Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Bab 11 : Dakwah Rasulullah saw. di Madinah

No description
by

Eva Mutiara A

on 10 March 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Bab 11 : Dakwah Rasulullah saw. di Madinah

Dakwah Rasulullah saw. Ke Madinah
Kepergian dua orang terdekat Rasulullah saw. Yang menjadi salah satu hal yang membuat kafir Quraisy, seperti Abu Lahab, al-Hakam dan lain-lain semakin gencar dalam memusuhi Rasulullah saw.
Melihat kenyataan pahit ini, beliau mencoba mencari kaum lainnya yang diharapkan lebih terbuka untuk menerima dakwahnya. Sehingga beliau pergi ke Kota Taif seraya menyeru untuk mengesakan Allah swt. Namun, ia tidak mendapat sambutan baik dari penduduk Taif melainkan mendapat perlakuan yang sangat keras dan kasar. Mulai dari cacian, makian, hinaan, dan lemparan batu yang sempat mengancam keselamatan beliau.

Pada akhirnya Rasulullah saw. kembali ke Mekkah meski harus menerima tantangan menghadapi ancaman dari kaum kafir Quraisy. Namun, kondisi yang sangat menekan ini membuat kaum muslimin yang lain memantapkan diri untuk berhijrah ke Madinah demi mempertahankan keimanannya.
Berkat muslimin Mekkah yang hijrah sejumlah masyarakat Madinah mulai mengenal dan mengetahui sosok Rasulullah saw. Dengan tuntunan dan ajarannya yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan serta mengangkat harkat martabat semua masyarakat tanpa harus memandang status social dan keturunannya. Banyak masyarakat Madinah yang tertarik terhadap keluhuran ajaran Islam sehingga menyatakan diri memeluk agama Islam lewat para sahabat yang berada di Madinah.
Setelah orang-orang kafir Quraisy mengetahui para sahabat Rasulullah saw. Pergi meninggalkan Mekkah dengan memboyong keluarga, anak, dan harta benda mereka untuk bergabung dengan suku Aus dan Khazraj di Madinah, mereka makin khawatir dan gelisah terhadap keberadaan Rasulullah saw. Karena dapat mengancam ekstensi Mekkah dalam sector perdagangan ataupun politik.
Karena itu, pada hari Kamis tanggal 26 Safar tahun ke-14, bertepatan dengan 12 september 622 M, para pembesar kafir Quraisy dari setiap kabilah berkumpul di Darun-Nadwah untuk membahas langkah strategis yang harus segera diambil untuk menghentikan dakwah Rasulullah saw. Salah satu yang ikut berkumpul adalah Abu Jahal bin Hisyam dan lainnya.
Bab 11 : Dakwah Rasulullah saw. di Madinah
Kelompok 5:
Eva Mutiara A
Risdela Verfia
Sabila Adinta
Maudhira Anindita

Latar belakang Rasulullah saw. hijrah ke Madinah :
1. Perintah dari Allah swt.
2. Banyak nya tekanan dan siksaan yang mengancam keselamatan kaum muslimin di Mekah
3. Adanya berbagai cara dan usaha yang direncanakan kaum kafir Quraisy untuk membunuh rasulullah.
4. Lemah nya kaum muslimin dari segi jumlah.
Rasulullah Selama di Quba
Pada Senin tanggal 8 Rabiul awal tahun pertama dari hijrah, bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M. Rasulullah saw. tiba di Quba.
Abdullah bin Zubair menuturkan bahwa orang-orang muslim diMadinah medengar kabar tentang perjalanan Rasulullah saw dari Mekkah, setiap pagi mereka keluar meunju tanah lapang menunggu kedatangan beliau.
Saat Rasulullah saw datang Urwah bin Zubair berkata, “Lalu mereka menyongsong kedatangan Rasulullah saw beliau berjalan bersama mereka hingga berhenti diBani Amr bin Auf. Abu Bakar berdiri, sementara beliau hanya duduk sambil diam. Orang-orang Anshar mengira bahwa yang berdiri adalah Rasulullah saw, tetapi tatkala panas matahari menghampiri beliau maka Abu Bakar segera memayunginya, pada saat itulah mereka baru mengetahui Rasulullah saw.
