Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Manajemen Anestesi pada Sepsis Berat

No description
by

Shinta Wijaya

on 5 November 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Manajemen Anestesi pada Sepsis Berat

Manajemen Anestesi pada Sepsis Berat
dr. H. Zulkifli, SpAn, KIC, M.Kes, MARS
SEPSIS
Sindrom klinis yang disebabkan respon inflamasi terhadap infeksi
Insidensi sepsis meningkat menurut CDC
1 dari 10 penyebab kematian di Amerika Serikat
Penyulit operasi
Manajemen Anestesi
The Surviving Sepsis Campaign
Sepsis berat berkisar antara 51 dan 95 pasien per 100.000 populasi
BAB II SEPSIS BERAT
Terminologi
SIRS
Sepsis
Sepsis berat
Syok septik
Sepsis yang disertai dengan disfungsi organ, hipoperfusi atau hipotensi, termasuk asidosis laktat, oliguria dan penurunan kesadaran
Dikatakan SIRS bila didapatkan 2 atau lebih:
1. Suhu >38ºC atau <36ºC
2. Denyut nadi >90x/menit
3. Respirasi >20x/menit atau PCO2<32 mmHg
4. Lekosit darah >12.000/mm3 atau <4.000 mm3

Sindrom klinis yang ditandai dengan adanya infeksi dan SIRS
Sepsis dengan hipotensi (tekanan sistolik <90 mmHg atau MAP <60) yang tidak membaik dengan resusitasi cairan yang adekuat atau memerlukan vasopressor untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi organ
American College of Clinical Pharmacy (ACCP) dan Society of Critical Care Medicine (SCCM)
Insidens sepsis di dunia meningkat 8,7% setiap tahunnya.
Pada 1996, dari 4774 pasien rawat inap dr. Soetomo, terdapat 504 pasien sepsis dengan mortalitas 70,2%.
Etiologi
Patogenesis
Manifestasi klinis
Penatalaksanaan

Penyebab :
- bakteri gram negatif (55,26%)
- bakteri gram positif (39,47%)
- jamur atau sel ragi (5,26%)
- lain-lain : virus (dengue dan herpes) atau protozoa
(Falciparum malariae)
BAB III MANAJEMEN ANESTESI PADA PASIEN DENGAN SEPSIS BERAT
Manajemen Pasca Operasi
Manajemen Intraoperatif
Manajemen Perioperatif
oleh :
Nia Desnina Wardhani
Sara Nabeela Putri
Shinta Dwijayanti
Terapi Antibiotik
Antibiotik IV diberikan sedini mungkin setelah diagnosis ditegakkan, dimulai dari agen spektrum luas.
Pemberian antibiotik lini pertama berdasarkan sampel kultur yang tepat.
Terapi berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, pathogen penyebab, dan pola sensitivitas antibiotik lokal.
Resusitasi Hemodinamik
Mengembalikan pengiriman oksigen yang adekuat ke jaringan perifer
Pemasangan CVC : mengukur CVP, SVO2, pemberian cairan dan vasopresor.
Resusitasi volum dengan kristaloid/koloid : target klinis CVP 8-12 mmHg, MAP 65 mmHg, urin output 0,5 ml/KgBB per jam, SVO2 > 70%
Pemberian vasopresor (Vasopresin dosis rendah 0,03 units/min) dan norepinefrin.
Inotropik (dobutamin) : jika curah jantung rendah meskipun pengisian jantung dan resusitasi cairan adekuat
Transfusi jika pengiriman oksigen tetap inadekuat
Terapi oksigen
Intubasi trakea dan ventilasi mekanik jika kesadaran pasien rendah atau jika terdapat distress yang progresif dan hipoksia.
Sebelum Induksi
Kontrol konsentrasi antibiotik dalam darah
Pengawasan hemodinamik
Pengawasan AGD dan konsentrasi laktat secara serial
Persiapan alat resusitasi intravaskuler jika kemungkinan bnayak darah yang keluar.
Induksi Anestesi dan Inisiasi Ventilasi Mekanik
Denitrogenasi, O2 100% facemask selama 3 menit sebelum induksi anestesi
Muscle relaxant untuk intubasi : rocuronium
Sedasi : Ketamin yang dititrasi sampai respon klinis
Analgetik : fentanyl/alfentanil dapat mengurangi dosis induksi. Remifentanil lebih dianjurkan pada sepsis.
Resusitasi volum dan vasopresor tambahan untuk melawan efek hipotensi agen anestesi.
VTP untuk mendapat FIO2 cukup tinggi untuk oksigenasi yang adekuat (PaO2 > 12 kPa)
Pemeliharaan
Pilihan inhalasi, intravena, dan opioid, contohnya remifentanil 0.25-0.5 µmicrogram/kgmin IV.
Transfusi darah jika kehilangan banyak darah
Resusitasi volum IV dilanjutkan sesuai indikasi
Pengawasan terhadap parameter kardiovaskuler.
Laktat serum < 2 mmol/liter dan SVO2 > 70% berarti pengiriman oksigen global cukup
Peningkatan konsentrasi oksigen inspirasi(min 90%) dan PEEP bertahap untuk pencegahan hipoksemia
Peran Anestesi Regional dan Blok Saraf pada Pasien Sepsis
Blok saraf perifer mungkin efektif tetapi teknik ini terbatas pada sepsis karena koagulopati dan infeksi lokal/sistemik.
Neuraxial block (anestesi spinal dan epidural) diberikan dengan hati-hati karena efek hemodinamiknya sulit dikembalikan. Insiden cedera permanen dari CNB sekitar 4,22 (95% CI 2.9–6.1) per 100 000 dan paraplegia atau meninggal 1,8 (95% CI 1.0–3.1) per 100 000 kasus

