Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Perspektif dan Teori Komunikasi Politik

Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Komunikasi Politik Dan Media Massa Yang dibina oleh Bapak Drs. Romula Adiono M
by

hananto adi kusumo

on 14 November 2012

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Perspektif dan Teori Komunikasi Politik

KELOMPOK IV
Sony Damalan105030101111103
Dicky Eka Prasetya Adi105030101111009
Eka Farah Dewi A.E105030101111013
Yosa Suharsa Manggala105030101111109
Dida Rahmadanik105030100111014
Marsella Harum K105030103111009
Hananto Adi Kusumo105030103111012
I Putu Agus W.105030107111011 Perspektif dan Teori Komunikasi Politik A.Perspektif dan Model Komunikasi Politik Perspektif Pragmatis .Dari paradigma ke perspektif
Istilah paradigma berasal dalam perkembangan ilmu pengetahuan bukan terjadi secara kumulatif, tetapi terjadi secara revolusi. Menggunakan istilah perspektif, karena menurut beberapa pandangan istilah paradigma penggunaannya netral. Nilai perspektif kita tidak terletak pada nilai kebenaranya dan mencerminkan realitas. Komponen mekanistis seperti pesan/umpan balik/efek, saluran, sumber/penerimaan. Kajian komunikasi politik dalam paradigma mekanistis terpusat pada efek politik. Paradigma baru Fisher (1990:228-360) ialah
•perspektif psikologi
•perspektif interaksional
•perspektif pragmatis Perspektif dan Model Mekanistis •Menurut paradigma atau perspektif psikologi, komunikasi dikonseptualisasi sebagai penerimaan dan pengolahan informasi pada individu.
•Komunikasi dalam model psikologis merupakan masukan dan luaran stimulasi yang ditambahkan dan diseleksi dari stimulasi yang terdapat dalam lingkungan informasi.
•Model psikologi komunikasi berbeda dari model psikologi yang menjelaskan semua perilaku dalam kerangka asumsi bahwa semua manusia dalam medan stimulus menghasilakan banyak stimulus yang ditangkap oleh oranglain.
•Setelah menyaring stimuli komunikasi, komunikator merespons stimuli itu dengan menghasilkan stimuli tambahan, yang kemudian ditambah ke medan stimulus sebagai respons perilaku. Dengan perkataan lain, respons tidak seluruhnya dapat diobservasi secara langsung. Ada bagian-bagian tertentu dari respons itu yang tetap tersembunyi dan karenanya tidak dapat dilihat sebagai peristiwa komunikasi. Sebagai contoh, peristiwa komunikasi yang normal tidak memungkinkan mengamati respons fisiologis tertentu. Misalnya perubahan gelombang otak.
•komponen komunikasi dalam perspektif ini bukan lagi sumber / penerimaan ,saluran, pesan / umpan balik/ efek ,melainkan stimulasi dan respons. Dengan focus kajian pada individu (penerima), dalam batas tertentu orientasi para penerima dari model ini merupakan reaksi terhadap model mekanisme yang bersifat satu arah dari saluran yang terkandung di dalamnya. Dasar konseptual model ini, ialah bahwa penerima adalah menyandi yang aktif atas stimuli tersruktur yang mempengaruhi pesan dan salurannya.
•Filter konseptual itu dapat digambarkan senagai sikap, keyakinan, motif, dorongan, citra, konsep diri, tanggapan dan presepsi, yang dapat menjadi pangkal atau sebaliknya dari rangsangan yang menyentuh individu. Perspektif dan Model Psikologi •Paradigma atau perspektif internasional bentul-betul agak baru dan bahkan merupakan reaksi dari kedua model sebelumnya (mekanistis dan psikologi). Menurut Fisher (1990:228-266) komunikasi dikonseptualisasi sebagai interaksi manusiawi pada masing-masing individu. perspektif interaksional Titik berat perspektif pragmatis adalah tindakan, khususnya tindakan sosial atau tindakan bersama. Hal ini bias dipahami karena perspektif ini biasa disebut komunikasi dialogis. Menurut Arifin (2003:23) prespektif pragmatis merupakan revolusi yang belum selesai dan merupakan perspektif yang relative paling baru dan masih sedang dalam proses perkembangan. THANK'S FOR UR Attention . •tiga buah premis sederhana yang menjadi dasar interaksionisme simbolis. Ketiganya berfungsi sebagai ringkasan tentang posisi filosofis / teoretis interaksi simbolis (Blumer, 1969:2) yaitu :
1.manusia bertindak terhadap hal-hal atas dasar makna yang dimiliki oleh hal-hal tersebut.
