Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

PUSAT REHABILITASI SOSIAL ANAK PELAKU KRIMINALITAS DI KOTA

No description
by

Ayu Dyah Permatasari

on 8 August 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of PUSAT REHABILITASI SOSIAL ANAK PELAKU KRIMINALITAS DI KOTA

BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
BAB 3
METODE PERANCANGAN
BAB 4
HASIL & KESIMPULAN
PUSAT REHABILITASI SOSIAL ANAK PELAKU KRIMINALITAS DI KOTA MALANG DENGAN PENDEKATAN FAKTOR DEPRESI
Dosen Pembimbing 1: Ir. Rinawati P Handajani, MT
Dosen Pembimbing 2: Subhan Ramdlani, ST, MT
Dosen Penguji 1:
Dosen Penguji 2:

IDENTIFIKASI MASALAH
RUMUSAH MASALAH
Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama sebagai propinsi di Indonesia dengan angka kriminalitas paling tinggi di sepanjang tahun 2013 (Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2013).

Jawa Timur hanya memiliki satu lembaga permasyarakatan khusus anak untuk menangani kasus kriminalitas yang dilakukan oleh anak, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Blitar. LAPAS Anak Klas II A Blitar memiliki kapasitas hingga 400 orang, sedangkan yang saat ini terisi sekitar 200 orang.
Lembaga Pemasyarakatan Anak adalah sebuah unit pelaksana teknis dari Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur sebagai tempat untuk membina anak-anak yang berkonflik dengan hukum agar diberi kehidupan dan pendidikan yang layak.
LAPAS Anak Klas II A Blitar masih belum memenuhi standar pelayanan umum dari Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tahun 2003 tentang Pola Unit Bangunan Pelaksana Teknik Kemasyakatan yang menyatakan bahwa lembaga pemasyarakatan secara umum harus memiliki fasilitas konseling atau rehabilitasi sosial yang ditangani langsung pekerja sosial. Lapas Anak Klas II A Blitar tidak menyediakan fasilitas rehabilitasi dan pekerja sosial untuk menangani dan membantu anak didik lapas dalam hal meningkatkan nilai-nilai sosial dan masalah perilaku maupun kejiwaan. Permasalahan utama pada anak didik lapas bahwa banyaknya anak didik lapas mengalami masalah psikologis seperti depresi (Sholichatun, 2012).
lebih dari 150 anak di Jawa Timur yang bermasalah dengan hukum tidak diberikan pelayanan hukum yang layak, mereka tidak ditempatkan di lapas khusus anak, melainkan di lapas orang dewasa. Pusat rehabilitasi sosial untuk anak pelaku kriminal di Kota Malang diharapkan mampu menampung anak-anak yang tidak ditempatkan di LAPAS khusus anak.
1. Fisik anak-anak yang lemah dan rentan terkena penyakit dengan kondisi lingkungan lapas orang dewasa yang tidak higienis.
2. Anak-anak menjadi korban bullying dan terjadi kekerasan fisik di sel-sel yang bercampur dengan orang dewasa.
3. Hilangnya rasa aman, karena merasa terus menerus diawasi.
4. Hilangnya rasa kasih sayang dan rasa aman bersama keluarga.
5. Terbatasnya komunikasi dengan siapapun.
6. Hilangnya harga diri.
7. Hilangnya rasa percaya diri.

