Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Untitled Prezi

No description
by

iko maulana

on 15 August 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Untitled Prezi

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
BADAN PENGEMBANGAN SDM PERHUBUNGAN
SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN

SKRIPSI
oleh :
IKO MAULANA ARSYAD
PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA IV
JAKARTA
2013

“SINKRONISASI WAKTU LAYAR DENGAN EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI PENGGUNAAN BOIL OFF GAS UNTUK PENGHEMATAN KONSUMSI BAHAN BAKAR FO DI ST.DWIPUTRA”
LATAR BELAKANG
Indonesia sebagai negara produsen serta negara peng
ekspor
utama sumber daya alam LNG ke negara lain dengan proyek
liner
misal nya Jepang. Pelaksanakan pengangkutan LNG menggunakan kapal curah gas alam ( LNG Carrier )
Konstruksi dari pengangkutan LNG Carrier menghasilkan Uap muatan LNG secara terus - menerus yang dapat digunakan sebagai bahan bakar yang disebut
Boil off Gas
Penanganan Boil off Gas yang tidak benar dapat berbahaya namun dengan penanganan yang tepat maka dapat melaksanakan penghematan biaya operasional. Namun dari kejadian yang sering penulis alami, penanganan Boil off Gas tidaklah optimal sehingga berakibat pada tidak minimnya penggunaan FO yang berdampak pada tingginya biaya operasional kapal.

Adanya waktu layar yang berbeda – beda pada jarak tempuh layar yang sama pada ST.DWIPUTRA dengan jalur yang tetap. Yang menyebabkan adanya penggunaan bahan bakar FO berlebih.
Kurang optimalnya penanganan dan pemanfaatan Boil off gas sebagai sumber daya utama penggerak turbin pada saat pelayaran yang menyebabkan kurang optimalnya peminimalisiran konsumsi bahan bakar FO yang dapat menjadi hemat biaya operasional pengangkutan LNG lintas laut
Kurang sinkron nya antara perencanaan waktu layar dengan pemanfaatan Boil off gas sebagai solusi masalah penghematan konsumsi bahan bakar FO di kapal.
Adanya pembatasan penggunaan boil off gas rate dari muatan LNG sebagai sumber daya penggerak turbin.
Polusi gas buang permesinan uap yang tidak ramah lingkungan akibat pembakaran FO.
Tidak efisiennya waktu pelayaran kapal karena terkendala jadwal bunkering FO.
Peningkatan harga bahan bakar FO yang selalu meningkat setiap tahun disebabkan oleh peningkatan drastis dari permintaan dan kebutuhan bahan bakar minyak.
IDENTIFIKASI MASALAH
BATASAN MASALAH
Mengingat luasnya permasalahan yang terjadi terhadap permasalahan penghematan biaya operasional kapal, maka penulis membatasi permasalahan yang akan dibahas pada
Penghematan komsumsi FO berdasarkan keselarasan antara waktu layar dan efisiensi penanganan
Boil off gas
di atas kapal.
Pembahasan lebih lanjut oleh penulis hanya terbatas dimana penulis melakukan praktek laut yaitu ST.DWIPUTRA dalam kurun waktu antara 5 November 2012 – 12 Agustus 2013
TUJUAN PENELITIAN

Mencari penyebab dan solusi dalam permasalahan perencanaan waktu layar pada jarak tempuh layar yang sama pada jalur tetap di kapal ST.DWIPUTRA dan kaitannya dengan penghematan konsumsi bahan bakar FO.
Mendapatkan metode yang efektif dan efisien didalam melaksanakan pemaksimalan boil off gas LNG oleh perwira jaga muatan untuk penghematan konsumsi bahan bakar FO dengan landasan prosedur boil off gas dan sistem penggerak mesin utama yang digunakan.
Mencari penyebab dan memberikan masukan maupun saran terhadap kurangnya perhatian PERTAMINA dengan penghematan biaya operasional kapal terkait dengan keselarasan perencanaan waktu layar dengan pemaksimalan penggunaan boil off gas LNG.

