Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Dari Konflik menuju Konsensus Suatu Pembelajaran

No description
by

fatin rahmandari

on 8 September 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Dari Konflik menuju Konsensus Suatu Pembelajaran


Pengertian Integrasi
Integrasi nasional adalah menggabungkan seluruh bagian menjadi sebuah keseluruhan dan tiap tiap bagian diberi tempat sehingga membentuk kesatuan yang harmonis dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI yang bersemboyan "Bhinneka Tunggal Ika"
Pentingnya Integrasi
munculnya rasa keberamaan ini dilatarbelakangi oleh adanya kesamaan nasib, kebutuhan, kondisi dan cita cita dari beberapa manusia. perasaan yang sama menjadikan mereka tidak mudah untuk diadu domba dan terpecah belah, tetapi memunculkan semangat persatuan dan kesatuan serta semangat untuk berbuat demi kepentingan bersama
oleh karna itu membangun integrasi nasional itu sangat penting pada kehidupan bernegara dan juga mewujudkan cita cita, dan tujuan negara bahkan memelihara rasa kebersamaan

Faktor Pendorong Integrasi
• 1. Faktor sejarah yang menimbulkan rasa senasib dan seperjuangan.
• 2. Keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
• 3. Rasa cinta tanah air di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana dibuktikan perjuangan merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan.
• 4. Rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, sebagaimana dibuktikan oleh banyak pahlawan bangsa yang gugur di medan perjuangan.
• 5. Kesepakatan atau konsensus nasional dalam perwujudan Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila dan UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, bahasa kesatuan bahasa Indonesia.


Faktor Penghambat Integrasi
1. Masyarakat Indonesia yang heterogen (beraneka ragam) dalam faktor-faktor kesukubangsaan dengan masing-masing kebudayaan daerahnya, bahasa daerah, agama yang dianut, ras, dan sebagainya.
2. Wilayah negara yang begitu luas, terdiri atas ribuan kepulauan yang dikelilingi oleh lautan luas.
3. Besarnya kemungkinan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang merongrong keutuhan, kesatuan dan persatuan bangsa, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
4. Masih besarnya ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan menimbulkan berbagai rasa tidak puas dan keputusasaan di masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan), gerakan separatisme dan kedaerahan, demonstrasi dan unjuk rasa.
5. Adanya paham “etnosentrisme” di antara beberapa suku bangsa yang menonjolkan kelebihan-kelebihan budayanya dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain.

2. TELADAN PARA TOKOH
Dari Konflik menuju Konsensus Suatu Pembelajaran
1. Kesadaran Terhadap Pentingnya Integrasi Bangsa
Pahlawan Nasional Dari Papua
Frans Kaisepo
Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, 10 Oktober 1921. Ketika umurnya 25 tahun, Frans menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Selain itu, pada usianya yang ke-25 tersebut, Frans menjadi anggota delegasi Papua (Nederlands Nieuw Guinea) yang kala itu membahas tentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), dimana pada saat itu Belanda memasukkan Papua dalam NIT.
Setelah melewati beberapa konfrontasi, pada 4 Agustus 1969 dilaksanakanlah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang pada saat itu Frans masih menjadi Gubernur Papua. Hasil dari dari Pepera tersebut adalah suara bulat dari masyarakat Papua adalah tetap bergabung dengan Indonesia.

Silas Papare
Silas Papare (lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918 – meninggal di Serui, Papua, 7 Maret 1973 pada umur 54 tahun) adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.
Ia sangat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua sehingga ia sering berurusan dengan aparat keamanan Belanda dalam memerangi kolonialisme Belanda dan pada akhirnya ia dipenjarakan di Jayapura karena memengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak.
Semasa menjalani masa tahanan di Serui, Silas berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda ke tempat tersebut. Perkenalannya tersebut semakin menambah keyakinan ia bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik Indonesia. Akhirnya, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Akibatnya, ia kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun, ia kemudian melarikan diri menuju Yogyakarta.
Pada bulan Oktober 1949, ia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI.


Marthen Indey
Marthen Indey dilahirkan di Doromena, Jayapura pada tanggal 16 Maret 1912..
Pada tahun 1946, Marthen Indey bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Saat menjabat sebagai ketua, Marthen dan beberapa kepala suku di Papua menyampaikan protes terhadap Belanda yang berencana memisahkan wilayah Irian Barat dari wilayah kesatuan Indonesia. Akibatnya, Marthen di penjara selama tiga tahun di Digul.
Pada tahun 1962, Marthen ikut bergerilya membantu anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada Indonesia. Marthen lalu dikirim ke New York untuk ikut melakukan perundingan tentang pengembalian Irian Barat yang selama ini berada di bawah pemerintahan sementara PBB ke dalam wilayah kesatuan Indonesia.
Melalui perundingan tersebut, Irian Barat resmi bergabung dengan wilayah kesatuan Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya. Marthen lantas menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Tak hanya itu, ia juga diangkat sebagal kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat mayor tituler selama dua puluh tahun. Beliau meninggal pada usia 74 tahun.

