI HATI
1. Kliren Hati
Yaitu kemampuan hepar untuk membersihkan darah dari obat persatuan waktu.

Klirens hepar ditentukan oleh:
Kemampuan metabolisme obat oleh hepar dalam sesaat (rasio ektraksi = extraction ratio).
Kecepatan aliran darah yang melalui hepar.
2. Child-Pugh Score
Keterangan:
Child-Pugh Score dapat digunakan sebagai indikator atas kemampuan pasien untuk memetabolisme obat yang dieliminasi pada hati.
Nilai 8 – 9 →penurunan yang sedang pada dosis obat awal (~25%) untuk zat yang dimetabolisme pada hati (≥60%)
Pada angka 10 atau lebih → penurunan yang signifikan pada pemberian dosis awal (~50%) dibutuhkan untuk obat yang metabolisme utamanya pada hati.
Pasien dengan atau tanpa disfungsi hati, dosis awal dimaksudkan sebagai titik awal untuk titrasi dosis berdasarkan respon pasien dan menghindari efek samping.
Sebagai contoh, dosis biasa obat yang dimetabolisme hati 95 % adalah 500 mg setiap 6 jam, dan dosis total harian 2000 mg /hari.
Untuk pasien sirosis hati dengan Skor Child - Pugh 12, dosis awal yang tepat akan menjadi 50 % dari dosis biasa atau 1000 mg /hari.
Obat bisa diresepkan untuk pasien 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg setiap 12 jam.
Pasien akan diawasi secara ketat untuk farmakologis dan efek racun obat, dan dosis akan dimodifikasi sesuai kebutuhan.
3. Serum Transaminase
Serum aspartate aminotransferase/ (AST) (sebelumnya disebut Serum Glutamic-Oxaloacetic Transaminase, SGOT)
Serum alanine aminotransferase (ALT) (sebelumnya disebut Serum Glutamic-Pyruvic Transamine, SGPT)
AST dan ALT adalah indikator yang sensitif terhadap kerusakan sel hati.
Keduanya ada pada sel hati dan adanya proses penyakit akut yang merusak struktur sel hati akan mengakibatkan pelepasan enzim tersebut ke dalam darah.
Kenaikan nilai AST dan ALT tidak terlalu besar atau normal dapat dijumpai pada penyakit kronis (obstructive jaundice atau sirosis)
4. Serum Alkaline
Phosphatase (ALP)
Normalnya, ALP diekresi ke dalam empedu dan diekresikan bersama empedu ke dalam usus.
Obstruksi saluran empedu akan menstimulasi produksi ALP dalam sel hati.
Jika ALP meningkat bersamaan dengan meningkatnya bilirubin merupakan indikasi kolestasis.
ALP saja yang meningkat dapat menjadi indikasi infiltrasi hati (metastases atau sirosis).
ALP tidak spesifik untuk hati, konsentrasi ALP juga meningkat pada penyakit-penyakit tulang (osteomalacia, karsinoma) trisemester ketiga kehamilan.
Nilai Normal Laboratorium
PENYAKIT GANGGUAN FUNGSI HATI
Penyakit ini mengurangi metabolisme obat
di hati dan sintesis protein plasma sehingga meningkatkan kadar obat, terutama kadar bebasnya, dalam darah dan jaringan. Hal ini mengakibatkan terjadinya respons yang berlebihan atau efek toksik. Tetapi perubahan respons ini baru terjadi pada penyakit hati yang parah, dan tidak terlihat pada penyakit hati yang ringan karena hati mempunyai kapasitas cadangan yang besar.
Pada penyakit hati yang parah juga
terdapat peningkatan sensitivitas reseptor
di otak terhadap obat-obat yang mendepresi SSP (sedatif-hipnotik, analgesik narkotik), diuretik yang menimbulkan hipokalemi, dan obat yang menyebabkan konstipasi, sehingga pemberian obat-obat ini dapat mencetuskan ensefalopati hepatik. Berkurangnya sintesis faktor-faktor pembekuan darah pada penyakit hati meningkatkan respons pasien terhadap antikoagulan oral.

Penyakit gangguan fungsi hati dapat dibagi menjadi 2:
Penyakit Hati Akut
Penyakit Hati Kronis

Tambahan:
Obat-obat yang Menginduksi Kerusakan Hati
Penyakit Hati Akut

Penyakit hati akut dapat berupa penyakit ringan dan dapat sembuh sendiri (self-limiting) atau dapat berkembang menjadi sakit hati kronis.

Contoh: Hepatitis A.
Penyakit Hati Kronis

Penyakit hati kronis didefinisikan sebagai radang hati yang terus-menerus tanpa adanya perbaikan selama lebih dari 6 bulan.

Kondisi ini dapat terjadi setelah serangan virus hepatitis akut dan mungkin terjadi secara sekunder dari penyakit autoimun (hepatitis aktif kronis autoimun) ataupun diakibatkan alkohol atau obat (oksifenisatin, metildopa, isoniazid).
Penyakit hati kronis menyebabkan perubahan struktur didalam hati yang akan menyebabkan gagal hati kronis dan kematian.

