Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Analisa Puisi-Puisi Chairil Anwar

Orang BerduaSia-SiaDoa
by

Astari Sarosa

on 6 September 2012

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Analisa Puisi-Puisi Chairil Anwar

Dibuat oleh Imez, Bernard, Keisya dan Astari Analisa Puisi Orang Berdua, Sia-sia dan Doa Karya Chairil Anwar Puisi Orang Berdua a. Diksi Struktur Fisik - Kata-kata yang digunakan lebih banyak yang memiliki makna konotasi “Kamar ini jadi sarang penghabisan”
“….rakit hitam”
“….mengikut juga bayangan itu?”
Permainan ejaan kata: “menjangkau” jadi “menjengkau” Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar meah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-
menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak - koyak sepi Puisi Sia-sia Parafrase Puisi Puisi Doa Puisi Doa menceritakan mengenai sang narator yang melakukan kesalahan yang besar. Ia juga menyadari bahwa dirinya sudah mulai menjauh dari tuhan.
Di bait pertama, dapat dilihat bahwa di alam bawah sadar (pada saat termangu), ia masih menyebut nama tuhan.
Namun, di bait selanjutnya sang narator mengakui bahwa susah untuknya menyebut nama tuhan itu karena ia sudah merasa jauh dariNya.
Pada bait ketiga, tertulis bahwa kesucian sang narator sudah diambil karena ia telah melakukan kesalahan yang besar. Dan ia tinggal memiliki kerdip lilin yang merepresentasikan bahwa masih ada harapan untuk membenarkan kesalahannya.
Bait keempat hanya tertulis kata tuhanku. Dilanjutkan dengan perkataan bahwa ia sudah tidak tahu dirinya sendiri seperti hilang bentuk.
Lalu, sang narator merasa bahwa ia seperti mengembara di negeri asing karena ajaran-ajaran dari tuhan tidak ia jalani.
Di bait terakhir, ia berkata bahwa ia membutuhkan bantuan tuhan untuk kembali melanjutkan hidupnya. a. Diksi Struktur Fisik -Chairil Anwar banyak menggunakan kata-kata yang memiliki makna konotasi di dalam puisi Doa.
Contoh:
Kerdip lilin di kelam sunyi:
Makna Konotasi: Sedikit harapan untuk membenarkan kesalahan-kesalahannya.
Aku hilang bentuk:
Makna Konotasi: Sang narator sudah mulai kehilangan jati diri seperti sudah tidak ada bentuk.
Aku mengembara di negeri asing:
Makna Konotasi: Negeri asing menyimbolkan kehidupannya yang sudah sangat berubah dan ia terasa seperti orang asing. b. Gaya Bahasa i. Hiperbola:
aku hilang bentuk/remuk
ii. Anafora:
Tuhanku
iii. personifikasi:
cayaMU papas suci
-papas: melucuti atau meninggalkan
<http://www.kbbi.web.id/> i. imaji visual:
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
ii. imaji auditif:
Aku masih menyebut namaMu
iii. imaji perasaan:
Aku hilang bentuk/remuk
dipintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling c. Imaji Bait satu- Rima sempurna
(A-A-A)
Bait dua- Rima sempurna
(B-B)
Bait tiga- Rima sempurna
(C-C)
Bait empat- Rima Sempurna
(D-D)
Bait lima dan enam- Rima bersilang
(E-D-E) d. Rima
Dominasi bunyi Kakafoni
Memperkuat suasana keterkanan, suasana kacau, gelap, tidak teratur, sepi dalam puisi e. Bunyi Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas.

Aku dan dia hanya menjengkau
rakit hitam

‘Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran pitam?

Matamu ungu membatu.

Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu? Visual: Rakit hitam, matamu ungu,
Gerak: menjengkau, terdampar, berdekapan b.Imaji Retoris:
“Kan terdamparkahatau terserahpada putaran pitam?”
Masih berdekapankah kami ataumengikut juga bayangan itu?
Fungsi:
Membuat kesan lebih dalam daripada pernyataan langsung.
Merangsang respon atau harapan dari pembaca.

