Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

BIONOMIKA TERNAK

No description
by

azhary noersidiq

on 15 December 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of BIONOMIKA TERNAK

Tujuan dan Manfaat
Potensi Padang Rumput Penggembalaan di Indonesia
Hubungan Antara Kerusakan Padang Rumput Penggembalaan Di Indonesia Dan Populasi Ternak Sapi
like comment share
Adapun tujuan dan manfaat dari makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang kondisi padang rumput penggembalaan yang ada di indonesia dan hubungannya dengan populasi ternak sapi
Upaya yang Dapat Dilakukan Untuk Memperbaiki Kerusakan Padang Rumput Penggembalaan Di Indonesia
like comment share
Pembahasan
1. Pengertian Padang Rumput Penggembalaan

2. Potensi Padang Rumput Penggembalaan di Indonesia

3. Hubungan Antara Kerusakan Padang Rumput Penggembalaan Di Indonesia Dan
Populasi Ternak Sapi

4. Upaya yang Dapat Dilakukan Untuk Memperbaiki Kerusakan Padang Rumput
Penggembalaan Di Indonesia

KESIMPULAN
like comment share
HUBUNGAN ANTARA KERUSAKAN PADANG RUMPUT PENGGEMBALAAN DAN POPULASI TERNAK SAPI DI INDONESIA
BIONOMIKA TERNAK
Padang rumput penggembalaan adalah faktor penentu dalam mendukung pengembangan peternakan di Indonesia, yakni sebagai sumber daya dukung pakan ternak berupa hijauan pakan khususnya ternak ruminansia, terutama pada pola pemeliharaan ekstensif. Produk bahan baku asal ternak (daging dan susu) sampai saat ini masih dalam posisi kekurangan; upaya pemenuhan kebutuhan daging dan susu dilakukan dengan impor dari negara lain (net importir). Penurunan luas padang rumput penggembalaan akan mempengaruhi dan menurunkan daya dukung (carying capacity) dalam prospek pengembangan peternakan. Selain itu, perkembangan dan populasi ternak sapi potong beralih mengarah ke wilayah barat (Pulau Jawa) sebagai akibat penurunan daya dukung di samping pengaruh faktor lainnya. Kebijakan pemerintah (dalam hal ini Direktorat Perluasan Areal) maupun penentu kebijakan terkait dari pusat sampai daerah meliputi pengembangan secara terintegrasi areal, tata laksana pemanfaatan, serta renovasi padang rumput penggembalaan guna memperbaiki daya dukung pakan ternak yang berdampak positif terhadap pengembangan usaha peternakan dalam mendukung swasembada produk peternakan.