Para Raja yang Berkorban Untuk Bangsa
Sultan Syarif Kasim II
Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893 – meninggal di Rumbai, Pekanbaru, Riau, 23 April 1968 pada umur 74 tahun) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Ia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik (setara dengan 151 juta gulden atau € 69 juta Euro pada tahun 2011)[2] . Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak republik. Namanya kini diabadikan untuk Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru.
3. MEWUJUDKAN INTEGRASI MELALUI SENI & SASTRA
Ismail Marzuki
4. PEREMPUAN PEJUANG
Opu Daeng Risaju
5. TOKOH YANG BERJUANG MEMPRTAHANKAN NKRI
Hasan Basry
Perkembangan politik di tingkat pemerintah pusat di Jawa menyebabkan posisi Hasan Basry dan pasukannya menjadi sulit. Sesuai dengan Perjanjian Linggarjati (25 Maret 1947), Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto RI atas Jawa, Madura dan Sumatera. Berarti Kalimantan merupakan wilayah yang ada di bawah kekuasaan Belanda. Akan tetapi, Hasan Basry tidak terpengaruh oleh perjanjian tersebut. Ia dan pasukannya tetap melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Sikap yang sama diperlihatkan pula terhadap Perjanjian Renville (17 Januari 1948). Ia menolak untuk memindahkan pasukannya ke daerah yang masih dikuasai RI, yakni ke Jawa.
Perjuangan Hassan Basry di Kalimantan Selatan selalu merepotkan pertahanan Belanda pada masa itu dengan puncaknya berhasil memproklamasikan kedudukan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia yang dikenal dengan Proklamasi 17 Mei 1949 atau Proklamasi Kalimantan.

Pajonga Daeng Ngalle
Pajonga Daeng Ngalle lahir di Takalar, Sulawesi Selatan, 1901; meninggal dunia di Takalar, Sulawesi Selatan, 23 Februari 1958) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia dan juga seorang Karaeng (kepala pemerintahan distrik) Polongbangkeng pada tahun 1934.
Pada bulan Oktober 1945 bersama dengan seluruh bangsawan Sulawesi Selatan, ia mengikuti konferensi raja-raja Sulawesi Selatan di Yogyakarta. Konferensi memutuskan satu tekad untuk mendukung pemerintahan RI di Sulawesi sebagai satu-satunya pemerintah yang sah di bawah Gubernur Sam Ratulangi. Pajonga Ngalle mengumuknan bahwa daerahnya merupakan bagian dari wilayah Indonesia.

Aga Pratama R (02)

Fatin Rahmandari (11)

XIIMS 2
KESIMPULAN
Selain dari peristiwa sejarah, kita dapat juga mengambil hikmah dari teladan para tokoh sejarah. diantara mereka adalah para pahlawan nasional yang berjuang untuk persatuan bangsa dengan tidak hanya menggunakan senjata, tetapi juga melalui karya berupa seni, tulisan, musik, sastra atau ilmu pengetahuan

Abdul Haris Nasution
Ahmad Yani
Slamet Riyadi
DI Panjaitan
Katamso
Suprapto
Siswondo Parman
Sutoyo Siswomiharjo
Yos Sudarso
TERIMA
KASIH
Abdul Haris Nasution
Lahir pada tanggal 3 Desember 1918 di Huta Pungut, Kota Nopen, Tapanuli Selatan. Nasution bergabung dengan TKR. Sejak itulah banyak posisi yang diemban Nasution seperti Kepala Staf Komandemen TKR Jawa Barat, Komando Divisi III, Panglima Divisi Siliwangi, Wakil Panglima Besar Angkatan Perang, Panglima Tentara dan Teritorial Djawa. Pada waktu memasuki usia pensiun tahun 1972, pangkat belau naik menjadi Jenderal Besar TNI. Nasution meninggal pada tanggal 5 September 2000. Nasution dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 073/TK/2000.

Ahmad Yani
Ahmad Yani lahir pada tanggal 19 Juni 1922 di Purworejo. Pada waktu terjadi pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948, Ahmad Yani ikut memadamkan Yani berhasil menahan laju tentara Belanda di Pingit. Pada masa Agresi Militer Belanda II, Ahmad Yani diangkat menjadi Komandan Wehrkreise II untuk daerah Kedu. Pada waktu terjadi pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah, Ahmad Yani membentuk pasukan khusus yang bernama Banteng Raiders dalam upaya memadamkan pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah. Beliau ditarik menjadi Staff Angkatan Darat dan di sekolahkan pada Command and General Staff College di Amerika. Ahmad Yani bersama petinggi Angkata Darat yang lainnya menjadi korban peristiwa G-30S/PKI. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pada tanggal 5 Oktober 1965 melalui SK Presiden.

Slamet Riyadi
Slamet Riyadi lahir pada tanggal 26 Juli 1927 di Solo, Jawa Tengah. Pada waktu berlangsung agresi militer Belanda, Slamet Riyadi melakukan perlawanan dengan cara gerilya. Setelah perang kemerdekaan, Slamet Riyadi terlibat dalam penumpasan berbagai pemberontakan seperti PKI di Madiun, APRA di Jawa Barat, pemberontakan Andi Aziz di Makassar, dan pemberontakan RMS di Maluku.