Contoh: Hepatitis B, Sirosis, Kanker Hati.
Penyakit
Gangguan
Fungsi Hati
Sirosis Hati
Kanker Hati
Perlemakan Hati
Kolestasis
Obat-obat yang
Menginduksi Kerusakan Hati

Kerusakan hati akibat obat dapat dibagi menjadi
hepatoksisitas intrinsik
dan
hepatoksisitas idiosinkratik.
Kedua tipe ini dapat menyebabkan pola kerusakan hati yang hampir sama dan beberapa obat dapat menyebabkan lebih dari satu jenis kerusakan.
Hepatotoksitas Instrinsik (dapat diprediksi)
Hepatoksisitas instrinsik dapat diprediksi, tergantung dosis dan melibatkan mayoritas individu yang menggunakan obat dalam jumlah tertentu.
Rentang waktu antara mulainya pengobatan dan timbulnya kerusakan hati sangat bervariasi (beberapa jam sampai beberapa minggu).
Hepatotoksisitas Idiosinkratik ( tidak dapat diprediksi)
Hepatotoksisitas idionsinkratik dapat terkait dengan hipersensitivitas terhadap obat ataupun kelainan metabolisme.
Respon ini tidak dapat diprediksi dan tidak tergantung pada dosis obat yang diberikan.
FARMAKOKINETIK PADA
GANGGUAN FUNGSI HATI
Absorpsi obat
Pada gangguan fungsi hati,absorpsi obat yang larut lemak dapat menurun.
Distribusi obat
Sejumlah besar obat terikat protein yan tersirkulasi, biasanya albumin tetapi dapat juga dengan globulin, lipoprotein, asam glikoprotein.
Hanya molekul yang tidak terikatlah yang tetap bebas dan aktif secara farmakologi, sedangkan molekul terikat yang tersikulasi tidak aktif secara farmakologi.
Penyakit hati kronis dapat menyebabkan hipoalbuminemia dan peningkatan senyawa endogen (bilirubin) dapat berkompetisi pada tempat ikatan di protein.
Penggunaan obat yang secara normal sangat besar keterikatannya dengan protein karena peningkatan konsentrasi diazepam, tolbutamid, fenitoin dan warfarin dalam keadaan bebas akibatnya adalah peningkatan toksisitas.
Metabolisme obat terutama terjadi di hati oleh sistem enzim sitokrom P450 yang berlokasi di retikulum endoplasmik halus sel hati (hepatosit).

Metabolisme terjadi di dalam dua fase :
Fase 1 - melibatkan perubahan kimia pada struktur dasar obat, contohnya dengan oksidasi, reduksi dan hidrolisis.
Fase 2 – melibatkan konjugasi, contohnya dengan sulfatasi (sulphation), glukuronidasi, metilasi, atau asetilase. Produk akhir konjugasi adalah senyawa yang lebih polar yang dapat diekresikan dalam empedu dan urin.
Obat-obat yang metabolisme utamanya di hati
Metabolisme Obat
Metabolisme lintas pertama (First pass / pre-systemic metabolism)

Metabolisme lintas pertama oleh hati menggambarkan bahwa obat dapat dimetabolisme sesudah absorpsi tetapi sebelum mencapai sirkulasi sistemik.
Metabolisme lintas pertama oleh hati dapat terjadi setelah pemberian secara oral.
Pada sirosis hati yang parah, gangguan fungsi sel hati, eliminasi lintas pertama akan menurun dan ketersediaan sistemik akan meningkat.

Eliminasi yang terganggu biasanya sering nampak pada pasien disfungsi hati. Adapun tanda-tandanya adalah:
↓ Albumin (↑ atau ↓ pada penyakit liver akut)
↑ prothrombin time
↑↑ liver fungction tests (LFTs)
Ekskresi obat

