Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Farmakologi

Anestetik Umum dan Lokal Kelompok 5 Universitas Sriwijaya
by

Nike Mardiana Marbun

on 17 October 2012

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Farmakologi

Anestesi Lokal & Umum Nike Mardiana Marbun || Della Arsela || Redho Rizki Pratama || Tri Wahyuningsih || Via Anggraini || Wita Nurleny Penekan Sistem Saraf Pusat Sedatif-Hipnotik Analgesik Analgesik Narkotik Antikonvulsi Antipsikotik Antidepresan Obat SSP --> Menimbulkan depresi (penurunan aktivitas fungsional) dalam berbagai tingkat pada sistem saraf pusat. Anestetik Umum & Lokal Anestesi Umum adalah obat yang bekerja pada saraf pusat yang dapat memberikan efek analgesia ( hilangnya sensasi nyeri) dan hilangnya kesadaran. Mengapa obat anestesi dibuat ?

-Mempermudah orang melakukan tindakan operasi.
-Menghilangkan sensasi nyeri Prinsip Kerja Anestesi Umum

Anestesi umum memberikan efek analgesia, diikuti amnesia, hilangnya kesadaran, adanya hambatan sensorik, hilangnya refleks/respon hingga terjadinya relaksasi otot-otot rangka.
Anestesia terjadi karena adanya perubahan neurotransmisi di berbagai bagian SSP (otak dan medula spinalis). Tahap -Tahap Anestesi

1. Analgesia
2. Eksitasi / Delirium
3. Surgikal
4. Paralisis Medural Tahap - Tahap Anestesi Tahap-Tahap Anestesi 1. Tahap Analgesia
Tahap mulai dari pemberian anestetik hingga hilangnya kesadaran. Pasien tidak lagi merasakan nyeri (analgesia), tetepi masih tetap sadar dan dapat mengikuti perintah. Pada stadium ini dapat dilakukan tindakan pembedahan ringan seperti mencabut gigi dan biopsy kelenjar. 2. Tahap Eksitasi
Dimulai sejak hilangnya kesadaran sampai munculnya tanda dimulainya stadium pembedahan. Pada stadium ini pasien tampak mengalami delirium dan eksitasi dengan gerakan-gerakan di luar kehendak. Pernapasan tidak teratur, tonus otot rangka meninggi, pasiennya meronta-ronta, kadang sampai muntah. Ini terjadi karena hambatan pada pusat inhibisi. Pada stadium ini dapat terjadi kematian, maka stadium ini harus diusahakan cepat dilalui. 3. Tahap Surgikal
Stadium ini dimulai dengan timbulnya kembali pernapasan yang teratur dan berlangsung sampai pernapasan spontan hilang. Keempat tingkat dalam stadium pembedahan ini dibedakan dari perubahan pada gerakan bola mata, refleks bulu mata dan konjungtiva, konus otot, dan lebar pupil yang menggambarkan semakin dalamnya pembiusan. 4. Tahap Paralisis Medular
Stadium IV ini dimulai dengan melemahnya pernapasan perut dibanding stadium III tingkat 4, tekanan pembuluh darah kolaps, dan jantung berhenti berdenyut. Keadaan ini dapat segera disusul kematian, kelumpuhan napas di sini tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan, bila tidak didukung oleh alat bantu napas dan sirkulasi. Kriteria Anestesi Umum yang Baik
1.Bekerja cepat, induksi pemulihan baik
2.Cepat mencapai anestesi yang dalam
3.Batas keamanan lebar
4.Tidak bersifat toksis
Teknik Pemberian Obat Inhalasi

1.Sistem terbuka --> Cairan terbang (eter, kloroform, trikloretilen) diteteskan tetes demi tetes ke atas sehelai kain kasa di bawah suatu kap dari kawat yang menutupi mulut dan hidung pasien. Ekshalasinya langsung keluar, sehingga banyak zat inhalasi ini terbuang.

2.Sistem tertutup --> Suatu mesin khusus menyalurkan campuran gas dengan oksigen ke dalam suatu kap, dimana sejumlah CO2 dari ekshalasi dimasukkan kembali.

