Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Tutorial A-14

Diabetes Melitus
by

Tara Langit Biru D

on 27 April 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Tutorial A-14

Diabetes Melitus
Pemeriksaan Urin: Protein Urin
Komplikasi
1. Komplikasi akut
a. ketoasidosis
b. hypoglikemia
c. hyperosmosis non-ketosis
2. Komplikasi kronis
a. Microvascular : Retinopathy, Nephropathy, Neuropathy
b. Macrovascular : Coronary artery disease, Stroke

Penatalaksanaan
Kadar Glukosa Darah
Diagnosis DM harus didasarkan pada pemeriksaan konsentrasi glukosa darah. Dalam menentukan diagnosis harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai.
Ada perbedaan antara uji diagnostik Dm dan pemeriksaan penyaringan.
Uji diagnostik DM : dilakukan pada mereka yang meunjukkan gejala/ tanda DM (3P)

P. Penyaring : mengidentifikasi mereka yang tidak bergejala, namun mempunyai f. risiko DM.

HbA1C
Tutorial A-14
Thank you!
Skenario
Seorang laki-laki berusia 58 tahun, datang ke praktek dokter dengan keluhan utama sering merasa haus, sering berkemih dan berat badan menurun 5 kg sejak 1 bulan ini
Pada pemeriksaan fisik:
BB 80 kg, TB 165 cm, LP 95 cm.
Tanda-tanda vital: tekanan darah: 100/70 mmHg
denyut nadi 96 x/menit. Tanda vital yang lain dalam batas normal.
Pemeriksaan laboratorium:
Darah rutin: Normal
Urin rutin: reduksi urin:++, protein urin: negatif, bilirubin: negatif, sedimen urin: negatif
Gula darah puasa 150 mg% dan 2 jam sesudah makan 350 mg%, HbA1C 9,5
Fungsi ginjal: Normal
Setelah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, kemudian dokter mendiagnosis penyakit pasien tersebut dan memberikan obat
Merupakan suatu penyakit multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.
Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah

Menurut ADA (American Diabetes Association), klasifikasi diabetes adalah sbb:
1. Diabetes Melitus tipe 1
Sering disebut “juvenile onset” atau “insulin dependent”

Karakteristiknya adalah insulin yang beredar dalam darah sangat rendah, kadar glukagon meningkat, dan sel beta pankreas gagal merespon stimulus yang semestinya meningkatkan sekresi insulin
Definisi dan Klasifiksi
2. Diabetes Melitus tipe 2
Tidak ada hubungannya dengan HLA, virus, atau autoimunitas

DM tipe 2 ini bervariasi mulai dari predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif, sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin

3. Gestational Diabetes
Intoleransi glukosa dengan onset pada waktu kehamilan

Merupakan komplikasi sekitar 1-14% kehamilan

Defisiensi Insulin

Glucagon

Gluconeogenesis

Ketogenesis

Ketonemia

pH

Asidosis

- Koma
- Kematian

Patofisiologi
Diabetes Melitus tipe 1
*Kronik hyperglikemi dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
*Penyebab :
1. Defek di sekresi insulin ( disfungsi beta cell )
2. Resistensi insulin

Patofisiologi
Diabetes Melitus tipe 2
Cara pelaksanaan TTGO (WHO 1994) :
3 (tiga) hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari (dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa.
Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.
Diperiksa konsentrasi glukosa darah puasa.
Diberikan glukosa 75 gram (dewasa) atau 1,75 gram/KgBB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 mL dan minum dalam waktu 5 menit.
Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai.
Diperiksa glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa.
Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.

HbA1C adalah suatu pemeriksaan darah yang penting untuk mengevaluasi pengendalian gula darah.
Hb adalah salah satu substansi sel darah merah. Saat Hb dilepas dari sum-sum tulang, Hb tidak mengandung glukosa. Selama 120 hari dalam sel darah merah, Hb mengalami glikosilasi membentuk glikohemoglobin. Oleh karena jalur masuk glukosa ke dalam eritrosit tidak dipengaruhi insulin, kecepatan masuk glukosa berkaitan dengan Hb bergantung pada glukosa darah.