Beberapa obat, seperti rifampisin dan asam fusidat, diekresikan lewat empedu tanpa perubahan dan dapat terakumulasi pada pasien dengan intrahepatic atau extraheptic obstructive jaundice sehingga diperlukan penyesuaian dosis.
FARMAKODINAMIK PADA
GANGGUAN FUNGSI HATI
Pada penyakit hati yang parah, banyak obat yang dapat memperburuk gangguan fungsi otak juga dapat menimbulkan ensefalopati hepatik.
Obat-obat tersebut termasuk obat sedatif, analgesik opioid, diuretika yang menyebabkan hipokalemia dan obat-obatan yang menyebabkan konstipasi.
Narkotika, seperti morfin dan peditin, benzodiazepin terhadap sirosis.
Penurunan sintesis faktor pembekuan darah oleh hati, diindikasikan dengan prothombin time yang lebih panjang.
Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Retensi natrium dapat diakibatkan dengan lebih cepat oleh obat AINS atau kortikosteroid.
PRINSIP PENGGUNAAN OBAT
PADA GANGGUAN FUNGSI HATI
Prinsip umum penggunaan obat pada penyakit hati yang berat:
Sedapat mungkin dipilih obat yang eliminasinya terutama melalui ekskresi ginjal.
Hindarkan penggunaan: obat-obat yang mendepresi SSP (terutama morfin), diuretik tiazid dan diuretik kuat, obat-obat yang menyebabkan konstipasi, antikoagulan oral, kontrasepsi oral, dan obat-obat hepatotoksik. Sedatif yang paling aman pada penyakit hati adalah oksazepam dan lorazepam.
Gunakan dosis yang lebih rendah dari normal, terutama untuk obat-obat yang eliminasi utamanya melalui metabolisme hati. Mulailah dengan dosis kecil, kemudian dosis disesuaikan berdasarkan respon klinik pasien, dan bila perlu dengan pengukuran kadar obat dalam plasma, serta uji fungsi hati pada pasien dengan fungsi hati yang berfluktuasi.
OBAT-OBAT YANG HARUS DIHINDARI PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN FUNGSI HATI
1. Sedatif
Terdapat kenaikan sensitivitas terhadap obat-obatan dengan efek sedatif dan/ atau hipnotik.
Obat-obat seperti ini dapat mengganggu penilaian status pasien dan menimbulkan koma.

2. Obat-obat yang menginduksi gangguan elektrolit
Diuretika dan obat-obat yang mengakibatkan gangguan elektrolit (Hipokalemia dan hipovolemik) dapat ikut berperan dalam mengakibatkan ensefalopati hepatik (diuretika).

3. Obat-obat yang terkait dengan perdarahan atau perubahan fungsi platelet
Gangguan hati menyebabkan penurunan atau gangguan produksi faktor pembekuan darah, maka risisko perdarahan pada pasien akan meningkat.
Aspirin dan obat AINS harus dihindari, menyebabkan perdarahan gastrointestinal, memiliki efek antiplatelet, toksik terhadap ginjal, terutama pada pasien dengan retensi cairan (obat AINS, warfarin, aspirin)
4. Obat-obat yang mempengaruhi enzim hati
Obat-obat yang diketahui berpengaruh terhadap enzim hati sebaliknya dihindarkan dari pasien dengan fungsi hati yang terganggu.
Rifampisin dapat meningkatkan hepatotoksitas isoniazid, berdasarkan kenyataan bahwa rifampisin meningkat produksi metabolit hepatotoksik isoniazid.

Penginduksi enzim
Tergantung dosis dan waktu paruh obat, induksi biasanya dalam jangka waktu beberapa hari atau seminggu dan bertahan selama jangka waktu yang sama setelah penghentian senyawa penginduksi enzim (karbamazepin, fenitoin, dan rifampisin).
PERAN APOTEKER
DALAM TERAPI
GANGGUAN FUNGSI HATI
1. Memberikan perubahan pola hidup yang harus dijalani (misalnya: diet rendah lemak dan garam, tidak minum minuman beralkohol, istirahat yang cukup).
2. Menjelaskan penggunaan, dosis, dan waktu penggunaan obat.
3. Melakukan konseling kepada pasien untuk melihat perkembangan terapinya dan memonitor kemungkinan terjadinya efek samping obat.
4. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan, mencegah bertambah parah atau mencegah kambuhnya penyakit.
5. Melakukan upaya pencegahan penyakit hati dengan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit-penyakit hati (gejala awal, sumber penyakit, cara pencegahan dan pertolongan pertama yang harus dilakukan).
CONTOH KASUS
Wanita usia 60 tahun, berat badan 65 kg. Memiliki riwayat asma kronis dan mendapatkan terapi pengobatan dengan teofilin tablet 400 mg/ 12 jam.

Hasil laboratorium
- total bilirubin 3,2 mg/dl
- serum albumin 2,7 g/dl
- protrombine time 6,5
- ascites sedang
- hepatic encephalopathy sedang
Dari data hasil lab, dapat kita hitung child-pugh scores, yaitu :
• Bilirubin total : 3
• Serum albumin : 3
• Protrombin time : 3
• Ascites : 3
• Hepatic encephalophaty : 2

Total score : 14
Dari data ini dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami penurunan fungsi hati yang signifikan, sehingga dosis awal perlu diturunkan 50 % dari dosis awal pada pasien normal atau interval diperpanjang 2 pasien normal atau interval diperpanjang 2 kali lipat.
Pemberian obat pada pasien gangguan hati
dapat dengan dua metode :
Dosis diturunkan dan interval pemberian tetap
Dosis tetap dan interval pemberian diperpanjang, sehingga solusi yang dapat diberikan : Dosis teofilin 200 mg , 2 x sehari, atau dosis teofilin 400 mg, 1x sehari
"Tiada kesuksesan
tanpa
kerja keras"
Terimakasih
Pendahuluan
Full transcript