Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

ASMA

No description
by

Nabilah Fajriah

on 3 March 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of ASMA

LO 1.4 Klasifikasi Asma
Pembagian derajat penyakit asma menurut
GINA
:
1. Intermiten
Gejala kurang dari 1 kali/minggu
Serangan singkat
Gejala nocturnal tidak lebih dari 2 kali/bulan (<2 kali)
2. Persisten ringan
Gejala lebih dari 1 kali/minggu tapi kurang dari 1 kali/hari
Serangan dapat mengganggu aktivitas tidur
Gejala nocturnal >2 kali/bulan
3. Persisten sedang
Gejala terjadi setiap hari
Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur
Gejala nocturnal > 1 kali dalam seminggu
4. persisten berat
Gejala terjadi setiap hari
Serangan sering terjadi
Gejala asma nocturnal sering terjadi

Pembagian yang dibuat Phelan dkk (dikutip dari Konsensus Pediatri Internasiolnal III tahun 1998) :

Asma episodik jarang
Merupakan 75% populasi asma pada anak. Ditandai oleh adanya episode <1x tiap 4-6 minggu, mengi setelah aktivitas berat, tidak terdapat gejala di antar episode serangan, dan fungsi paru normal di antar tangan. Terapi profilaksis tidak dibutuhkan pada kelompok ini.

Asma episodik sering
Merupakan 20% populasi asma. Ditandai oleh frekuensi serangan yang lebih sering dan timbulnya mengi pada aktivitas sedang, tetapi dapat dicegah dengan pemberian agonis β2 .Geala terjadi kurang dari 1x/ minggu dan fungsi paru di antara serangan normal atau hampir normal. Terapi profilaksis biasanya dibutuhkan.

Asma persisten
Terjadi pada sekitar 5% anak asma. Ditandai oleh seringnya episode akut, mengi pada aktivitas ringan, dan di antara interval gejala dibutuhkan agonis β 2 lebih dari 3 kali/minggu
Arena anak terbangun di malam hari atau dada terasa berat di pagi hari. Terapi profilaksis sangat dibutuhkan

DAFTAR PUSTAKA
LO 1.1 Definisi Asma
LO 1.6 Manifestasi Klinis Asma
LI 1. Memahami dan Menjelaskan Asma
Obat – obat Pengontrol

1.Inhalasi glukokortikosteroid
Glukokortikosteroid inhalasi merupakan obat pengontrol yang paling efektif dan direkomendasikan untuk penderita asma semua umur.

2.Leukotriene Receptor Antagonist (LTRA)
Secara hipotesis obat ini dikombinasikan dengan steroid hirupan dan mungkin hasilnya lebih baik.
Ada 2 preparat LTRA : Montelukast & Zafirlukast

3.Long acting ß2 Agonist (LABA)
Preparat inhalasi yang digunakan adalah salmeterol dan formoterol.

4.Teofilin lepas lambat
Teofilin efektif sebagai monoterapi atau diberikan bersama kortikosteroid yang bertujuan untuk mengontrol asma dan mengurangi dosis pemeliharaan glukokortikosteroid.

LO 2.1 Epidemiologi Asma
LO 1.8 Tatalaksana Asma
Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu
obat pereda (reliever)
dan
obat pengendali (controller)
. Obat pereda digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma jika sedang timbul. Kelompok kedua adalah obat pengendali yang disebut juga obat pencegah, atau obat profilaksis.
ASMA
Menurut
GINA (Global Institute for Asthma)
asma adalah gangguan inflamasi kronis saluran napas dengan banyak sel yang berperan, antara lain sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan, inflamasi ini menyebabkan episode mengi yang berulang, sesak napas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada waktu malam atau dini hari.
Menurut
KNAA (Konsensus Nasional Asma Anak)
Asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik timbul secara episodik, cenderung pada malam/dini hari (nokturnal), musiman, setelah aktivitas fisik, serta mempunyai riwayat asma atau atopi lain dalam keluarga atau penderita sendiri.
Berdasarkan laporan
National Center for Health Statistics
atau
NCHS
(2003), prevalensi serangan asma pada anak usia 0-17 tahun adalah 57 per 1000 anak (jumlah anak 4,2 juta), dan pada dewasa > 18 tahun, 38 per 1000 (jumlah dewasa 7,8 juta). Jumlah wanita yang mengalami serangan lebih banyak daripada lelaki.