MANFAAT PENELITIAN

Sebagai sebuah sumbangan pemikiran bagi para pelaut pada umumnya dan para calon pelaut/taruna STIP Jakarta pada khususnya tentang perencanaan waktu layar dengan penanganan Boil off gas di LNG Carrier.
Agar para kru kapal terutama Perwira Kapal ST.DWIPUTRA lebih siap dengan tindakan antisipasi yang baik sehingga terbentuknya kesinambungan antara waktu layar dengan penanganan Boil off gas untuk pemaksimalan hemat konsumsi bahan bakar FO.
Agar dapat menjadi pertimbangan oleh perusahaan-perusahaan pelayaran khususnya PERTAMINA sebagai Badan Umum Milik Negara yang bergerak dalam bidang eksplorasi dan produksi Sumber Daya Alam Gas Bumi Indonesia.
TINJAUAN PUSTAKA
1.Cargo Handling and Stowage for Tanker (2009)
2.Gas Tanker Familiarization (Jakarta : 2000)
3.MOL LNG Manual Book (Tokyo: 2006)
4.MOL LNG Familiarization (Tokyo: 2000)
5.Tanker Safety Guide Liquefied Gas – IMO, ( 1995)
6.Liquefied Gas Handling Principles on Ship and in Terminals, ( Witherby & Company Limited : 2000)
7.Liquefied Natural Gases Manual (Tokyo: 2000)
8.International Chamber of Shipping Manual (London: 2000)
9.en.wikipedia.org/wiki/LNG_carrier – “definition of liquefied gas” (2012) www.infomine.com dan www.transport.govt.nz – “LNG and marine fuel oil annually range price” (2012)

KERANGKA PEMIKIRAN
MASALAH POKOK
KURANG SINKRON NYA WAKTU LAYAR DAN PEMANFAATAN BOG UNTUK MENGHEMAT KONSUMSI BAHAN BAKAR
subyek
ST. DWIPUTRA
OBJEK PENELITIAN
PROSES PERENCANAAN MASA LAYAR DAN PENANGANAN BOIL OFF GAS ST.DWIPUTRA

UNSUR PELAKSANAAN
1. Nakhoda
2. Chief Officer
3. 2nd Officer

HAMBATAN
1. Kurang optimalnya perencanaan pelayaran terutama dalam hal penentuan masa layar dan jarak tempuh layar pada sebuah rute pelayaran.
2. Kurang optimalnya penanganan penguapan muatan LNG pada saat kapal bernavigasi untuk penghematan biaya operasional kapal.
3. Kurang optimalnya peminimalisiran penggunaan bahan FO dengan bakar pemaksimalan sistem Boil off gas dengan prioritas pelayaran dengan Gas Burning Mode sebagai sumber daya penggerak turbin.
4. Kurangnya perhatian PERTAMINA selaku charter party dalam hal penyelarasan waktu layar dan Boil off gas muatan LNG sebagai salah satu opsi penghematan biaya operasional terkait dengan peminimalisiran konsumsi bahan bakar FO.

Deskriptif
Pengaruh
AKIBAT
1. Sering terjadinya perbedaan waktu layar untuk jarak tempuh yang relatif tetap yang menyebabkan adanya penggunaan bahan bakar FO berlebih.
2. Kurang optimalnya penanganan dan pemanfaatan BOG sehingga berdampak pada kurang optimalnya peminimalisiran penggunaan bahan bakar FO.
3. PERTAMINA selaku charter party menganggap nya hal yang normal walaupun keadaan sebenarnya biaya operasional bisa diminimalisir dengan perencanaan waktu layar dan pengoptimalan BOG yang tepat.

PEMECAHAN
Metode Deskriptif kualitatif dan Perbandingan Data Standar

SINKRON NYA WAKTU LAYAR DENGAN EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI PENGGUNAAN BOIL OFF GAS UNTUK PENGHEMATAN KONSUMSI BAHAN BAKAR FO
WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
waktu : 5 November 2012 - 12 Agustus 2013
Tempat penelitian : LNG Carrier ST.DWIPUTRA
Mitsui O.S.K Line yang
dikelola PT. HUMOLCO
METODE PENDEKATAN
DAN
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. Metode Pendekatan
Deskriptif Kualitatif

2. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
b. Komunikasi langsung
c. Studi dokumentasi