Metafora:
“Kamar ini jadi sarang penghabisan”
Sarang: tempat kediaman atau tempat persembunyian (biasanya bagi segala sesuatu yg kurang baik)
Dalam konteks puisi, “sarang penghabisan” menjadi tempat terjadinya kericuhan masalah; tempat perkelahian c. Majas Simbolisme:
Rakit hitam: pertolongan dalam masa kegelapan/duka ini.
(Rakit: alat untuk penyelamatan jiwa di laut dl keadaan darurat
Hitam: kesedihan/duka)
Putaran pitam: kepusingan yang disebabkan oleh kekacauan masalah
Ironis: sarang biasanya tempat persembuyian dari segala sesuatu yang kurang baik namun disini menjadi tempat terjadinya segala sesuatu yang buruk.
Rima Bebas:AB CD EED F CF




Dominasi bunyi Kakafoni
Memperkuat suasana keterkanan, suasana kacau, gelap, tidak teratur, sepi dalam puisi d. Rima e. Bunyi Tema: Hubungan diambang kehancuran
Nada: sedih, bingung
Perasaan/Suasana: gelap, suram, kacau, sepi
Amanat: Penyair terdorong perasaannya terhadap kekacauan hubungannya bersama sang pasangan. Ia merenungkan kelanjutan hubungan ini: apakah menyerah atau tetap berjuang mempertahankan hubungan? Struktur Batin Tema: Agama

Nada: sedih, putus asa

Perasaan/Suasana: gelap, suram, kacau, sepi

Amanat: Chairil Anwar ingin menyampaikan amanat melalui puisi "Doa" untuk menunjukkan bahwa banyak orang yang suka melupakkan tuhan dan baru mengingatnya setelah melakukkan kesalahan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Struktur Batin Menggunakan makna konotasi
- "membawa karangan kembang"
(stanza 1, baris 2)
arti: membawa dirinya ("kau") ecara keseluruhan
- "mawar merah dan melati putih: darah dan suci"
(stanza 1, baris 3 & 4)
arti: pengorbanan dan kesucian seorang gadis Visual:
"serta pandang yang memastikan: Untukmu."

Gerak:
"Kau tebarkan depanku"

Perasaan:
"Ah! Hatiku yang tak mau memberi" b. Imaji Ironi: “mampus kau dikoyak – koyak sepi” (stanza 4 baris 2)

setelah kebingungan terhadap perasaan yang dialaminya, pada baris terakhir di sebutkan kata "mampus", baris tersebut berkesan menjadi sumpah dari lirik aku untuk "kau"
Personifikasi: "Hatiku yang tak mau memberi" (stanza 4 baris 1)

hati dianggap bisa memberi, padahal hati adalah salah satu organ tubuh dan hati tidak bisa memberi, yang bisa memberi adalah manusia C. Majas Bait pertama:
A, A, B, B, C, C -> rima kembar

Bait kedua:
A, B, C -> rima acak

Bait ketiga:
A, B -> rima acak

Bait Keempat:
A, A -> rima kembar d. Rima Kakofoni
puisi ini terkesan suram dan sedih karena kebingungan akan dirinya e. Bunyi “mawar merah dan melati putih / darah dan suci. / kau tebarkan depanku / serta pandangan yang memastikan: Untukmu.//”darah dan suci menyimbolkan tentang apa yang akan diberikan si gadis kepada “aku”, yaitu keperawanannya. Mawar merah yang menandakan darah, yang berarti pengorbanan “kau” untuk memberikan kesuciannya, dan melati putih yang berarti suci, yang berarti kesucian seorang gadis. “kau” menebarkan kesuciannya kepada subjek aku, dan menekankannya bahwa ini untuknya.

“Sudah itu kita sama termangu / saling bertanya: Apakah ini? / cinta? Keduanya tak mengerti // sehari itu kita bersama / tak hampir menghampiri//mereka berdua bingung, keduanya bingung akan perasaaanya satu sama lain.”kau” yang menawarkan keperawanannya, namun “aku” menolak untuk melakukan yang hal itu. Dan akhirnya mereka hanya berdua diam saja, tanpa ada kata yang terucap, tanpa ada komunikasi satu sama lain. Suasana pun menjadi canggung dan sunyi. Tema: kebingungan dan perasaan
Perasaan: bingung antar 2 subjek
nada: kebingungan Struktur Batin Diksi Merupakan lanjutan dari puisi "Orang Berdua"
Orang Berdua: "kamar ini jadi sarang penghabisan"
(stanza 1, baris 1)
Sia - sia: "Penghabisan kali itu kau datang"
(stanza 1, baris 1)
tentang sepasang kekasih yang sedang bingung akan perasaannya masing - masing f. Tipografi dan Enjabemen 7 bait, 3 baris di bait pertama, 2 baris di bait
kedua, 2 baris di bait ketiga, 1 baris di bait keempat, 2 baris di bait kelima, 2 baris di bait di bait keenam, 3 bait di bait ketujuh.
-Awal baris tidak selalu diawali dengan huruf kapital
-Akhir baris tidak selalu diakhiri dengan titik.
Full transcript