Pusat rehabilitasi sosial adalah fasilitas khusus yang sangat berperan penting untuk memperbaiki perilaku menyimpang anak-anak dan menangani masalah-masalah psikologis mereka. Anak-anak yang berada di lapas hanya diberikan fasilitas pendidikan dan pembinaan agar mereka suatu hari siap untuk berhadapan dengan masyarakat. Padahal, nantinya anak-anak tersebut dikembalikan kepada kedua orang tua atau keluarga mereka, oleh karena itu anak-anak sangat membutuhkan bantuan dan diwajibkan untuk mendapatkan bimbingan konseling secara rutin oleh pekerja sosial dengan perlakuan-perlakuan khusus, mengingat anak-anak berperilaku menyimpang tidak dapat diperlakukan sama
Sedangkan orientasi LAPAS sendiri lebih kepada memberikan sebuah punishment atau hukuman agar anak-anak menjadi jera dan hal tersebut tidak membangun mental, penamaan atau branding dari LAPAS Anak sendiri dapat mempengaruhi psikolog dan mental anak-anak setelah mereka keluar dari LAPAS, bahwa masyarakat pasti akan berpandangan negatif terhadap anak-anak yang dipenjara, padahal tujuan dari LAPAS Anak sendiri adalah agar anak-anak dapat diterima oleh masyarakat setelah mereka keluar dari LAPAS.
Secara khusus, penyebab kenakalan terdiri dari tiga faktor, yaitu faktor individu, faktor keluarga dan faktor masyarakat (Muhidin, 1997). Faktor-faktor tersebut menyebabkan anak mengalami depresi yang mengakibatkan mereka berperilaku agresif secara negatif yang tercermin dalam tindakan kriminal yang mereka lakukan. Jika diteliti secara rinci, penyebab kejahatan berasal dari pengalaman setres yang anak-anak alami. Sehingga fasilitas rehabilitasi sosial setidaknya dirancang dengan pendekatan faktor depresi mereka, yang merupakan faktor utama mengapa mereka melakukan tindak kejahatan.
Menjadi narapidana adalah stressor kehidupan yang berat bagi pelakunya. Perasaan sedih pada narapidana setelah menerima hukuman serta berbagai hal lainnya seperti rasa bersalah, hilangnya kebebasan, perasaan malu, sangsi ekonomi dan sosial serta berbagai hal lainnya serta kehidupan dalam penjara yang penuh dengan tekanan psikologis dapat memperburuk dan mengintensifkan stressor sebelumnya. Keadaan tersebut bukan saja mempengaruhi penyesuaian fisik tetapi juga psikologis individu (Morgan, 1981; Gussak, 2009).
43 andikpas baru yang memiliki tingkatan depresi yang berbeda beda. Subjek memiliki tingkat depresi tinggi sebanyak 12 orang (28 %), memiliki tingkat depresi sedang sebanyak 17 orang (40 %), dan yang memiliki tingkat depresi rendah adalah 14 orang (32 %) (Wardhana dan Istiani, 2012).
Empat subyek yang dijadikan sample menunjukkan bahwa subyek mengalami depresi yang berbeda-beda. Tiga dari empat subyek mengalami depresi karena jauh dari orang tua, sedangkan dua subyek lainnya mengalami depresi karena kegiatan di LAPAS yang membosankan (Sholichatun, 2011).
1. Sekitar lebih dari 100 anak di Jawa Timur yang bermasalah dengan hukum tidak diberikan pelayanan hukum yang layak, ]mereka tidak ditempatkan di lapas khusus anak, melainkan di lapas orang dewasa.

2. Adanya kebutuhan bimbingan konseling dalam bentuk rehabilitasi oleh pekerja sosial untuk anak didik lapas sebagai sebuah tuntutan dari adanya pedoman berupa peraturan perundang undangan dan keputusan kementerian hukum dan HAM bahwa pusat rehabilitasi sosial dibutuhkan oleh anak-anak yang berkonflik dengan hukum.
3. Penamaan atau branding LAPAS membuat anak-anak merasa minder dan rendah diri karena memiliki arti yang negatif di mata masyarakat.

4. Faktor utama yang melatar belakangi anak-anak melakukan kriminal karena faktor ekonomi dan berasal dari keluarga broken home.
Keadaan ini yang membuat anak-anak mengalami depresi sehingga membuat mereka bertindak agresif yang berwujud melakukan kejahatan.

5. Perlunya pendekatan faktor depresi anak dalam perancangan pusat rehabilitasi sosial untuk anak pelaku kriminalitas di Kota Malang.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dirumuskan masalah yaitu
bagaimana rancangan pusat rehabilitasi sosial untuk anak pelaku kriminalitas di Kota Malang dengan pendekatan faktor depresi sehingga mampu meningkatkan kualitas ruang?
BATASAN MASALAH
Penelitian difokuskan pada kajian
faktor depresi anak yang ada di Lapas Anak Klas II Blitar dan faktor depresi sebagai penyebab anak melakukan tindakan kriminal di Jawa Timur sebagai pendekatan dalam merancang pusat rehabilitasi sosial untuk anak pelaku kriminalitas di Kota Malang yang berfokus pada kualitas ruang konseling individu, ruang konseling kelompok, ruang kelas baca dan tulis dan kamar anak dengan pendekatan faktor depresi.
Full transcript