Rasulullah saw. Memasuki Kota Madinah.
A. Hijrah Rasulullah Menuju Madinah
1. Latar Belakang Rasulullah Hijrah Ke Madinah
Selama di Mekkah, Rasulullah saw. Dengan segala kesungguhannya terus berdakwah bagi tersebarnya Islam. Para keluarganya, baik yang sudah masuk Islam maupun yang belum selalu membelanya meskipun harus berhadapan dengan ragam tantangan yang sangat berat.
Pada tahun kesepuluh semenjak ayat pertama diturunkan, beliau ditinggal wafat oleh pamannya Abu Thalib yang selama ini banyak memberikan perlindungan kepada beliau. Setelah pamannya wafat, tak lama kemudian istrinya Siti Khadijah juga wafat.
Saat itu ada seorang laki-laki yang tidak termasuk dalam kelompok mereka mendatangi mereka seraya bertanya “Apa yang kalian tunggu?” Mereka menjawab “Muhammad yang kami tunggu” Lalu seorang laki-laki itu menjawab “Demi Allah, dia telah melewati kalian sambil meninggalkan pasir dikepala kalian, lalu pergi untuk keperluannya” Mereka berkata “Demi Allah kami tidak melihat mereka” Sambil bangkit dan membersihkan kepala mereka dari pasir, dari celah pintu mereka megintip kedalam rumah dan mendapati ada seorang yang sedang tidur dengn selimutnya. Mereka berkata “Demi Allah, itu Muhammad sedang tidur dengan selimutnya” Ketika dibuka ternyata mereka tidak berhasil mendapati Rasulullah saw. karena yang berada ditempat tidur adalah Ali. Rencana mereka untuk membunuh rasullah pun gagal.
Kemudian, Rasulullah saw. keluar dari rumah dan menyibak kepungan mereka. Beliau memungut segenggam pasir dan menaburkannya ke kepala mereka. Sesungguhnya Allah swt. Telah membutakan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat beliau. Allah swt. Berfirman dalam Surah Yasin Ayat 9.
Setelah itu beliau menemui Abu Bakar. Sementara, orang-orang yang mengepung rumah beliau terus menunggu hingga waktu yang direncanakan tiba.
Rasulullah saw berada di Quba selama empat hari, yaitu hari Senin-Kamis. Disana beliau membangun masjid Quba dan shalat didalamnya. Inilah masjid pertama yang didirikan atas dasar takwa.
Pada hari Jum’at beliau melanjutkan perjalanan dan Abu Bakar membonceng dibelakang beliau. Utusan dikirim kepada Bani an-Najjar yang masih ada hubungan paman dengan beliau dari jalur ibu, lalu mereka datang sambil menghunus pedang. Mereka serombongan menuju madinah, lalu mereka melaksanakan salat Jum’at bersama dikediaman Bani Salim bin Auf.
Setelah selesai sholat Jum’at, Rasulullah saw. bersama rombongan memasuki Kota Yasrib. Sejak itulah Yasrib berganti nama menjadi Madinatur Rasul (Kota Rasul) yang kemudian disingkat menjadi Madinah. Inilah hari yang sangat monumental, semua ramah dan jalan ramai dengan suara takbir, tahmid, dan taqdis.
Sekalipun orang-orang Anshar bukan termasuk orang yang sangat kaya, setiap orang diantara mereka berharap agar rasulullah saw singgah dirumahnya. Tak ada satupun rumah yang dilalui beliau melainkan mereka pasti memegang tali kekang unta beliau sambil meminta agar beliau singgah dirumahnya. Beliau bersabda “Berilah jalan kepada unta ini karena ia adalah unta yang sudah diperintah”
Unta itu terus berjalan hingga tiba disuatu tempat yang sekarang ini menjadi masjid Nabawi. Ditempat ini unta tersebut menderum, Rasulullah saw. tidak turun dari punggung unta itu, lalu unta pun melangkahkan kakinya dan tak lama kemudian ia menolehkan kepalanya sembari kembali ke tempat semula menderum untuk yang kedua kalinya. Akhirnya, Rasulullah saw. turun dari punggung unta tersebut.