3.Insuflasi --> Gas atau uap ditiupkan ke dalam mulut atau tenggorok dengan perantara suatu mesin.

Anestetik Inhalasi
Anestetik inhalasi adalah anestetik yang berupa gas atau cairan menguap yang diberikan sebagai gas, yang dipakai untuk menimbulkan anestesi umum.
Kriteria Anestesia Inhalasi yang Baik

-Masa induksi dan masa pemulihannya singkat dan nyaman
-Peralihan stadium anestesiannya terjadi cepat
-Relaksasi ototnya sempurna
-Berlangsung cukup aman
-Tidak menimbulkan efek toksik atau efek samping berat dalam dosis anestetik yang lazim. Obat-Obat Anestetik Umum dalam Bentuk Inhalasi
-N2O (Dinitrogenoksida, Nitrogen oksida, gas gelak)
-Halotan (Fluothane)
-Enflurane (Ethrane), Isofluran (Ferene)
-Desflurane (Suprane)
-Metoksifluran
-Dietil eter N2O (Dinitrogenoksida, Nitrogen oksida, gas gelak)
Penggunaan terapi : Anestesia, analgesia
Farmakokinetik :
• Anestesia kombinasi, perbandingan N2O dan O2 2:1, dengan penambahan anestetik umum inhalasi lain seperti halotan, enfluran, dan isofluran. Contoh Halotan 1%, O2 33%, N¬2O 66%.
• Metabolisme : tidak ada biotransformasi di dalam organisme tidak ada metabolit yang toksik.
•Eliminasi dikeluarkan melalui pernafasan dalam keadaan tidak berubah.

Halotan (Fluothane)
Penggunaan terapi : Anestesia

Farmakokinetik :
•Dosis 1-2 vol % dalam campuran inhalasi (tahap induksi)
•Metabolisme 15-20% di hati, metabolit utama asam trifluoroasetat. Enflurane (Ethrane), Isofluran (Ferene)
Penggunaan terapi : Anestesia
Farmakokinetik
Dosis : Enfluran 1-3 vol % kecepatan metabolisme sangat rendah <3%, Isofluran 1,2-1,5 vol % kecepatan metabolisme sangat rendah <1%
Desflurane (Suprane)


Farmakokinetik :

Dosis : 4 – 11 % dalam campuran inhalasi (induksi), 2-6% dalam konbinasi dengan gas gelak/ oksigen (pemeliharaan anestesia).
Metabolisme : kecepatan metabolisme sangat rendah 0.02% Anestetik Intravena (parenteral)

Definisi : Anestetik Intravena (IV) adalah anestetik diberikan melalui intravena yang dipakai untuk menimbulkan efek anestesi umum. Kriteria Anestesi IV yang Ideal

-Cepat menghasilkan hipnosis
-Mempunyai efek analgesia
-Menimbulkan amnesia pasca-anestesia
-Dampak buruknya mudah dihilangkan oleh antagonisnya
-Cepat dieliminasi oleh tubuh
-Tidak atau sedikit mendepresi fungsi respirasi & kardiovaskular
-Pengaruh farmakokinetiknya tidak bergantung pada disfungsi organ Metoheksital-Natrium (Brevimytal)
Penggunaan terapi : secara intravena untuk anestesia jangka pendek

Farmakodinamik :
•Mekanisme kerja : hambatan pada jalur-jalur asenden di formatio reticularis, berikatan pada reseptor GABAA, tetapi pada tempat ikatan yang berbeda. Aliran masuk klorida ke dalam sel, yang diinduksi oleh GABA, diperkuat, hiperpolarisasi sel-sel pengurangan sensitivitas.