2.makna itu berkaitan langsung dengan interaksi social yang dilakukan seseorang dengan teman-temannya.
3.makna ini diciptakan ,dipertahankan dan diubah melalui proses penafsiran yang dipergunakan oleh orang tersebut dalam berhubungan dengan dua karakteristik yang sangat penting. Perilaku manusia berbeda dengan yang lain, bersifat social dan terdiri dari tindakan. •karakteristik utama paradigma interaksional ialah penonjolan nilai individu di atas segala pengaruh yang lainnya. •Paradigma interaksional dalam komunikasi sering dinyatakan sebagai komunikasi dialogis atau komunikasi yang dipandang sebagai dialog. •Komponen komunikasi dalam model interaksional ini sangat berlainan dengan model terdahulu, yaitu peran, orientasi, keselarasan, konsep budaya, dan adaptasi. Dalam perspektif ini tindakan dan perilaku bukan hasil atau efek dari proses komunikasi, melainkan tindakan atau perilaku itu sendiri sama dengan komunikasi. Prinsip paradigm pragmatis, teori system social, dan teosi informasi diterapkan secara bersama-sama dalam komunikasi. Aplikasi paradigma pragmatis dapat terjadi dalam bentuk komunikasi nonverbal. Misalnya seorang tokoh politik yang diam atau mengangguk saja dalam menanggapi isu penting. Paradigma pragmatis merupakan bentuk komunikasi politik yang sangat penting. Contoh dari peristiwa nonverbal lainnya adalah jumlah massa, bendera, kendaraan, dan jumlah tokoh yang hadir dalam suatu rapat raksasa. B.Teori Komunikasi Politik 1.Teori Jarum Hipodermik Model ini mempunyai asumsi bahwa komponen-komponen komunikasi(komunikator, pesan, media) amat perkasa dalam mempengaruhi komunikasi. Model atau teori ini disebut jarum hipodermik karena dalam model ini seakan-akan komunikasi disuntik langsung kedalam jiwa komunikan. Model ini juga sering disebut “bullet theory” karena komunikasi dianggap secara pasif menerima berondongan-berondongan pesan-pesan komunikasi. (Hovland) 2.Teori Khalayak Kepala Batu Teori khalayak kepala batu dikembangkan oleh pakar psikologi yaitu Raymond Bauer (1973). Bahkan, telah diperkenalkan oleh I.A. Richards sejak tahun 1936. Dan telah diaplikasikan oleh para ahli-ahli retorika pada zaman Yunani dan Romawi 2000 tahun lalu. Raymond Bauer mengeritik potret khalayak sebagai robot yang pasif. Khalayak hanya bersedia mengikuti pesan bila pesan itu memberikan keuntungan atau memenuhi keuntungan dan kebutuhan khalayak. Komunikasi tidak lagi bersifat linier tetapi merupakan transaksi. Media massa memang berpengaruh, tetapi pengaruh itu disaring, diseleksi, dan diterima atau ditolak oleh filter konseptual atau factor-faktor pribadi yang mempengaruhi reaksi mereka. 3. Teori Empati dan Homofili Lanjutan...... 3.Teori Empati dan Homofili Teori Empati seperti dikutip oleh Arifin (2003;52) dikembangkan oleh Everet M. Rodgers dan F. Shoemaker. Empati merupakan kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya pada situasi dan kondisi orang lain. empati adalah kemampuan orang lain, yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita. (Arifin (2003:5) ) Dalam Komunikasi politik, kemampuan mmproyeksikan diri sendiri ke dalam titik pandang dan empati orang lain memberi peluang politikus untuk berhasil dalam pembicaraan politiknya. Empati dalam komunikasi politik adalah sifat yang sangat dekat dengan citra politikus tentang diri dan tentang orang lain. Oleh sebab itu, empatidapat dinegosiasikan atau dimantapkan melalui komunikasi antar personal. Untuk mendukung empati, Rogers dan Smoemaker (1978) memperkenalkan homofili. Konsep ini diartikan sebagai kemampuan individu untuk menciptakan kebersamaan, baik fisik maupun mental. Dengan homofili dapat tercipta hubungan-hubungan sosial dan komunikasi yang intensif dan efektif. LAnjutan... Heterophily adalah cermin kebalikan dari homophily yaitu ketika pasangan individu yang berkomunikasi berbeda pada atribut tertentu seperti pendidikan, status sosial, dan konteks sosial.