Setelah beberapa hari kemudian, istri beliau Saudah dan kedua putrinya Fatimah dan Ummu Kulsum tiba di Madinah bersama-sama dengan Usamah bin Zaid, Ummu Aiman, Abdullah bin Abu Bakar dan seluruh keluarga Abu Bakar, termasuk pula Aisyah. Sementara Zainab putri beliau masih tinggal bersama suaminya Abdul-Ash di Mekkah. Zainab belum memungkinkan untuk hijrah dan baru hijrah setelah perang badar.
B. Perjuangan Rasulullah Ketika di Madinah
1. Membangun Masjid Nabawi
Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah saw. ketika berada di Madinah adalah membangun masjid. Umat Islam dapat mempergunakan masjid tersebut untuk mempersatukan kaum muslimin. Masjid tidak hanya digunakan untuk mendirikan shalat, tetapi untuk melakukan aktifitas-aktifitas lain yang diperlukan umat, seperti menjadi tempat pusat perencanaan kegiatan masyarakat, pusat latihan dan pendidikan dari Rasulullah, tempat mengadili perkara-perkara yang diselesaikan oleh Rasulullah SAW. Masjid yang pertama kali dibangun oleh Beliau adalah Masjid Nabawi. Kemudian umat Islam berturut-turut membangun beberapa masjid Jumu’ah (tempat pertama Rasulullah melaksanakan shalat jum’at), Masjid Gamamah (tempat pertama kali dilaksanakan shalat hari raya Islam), Masjid Bani Quraizah, Masjid Salman, Masjid Ali.
Peperangan yang Pernah Diikuti Oleh Rasulullah
Rasulullah saw. tidak pernah memulai peperangan sama sekali. Sebab, beliau berusaha semaksimal mungkin supaya tidak ada pertumpahan darah manusia. Karena beliau adalah seorang nabi yang penuh kasih sayang.
Tapi, jika peperangan tidak mungkin dihindari, maka beliau akan menempatkan diri paling depan. Karena beliau adalah seorang nabi yang tak pernah gentar melawan musuh.
Jumlah Peperangan ar-Rasul saw. adalah 27 peperangan; yang dilatarbelakangi dengan berbagai macam sebab pemicu. Namun dari 27 peperangan ini, hanya 9 saja yang terjadi pertempuran. Selebihnya, yaitu musuh menyerah damai. Sedangkan jumlah sariyah adalah 38 ekspedisi.
Perang Badar (17 Ramadhan 1 H)
Perang Badar terjadi di Lembah Badar, 125 km selatan Madinah. Perang Badar merupakan puncak pertikaian antara kaum muslim Madinah dan musyrikin Quraisy Mekah. Peperangan ini disebabkan oleh tindakan pengusiran dan perampasan harta kaum muslim yang dilakukan oleh musyrikin Quraisy. Dalam peperangan ini kaum muslim memenangkan pertempuran dengan gemilang.
Inilah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah perkembangan da’wah Islam. Pertempuran ini terjadi di Lembah Badar. Meski dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding kekuatan musuh, dengan pertolongan Allah yang mengirimkan bala tentara dari jenis malaikat yang turun dari langit, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir.
PERANG UHUD ( Sya’ban 3 H)
Perang Uhud terjadi di Bukit Uhud. Perang Uhud dilatarbelakangi kekalahan kaum Quraisy pada Perang Badar sehingga timbul keinginan untuk membalas dendam kepada kaum muslim. Pasukan Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid mendapat bantuan dari kabilah Saqib, Tihamah, dan Kinanah.