Tahap Akhir Tindakan Bedah
Pemberian agen blok neuromuskular pada akhir pembedahan abdomen atau thoraks dapat dipertimbangkan.
Kehilangan darah minimal.
Pada pasien yang membutuhkan operasi tambahan dan sakit sangat berat; analgesik, sedasi dan ventilasi mekanik dipertahankan.
Penilaian pre resusitasi menghitung skor APACHE
Terapi antibiotik diteruskan di ICU, dibatasi 7-10 hari
Transfusi dengan FFP (mengkoreksi abnormalitas pembekuan darah, platelet (≤5000 mm-3 atau antara 5000 dan 30 000 mm-3 dengan resiko perdarahan), rhAPC (sepsis disertai disfungsi organ).
Kontrol glikemik (<8.5 mmol/litre)
Nutrisi enteral NGT disertai obat profilaksisulkus dan obat anti emetic
Hidrokortison iv dosis 200 mg/hari dibagi 4 dosis
Analgesik dan sedatif dilanjutkan
BAB IV PENUTUP
Sepsis berat adalah sepsis disertai dengan adanya hiperperfusi jaringan atau gagal organ multipel.
Sepsis berat dapat disebabkan oleh penyebab infeksi dan non-infeksi
Patofisiologi sepsis sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara proses infeksi kuman patogen, inflamasi dan jalur koagulasi.
Sepsis disebabkan ketidakseimbangan antara sitokin proinflamasi dan sitokin antiinflamasi yang menyebabkan hipoperfusi organ, kegagalan organ dan akhirnya kematian.
Diagnosis sepsis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
Manajemen sepsis berat dan syok septik bersifat kompleks dan multidisipliner
Manajemen anestesi pada pasien sepsis meliputi manajemen perioperatif, intraoperatif dan pasca operatif
Sepsis Resuscitation Bundle (initial 6 h)
Resusitasi Hemodinamik : Target CVP 8-12mmHg, MAP 65mmHg, urin 0,5 cc/kg/jam, SVO2 70% atau saturasi vena campuran 65%
Terapi Inotropik dan Pemberian PRC : Jika saturasi vena sentral <70%, target Hematokrit 30%
Terapi Antibiotik : dimulai dalam 1-2 jam setelah didiagnosis
Identifikasi dan Kontrol Penyebab Infeksi : bedah untuk drainase abses, debridemen atau melepas alat berpotensial infeksi
Sepsis Management Bundle (24 h bundle)
Steroid : Hidrokortison IV dosis rendah (<300mg/hari)
Ventilasi Mekanik : Vol. tidal rendah (6cc/kg) dan batas plateau pressure 30 cmH2O
Kontrol Gula Darah : target < 150 mg/dl.
rhAPC : pada risiko kematian tinggi (APACHE II≥25 atau gagal organ multipel)
Pemberian Produk Darah : target Hb antara 7-9 g/dl
Full transcript