Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Perkembangan Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan di Indonesia

No description
by

faza ayu

on 12 November 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Perkembangan Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan di Indonesia

Perkembangan Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan di Indonesia
Perkembangan Pendidikan di Indonesia
Hubungan Antara Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan di Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun. Dimulai dari dilaksanakannya oleh dukun bayi sampai dengan sekarang dilaksanakan oleh bidan professional. Pelayanan kebidanan dimulai sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda, dengan tujuan utama pertolongan persalinan.
Perkembangan pendidikan kebidanan di Indonesia dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda yaitu pada tahun 1851. Pendidikan kebidanan tersebut terus berlangsung hingga saat ini dengan pendidikan tertingginya S2 yang dimulai sejak tahun 2006 di Universitas Padjadjaran. Tingkatan pendidikan bidan yang ada sekarang adalah D3, D4, S1, dan S2.
Perkembangan pendidikan bidan berjalan seiring dengan perkembangan pelayanan kebidanan untuk menjawab tuntutan serta kebutuhan masyarakat akan pelayanan kebidanan.


Simpulan
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1807 (Jaman Gubernur Jenderal Hendrik Daendels) para dukun dilatih dalam pertolongan persalinan, tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatihan kebidanan.
pada tahun 1849 dibuka pendidikan dokter Jawa di Batavia (di rumah sakit militer Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto). Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut pada tahun 1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi dan Batavia oleh seorang dokter militer Belanda yaitu Dr. W. Bosch. Lulusan ini kemudian bekerja di rumah sakit dan di masyarakat. Mulai saat ini pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan.
Sampai
tahun 1952 mulai diadakan pelatihan bidan secara formal, agar dapat berlangsung sampai dengan sekarang dan yang memberikan kursus adalah bidan. Perubahan pengetahuan dan keterampilan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh dimasyarakat dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan Bidan (KTB)
Pada tahun 1953 KTB dilaksanakan di Yogyakarta dan yang pada akhirnya dilakukan pula dikota-kota besar lain yang ada di Indonesia. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dimana bidan sebagai penanggung jawab pelayanan kepada masyarakat. Pemeriksaan bayi dan anak termasuk imunisasi dan penyuluhan gizi. Sedangkan diluar BKIA, bidan memberikan pertolongan persalinan dirumah keluarga dan pergi melakukan kunjungan rumah sebagai upaya tindak lanjut dari pasca persalinan.
Dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi satu pelayanan terintegrasi kepada masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957. Puskesmas memberikan pelayanan didalam gedung dan diluar gedung serta berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di Puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga berencana baik diluar gedung maupun didalam gedung. Pelayanan kebidanan yang diberikan diluar gedung adalah pelayanan kesehatan keluarga dan pelayanan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) . Pelayanan di Posyandu mencakup empat kegiatan yaitu pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan.
Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat , sesuai dengan kebutuhan masyarakat . Kebijakan ini melalui instruksi presiden secara lisan pada sidang kabinet pada tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan desa. Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas, serta pelayanan bayi baru lahir, termasuk pembinaan dukun bayi. Dalam kegiatan tersebut bidan di desa juga menjadi pelaksana pelayanan kesehatan bayi dan keluarga berencana
Perkembangan Pendidikan Kebidanan di Indonesia
• Pendidikan bidan pertama kali dibuka pada tahun 1851 oleh seorang dokter militer Belanda (Dr.W.Bosch). pendidikan bidan ini hanya untuk wanita pribumi dan Batavia. Tapi tidak berlangsung lama karena kurangnya peserta pendidik dan batasan bagi wanita untuk keluar rumah.

• Pada tahun 1902 pendidikan bidan dibuka kembali bagi wanita pribumi di rumah sakit Batavia dan pada tahun 1904 dibuka pendidikan bidan bagi wanita Indonesia di Makasar.


• Pada tahun 1904 pendidikan bidan di Indonesia untuk wanita keturunan Belanda-Indo di salah satu RS swasta di Makassar (lulusannya harus mau ditempatkan dimana saja dan mau menolong masyarakat yang tidak atau kurang mampu secara Cuma-Cuma). Lulusan ini mendapat tunjangan dari pemerintah kurang lebih 15-25 Guldan perbulan (1992).

• Pada tahun 1911 – 1912 di mulai pendidikan tenaga keperawatan secara terancana di Semarang dan Batavia. Calon peserta didik yang diterima SD 7 tahun ditambah pendidikan keperawatan 4 tahun (peserta didik pria) dan pada tahun 1914 khusus bagi peserta didik wanita.

• Pada tahun 1914 telah diterima juga peserta didik wanita pertama dan bagi perawat wanita yang lulus dapat meneruskan pendidikan kebidanan selama 2 tahun.

