Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Dari Konflik Menuju Konsensus Suatu Pembelajaran

No description
by

Anindita Dharmesti

on 11 August 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Dari Konflik Menuju Konsensus Suatu Pembelajaran

Dari Konflik Menuju Konsensus Suatu Pembelajaran
design by Dóri Sirály for Prezi
“Dengan persatuan bangsa, satu bangsa tidak akan dapat dibagi-bagi. Di pagkuan bangsa yang satu itu boleh terdapat berbagai paham politik, tetapi kadalau dating marabahaya… di sanalah tempat kita menunjukkan persatuan hati. Di sanalah kita harus berdiri sebaris. Kita menyusun ‘persatuan’ dan menolak ‘persatean’”
(Moh. Hatta, 1932 Persatuan Bangsa).

1. Kesadaran Terhadap Pentingnya Integrasi Bangsa
Kesimpulan
A. Pahlawan dari Papua


• Papua sejatinya merupakan wilayah dari NKRI, tetapi dalam kekuasaan Belanda.
• Tahun 1962, akhirnya Indonesia memilih jalur militer untuk merebut Papua.
• Untuk menjadikan Papua sebagai wilayah NKRI, muncul tokoh-tokoh seperti Frans Kaisiepo, Silas Papare dan Marthen Indey )

Pada tahun 2014 Kementrian Sosial menyatakan bahwa 184 daerah di Indonesia memiliki potensi rawan konflik social. Berikut ini 6 daerah palingrawan konflik adalah Papua, Jawa Barat, Jakarta, Sumut, Sulteng, Jateng. Berikut dampak negatif konflik :
Mengancam persatuan bangsa
Menimbulkan banyak korban dan kerugian
Memberikan dampak psikis pada masyarakat.
2. Teladan Para Tokoh Persatuan
• Jumlah Pahlawan Nasional hingga tahun 2014 adalah 159 orang.
• Untuk menjadi Pahlawan Nasional, paling tidak harus melakukan perjuangan militer ataupun diplomasi untuk mewujudkan persatuan bangsa.
• Salah satu pahlawan yang tidak boleh dilupakan jasanya adalah Pahlawan dari Papua yang juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
• Keteladanan para tokoh juga dapat dilihat dari pengorbanan jabatan dan materi. Seperti Sultan Hamengkubowono IX dan Sultan Syarif Kasim II ataupun sebagai pencipta lagu-lagu nasional seperti Ismail Marzuki.

1) Frans Kaisiepo (1921 – 1979)
• mempopulerkan lagu indonesia raya di papua.
• Berperan dalam pendirian Partai Indonesia Merdeka
• sebagai wakil dari Papua yang terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat pada tahun 1946.
• mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti beruap.
• Ikut berperan dalam mernacang pemberontakan rakyta Biak melawan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1948.
• Berupaya agar Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dapat dimenangkan.

Lahir di Wardo, Papua pada tanggal 10 Oktober 1921. Pada 10 April 1979 beliau meninggal dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak.
2) Silas Papare (1918-1978)
Lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918 kemudian meninggal di Serui, Papua, 7 Maret 1973 pada umur 54 tahun. Beliau adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.
• Membentuk Komite Indonesia Merdeka pada september 1945.
• Bersama Martin Indey, dianggap mempengaruhi Batalyon Papua
untuk memberontak terhadap Belanda. Akhirnya ditangkap dan dipenjarakan di Holandia, Jayapura.
• Mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian.
Dan akhirnya kembali ditangkap dan dipenjarakan di Biak.
• Mewakili Irian Barat dalam Perundingan New York antara Indonesia-Belanda pada tahun 1962.


3) Marthen Indey(1912-1986)
Lahir di Doromena, 14 Maret 1912 kemudian meninggal di Doromena, 17 Juli 1986 pada umur 74 tahun. Beliau adalah polisi yang bertugas mengawasi para tahanan politik di Boyen Digul. Di sini, ia berkenalan dengan para tahanan, termasuk Sugoro Atmoprasojo. Para tahanan tersebut menceritakan perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia yang juga mencakup wilayah Papua dari tangan Belanda.
• Sejak tahun 1946, menjadi Ketua Partai Indonesia Merdeka(PIM).
• Pada tahun 1962, menyusun kekuatan gerilya sambil mengganggu tentara Indonesia yang akan diterjunkan ke Papua dalma operasi Trikora.
• Berangkat ke New York setelah perang melawan tentara Indonesia usai untuk memperjuangkan masuknya Papua ke wilayah Indonesia.