Farmakokinetik :
• Mula kerja : segera, berdasarkan sifat lipofil yang tinggi dari senyawa tersebut dan kecepatan aliran darah yang tinggi ke otak.
•Lama efek : singkat 20-30 menit, pertama-tama ke otot yang sirkulais darahnya kurang baik, selanjutnya setelah 1-2 jam ke jaringan lemak yang perfusinya lebih buruk lagi.
•Metabolisme : N-demetilasi oksidatif dan desalkilasi oksidatif di hati, kemudian eliminasi ginjal. Tiopental natrium (trapanal)

Penggunaan terapi : secara i.v untuk anestesia jangka pendek, induksi anestesia

Farmakodinamik :
•Mekanisme kerja : hambatan pada jalur-jalur asenden di formatio reticularis, berikatan pada reseptor GABAA, tetapi pada tempat ikatan yang berbeda. Aliran masuk klorida ke dalam sel, yang diinduksi oleh GABA, diperkuat, hiperpolarisasi sel-sel pengurangan sensitivitas.

Farmakokinetik :
•Dosis anjuran 2-5mg/kg bb
•Mula kerja : segera, karena berdasarkan sifat lipofil yang tinggi dari senyawa tersebut dan kecepatan aliran darah yang tinggi ke otak.
•Lama kerja : singkat 15-20 menit, pertama-tama ke otot yang sirkulasi darahnya kurang baik, selanjutnya setelah 1-2 jam ke jaringan lemak yang perfusinya lebih buruk lagi. Dapat terjadi penimbunan selama beberapa jam.
•Metabolisme : setelah desulfurisasi oksidatif, terbentuk pentobarbital efek susulan hipnotik.

Ketamin (Ketanest)

Penggunaan terapi : induksi anestesia, anestesia i.v pendek, terutama dalam bidang traumatologi, bedah anak, luka bakar pada anak.

Farmakodinamik :
•Mekanisme kerja : ketamin bekerja sebagai antagonis nonkompetitif pada reseptor NMDA (N-metil-D-aspartat) yang tidak bergantung pada tegangan ikatan pada tempatikatan fensiklidin. Reseptor NMDA adalah reseptor untuk kanal ion (K, Na, Ca) maka blokade reseptor ini pada saat yang sama ada blokade aliran ion sepanjang membran neuron sehingga terjadi hambatan pada depolarisasi neuros di SSP.
Farmakokinetik :
•Dosis : 3-5mg/kg bb i.m, 1-2 mg/kg bb i.v
•Mula kerja : segera
•Lama kerja : 10 menit, tahap analgesia 10-20 menit Etomidat (Hypnomidate)

Penggunaan terapi : anestesia i.v singkat dalam kombinasi dengan anestetik lain, untuk induksi anestesia
Farmakokinetik
•Dosis : 0,15-0,3mg/kg bb disuntikkan perlahan secara i.v
•Mula kerja : segera
•Lama kerja : 4-8 menit
•Metabolisme : hampir lengkap di hati, penguraian ester dan N-desalkilasi
•Eliminasi : sampai 90 % ginjal dan hanya 2 % dalam bentuk tidak berubah Anestetik Lokal
Anestetik lokal adalah anestetik yang diberikan secara lokal (topikal maupun suntikan) yang hanya dapat menimbulkan efek analgesia ( menghilangkan sensasi nyeri) namun kesadaran masih dapat dipertahankan.

Anestetika lokal disebut juga zat penghilang rasa setempat karena pada penggunaan lokal dapat merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf ke SSP dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau dingin.
Penggunaan Anestetik Lokal
1.Prosedur gigi
2.Menjahit laserasi kulit
3.Pembedahan minor/jangka pendek pada daerah tertentu
4.Anestesi spinal dengan menghambat impuls saraf (nerve block) yang terletak dibawah tempat dimasukkannya anestetik
5.Prosedur diagnostik seperti pungsi lumbal dan torasentesis Kriteria Anestetikum Lokal yang Ideal
1.Tidak merangsang jaringan
2.Tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan saraf
3.Toksisitas sistemik yang rendah
4.Efektif dengan jalan injeksi atau penggunaan
5.Mulai kerjanya sesingkat mungkin, tetapi bertahan cukup lama
6.Dapat larut dalam air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga terhadap larutan yang stabil, juga terhadap pemanasan (sterilisasi).
7.Dapat disentuh tanpa mengalami perubahan
8.Masa pemulihan tidak terlalu lama Mekanisme kerja
Anestetik lokal menyebabkan hambatan reversible pada konduksi impuls di dalam sel-sel saraf (dan struktur lain yang berdaya hantar, misal sistem pembentukan dan konduksi impuls jantung).