Pada tahun 1935 – 1938 Belanda mendidik bidan lulusan Mulo (setingkat SLTP bagian B) dan hampir bersamaan dibuka sekolah bidan di beberapa kota besar. Jakarta di RSB Budi Kemulyaan, RSB Palang Dua dan RSB Mardi Waluyo di Semarang. Adapun lulusan didasarkan atas latar belakang. Bidan dengan pendidikan dasar Mulyo ditambah pendidikan bidan selama 3 tahun disebut bidan kelas satu (vroedvrouw eerste class) dan bidan lulusan dari keperawatan (mantri) disebut bidan kelas dua (vroedvrouw tweede class). Perbedaan ini menyangkut gaji pokok dan tunjangan bagi bidan. Pada jaman penjajahan Jepang, pemerintah mendirikan sekolah perawatan atau yang sama dengan jaman penjajahan Belanda. Peserta didik kurang berminat memasuki sekolah tersebut dan mereka mendaftar karena tidak ada pendidikan lain.
• Pada tahun 1950-1953 di buka kursus tambahan bidan (KTB) di Yogyakarta lamanya kursus antara 7 sampai 12 minggu dengan tujuan memperkenalkan pengembangan program KIA. Pada tahun 1967 KTB ditutup.

• Tahun 1953-1965 dibuka Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta. Lamanya kursus tersebut adalah 7-12 minggu. Tujuan dari KTB ini adalah untuk memperkenalkan kepada lulusan bidan mengenai perkembangan program KIA dalam pelayanan kesehatan masyarakat, sebelum lulusan bidan tersebut memulai tugasnya sebagai seorang bidan di BKIA.

• Tahun 1960 KTB dipindahkan ke Jakarta dan pada tahun 1967 KTB ditutup.
Tahun 1954 dibuka pendidikan guru bidan, guru perawat, perawat kesehatan masyarakat di Bandung. Pada tahun 1972 institusi pendidikan ini dilebur menjadi SGR (Sekolah Guru Perawat), pendidikan ini menerima dari lulusan sekolah bidan dan sekolah perawat. Pada awalnya pendidikan ini berlangsung satu tahun, kemudian menjadi dua tahun dan terakhir berkembang menjadi tiga tahun.
• Tahun 1970 di buka program pendidikan bidan dari lulusan Sekolah Pengatur Rawat (SPR) ditambah 2 tahun pendidikan bidan yang disebut Sekolah Pendidikan Lanjutan Jurusan Kebidanan (SPLJK) tetapi ini tidak merata dilaksanakan diseluruh provinsi. Mengingat jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak maka pada tahun 1974 sekolah bidan tutup dan dibuka SPK dengan tujuan ada tenaga multi purpose dilapangan yang dapat menolong persalinan. Tetapi hal ini tidak berhasil

• Pada tahun 1974 jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak, Depkes melakukan penyederhanaan pendidikan nonsarjana.Sekolah bidan ditutup dan dibuka pendidikan perawat kesehatan. Tujuan pemerintah agar SPK dapat menolong persalinan tidak tercapai atau terbukti tidak berhasil. Pada tahun 1975 sampai 1984 pendidikan bidan ditutup selama 10 tahun sehingga tidak menghasilkan bidan. Namun organisasi IBI tetap ada dan hidup secara wajar.
• Pada tahun 1981 untuk meningkatkan kemampuan perawat kesehatan (SPK) dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk kebidanan, dibuka pendidikan diploma 1 kesehatan ibu dan anak, latar belakang pendidikan SPK. Tetapi hanya berlangsung 1 tahun.

• Pada tahun 1985 dibuka lagi PBB lulusan dari SPR dan SPK, lama pendidikannya selama satu tahun. Dan lulusannya dikembalikan kepada institusi yang mengirim. Pada saat itu dibutuhkan bidan yang memiliki kewenangan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana di masyarakat.

• Tahun 1989 dibuka crash program pendidikan bidan secara nasional, pemerintah memperbolehkan lulusan SPK langsung masuk program pendidikan bidan. Dikenal sebagai PPB A, dengan lama pendidikan satu tahun. Tujuannya untuk memberikan pelayanan kesehatan terutama terhadap anak di daerah pedesaaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menurunkan angka kematian ibu dan anak. Setelah lulus, pemerintah menempatkan seorang bidan di tiap desa sebagai PNS golongan II, sejak tahun 1996 status bidan di desa sebagai pegawai tidak tetap dengan kontrak selama tiga tahun yang kemudian dapat diperpanjang 2x3 tahun lagi.

• Pada tahun 1993 dibuka Program Pendidikan Bidan B yang pesertanya lulusan dari AKPER, lama pendidikan 1 tahun. Tujuan program ini adalah untuk mempersiapkan tenaga pengajar pada Program Pendidikan Bidan A. Ternyata berdasarkan penelitian dari lulusan ini tidak menunjukan kompetensi dan berlangsung selama 2 angkatan (1995 dan 1996) kemudian ditutup.