Azhary Noersidiq ( 1531612021 )
Latar Belakang
Ternak Ruminansia
Lahan Padang Rumput Penggembalaan
Populasi Ternak
Manfaat kan Cara Lain
Pengertian Padang Rumput Penggembalaan
MAKALAH
Padang Rumput
Ciri-ciri Padang Rumput
Pembagian wilayah padang rumput
Jenis-jenis padang rumput
Penyebab Kerusakan Padang Rumput
Faktor Eksternal
Faktor Internal
Gulma yang biasa tumbuh di padang rumput di indonesia
Perubahan Daya Dukung Padang Rumput Penggembalaan
Perubahan Luas
Perubahan Daya Dukung
Tabel 5. Luas areal padang rumput sesuai prioritas luasan areal (ha) dan perkembangan populasi sapi potong menurut wilayah provinsi di indonesia (ekor)
Upaya yang dapat dilakukan
Perluasan areal padang rumput penggembalaan
Perbaikan pengelolaan dan pemanfaatan padang rumput penggembalaan.
Renovasi padang rumput penggembalaan
Tabel 4. Luas lahan padang rumput penggembalaan (ha)
Gambar 4. Perubahan areal padang rumput penggembalaan tahun 1973 ke 2003 (selama 30 tahun)
Ternak ruminansia adalah penyuplai protein hewani terbesar sehingga sangat perlu di jaga populasi nya. Pengembangan ternak ruminansia besar khususnya sapi sangat ditentukan oleh potensi daya dukung wilayah khususnya ketersediaan pakan ternak yang berupa hijauan pakan (rumput dan leguminosa). Pakan merupakan faktor utama dalam keberhasilan dalam meningkatkan populasi ternak. Pakan ternak dapat bersumber dari rumput budidaya di samping bersumber dari areal padang rumput penggembalaan sebagai ajang penggembalaan ternak. Hijauan dapat diperoleh dari hasil penanaman maupun rumput lapang yang tersedia tanpa budidaya. Rumput lapang umumnya berkembang di lahan di luar usaha tanaman pangan maupun pada areal padang rumput penggembalaan.
Secara umum, padang rumput penggembalaan adalah areal untuk menggembalakan ternak ruminansia dengan manajemen pemeliharaan diliarkan (grazing) dalam mendukung efisiensi tenaga kerja dalam budidaya ternak.. Untuk mendukung pengembangan peternakan dalam antisipasi ketersediaan daya dukung pakan yang semakin terbatas, saat ini telah berkembang teknologi model integrasi ternak-tanaman (Crop Livestock System/CLS), yakni ternak diintegrasikan dengan komoditas tanaman untuk mencapai kombinasi optimal, sehingga input produksi menjadi lebih rendah (low input) dengan tidak mengganggu tingkat produksi yang dihasilkan. Prinsip dan kelestarian sumber daya lahan menjadi titik perhatian dalam model ini (Diwyanto dan Handiwirawan, 2004). Pada konsep pengembangan pola pembibitan, faktor input produksi (biaya) dapat ditekan, karena output yang diterima peternak adalah produksi anak dalam jangka panjang. Ketergantungan terhadap hijauan pakan murah sangat dibutuhkan, khususnya yang bersumber dari padang rumput penggembalaan.
Dengan sistem penggembalaan (ektensif), peternak akan mampu memelihara ternak dengan skala besar dan memperoleh keuntungan optimal dibandingkan pola intensif (Priyanto dan Yulistiani, 2005)
Dalam pelaksanaannya, perluasan areal padang rumput penggembalaan diharapkan melibatkan berbagai instansi terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah, serta partisipasi masyarakat. Perbaikan terhadap padang rumput penggembalaan perlu dilakukan sekaligus membuka areal padang rumput penggembalaan baru (perluasan) pada lahan yang belum dimanfaatkan. Dengan sistem ternak diumbar di lahan tertentu pada periode tertentu, ternak bebas memilih hijauan yang dibutuhkan, sehingga memacu produktivitas ternak itu sendiri. Hal ini dimaksudkan sebagai langkah meningkatkan populasi ternak sapi di indonesia
Padang rumput adalah dataran tanpa pohon (kecuali yang berada di dekat sungai atau danau) yang umumnya ditumbuhi rumput pendek. Padang rumput menjadi istilah di kehutanan yang tidak asing meski terdapat berbagai macam kata yang berkaitan dengan hutan. Padang rumput sendiri terletak di daerah yang memiliki musim kering yang panjang dan musim penghujan yang pendek.
Biasanya padang rumput terletak di daerah yang memiliki ketinggian sekitar 900-4000m diatas permukaan laut. Padang rumput ini terjadi secara alami disebabkan adanya cuaca yang mempengaruhi rendahnya curah hujan. Curah hujan yang rendah mengakibatkan tumbuhan kesulitan untuk menyerap air, sehingga tumbuhan yang dapat bertahan ialah rumput. Seperti diketahui bahwa rumput dapat hidup dan beradaptasi dalam keadaan tanah yang kering. Oleh karena itu tumbuhan rumput lebih banyak tumbuh dibandingkan dengan tumbuhan yang lain.
• Curah hujan antara 25 - 50 cm/tahun, di beberapa daerah padang rumput curah hujannya dapat mencapai 100 cm/tahun.
• Curah hujan yang relatif rendah turun secara tidak teratur.
• Turunnya hujan yang tidak teratur tersebut menyebabkan porositas dan drainase kurang baik sehingga tumbuh-tumbuhan sukar mengambil air.
• Daerah padang rumput yang relatif basah, seperti di Amerika Utara, rumputnya mencapai 3 m, misalnya: rumput-rumput bluestem dan India Grasses.
• Beberapa jenis rumput mempunyai ketinggian hingga 3,5 m
• Memiliki pohon yang khas, yaitu akasia
• Tanah pada umumnya tidak mampu menyimpan air yang disebabkan oleh rendahnya tingkat porositas tanah dan sistem penyaluran yang kurang baik sehingga menyebabkan rumput-rumput tumbuh dengan subur.
• Daerah padang rumput terbentang dari daerah tropika sampai ke daerah subtropika