Donald Izacus Panjaitan
D.I. Panjaitan lahir pada tanggal 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli Bersama teman-temannya mendirikan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang kemudian berubah menjadi BKR pada tahun 1945. BKR berubah menjadi TKR dan diubah lagi menjadi TNI. Bersama dengan perwira yang lain menolak pembentukan angkatan kelima yang diusulkan PKI.

Katamso
Katamso Darmokusumo lahir pada tanggal 5 Februari 1923 di Sragen Jawa Tengah. Setelah pengakuan kedaulatan di Indonesia, di Jawa Tengah muncul pemberontakan Batalion 426 dan Katamso mendapat tugas menumpas pemberontakan dan berhasil. Setelah keamanan di Sumatra pulih, Katamso ditarik ke Jakarta dan bertugas di Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) merangkap sebagai Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Bandung. Katamso termasuk salah satu korban dalam peristiwa G-30S/PKI. Jenasahnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

Suprapto
Suprapto lahir pada tahun 1920 di Purwokerto. Mayor Jenderal Suprapto menjadi salah satu korban dalam peristiwa G-30S/PKI. Atas jasanya, pemerintah menaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal Anumerta dan belau dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden No. 111/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965

Siswando Parman
S. Parman lahir pada tanggal 4 agustus 1918 di Wonosobo Jawa tengah. Pada tanggal 19 april 1946 ia diangkat komandan panitia penyingkiran orang jepang dan asing. S.Parman juga ikut bergerilya unruk melawan belanda pada agresi militer belanda I dan II. S.Parman juga menolak rencana PKI untuk membentuk angkatan ke V.

Sutoyo Siswomiharjo.
Sutoyo siswomiharjo lahir pada tanggal 23 agustus 1922 di kebumen. Beliau juga terjun ke militer dengan ikut bergabung dengan TKR bagian kepolisian. Jabatan terakhir beliau yaitu inspektur kehakiman/Oditur jemdral angkaan darat dengan pangkat brigadir. Beliau juga salah satu tokoh yang menolak rencana PKI untuk membentuk angkatan kelima.

Yos Sudarso
Yos Sudarso lahir pada tanggal 24 november 1925 di Salatiga Jawa tengah. Yos Sudarso pada masa kemerdekaan bergabung dengan BKR-laut atau yang sekarang lebih dikenal dengan angkatan laut. Ia juga ikut aktif di berbagai operasi militer dalam rangka memadamkan pemberontakan di berbagai daerah. Pada tanggal 15 januari 1962 Yos Sundarso mengadakan patroli di daerah perbatasan. Ia membawa tiga jenis kapan, KRI macan tutul, KRI Harimau, KRI macan Kumbang. Keberadaan mereka di ketahui oleh belanda. Yos Sunarso memerintahkan Awak nya untuk menyerang kapal belanda. Dua kapan KRI bisa meloloskan diri tapi KRI macan tutul tenggelam. Semua awak yang ada di kapal meninggal termasuk Yos Sudarso.


Adalah pejuang wanita dari Sulawesi Selatan, dia juga mempunyai nama kecil yaitu famadjjah. Opu Daeng ini adalah wanita yang aktif dalam Partai Syarekat IslamIndonesia (PSII). Pad saat masa pendudukan jepan aktivitas opu daeng sangat terbatas. Kemudian Opu daeng kembali aktif bersamaan dengan kedatangan NICA. Disitu terjadi peperangan antara tentara NICA dengan pemuda. Peran Opu Daeng sangat lah besar,membangkitkan dan memobilitasi para pemuda yang membuat NICA kewelahan. Pada saat itu Opu Daeng tertangkap dan dimasukkan ke penjara. Pada Pada tahun 1949, setelah kedaulatan RI mendapat pengakuan, Opu Daeng Risaju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya Haji Abdul Kadir Daud. Opu Daeng wafat pada usia 84 tahun tepatnya pada tanggal 10 febuari.

OPU DAENG RISADJU
Ismail Marzuki ini lahir di jakarta dan dia dilahirkan di keluarga seniman. Pada saat umur 17 tahun dia berhasil menciptakan lagu pertamanya “o sarinah”. Pada saat RRI dikuasi oleh Belanda Ismail Marzuki tidak mau bekerja lagi, baru setelah indonesia dikuasi RRI lagi baru ia mau bekerja lagi. Banyak lagu-lagu Ismail Marzuki yang sangat mengguah semangat dan bersifat cita tanah air contoh nya, Pulau Kelapa (1944), Halo-Halo Bandung (1946) yang diciptakan ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, Selendang Sutera (1946) yang diciptakan pada saat revolusi kemerdekaan untuk membangkitkan semangat juang pada waktu itu dan Sepasang Mata Bola (1946) yang menggambarkan harapan rakyat untuk merdeka. Walau pun Ismail Marzuki kurang sehat karena penyakit TBC tapi Ismail Marzuki tetap semangat membela tanah air.
Full transcript