• Pada tahun 1993 dibuka Program Pendidikan Bidan C (PPB-C) yang menerima lulusan dari SMP yang dilaksanakan di 11 propinsi : Aceh, Bengkulu, Lampung, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Nusatenggara Timur, Maluku dan Irian Jaya. Pendidikan ini memerlukan kurikulum 3700 jam dan dapat diselesaikan dalam waktu 6 semester.

• Pada tahun 1994-1995 pemerintah menyelenggarakan uji coba pendidikan jarak jauh (distance leaming) di 3 propinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pengaturan penyelenggaraan ini telah diatur SK Menkes No. 1247/Menkes/ SK/XII/1994 dengan tujuan untuk memperluas cakupan upaya peningkatan mutu tenaga kesehatan. Kebijakan ini dilaksanakan untuk memperluas cakupan upaya peningkatan mutu tenaga kesehatan yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Diklat Jarak Jauh (DJJ) ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan , sikap, dan keterampilan bidan untuk penurunan AKI dan AKB.

• Pada tahun 1995 diadakan Diklat Jarak Jauh (DJJ). DJJ tahap 1 (1995-1996), DJJ tahap 2 (1996-1997) dan DJJ 3 (1997-1998) dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan bidan agar mampu melaksanakan tugasnya dan diharapkan berdampak pada penurunan AKI dan AKB.

• Pada tahun 1994 dilaksanakan penelitian pelaksanan kegawat daruratan maternal dan neonatal, dan pelaksanaannya adalah rumah sakit propinsi /kabupaten.

• Pada tahun 1996 IBI bekerja sama dengan Departemen Kesehatan dan American College of Nurse Midwife (ACNM) dan RS swasta mengadakan Training of Training kepada anggota IBI dan selanjutnya melatih bidan praktek swasta secara swadaya, juga guru/ dosen dari D3 kebidanan.

• Pada tahun 1995-1998 diadakan pelatihan dan peer review bagi bidan rumah sakit, bidan puskesmas dan bidan di desa di propinsi Kalimantan Selatan dimana IBI berkerja sama langsung dengan Mother Care.

• Tahun 1996 dibuka pendidikan D3 kebidanan di 6 propinsi yang menerima calon peserta didik dari SMA.

• Tahun 2000 dibuka DIV bidan pendidik di UGM kemudian bulan Febuari UNPAD,USU Medan, STIKES Ngudi Waluyo Semarang, STIKIM Jakarta dan tahun 2005 Poltekes Bandung. Pendidikan ini berlangsung lamanya 2 semester ( 1tahun)

• Pada tahun 2000 telah ada tim pelatih Asuhan Persalinan Normal (APN) yang dikoordinasikan oleh Maternal Neonatal Hearth (MNH) yang sampai saat ini telah melatih APN dibeberapa propinsi/kabupaten.

• Bulan September 2005 dibuka DIV kebidanan Reguler di UNPAD Bandung, menerima dari SMU dg lama pendidikan 8 semester.

• Selain itu bulan April 2006 dibuka S2 kebidanan di UNPAD, menerima dari DIV kebidanan dgn lama pendidikan min 4- 10 semester.

• Pada tahun 2008 telah dibuka pendidikan S1 kebidanan profesi di Universitas Airlangga dan pada tahun 2010 di Universitas Brawijaya. Pada tahun 2011 dibuka di Universitas Andalas.

Saran
• Kita sebagai calon bidan di masa depan sebaiknya memberikan pelayanan kebidanan yang baik kepada semua orang yang membutuhkan pelayanan tersebut.

• Sebagai seorang mahasiswa kebidanan pada saat ini kita harus bisa meningkatkan kualitas pendidikan agar mutu pendidikikan kebidanan semakin berkembang dan semakin bermanfaat bagi msyarakat sekitar.

• Kita sebagai bidan di masa depan tidak boleh melupakan sejarah perkembangan kebidanan karena hal itu merupakan landasan awal seorang bidan.

• Pemerintah harus lebih memeperhatikan kualitas dan mutu bidan terutama pendidikan bidan dan mengawasi lembaga-lembaga pendidikan agar lulusan-lulusannya memiliki standar kompetensi sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan bidan terhadap masyarakat.

Kelompok 4
Irma 130104150034
Rahmy 130104150035
faza Ayu Nurfauziyya 130104150036
Rizhsa 130104150037
Nur Rahmah H 130104150038
Merisa Kusuma Dewi 130104150039
Vera Fauziah Dila 130104150040
Azmii Lathifah 130104150041
Yanti Riyanti 130104150042
Missy Geovany T.H 130104150043
Siti Sumarni 130104150044
Full transcript