WHO
memperkirakan terdapat sekitar 250.000 kematian akibat asma. Sedangkan berdasarkan laporan NCHS (2000) terdapat 4487 kematian akibat asma atau 1,6 per 100 ribu populasi. Kematian anak akibat asma jarang

LO 1.3 Etiologi Asma
Faktor predisposisi
Genetik, dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas.
Faktor presipitasi
Alergen, terbagi 3, yaitu Inhalan, Ingestan & kontaktan
Perubahan cuaca
Stress, bukan penyebab asma namun dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada
Lingkungan kerja
Olahraga / aktivitas jasmani yang berat
Obat-obatan, beberapa klien asma bronkhial sensitif atau alergi terhadap obat tertentu seperti pennisilin, salisilat, beta blocker dan kodein
LO 1.7 Diagnosis & Diagnosis Banding Asma
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Pada pasien terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu pernapasan. Inspeksi dada terutama melihat postur bentuk dan kesimetrisan, adanya peningkatan diameter antero posterior, retraksi otot-otot intercostalis, sifat dan irama pernapasan dan frekuensi napas.
Palpasi
Pada palpasi biasanya amati kesimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus normal
Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sama hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah.
Auskultasi
Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau 3 kali ekspirasi, dengan bunyi tambahan napas tambahan utama wheezing pada akhir ekspirasi.

Pemeriksaan Penunjang
a. Uji radio alergi absorben dan uji alregi kulit
Penentuan IgE spesifik secara in vitro. Uji ini dapat membantu mengetahui faktor resiko atau pencetus asma.
b. Pemeriksaan hiperreaktivitas saluran napas
Uji provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan, udara kering dan dingin, dll dapat membantu diagnosis.
c. Uji olahraga
d. Pemeriksaan rontgen dada
Pada asma, corakan paru meningkat, hiperinflasi meningkat pada saat serangan akut.
e. Uji fungsi paru
menurut
PNAA
2004 untuk mendukung diagnosis asma anak dipakai kriteria sebagai berikut yang diukur selama 2 minggu :
Variabilitas PEF atau FEV1 >15%
Kenaikan PEF atau FEV1 >15% setelah pemberian inhalasi bronkodilator
Penurunan PEF atau FEV1 >20% setelah provokasi bronkus
Pemeriksaan Laboratorium

Eosinofilia darah 250-400 sel/mm3.
Sputum sangat kental, elastis dan keputihan. Tampak pada pewarnaan metilen-eosin banyak eosinofil dan granula dari sel yang terganggu.
Kadar IgE kadang meningkat. Nilai IgE yang tinggi <1thn (tetapi tidak pada saat lahir) merupakan faktor yang dapat memprediksi tingginya IgE pada usia 6 dan 11thn dan berhubungan dengan mengi yang berkepanjangan.
Diagnosis Banding
Dewasa
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
Bronkitis kronik
Gagal jantung kongestif
Batuk kronik akibat lain-lain
Disfungsi larings
Obstruksi mekanis
Emboli paru
 
Anak
Rinosinusitis
Refluks gastroesofageal
Infeksi respiratorik bawah viral berulang
Displasia bronkopulmoner
Tuberkulosis
Malformasi kongenital yang menyebabkan penyempitan saluran respiratorik intratorakal
Aspirasi benda asing
Sindrom diskinesia silier primer
Defisiensi imun
Penyakit jantung bawaan

LO 1.5 Patofisiologi Asma
Obat – obat Pereda (Reliever):
I. Bronkodilator
a. Short- acting ß2 agonist
:

Epinefrin/adrenalin
Tidak direkomendasikan lagi untuk serangan asma kecuali tidak ada ß2 agonis selektif.

ß2 agonis selektif
Obat yang sering dipakai : salbutamol, terbutalin, fenoterol.

b.Methyl xanthine
Efek bronkodilatasi methyl xantine setara dengan ß2 agonist inhalasi, tapi karena efek sampingnya lebih banyak dan batas keamanannya sempit, obat ini diberikan pada serangan asma berat dengan kombinasi ß2 agonist dan anticholinergick.

c.Anticholinergics
Obat yang digunakan adalah Ipratropium Bromida. Kombinasi dengan nebulisasi ß2 agonist menghasilkan efek bronkodilatasi yang lebih baik.

d.Kortikosteroid

e.Ekspektoran

Adanya mukus kental dan berlebihan (hipersekresi) di dalam saluran pernafasan menjadi salah satu pemberat serangan asma, oleh karenanya harus diencerkan dan dikeluarkan.