Secara geografi, penyebaran padang rumput ini terbagi di berbagai wilayah. Penyebaran yang berada di daerah tropis seperti di Afrika, Australia Utara dan Amerika Selatan. Sedangkan untuk penyebaran di daerah yang beriklim yaitu terutama terdapat di Rusia Selatan dan Siberia, selain itu juga di bagian barat Amerika Utara, Argentina, Australia dan Eropa. Padang rumput ini biasanya dihuni oleh hewan herbivora dan karnivora seperti rusa, kerbau, kanguru, harimau, dan sebagainya
1. Stepa
Stepa adalah suatu dataran tanpa pohon (kecuali yang berada di dekat sungai atau danau), stepa umumnya ditumbuhi rumput pendek dan Stepa dapat berupa semi-gurun, atau ditutupi oleh rumput atau semak, atau keduanya, tergantung dari musim dan garis lintang. contoh NTT
2.Sabana / Savanna
Savana merupakan bioma dari tropis. Terletak di daerah yang luas di Afrika, Asia, Australia dan Amerika Selatan. Di dalamnya tumbuhan serba dominan. Namun demikian, tidak kekurangan pohon, meskipun ini tersebar. Dasar savana yang berlempung dan tahan air. Karakteristik sendiri bioma ini adalah alternasi dari rumput lembab dan kekeringan. rumput kering sangat tandus, karakteristik yang memfasilitasi penyebaran api
3.Prairi / Prairie
Prairi adalah padang rumput yang wilayah tanahnya datar, landai, atau berbukit terutama ditutupi oleh rumput tinggi dan tidak banyak pohon. Perintis yang pertama kali melihat padang rumput datar Amerika Tengah Barat disebut mereka 'laut rumput. "
4.Pampa
Pampa adalah bioma padang rumput yang memliki bentuk datar, Hal ini ditemukan terutama di Argentina dan meluas ke Uruguay. Kata Pampa berasal dari kata India Guaran tingkat polos. Suhu rata-rata di Pampa adalah 18 ° C. Pampas memiliki 'matahari tinggi' atau musim kering di musim panas, yang di belahan bumi selatan pada bulan Desember. Angin berhembus sebagian besar waktu. Iklim di Pampas yang lembab dan hangat

Data luas padang rumput penggembalaan sampai saat ini belum dapat dipastikan. Diperkirakan luas padang rumput penggembalaan di Indonesia, termasuk alang-alang mencapai 8.244.000 ha (Peta Penggunaan Tanah Indonesia, 1972, dalam Sukardi dan Suhardjo, 1993) yang tersebar di Sumatera (3.125.000 ha), Kalimantan (2.039.000 ha), Sulawesi (1.294.000 ha), NTB (231.000 ha), NTT (625. 000 ha), Maluku (437.000 ha) dan lainnya (493.000 ha). Data lainnya melaporkan bahwa total luas padang rumput penggembalaan adalah 10.275.300 ha (laporan studi RePPPROT, 1990 dalam Pasandaran et al., 1993) yang terdapat di Jawa (1,58 persen), Sumatera (26,85 persen), Kalimantan (13,86 persen), Sulawesi (10,84 persen), dan lainnya (47,85 persen). Padang rumput di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi adalah padang alang-alang, sedangkan di Nusa Tenggara didominasi oleh rumput yang mampu hidup pada kondisi berbatuan. Di Nusa Tenggara, vegetasi padang rumput penggembalaan cenderung hanya tumbuh pada saat musim hujan, selama 3-4 bulan dengan curah hujan rendah. Pada musim kemarau vegetasi hijauan mati dan mengering dan sering terjadi kebakaran (Gambar 1).
Hasil penelitian padang pengembalaan di NTT menunjukkan bahwa perbandingan antara jenis tumbuhan yang disukai dan kurang disukai ternak adalah masing-masing 77,57 dan 22,43 persen. Produksi bahan hijauan segar berkisar antara 221 sampai 1100 gr/m2 dengan rata-rata 650 gr/m2. Padang savana di NTT memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, produksi bahan segar relatif rendah dan kualitas padang savana rendah. Hal ini terjadi akibat kerusakan padang savana oleh aktivitas manusia yang meliputi pemanfaatan yang tidak terencana dan pembakaran padang rumput penggembalaan pada musim kering (Robinson, 1995).
Perkembangan luasan areal padang rumput penggembalaan mengalami penurunan karena beberapa hal, diantaranya (a) terdesaknya padang rumput penggembalaan akibat bersaingnya dengan penggunaan lahan pertanian dan (b) kerusakan akibat tanaman pengganggu (gulma). Kondisi demikian berdampak terhadap penurunan daya dukung pakan dan prospek pengembangan peternakan jangka panjang. Adapun pengaruh nya terhadap populasi ternak antara lain :
Tabel 2. Perkembangan populasi ternak ruminansia di indonesia (000 ekor)
Pengembangan padang rumput penggembalaan maupun pengembangan hijauan sebagai daya dukung pengembangan peternakan masih sangat sulit diimplementasikan karena beberapa faktor penghambat (Abdullah et al., 2005), diantaranya :
1. Keterbatasan areal pengembangan karena kompetisi lahan yang tersedia dengan pengembangan tanaman perkebunan, kehutanan, maupun tanaman pangan yang lebih diprioritaskan.
2. Berkurangnya areal padang rumput penggembalaan akibat kebutuhan pengembangan kawasan industri maupun perumahan penduduk.
3. Masih rendahnya dinamika bisnis hijauan pakan sehingga tidak mendorong
pengembangan sentra-sentra produksi hijauan.
4. Ketidakperdulian produsen dan konsumen hijauan pakan terhadap kualitas dan anggapan bahwa tanaman pakan ternak tidak penting, sehingga bibit hijauan juga dianggap tidak penting.
5. Kesulitan memperoleh jenis dan benih tanaman pakan unggul yang memiliki tingkat produktivitas tinggi (kuantitas dan kualitas) dengan daya adaptasi terhadap lingkungan cukup baik untuk skala pengembangan besar.