B. Para Raja yang Berkorban Untuk Bangsa
Saat Indonesia merdeka, di Indonesia masih ada kerajaan-kerajaan yang berdaulat. Hebatnya, para penguasa kerajaan-kerajaan tersebut memilih untuk meleburkan kerajaan mereka ke dalam negara Republik Indonesia.
1) Sultan Hamengkubuwono IX (1912-1988)
Sejak awal kemerdekaan, Sultan memberikan banyak fasilitas bagi Pemerintah RI yang beru terbentuk untuk menjalankan roda pemerintahan. Markas TKR dan ibukota RI misalnya, pernah berada di Yogyakarta atas saran Sultan. Bantuan logistik dan perlindungan bagi kesatuan-kesatuan TNI tatkala perang kemerdekaan berlangsung, juga ia berikan.

Sultan Hamengkubuwono IX juga pernah menolak tawaran Belanda yang akan menjadikannya raja seluruh Jawa setelah Agresi Militer Belanda II berlangsung. Belanda rupanya ingin memisahkan Sultan yang memiliki pengaruh besar itu dengan Republik. Bukan saja bujukan, Belanda bahkan juga sampai mengancam Sultan. Namun Sultan Hamengkubuwono IX malah menghadapi ancaman tersebut dengan berani.

Meskipun berstatus Sultan, Hamengkubuwono IX dikenal pula sebagai pribadi yang demokratis dan merakyat. Banyak kisah menarik yang terjadi dalam interaksi antara Sultan dan masyarakat Yogyakarta. Kisah yang diceritakan oleh Trimurti dan diolah dari buku “Tahta untuk Rakyat” berikut ini, menggambarkan hal tersebut. Trimurti adalah istri Sayuti Melik, pengetik naskah teks proklamasi.

1940 dinobatkan sebagai raja yogyakarta,dia menunjukan rasa nasionalisme dengan berpidato
“walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya,namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang jawa”
3 minggu setelah proklamasi : Sultan Hamengkubuwono menyatakan kerajaan yogyakarta adalah bagian dari negara Republik Indonesia
19 agustus : Sulthan Hamengkubuwono mengirim telegram ucapan selamat kekepada Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih
20 agustus :menyatakan dengan tegas berdiri di belakang Presiden dan Wakil Presiden terpilih
5 september 1945 memberi amanat yaitu
a. Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerjaan adalah daerah istimewa dari Republik Indonesia
b. Segala kekuasaan dalam negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengkubuwono IX
c. Hubungan antara Ngayogkarta Hadingrat dengan pemerintahan RI bersifat langsung dan Sulan Hamengkubuwono IX bertanggung jawab kepada Presiden RI
Beberapa peristiwa konflik pada saat ini dapat menjadi potensi disintegrasi bangsa. Maka ada baiknya kita belajar dari sejarah nasional kita. Bagaimanapun, salah satu guna sejarah adalah dapat memberi pelajaran bagi kehidupan.
Kita juga dapat mengambil hikmah dari teladan para tokoh sejarah.

2) Sultan Syarif Kasim II (1893-1968)
Sultan Syarif Kasim II dinobatkan menjadi raja Siak Indrapura pada usia 21 tahun. Ia selalu menganggap bahwa kerajaannya sejajar dengan Belanda dan kerap melakukan kebijakan yang bertentangan dengan keinginan Belanda.
Menyatakan kesetiaan kepada pemerintah RI
Menyerahkan harta sebanyak 13 juta gulden
Membentuk Komite Nasional Indonesia, Tentara Keamanan Rakyat dan Barisan Pemuda Republik di Siak.
Mengajak raja-raja di Sumatera Timur agar turut memihak RI
Mensuplai bahan makanan untuk para laskar
Menyerahkan kembali 30% harta kekayaan kepada Presiden Soekarno
Full transcript