Setelah kemunduran tiga ratus prajurit tersebut, Dengan membawa 700 orang yang tersisa, Nabi SAW melanjutkan perjalanan sampai ke Bukit Uhud. Perang Uhud dimulai dengan perang tanding yang dimenangkan tentara Islam tetapi kemenangan tersebut digagalkan oleh godaan harta, yakni prajurit Islam sibut memungut harta rampasan. Pasukan Khalid bin Walid memanfaatkan keadaan ini dan menyerang balik tentara Islam. Tentara Islam menjadi terjepit dan porak-poranda, sedangkan Nabi SAW sendiri terkena serangan musuh. Pasukan Quraisy kemudian mengakhiri pertempuran setelah mengira Nabi SAW terbunuh. Dalam perang ini, Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi SAW) meninggal terbunuh.
Perang Khandaq/Ahzab (Syawal 5 H)
Lokasi Perang Khandaq adalah di sekitar kota Madinah bagian utara. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Ahzab (Perang Gabungan). Perang Khandaq melibatkan kabilah Arab dan Yahudi yang tidak senang kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka bekerjasama melawan Nabi SAW. Di samping itu, orang Yahudi juga mencari dukungan kabilah Gatafan yang terdiri dari Qais Ailan, Bani Fazara, Asyja’, Bani Sulaim, Bani Sa’ad dan Ka’ab bin Asad. Usaha pemimpin Yahudi, Huyay bin Akhtab, membuahkan hasil. Pasukannya berangkat ke Madinah untuk menyerang kaum muslim.
Berita penyerangan itu didengar oleh Nabi Muhammad SAW. Kaum muslim segera menyiapkan strategi perang yang tepat untuk menghadapi pasukan musuh. Salman al-Farisi, sahabat Nabi SAW yang mempunyai banyak pengalaman tentang seluk beluk perang, mengusulkan untuk membangun sistem pertahanan parit (Khandaq). Ia menyarankan agar menggali parit di perbatasan kota Madinah, dengan demikian gerakan pasukman musuh akan terhambat oleh parit tersebut. Usaha ini ternyata berhasil menghambat pasukan musuh masuk ke wilayah Madinah.
Penaklukan Kota Mekah/Fath al-Makkah (8 H)
Fath al-Makkah terjadi di sekitar kota Mekah. Latar belakang peristiwa ini adalah adanya anggapan kaum Quraisy bahwa kekuatan kaum muslim telah hancur akibat kalah perang di Mu’tah. Kaum Quraisy beranggapan Perjanjian Hudaibiyah (6 H) tidak penting lagi, maka mereka mengingkarinya dan menyerang Bani Khuza’ah yang berada dibawa perlindungan kaum muslim. Nabi Muhammad SAW segera memerintahkan pasukan muslimin untuk menghukum kaum Quraisy. Pasukan muslimin tidak mendapat perlawanan yang berarti, kecuali dari kaum Quraisy yang dipimpin Ikrimah dan Safwan. Berhala di kota Mekah dihancurkan dan akhirnya banyak kaum Quraisy masuk Islam.
Wafat nya Rasulullah saw.
Tanda-tanda perpisahan
Pada bulan Ramadhan tahun 10 hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf selama dua puluh hari, yang mana pada tahun-tahun sebelumnya beliau tidak pernah beri’tikaf kecuali sepuluh hari saja, dan malaikat Jibril membaca dan menyimak bacaan al-Quran beliau sebanyak dua kali (padahal di tahun-tahun sebelumnya hanya satu kali).