Di samping perubahan alih fungsi lahan, juga dilaporkan terjadinya perluasan lahan kritis termasuk areal padang rumput penggembalaan. Perluasan lahan kritis tidak dapat dilepaskan dari persoalan yang terjadi dalam masyarakat seperti tekanan yang tinggi akan kebutuhan lahan, perladangan berpindah, penggembalaan yang berlebihan, pembakaran yang tidak terkendali, dan illegal logging sehingga pemecahannya juga tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan masyarakat sendiri (Aswandi, 2008).
Tabel 3. Distribusi perubahan pemanfaatan lahan di indonesia
Kerusakan akibat faktor internal adalah kerusakan yang terjadi di dalam padang rumput penggembalaan itu sendiri yang terjadi akibat dinamika di alam yang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diingkar. Kerusakan padang rumput penggembalaan diakibatkan oleh perkembangan tanaman liar yang mendominasi areal yang merusak perkembangan tanaman hijauan yang dapat dimanfaatkan untuk konsumsi ternak. Salah satu tanaman tersebut adalah Kirinyuh (Bahasa Sunda) atau Chromolaena odorata yang merupakan salah satu gulma padang rumput penggembalaan yang dominan di Indonesia
Kirinyuh digolongkan sebagai gulma yang sangat merugikan karena: (a) dapat mengurangi kapasitas tampung padang rumput penggembalaan, (b) dapat menyebabkan keracunan, bahkan mungkin sekali kematian ternak, (c) menimbulkan persaingan dengan rumput pakan, sehingga mengurangi produktivitas padang rumput, dan (d) dapat menimbulkan bahaya kebakaran terutama pada musim kemarau (Prawiradiputra, 2007). Gulma tersebut harus diberantas untuk mempertahankan vegetasi yang disukai ternak di padang rumput penggembalaan
Penyebab kerusakan lain adalah faktor pengelolaan padang rumput penggembalaan yang menghambat pertumbuhan jenis tanaman di padang rumput penggembalaan. Pelaksanaan penggembalaan berat yang tidak terkontrol akan merugikan, dan mengakibatkan areal pangonan tumbuh rumput liar (weeds), bahkan bisa mengakibatkan erosi (Kanisius, 1980)
Secara nasional areal padang rumput penggembalaan mengalami penyempitan areal yang cukup tinggi yakni menurun sekitar 64,95 persen pada tahun 1973 – 2003 (8.772.600 ha menjadi 3.074.409 ha) (Tabel 4), hal tersebut akibat beberapa faktor, antara lain faktor terbesar adalah karena alih fungsi lahan untuk pertanian dan perumahan, di samping kerusakan padang rumput penggembalaan sendiri
Areal padang rumput penggembalaan yang tertinggal cenderung terdapat di luar Pulau Jawa dengan potensi yang cukup luas, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Kondisi ini terjadi karena pengaruh perkembangan penduduk yang lebih memprioritaskan pengembangan tanaman pangan, perkebunan, dan permukiman penduduk. Padang rumput penggembalaan yang ada saat ini adalah padang rumput penggembalaan tanpa vegetasi alang-alang walaupun secara umum mengalami penurunan, khususnya di Provinsi Lampung, Sumut, Jabar, dan kalbar yang terjadi penurunannya sangat tajam, tetapi sebaliknya di Provinsi NTT (Gambar 4)
Sebaran populasi sapi potong terkonsentrasi di Provinsi Jatim, Jateng, dan bahkan NTT yang memiliki areal padang rumput penggembalaan terluas dengan populasi peringkat ke 6. Populasi sapi potong yang tinggi di Pulau Jawa disebabkan beberapa faktor :
(a) Populasi ternak mencakup bukan hanya pola pembibitan saja tetapi juga telah berkembang pola penggemukan dengan pengadaan sapi bakalan (muda) dari luar Jawa untuk dipelihara pada periode tertentu yang kemudian dipotong.
(b) Ketersediaan limbah pertanian (tanaman pangan dan perkebunan) sebagai sumber pakan lokal yang murah dan mudah diperoleh.
(c) Kepadatan penduduk mendorong peluang berusaha ternak untuk memenuhi ekonomi keluarga, sebaliknya di luar Pulau Jawa populasi penduduk relatif jarang.
(d) Faktor keterampilan peternak serta kemudahan dalam akses teknologi untuk pengembangan peternakan oleh peternak di Pulau Jawa.
(e) Kedekatan wilayah dengan daerah konsumen sehingga memiliki peluang lebih efisien serta mudah dalam pemasaran produk.