Homofili dalam Komunikasi politik, dapat dilihat pada para politikus atau kader partai di Indonesia yaitu kostum seragam jas mereka miliki. Empati dan homofili dapat menciptakan suasana yang akrab dan intim sehingga komunikasi politik dapat berjalan secara interaksional. Proses dialogis akan berjalan secara horizontal dalam arti tidak ada politikus yang memberi dan menerima perintah melainkan para politikus itu berinteraksi dan bermusyawarah. Selanjutnya empati dan homofili dalam komunikasi politik diaplikasikan ke dalam bentuk ideologi politik yang sama, visi dan misi politik yang sama, simbol yang sama, simbol yang sama, pakaian yang sama dan keputusan politik yang sama sehingga terjalin hubungan manusiawi. Hal ini merupakan inti dari kepemimpinan politik. 4. Teori Informasi dan Nonverbal 5. Teori Media Kritis Teori media kritis menurut Hollander sebagaimana dikutip (Arifin, 2003:61) adalah teori media yang menempatkan konteks kemasyarakatan sebagai titik tolak dalam mempelajari fungsi media massa. Dalam hal ini dapat diketahui fungsi media massa dipengaruhi oleh politik, ekonomi, kebudayaan, dan sejarah. Teori informasi (dan teori sistem sosial) telah digunakan oleh B. Aubrey Fisher (1990:218) dalam menggagas dan menjelaskan paradigma pragmatis, yang intinya adalah bertindak politik dapat dipandang sebagai komunikasi politik yang bersifat nonverbal. Sering juga dikatakan bahwa tidak ada komunikasi (verbal), tetapi ada komunikasi (nonverbal). Taktik pengontrolan yang paling penting adalah selektivitas, dimana individu dapat memilih bagi dirinya informasi apa yang ingin diterimanya, informasi apa yang diingatnya, dan informasi apa yang akan disalurkan kepada orang lain. Informasi memiliki beberapa pengertian, (Scharamm, 1977:13) Pertama, informasi dipahami sama dengan pesan sebagaimana dianut dalam proses komunikasi mekanistis. Kedua, informasi adalah data yang sudah diolah, sebagaimana yang dipahami dalam SIM (Sistem Informasi Manajemen). Ketiga, informasi adalah segala sesuatu yang mempunyai ketidakpastian atau mempunyai jumlah kemungkinan alternatif. Lanjutan.... informasi diartikan sebagai pengelompokan peristiwa dengan fungsi untuk menghilangkan ketidakpastian. Informasi dapat disebut sebagai konsep yang absolut dan relatif karena informasi bukan sebagai pesan, melainkan jumla, benda, dan energy.(B. Aubrey Fisher,) informasi adalah setiap hal yang membantu kita menyusun atau menukar pandangan tentang kehidupan. Jadi, informasi dalam komunikasi politik dapat berarti: sikap politik, pendapat politik, kostum partai politik, dan tamu kader partai politik. (Lawrance dan Schramm (1977) ) Dengan demikian, dapat disebut bahwa informasi politik dalam teori informasi pada hakikatnya adalah komunikasi politik yang bersifat nonverbal (tidak terucapkan). Komunikasi nonverbal, menurut Mark L. Knapp (1972) adalah :
1.Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disampaikan secara verbal, misalnya memuji sambil mengangkat jempol.
2.Substitusi, yaitu tanpa ucapan dengan menggelengkan kepala.
3.Kontradiksi, yakni memberi makna yang lain terhadap pesan verbal, misalnya bersalaman, tetapi melihat ke tempat lain.
4.Komplemen, yakni melengkapi atau memperkaya pesan verbal, bersorak sambil meloncat-loncat, dan
5.Aksentuasi, yaitu lebih menegaskan kesan verbal, misalnya menegaskan tekad dengan mengepalkan tinju.
Teori media kritis bertolak belakang dengan teori media massa yang lain, (Arifin, 2003:62) seperti teori perseptual dan teori fungsional, kedua teori itu memberikan tekanan pada akibat apa yang dilakukan oleh media terhadap orang. Teori fungsional mengalami sedikit pergeseran, memusatkan kajiannya ke pertanyaan tentang apa yang diperoleh khalayak dari media massa, dan mengapa hal itu dapat diperoleh. Sejumlah pakar mengembangkan juga teori parasosial. Penggagas teori ini berpandangan bahwa media massa berfungsi dalam memenuhi kebutuhan manusia akan interaksi sosial. Hal ini tercapai jika media massa memberi peluang hubungan parasosial yang akrab. Teori ini berkaitan dengan komunikasi politik karena banyak format ini digunakan oleh pakar komunikator politik dalam membangun hubungan dengan parasosial. Sebaliknya, khalayak politik berhubungan dengan tokoh politik di dalam media massa itu seolah-olah tokoh tersebut hadir di dalam lingkungan sosial mereka.
Full transcript