BAB I
BAB II
BAB III
POPULASI DAN SAMPEL
1. Laporan pemakaian bahan bakar FO saat pelayaran tanpa muatan ( Ballast Voyage )
2. Laporan pemakaian uap muatan LNG saat pelayaran tanpa muatan ( BallastV oyage )
3. Laporan pemakaian bahan bakar FO saat pelayaran dengan muatan ( Laden Voyage )
4. Laporan pemakaian uap muatan LNG saat pelayaran dengan muatan ( Laden Voyage )

DESKRIPSI DATA
Proyek pengangkutan LNG pelabuhan muat LNG Bontang Terminal menuju pelabuhan bongkar LNG Terminal di Jepang rata - rata memiliki jarak tempuh 2513,3 Nm dengan waktu tempuh bervariasi antara 132.25 hingga 244 jam.
Dalam sistem permesinan LNG Carrier bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar FO dan bahan bakar dari uap muatan LNG. Dengan harga LNG lebih murah dibandingkan FO. Dengan keadaan ini seharusnya biaya operasional dapat diminimalisir apabila penggunaan uap muatan LNG dimaksimalkan dan penggunaan bahan bakar FO diminimalisir.
Namun hampir pada seluruh voyage yang penulis alami, penggunaan uap muatan LNG belum optimal sehingga jumlah FO yang digunakan masih besar. Hal ini menyebabkan biaya operasional bahan bakar menjadi besar yaitu sebesar $ 3,867,424.03
ANALISIS DATA
1. Adanya waktu layar yang berbeda – beda pada jarak tempuh layar yang sama pada jalur tetap di kapal ST.DWIPUTRA yang menyebabkan adanya penggunaan bahan bakar FO berlebih.
ANALISIS DATA
2. Kurang optimalnya penanganan dan pemanfaatan Boil off Gas sebagai sumber daya utama penggerak turbin pada saat pelayaran yang menyebabkan kurang optimalnya peminimalisiran konsumsi bahan bakar FO
ANALISIS DATA
3. Kurangnya perhatian PERTAMINA selaku charter party dalam upaya penghematan biaya operasional terkait dengan penghematan penghematan bahan bakar FO.
PERTAMINA sebagai pemilik muatan masih memprioritaskan jumlah muatan yang dimuat dan dibongkar dalam satu voyage dibandingkan total penggunaan bahan bakar yang mengakibatkan biaya operasional menjadi lebih besar.
Konsumsi uap muatan LNG lebih kecil dibandingkan dengan konsumsi uap muatan LNG daripada yang diijinkan sesuai dengan estimasi konsumsi bahan bakar yang disesuaikan untuk kebutuhan sebagai sumber daya penggerak mesin turbin pada ST.DWIPUTRA
1. Pemecahan masalah mengenai adanya waktu layar yang berbeda – beda pada jarak tempuh layar yang sama pada jalur tetap di kapal ST.DWIPUTRA yang menyebabkan adanya penggunaan bahan bakar FO berlebih

Perancangan rute pelayaran yang disesuaikan dengan berbagai data dan informasi navigasi aktual lainnya untuk mendapatkan rute pelayaran yang tepat, mengutamakan keselamatan, memaksimalkan efektifitas dan efisiensi pelayaran termasuk biaya total bahan bakar yang digunakan. Perancangan rute pelayaran ini akan direkam dan digunakan pada pelayaran berikutnya untuk mendapatkan nilai guna yang sama
Perancangan waktu serta jarak tempuh layar yang disesuaikan dengan kepentingan buyer dapat mengurangi nilai guna rute pelayaran. Akan tetapi, kita tetap dapat meminimalisir konsumsi bahan bakar FO dengan cara memaksimalkan pemanfaatan Boil off Gas dan penyesuaiannya terhadap perancangan waktu serta jarak tempuh rancangan pelayaran.
2. Pemecahan masalah mengenai kurang optimalnya penanganan dan pemanfaatan Boil off Gas sebagai sumber daya utama penggerak turbin pada saat pelayaran yang menyebabkan kurang optimalnya peminimalisiran konsumsi bahan bakar FO.