Efek berdasarkan pada blokade kanal Na yang peka terhadap potensial di dalam membran neuron.
Pertama-tama anestetik lokal berpenetrasi ke dalam membran, dengan jalan difusi mencapai lumen dari kanal Na, terjadi peningkatan bentuk proton, dan berikatan pada reseptor dari protein kanal, mengakibatkan kanal Na pada waktu tertentu beralih ke keadaan tertutup dan nonaktif.
Lamanya blokade kanal Na berbeda-beda tergantung pada zatnya.
Blokade kanal Na menghalangi depolarisasi sel-sel saraf sehingga hantaran potensial aksi ditiadakan.
Berdasarkan teknik pemberiannya anestesi lokal dibagi menjadi :
1.Anestesia permukaan
Digunakan pada selaput lendir mulut (mulut, kerongkongan, esofagus, rektum), luka dan selaput mata.

2.Anestesia infiltrasi
Injeksi subkutan pada sekitar daerah yang akan dianestesi, dengan menyingkirkan reseptor-reseptor (nosiseptor) atau hantaran rangsang di serabut saraf eferen.

3.Anestesia konduksi
Anestetik lokal disuntikkan langsung ke urat saraf atau batang saraf sehingga konduksi rangsang sensorik ditiadakan.

4.Anestesi spinal (intrathecal)
Disebut juga injeksi punggung. Obat disuntikkan ke tulang punggung yang berisi cairan otak.

5.Anestesia epidural.
Obat disuntikkan di ruang epidural, yakni antara kedua selaput luar sumsum belakang. Berdasarkan senyawa kimiawi penyusunnya, anestetik lokal dibagi menjadi :
1.Anestetik lokal tipe ester
Kokain
Memiliki toksisitas yang tinggi dan efek adiksi yang absolut. Bekerja dengan merangsang sentral, menimbulkan euforia, bersfat halusinogen, menimbulkan ketergantungan psikis yang kuat. Prokain (Novocain)
Cocok untuk anestesia infitrasi (larutan 0,5%) dan anestesia konduksi (larutan 2%). Efeknya pada selaput lendir terlalu lemah, tidak cocok untuk anestesi permukaan. Lama kerja prokain 30-60 menit. Setelah pemberian prokain akan cepat berdifusi keluar jaringan dan masuk kedalam pembuluh darah. Di dalam aliran darah anestetika lokal tipe ester diuraikan oleh esterase sehingga menjadi nonaktif. Prokain antagionis dengan sulfonamida.
Tetrakain (pantocain)
Bekerja 10 x lebih kuat dan 10 x ebih toksik dari prokain sehingga hanya digunakan sebagai anestetik permukaan. Efeknya bertahan selama beberapa jam.
Benzokain (Anaesthesin)
Karena kelarutannya dalam air yang sangat rendah maka hanya digunakan sebagai anestesi permukaan. Efeknya betahan lama. Anestetik Lokal Tipe Amida

Lidocain ( Xylocain)Obat anestesi lokal lain yang strukturnya mirip dengan lidokain : Etidokain, prilokain, Mepivakain, Bupivakain, Artikain.

Penggunaan terapi : Anestesia konduksi dan infiltrasi.

Farmakokinetik : masa kerja relatif panjang, Lidokain, prilokain dan Mepivakain 60-120 menit, Etidokain dan bupivakain sampai 400 menit. Penguraian terjadi di dalam sel-sel hati.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. Farmakologi dan Terapi. Badan Penerpit FK UI : Jakarta.

Katzung, Bertram G, MD, PhD,. 2010. Farmakologi Dasar & Klinik. EGC : Jakarta.

Kee, Joyce L. dan Evelyn R. Hayes. 1996. Farmakologi. EGC : Jakarta.

Schmitz, Gery dan Hans Lepper. 2009. Farmakologi dan Toksikologi Edisi III. EGC : Jakarta.

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi II. EGC: Jakarta.
Full transcript