Pencegahan Primer
Ditujukan untuk mencegah sensitisasi pada bayi dengan resiko asma (orangtua asma),
Pencegahan Sekunder
Ditujukan untuk mencegah inflamasi pada anak yang telah tersentisisasi dengan cara menghindari pajanan asap rokok, serta allergen dalam ruangan terutama tungau debu rumah
Pencegahan Tersier
Ditujukan untuk mencegah manifestasi asma pada anak yang telah menunjukkan manifestasi penyakit alergi.


PENCEGAHAN

Komplikasi yang mungkin terjadi :
Akut
dehidrasi
gagal napas
infeksi saluran napas
Kronis
kor-pulmonale
PPO kronis
pneumotorak



1.9 Komplikasi Asma
1.10 Prognosis Asma
Beberapa studi kohort menemukan bahwa banyak bayi dengan wheezing tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Proporsi kelompok tersebut berkisar antara 45 hingga 85%, tergantung besarnya sample studi, tipe studi koort, dan lamnya pemantauan. Adanya asma pada orang tua dan dermatitis atopic pada anak dengan wheezing merupakan salah satu indikator penting terjadinya asma dikemudian hari. Apabila terdapat kedua hal tersebut maka kemungkinan menjadi asma yang lebih besar atau terdapat salah satu diatas disertai dengan 2 dari 3 keadaan berikut, seperti eosinofia,rhinitis alergika, dn wheezing yang menetap pada keadaan bukan flu.
Behrman et.al. 2000. Nelson : Ilmu kesehatan anak edisi 15 vol.1. Jakarta : EGC

DepkesRI,2009. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta

Girish D Sharma,2013. Pediatric Asthma Differential Diagnoses. http://emedicine.medscape.com/article/1000997-differential

Gunawan, Sulistia Gan. 2007. Farmakologi dan Terapi. Ed 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Ikatan Dokter Paru Indonesia,2003. ASMA Pedoman Diagnosis&Penatalaksanaan Di Indonesia. http://www.klikpdpi.com/konsensus/asma/asma.html

Price, Sylvia Anderson et al. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. Jilid 1. Edisi 6.
Rahajoe NN, et.al. 2010. Buku Ajar: Respirologi Anak edisi 1. Jakarta:IDAI

Unit Kerja Koordinasi Pulmonologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konsensus Nasional Asma Anak. Sari Pediatri 2000; 2:50-66.










KELOMPOK B-6
KETUA : Nabilla Risdiana 1102012188
SEKERTARIS : Qatrin Nada Ramadhani 1102012219
ANGGOTA : Mulki Alifah Hasna 1102012183
Mutia Tri Pujianti 1102012184
Mutiara Alderisa 1102012185
Mutiara Sandia Oktoviana 1102012186
Nabillah Fajriah Barsah 1102012187
Nurhalimah 1102010212
Orin Archi 1102010215
Putri Prima Ramadhan 1102012218

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
TAHUN 2013/2014

BLOK RESPIRASI
SESAK NAFAS
WRAP UP
SKENARIO
Seorang anak perempuan berusia 7 tahun dibawa ibunya ke KlinikYARSI dengan keluhan sulit bernafas.Pasien 3 hari sebelum ke klinik, demam, batuk dan pilek. Sudah minum obat namun tidak ada perubahan. Menurut ibu, pasien menderita alergi makanan terutama ikan laut. Ayah pasien juga mempunyai riwayat alergi.
Pada inspeksi terlihat pernapasan cepat dan sukar, Frekwensi nafas 48x/ menit, disertai batuk batuk paroksismal, terdengar suara mengi, ekspirasi memanjang, terlihat retraksi daerah supraklavikular, suprasternal, epigastrium,dan sela iga. Pada perkusiterdengar hipersonor seluruh toraks. Pada auskultasi bunyi napas kasar/ mengeras, terdengar juga ronkhi kering dan ronkhi basah serta suara lender dan wheezing. Pasien didiagnosis sebagai asma akut episodic sering.
Penanganan yang dilakukan pemberian beta – agonis secara nebulisasi. Pasien di observasi selama 1-2 jam. Respon baikpasien dipulangkan dengan dibekali obat bronkodilator. Pasien kemudiandianjurkan kontrol ke klinik rawat jalan untuk re-evaluasi tatalaksananya.

SASARAN BELAJAR
LI 1. Memahami dan menjelaskan Asma
LO 1.1 Definisi Asma
LO 1.2 Epidemiologi Asma
LO 1.3 Etiologi Asma
LO 1.4 Klasifikasi Asma
LO 1.5 Patofisiologi Asma
LO 1.6 Manifestasi Asma
LO 1.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding
Asma
LO 1.8 Tatalaksana Asma
LO 1.9 Komplikasi Asma
LO 1.10 Prognosis Asma

Full transcript