Menambah jumlah jam penggunaan spray nozzle dan spray pump dalam kaitannya untuk menghasilkan uap muatan LNG dengan prioritas pelayaran dengan Gas Burning Mode.
Menambah daya hisap spray pump, memperbesar bukaan katup spray nozzle, serta menambah daya hisap compressor muatan saat spray nozzle dan spray pump digunakan. Yang mana dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar gas untuk RPM tertentu.
Menggunakan bahan bakar FO hanya saat kapal melakukan olah gerak atau saat stand by engine baik saat memasuki pelabuhan, meninggalkan pelabuhan, saat melewati daerah pelayaran sempit yang memiliki bahaya navigasi serta pada keadaan tertentu yang membutuhkan kapal untuk berolah gerak.


3. Pemecahan masalah mengenai kurangnya perhatian PERTAMINA selaku charter party dalam upaya penghematan biaya operasional terkait dengan penghematan penghematan bahan bakar FO.

Memberi informasi kepada pihak PERTAMINA saat dilakukan rapat antara pihak charter party dan pihak pengangkut sebelum dilakukannya proses bongkar muat tentang keadaan besarnya biaya bahan bakar yang terjadi.
Memberi informasi kepada pihak PERTAMINA mengenai kerugian apabila kapal LNG sering melakukan bunker atau pengisian bahan bakar FO.


ANALISA PEMECAHAN MASALAH
Dengan optimalisasi penggunaan pembakaran gas dari uap muatan LNG, prediksi biaya operasional bahan bakar untuk seluruh voyage yang penulis alami adalah sebesar $3,133,931.74

Dengan demikian keuntungan biaya adalah sebesar $733,492.30





BAB IV
BAB IV
KESIMPULAN
1. Terjadi permasalahan adanya waktu layar yang berbeda – beda pada jarak tempuh layar yang sama pada jalur tetap di kapal ST.DWIPUTRA. Yang menyebabkan adanya penggunaan bahan bakar FO berlebih. Yang disebabkan :
a. Tidak adanya perekaman rancangan rute pelayaran yang disesuaikan dengan berbagai data dan informasi navigasi aktual lainnya untuk mendapatkan rute pelayaran yang tepat, mengutamakan keselamatan, memaksimalkan efektifitas dan efisiensi pelayaran termasuk biaya total bahan bakar yang digunakan.
b. Adanya perancangan waktu serta jarak tempuh layar dari sebuah voyage yang disesuaikan dengan kepentingan buyer.
c. Adanya voyage – voyage yang tidak memaksimalkan penyesuaian waktu dan jarak tempuh dari rute pelayaran dengan pemanfaatan dan pengoptimalan Boil off Gas dengan prioritas pelayaran dengan Gas Burning Mode.

2. Terjadi permasalahan kurang optimalnya penanganan dan pemanfaatan Boil off gas sebagai sumber daya utama penggerak turbin pada saat pelayaran yang menyebabkan kurang optimalnya peminimalisiran konsumsi bahan bakar FO. Hal ini disebabkan :
a. Kurangnya penggunaan spray nozzle, spray pump dan cargo compressor dari sisi lama waktu penggunaan. Sehingga jumlah uap muatan LNG yang dihasilkan adalah kecil yang berdampak pada sedikitnya uap muatan LNG yang dialihkan ke sistem permesinan uap sebagai pemenuhan bakan bakar gas untuk RPM tertentu dengan prioritas pelayaran dengan Gas Burning Mode.
b. Penggunaan bahan bakar FO dilakukan selama pelayaran bukan hanya saat stand by engine. Sehingga jumlah suplai bahan bakar FO ke sistem permesinan menjadi lebih besar.

2. Terjadi kurangnya perhatian PERTAMINA selaku charter party dalam upaya penghematan biaya operasional terkait dengan penghematan bahan bakar FO. Hal ini terjadi disebabkan oleh:
a. Kurang adanya pengertian mendasar dan mendalam dari PERTAMINA sebagai charter party mengenai keuntungan dari pemanfaatan dan pengoptimalan Boil off Gas sebagai bahan bakar mesin penggerak utama meskipun hal tersebut didasari data – data dan informasi perhitungan perbandingan biaya operasional pelayaran dengan Gas Burning Mode dengan pelayaran yang masih menggunakan bahan bakar FO sebagai bahan bakar mesin penggerak utama ditinjau dari segi biaya operasional yang disebabkan oleh konsumsi bahan bakar FO yang berlebih maupun dari segi waktu, biaya, dan resiko pelaksanaan kegiatan bunkering.
b. Kurang perhatian mengenai nilai dari perbedaan waktu layar untuk rute pelayaran yang sama pada sebuah perancangan pelayaran yang mementingkan kepentingan buyer.



