Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau dan Jambi

No description
by

Dika Prasetyo

on 5 May 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau dan Jambi

Pemerintahan
Kesultanan Jambi dipimpin oleh Raja yang bergelar SULTAN. Pada tahun 1877-1879 kediaman Sultan Jambi berada di Dusun Tengah (sekarang bernama desa Rambutan Masam, Kecamatana Muara Tembesi), Kabupaten Batanghari. Raja ini dipilih dari perwakilan empat bangsawan (Suku) yaitu : Suku Kraton, Kedipan, Perban dan Raja Empat Puluh. Selain memilih raja keempat suku tersebut juga memilih Pangeran Ratu, yang mengendalikan jalannya roda pemerintahan sehari-hari. Dalam menjalankan pemerintahan Pangeran Ratu dibantu oleh para menteri dan dewan penasehat yang anggotanya berasal dari keluarga bangsawan. Sultan berfungsi sebagai pemersatu dan mewakili negara bagi dunia luar.

Ekonomi
Perdagangan lada merupakan komoditas yang sangat menguntungkan. Pada mulanya pihak kesultanan (yang juga bertindak sebagai pengumpul dan penjual) melakukan perdagangan dengan orang-orang Portugis, perusahaan dagang Inggris dan juga Hindia Timur Belanda. Para perusahaan dagang tersebut juga melibatkan orang-orang Cina, Melayu, Bugis dan Jawa. Dari monopoli perdagangan dan bea Impor Ekspor inilah para Sultan Jambi menjadi kaya dan membiayai perjalanan Pemerintahannya. Dengan posisi demikian Jambi ikut berperan aktif dalam hubungan Internasional.

Kerajaan Islam di Riau
Kerajaan-kerajaan Islam yang disebut-sebut dalam berita Tome` Pires (1512-1515) ialah Siak, Kampar, dan Indragiri berada di daerah Riau. Pengaruh Islam yang sampai ke daerah-daerah itu mungkin akibat perkembangan kerajaan Islam Samudera Pasai dan Malaka. Jika kita dasarkan pada berita Tome` Pires , ketiga kerajaan itu melakukan perdagangan dengan Malaka.

Kerajaan Jambi
Kesultanan Jambi adalah Kerajaan Islam yang berkedudukan di Provinsi Jambi sekarang. Kerajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan Kerajaan - Kerajaan Minangkabau seperti Siguntur dan Lima Kota dii utara. Di selatan kerajaan ini berbatasan dengan Kesultanan Palembang (kemudian Keresidenan Palembang). Kesultanan Jambi juga mengendalikan Lembah Kerinci, meskipun pada masa akhir kekuasaannya, kekuasaan nominal tidak lagi diperdulikan. Ibukota Kesultanan Jambi terletak di Kota Jambi, yang terletak di pinggir sungai Batanghari.

Oleh Kelompok 2 :
Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau dan Jambi
Politik :
Ada dua kepala pemerintahan di Kesultanan Riau-Lingga. Pertama adalah sultan (secara de jure) yang berkedudukan di Daik (Lingga) kemudian pindah ke Pulau Penyengat. Kedua adalah Yang Dipertuan Muda di Riau yang berkedudukan di Pulau Penyengat. Yang Dipertuan Muda di Riau merupakan kedudukan yang menjadi hak turun temurun bagi bangsawan Bugis di Kesultanan Riau-Lingga. Yang Dipertuan Muda di Riau mempunyai hak prerogatif (de facto) dan tidak jarang mampu memainkan peran Sultan. Kedudukan Yang Dipertuan Muda di Riau berada di bawah kedudukan Sultan. Akan tetapi, pada prakteknya fungsi Yang Dipertuan Muda di Riau ini mampu menggantikan posisi Sultan. Sebut saja Yang Dipertuan Muda di Riau Raja Jaafar yang menjadi pemangku jabatan Sultan ketika Kesultanan Riau-Lingga diperintah oleh Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah

Athaya Salsabila (07)
Bayu Setyawan (08)
Destia FK (09)
Desy IK (10)
Devi Amara (11)
Dika Prasetyo (12)
kehidupan sosial budaya di kerajaan melayu riau/Kerajaan riau menyerupai kerajaan Sriwijaya para bangsawan nya memeluk agama buddha dan rakyatnya memiliki kepercayaan tradisional. Kerajaan melayu riau, memiliki penduduk yang religius dan memiliki seni yang tinggi. Terdapat beberapa kebudayaan yang ada di kerajaan ini , yaitu :
1. Prasasti Grahi
2. Prasasti Padang Roco
3. Prasasti Suruaso
4. Arca Amoghapasa.

Sosial Budaya
Dilihat dari komposisi penduduk provinsi Riau yang penuh kemajemukan dengan latar belakang sosial budaya, bahasa, dan agama yang berbeda, pada dasarnya merupakan aset bagi daerah Riau sendiri. Agama-agama yang dianut penduduk provinsi ini sangat beragam, diantaranya Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Berbagai sarana dan prasarana peribadatan bagi masyarakat Riau sudah terdapat di provinsi ini, seperti Mesjid Agung An-nur (Mesjid Raya di Pekanbaru), Masjid Agung Pasir Pengaraian, dan Masjid Raya Rengat bagi umat muslim. Bagi umat Katolik/Protestan diantaranya terdapat Gereja Santa Maria A Fatima, Gereja HKBP di Pekanbaru, GBI Dumai, Gereja Kalam Kudus di Selatpanjang, Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus di Bagansiapiapi, Gereja Methodist (Jemaat Wesley) di Bagansiapiapi.[butuh rujukan] Bagi umat Buddha/Tridarma ada Vihara Dharma Loka dan Vihara Cetia Tri Ratna di Pekanbaru, Vihara Sejahtera Sakti di Selatpanjang, Kelenteng Ing Hok Kiong, Vihara Buddha Sasana, Vihara Buddha Sakyamuni di Bagansiapiapi. Bagi Umat Hindu adalah Pura Agung Jagatnatha di Pekanbaru.[butuh rujukan]

AGAMA
Wilayah Kesultanan Riau-Lingga merupakan daerah yang potensial sebagai bandar perdagangan. MInimal ada dua komoditi yang berasal dari Kesultanan Riau-Lingga, yaitu rempah-rempah (terutama lada) dan timah. Belanda telah menguasai sektor perdagangan (perekonomian) di Kesultanan Riau-Lingga.
Kekuatan Belanda mulai melemah ketika VOC dinyatakan bangkrut pada 1799. Mulai saat itulah Inggris mengambil alih peran Belanda di Riau. Kebetulan pula Inggris melakukan cara moderat dalam memperlakukan Kesultanan Johor, Riau-Lingga, dan Pahang di Riau. Selain menguasai Malaka pada 1795, Inggris juga mengakui Riau sebagai kerajaan merdeka. Inggris juga membebaskan para pedagang di Riau (terutama pedagang lada) untuk melakukan perdagangan dengan Inggris tanpa adanya ikatan atau perjanjian yang merugikan.

EKONOMI
Full transcript