Di awal bulan shafar tahun 11 hijriyah, beliau keluar menuju Uhud, kemudian melakukan shalat untuk para Syuhada’ sebagai (ungkapan) perpisahan bagi orang-orang yang masih hidup dan yang telah mati. Kemudian belaiu beranjak menuju mimbar untuk berpidato, beliau berkata: ”Sesungguhnya aku akan mendahaului kalian dan menjadi saksi atas kalian. Demi Allah sesungguhnya aku sekarang benar-benar melihat telagaku, dan telah diberikan kepadaku kunci-kunci perbendaharaan dunia atau kunci-kunci bumi, dan demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan kalian akan melakukan kasyirikan sepeninggalku nanti, akan tetapi yang aku khawatirkan terhadap kalian adalah kalian berlomba-lomba di dalam merebut kekayaan dunia.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Pada pertengahan suatu malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju (kuburan) Baqi’ untuk memohonkan ampunan bagi para penghuninya, Beliau berkata: ”Semoga Keselamatan atas kalian, wahai ahli kubur, selamat atas apa yang kalian alami (pada saat ini) sebagaimana yang telah dialami orang-orang sebelumnya. Fitnah-fitnah (berbagai cobaan) telah datang bagai sepotong malam gelap gulita, yang silih berganti, yang datang terakhir lebih buruk dari pada yang sebelumnya.” Kemudian Beliau memberikan kabar gembira kepada mereka dengan mengucapkan:”Sesungguhnya kami akan menyusul kalian”
Pada suatu malam pertengahan bulan yang sama beliau pergi ke Baqi’, lalu meminta ampunan untuk orang-orang yang dikubur disana.
Permulaan sakit
Pada tanggal 29 Shafar tahun 11 , tepat pada hari senin, rasulullah menghadiri prosesi jenazah di Baqi’ tiba-tiba belaiu merasakan sakit. Beliau sakit selama 13-14 hari hingga akhirnya Rasulullah saw. Wafat.
Pekan terakhir
Sakitnya semakin parah, sampai-sampai bertanya kepada istrinya “ Di mana giliran ku besok?“ Maka mereka memberikan kepada beliau untuk memilih, akhirnya beliau memutuskan untuk bepindah kerumah Aisyah, beliau berjalan dan dipapah oleh Al-fadhl bin Abbas dan Ali bin Abu thallib.
Empat hari sebelum Wafat
Pada hari Kamis, tepatnya empat hari sebelum rasulullah SAW wafat, suhu badan beliau semakin tinggi, sehingga beliau semakin demam dan menggigil. Rasulullah saw. menyampaikan tiga wasiat kepada para sahabatnya.

a. Wasiat untuk mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang musyrik dari Jazirah Arab.

b. Wasiat tentang pengiriman para utusan dalam menyebarluaskan agama islam ke seluruh pelosok negeri.

c. Wasiat untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunah.
Dua hari atau sehari sebelum wafat
Pada hari sabtu atau Ahad , Rasulullah SAW merasa badannya mulai membaik dan terasa lebih ringan.
Maka dengan dipapah dengan dua orang laki-laki beliau keluar rumah untuk melaksankan shalat dzuhur, sementara pada saat yang sama Abu bakar sedang mengimami orang-orang shalat.
Sehari sebelum wafat
• Pada hari ahad Nabi Muhammad memerdekakan para pembantu laki-laki,
• Mensedekahkan tujuh dinar beliau yang masih menyisa
• Memberikan senjata milik beliau kepada orang –orang muslim
• Baju besi beliau digadaikan kepada seorang Yahudi seharga tiga puluh sha’gandum
Hari terakhir dari kehidupan Rasulullah
Anas bin malik meriwayatkan, bahwa tatkala orang-orang muslim sedang melaksanakan shalat subuh pada hari senin, sementara Abu bakar menjadi Imam, beliau hanya menyibak tabir kamar Aisyah dan memandangi mereka yang sedang bershaf-shaf shalat. Rasulullah memanggil Fatimah, Rasulullah memanggil hasan dan husen dan memanggil istri-istri beliau.
Kesukaan nabi muhammad SAW diantaranya adalah siwak. Aisyah menggosok dengan pelan-pelan sekali siwak kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawa Abudarrahman bin Abu Bakar. Di dekat beliau saat itu ada bejana berisi air, beliau mencelupkan kedua tangan ke dalam air, lalu mengusapkannya ke wajah sambil bersabda, “La ilaha illallah. Sungguh, kematian itu ada sekaratnya.”