Perluasan areal padang rumput penggembalaan dilakukan guna meningkatkan produksi hijauan makanan ternak berkualitas. Perluasan tersebut dikhususkan pada wilayah-wilayah potensial sebagai kantong ternak ruminansia khususnya pola usaha pembibitan (produksi anak). Hal tersebut ditempuh karena usaha pola pembibitan memerlukan manajemen ekonomis dan salah satunya adalah menekan biaya usaha melalui pola penggembalaan (grazing). Perluasan areal padang rumput penggembalaan merupakan salah satu tugas dan fungsi Direktorat Perluasan Areal, khususnya di bidang peternakan. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan hijauan makanan ternak pada kawasan peternakan/sentra produksi ternak (Direktorat Perluasan Areal, 2009).
Pengelolaan padang rumput penggembalaan merupakan hal penting khususnya pengaturan penggembalaan ternak (ternak ruminansia) yang menggunakan padang rumput penggembalaan, dengan landasan sesuai kapasitas tampung (carrying capacity) yang disesuaikan dengan vegetasi hijauan yang tumbuh di padang pengembalaan. Hal tersebut tidak terlepas dari status padang rumput penggembalaan (ringan, sedang, dan berat) disesuaikan dengan kapasitas tampung dan vegetasi tersedia. Tatalaksana padang rumput penggembalaan antara lain meliputi pembenihan baru, pemupukan, pemberantasan gulma, hama/penyakit, pembakaran, penggunaan sumber air, pepohonan untuk naungan, pemberian masa istirahat penggembalaan dan pengaturan jumlah ternak yang digembalakan (Marhadi, 2009)
Padang rumput penggembalaan dengan sistem penggembalaan secara kontinu setelah 3 (tiga) tahun perlu diperbaharui
Pada padang rumput penggembalaan bergilir jangka panjang (6 – 9 tahun) dapat dilakukan 2 - 3 kali renovasi
Cara renovasi padang pengembalaan yang direkomendasikan meliputi :
1. Renovasi serentak
2. Renovasi bertahap
Peremajaan atau perbaikan padang rumput penggembalaan harus mempertimbangkan dua aspek yakni tatalaksana ternak yang digembalakan harus diperhatikan hubungannya dengan perbaikan tatalaksana padang rumput penggembalaan. Peremajaan padang rumput penggembalaan meliputi pengolahan anah, pembenihan baru, pemupukan, pemberantasan invasi tumbuhan pengganggu, pemberantasan hama penyakit, penggunaan sumber air, makanan pelengkap dan penanaman pohon-pohon (McIllroy, 1976)
TERIMA KASIH
ATAS PERHATIAN NYA

MAAF JIKA ADA SALAH DALAM
PENYAMPAIAN
Full transcript