Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Muhammadiyah Sebagai Gerakan Sosial

No description
by

Maria Monica

on 25 November 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Muhammadiyah Sebagai Gerakan Sosial

Muhammadiyah Sebagai Gerakan Sosial
Tujuan
Untuk mewujudkan kehidupan masyarakat (islam) dalam rangka menegakkan ajaran-ajaran islam. Dalam konteks sosial, muhammadiyah telah dan akan terus memberikan kontribusi dalam segala bidang, politik, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan agama kepada bangsa dan hal ini telah dilakukan oleh Muhammadiyah sejak muhammadiyah didirikan sampai saat ini.


Misi Muhammadiyah dalam bidang sosial diarahkan kepada terwujudnya manusia indonesia yang berkualitas dan mampu bersaing didunia global. Dalam mewujudkan gerakan sosial tersebut, muhammadiyah mendorong etos kerja dan amanah bagi semua pengemban amal usaha muhammadiyah.

Konteks Sejarah Bangsa Indonesia
Peranan perdagangan dan industri dalam menggerakkan mobilitas sosial, terutama sangat menonjol di sektor persteksilan dan batik dibeberapa kota di jawa. Di samping perdagangan dan industri, peranan pendidikan dalam mobilitas sosial juga tidak dapat dikesampingkan.
Para perdagang, cendikiawan dan pegawai pemerintah merupakan golongan menengah kota, dapat ditambahkan pemilik tanah didaerah pendalaman yang merupakan golongan menengah perdesaan. Kedua jenis golongan menengah ini berbeda satu dengan yang lainnya karena yang satu sangat dipengaruhi pemikiran barat tentang masyarakat bebas, sedangkan golongan kedua hidup dalam masyarakat yang relatif tertutup.

Kaum Santri Penggerak Pembaruan
Kebangkitan agama sebagai gerakan juga telah mendorong gerakan menentang kekuasaan kolonial, bersamaan dengan berbagai gerakan protes didaerah pedesaan jawa. Berlainan dengan kebangkitan di abad XIX ini yang bersifat kedesaan, kolot dan konservatif, kebangkitan kaum santri di abad XX bersifat kekotaan, reformis, dan dinamis.

1. KH. Ahmad Dahlan Seorang Santri Golongan menengah
Ahmad Dahlan, Pendiri gerakan Muhammadiyah adalah contoh terkemuka dari seorang santri merangkap pedagang dari kauman. Ia adalah seorang khatib di Masjid Agung Kraton Yogyakarta, namun ia juga terkenal sebagai pedagang batik yang berhasil memiliki jaringan dagang dibanyak kota. Diantara abdi dalem santri, hanya mereka yang dianugrahi jabatan sebagai penghulu yang menganut etika priyayi.


Sejarah kaum santri golongan menengah, Castle mengemukakan bahwa setelah terjadi kemunduran SI, para santri pengusaha bergabung ke Muhammadiyah, sedangkan para santri petaninya masuk NU. Meskipun mayoritas anggota NU adalah petani, para pengurusnya kebanyakan golongan menengah, baik pedagang maupun petani kaya. Adalah sifat kedesaannya yang menjadikan NU berkebudayaan yang beraliran modern maupun NU yang beraliran tradisional, memiliki ciri yang sama, yakni bahwa keduannya didirikan dan disebarkan melalui hubungan pribadi dan berkeluarga.

2. Latar Belakang KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari
Para pemimpin Muhammadiyah berpusat disekitar kampung kauman Yogyakarta, sedangkan pemuka NU di Pesantren tebuireng di Jawa Timur. Situasi kepemimpinan kedua organisasi itu pada dasarnya tetap sama, meskipun disiratkan bahwa para pemimpin NU adalah tipe kharismatik-otoriter dari kebudayaan petani, sedangkan para pemuka Muhammadiyah adalah dari tipe rasional-demokratik dari kebudayaan borjuis. Sebenarnya, baik pendiri NU maupun Muhammadiyah sama-sama mendapatkan pendidikan dalam lingkungan tradisi pesantren, bahkan dikatakan bahwa Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari dari NU adalah kawan sekamar ketika belajar di pesantren Semarang.
Full transcript