Seusai bersiwak beliau mengangkat tangan atau jari-jarinya dan mengarahkan pandangan ke arah langit-langit rumah dan kedua bibir beliau bergerak-gerak. Aisyah masih sempat mendengar sabda beliau pada saat-saat itu “ Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka dari para Nabi, shiddiqin, syuhada dan salihin. Ya Allah, ampunilah dosaku dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan kekasih Yang Maha Tinggi ya Allah, Kekasih yang Maha Tinggi, Allah SWT.”
Kalimat terakhir ini diulang sampai tiga kali yang disusul dengan melemahnya tangan beliau. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Beliau telah berpulang kepada Kekasih Yang Mahatinggi, Allah SWT.
Ini terjadi pada Hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, dalam usianya yang ke-63 tahun lebih empat hari.
Ada yang ingin di-Tanyakan?:)
2. Perjalanan Hijrah Rasulullah saw. menuju Madinah
Pada tengah hari Rasulullah menemui Abu Bakar agar mau menemaninya hijrah ke Madinah. Di saat malam tiba, para pemuda kafir Quraisy telah bersiap mengepung rumah Rasulullah saw, Mereka berjaga sambil membawa pedang di tangan masing-masing
Rasulullah saw. menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tidur ditempat tidur beliau seraya berkata “Tidurlah diatas tempat tidurku, berselimut lah dengan selimut yang berasal dari Hadramaut ini. Tidurlah dengan berselimut. Sesungguhnya engkau akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan”
2. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar
Para penduduk kota Madinah telah mendengar bahwa Rasulullah akan hadir dan menetap di kota mereka, sehingga mereka menyambut kehadiran Rasulullah dengan riang gembira. Penduduk Madinah yang menyambut kehadiran Rasulullah disebut sebagai kaum Ansar, sedang kaum muslimin yang hijrah dari Mekah ke Madinah disebut kaum Muhajirin.
Meskipun kaum Ansar mengetahui bahwa sebagian kaum muhajirin tidak membawa harta bendanya ketika berhijrah, kuam Ansar tetap bersedia berbagi tempat tinggal, pekerjaan dan pakaian. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa kaum ansar dan kaum muhajirin saling mewarisi. Dasar persaudaraan yang dibangun oleh Rasulullah adalah Ukhuwah Islamiyah yaitu persaudaraan yang didasarkan pada agama Islam guna menggantikan Ukhuwah Qaumiyah yaitu perdsaudaraan yang didasarkan pada kesamaan suku.
Diantara para sahabat yang dipersaudarakan antara lain adalah:
• Abu Bakar Assidiq dengan Kharijah Bin Zuhair
• Umar Bin Khatab dengan Itban bin Malik
• Utsman bin Affan dengan Aus bin Tsabit
• Zubair bin Awwam dengan Salamah bin Salamah
• Salman Al Farasi dengan Abu Darda’
Tujuan mempersaudarakan mereka adalah agar satu sama lain saling tolong menolong, yang kuat menolong yang lemah, yang mampu menolong yang kekurangan, serta untuk melenyapkan rasa asing pada diri sahabat-sahabat Muhajirin di kota Madinah.
3. Memprakarsai Penjanjian Piagam Madinah
Untuk menjamin hak-hak dan kewajiban setiap penduduk Madinah, Rasulullah memprakarsai penyusunan piagam perjanjian yang disebut Piagam Madinah. Dengan piagam ini semangat toleransi antar masyarakat Madinah terwujud.
Diantara pokok-pokok ketentuan Piagam Madinah adalah sebagai berikut;
a. Setiap golongan dari ketiga golongan penduduk Madinah memiliki hak pribadi, keagamaan, dan politik.
b. Setiap individu penduduk Madinah mendapat jaminan kebebasan beragama
c. Seluruh penduduk Madinah yang terdiri dari kaum muslim, yahudi, dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam sesama mereka hendaklah saling membantu dalam bidang moral dan material
d. Rasulullah SAW adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah. Segala perkara dan perselisihan besar yang terjadi di Madinah harus diajukan kepada beliau untuk diadili sebagaimana mestinya.
Full transcript