Reaksi glikosilasi adalah irreversible, dan kadar HbA1c yang ada di dalam darah memberikan informasi indeks glukosa darah. Ketika gula darah tidak terkontrol (KGD ↑) maka gula darah berikatan dengan Hb. Maka gula darah dapat ditentukan dengan mengukur kadar HbA1c

Pemeriksaan Urin dengan Metode Reduksi
Tes reduksi urin adalah pemeriksaan pada sample urine untuk mengetahui ada atau tidaknya glukosa dalam urine secara kuantitatif.
Prinsip Teori
Pemeriksaan glukosa urine dengan tes reduksi urine, memanfaatkan sifat glukosa sebagai pereduksi. Zat yang paling sering digunakan untuk menyatakan adanya reduksi adalah garam cupri. Seperti fehling dan benedict.
Glukosa dan bahan-bahan pereduksi dalam urin akan mereduksi cupri sulfat yang berwarna biru menjadi cupri okside yang berwarna merah dalam suasana alkali. Diantara reagensia yang mengandung garam cupri, benedictlah yang paling baik digunakan karena memperlihatkan perubahan warna yang jelas.

Prosedur pemeriksaan
1. Sediakan 2 tabung reaksi
a. tabung I diisi dengan urine saja
b. Tabung II
- Benedict : diisi 5 ml Benedict dan 8 tetes urin
- Fehling : diisi Fehling A dan Fehling B masing masing 2 ml dan 1 ml urine
2. Kemudian panaskan dengan api kecil sampai mendidih. Setelah dipanaskan, dikocok agar reaksinya merata.
3. Amatilah apakah terdapat keruhan atau tidak.
Hal yang perlu diperhatikan!!
Tes reduksi urine ini tidak spesifik karena terdapatnya zat lain pada urine yang juga mempunyai sifat pereduksi seperi monosakarida (galaktosa, fruktosa, pentosa), disakarida (laktosa) dan beberapa zat bukan gula (seperti asam homogentisat, salisilat kadar tinggi dan vitamin C). Oleh karena itu sebelum melakukan pemeriksaan pasien dilarang meminun Vit C, salisilat dan streptomisin.

Carik celup
Carik plastik tipis kaku yang pada sebelah sisinya dilekatkan 1-9 kertas isap yang masing-masing mengandung reagen yang spesifik.
Hasil: (+) biru kehijauan
(-) tidak berubah warna

Asam sulfosalisilat dan Asam asetat
Hasil:
Pemeriksaan Urin: Bilirubin
Merupakan produk limbah dari sel darah merah yang dibuang dari sirkulasi oleh hati. Zat ini menjadi bagian dari cairan empedu yang disekresikan ke usus untuk membantu pencernaan makanan.
Bilirubin tidak hadir dalam urine normal tetapi yang biasanya terdapat di urine adalah urobilin. Adanya birilubin 0,05-1mg/dl dalam urin akan memberikan hasil (+) positif. Keadaan ini dapat menunjukkan kelainan hati, saluran empedu atau penyakit tertentu seperti hepatitis
Pemeriksaan bilirubin berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam menimbulkan warna biru/ ungu tua. Garam diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toulene sulfonat, sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfosalisilat

Pemeriksaan Urin: Sedimen Urin
Pemeriksaan sedimen urin diperlukan untuk mengamati sel dan benda berbentuk partikel lainnya. Banyak macam unsur mikroskopik dapat ditemukan baik yang ada kaitannya dengan infeksi (bakteri, virus) maupun yang bukan karena infeksi misalnya pendarahan, disfungsi endotel dan gagal ginjal.
Metode pemeriksaan mikroskopik sedimen urine lebih dianjurkan untuk dikerjakan dengan pengecatan Stenheimer-Malbin. Dengan pewarnaan ini, unsur-unsur mikroskopik yang sukar terlihat pada sediaan natif dapat terlihat jelas
Hasil
Pencegahan Primer
Semua aktivitas yang ditujukan untuk mencegah timbulnya hiperglikemia pada individu yang berisiko untuk jadi diabetes atau pada populasi umum
Pencegahan Sekunder
Menemukan pengidap DM sedini mungkin, misalnya dengan tes penyaringan terutama pada populasi risiko tinggi. Dengan demikian pasien diabetes yang sebelumnya tidak terdiagnosis dapat terjaring, sehingga dapat dilakukan upaya untuk mencegah komplikasi atau kalaupun sudah ada komplikasi masih reversibel
Pencegahan Tersier
Semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan akibat komplikasi itu. Usaha ini meliputi:
1.Mencegah timbulnya komplikasi
2. Mencegah progresi dari pada komplikasi itu supaya tidak menjadi kegagalan organ
3. Mencegah kecacatan tubuh

Pencegahan
Menurut WHO tahun 1994, upaya pencegahan pada diabetes ada tiga tahap, yaitu:
Kesimpulan
Seorang pria berusia 58 tahun menderita Diabetes Melitus tipe 2 dan obesitas tingkat 1
Full transcript