SARAN
1. Untuk menghindari adanya waktu layar yang berbeda – beda pada jarak tempuh layar yang sama pada jalur tetap di kapal ST.DWIPUTRA yang menyebabkan adanya penggunaan bahan bakar FO berlebih, maka disarankan :
a. Kepada Nahkoda dan Mualim II selaku voyage planner officer agar dapat membentuk dan memilih sebuah perancangan rute pelayaran yang disesuaikan dengan berbagai data dan informasi navigasi aktual lainnya untuk mendapatkan rute pelayaran yang tepat, mengutamakan keselamatan, memaksimalkan efektifitas dan efisiensi pelayaran termasuk biaya total bahan bakar yang digunakan serta melakukan perekaman serta pengevaluasian menyeluruh agar dapat menjadi referensi perancangan rute pelayaran di masa yang akan datang.
b. Kepada Nakhoda dan Chief Officer selaku cargo officer dapat membentuk dan memilih perancangan waktu serta jarak tempuh layar yang disesuaikan dengan kepentingan buyer dengan tetap meminimalisir konsumsi bahan bakar FO dengan cara memaksimalkan pemanfaatan Boil off Gas dan penyesuaiannya terhadap perancangan waktu serta jarak tempuh rancangan pelayaran.

2. Untuk menghindari kurang optimalnya penanganan dan pemanfaatan Boil off gas sebagai sumber daya utama penggerak turbin pada saat pelayaran yang menyebabkan kurang optimalnya peminimalisiran konsumsi bahan bakar FO, maka disarankan :
a. Kepada Nakhoda dan Chief Officer selaku cargo officer dapat meninjau ulang perencanaan penggunaan spray pump, spray nozzle dan cargo compressor untuk menghasilkan uap muatan LNG dari sisi lama waktu penggunaannya. Peninjauan ulang perencanaan tersebut dilakukan untuk menciptakan kondisi kapal dengan prioritas pelayaran dengan Gas Burning Mode ataupun guna pemenuhan kebutuhan bahan bakar untuk RPM tertentu.
b. Kepada Nahkoda dan Kepala Kamar Mesin (KKM) agar dapat meninjau ulang perencanaan penggunaan bahan bakar FO selama pelayaran. Peninjauan ulang perencanaan tersebut harus mengarah pada pengurangan penggunaan bahan bakar FO, dimana bahan bakar FO hanya digunakan saat kondisi stand by engine atau saat kapal dibutuhkan untuk berolah gerak. Dari keadaan yang ada sebelumnya, penggunaan bahan bakar FO masih banyak digunakan selama pelayaran sehingga jumlah FO yang digunakan sebagai bahan bakar tidak minimal yang berdampak pada tingginya biaya operasional dari segi konsumsi bahan bakar.

3. Untuk menghindari terjadi kurangnya perhatian PERTAMINA selaku charter party dalam upaya penghematan biaya operasional terkait dengan penghematan bahan bakar FO, maka disarankan kepada pihak PERTAMINA agar dapat :
a. Meninjau ulang data – data dan informasi mengenai perhitungan perbandingan biaya operasional pelayaran ditinjau dari segi keuntungan pelayaran menggunakan Gas Burning Mode dan dari segi kerugian pelayaran yang masih menggunakan bahan bakar FO sebagai bahan bakar mesin penggerak utama.
b. Meninjau ulang data – data dan informasi mengenai kerugian dari segi waktu, biaya, serta resiko dari pelaksanaan kegiatan bunkering sebagai dampak penggunaan bahan bakar FO yang masih belum minimal.
c. Meninjau ulang mengenai perancangan ship’s schedule antara PERTAMINA sebagai pemilik dari muatan Liquefied Natural Gas dan pen – charter kapal dengan pihak buyer dalam hal menentukan perancangan waktu serta jarak tempuh sebuah rute pelayaran dari Bontang LNG Terminal Indonesia menuju LNG Terminal Jepang.




BAB V
THE END
Full transcript