Introducing 

Prezi AI.

Your new presentation assistant.

Refine, enhance, and tailor your content, source relevant images, and edit visuals quicker than ever before.

Loading content…
Loading…
Transcript

BATAL DAN SAHNYA PERIKATAN (AKAD)

KELOMPOK 5 :

ALIA RAMADHANI (180102050)

CUT NURUL ATMA (180102004)

RAHMI PUTRI FEBRIANI (180102024)

Akad Batil (Batal)

1

Kata “bathil” berasal dari bahasa Arab yang berarti batal, sia-sia, tidak benar. Batal diatrikan sebagai tidak berlaku, sia-sia, tidak sah. Ahli-ahli hukum Hanafi mendefinisikan akad batil secara singkat sebagai “akad secara syarak tidak sah pokok dan sifatnya

1. Pengertian

Hukum akad batil, yaitu akad yang tidak memenuhi rukun dan syarat terbentuknya akad, dapat diringkas sebagai berikut :

a. Bahwa akad tersebut tidak ada wujudnya secara syar’i (secara syar’i tidak pernah dianggap ada), oleh karena itu tidak melahirkan akibat hukum apa pun

b.Bahwa apabila telah dilaksanakan oleh para pihak, akad batil itu wajib dikembalikan kepada keadaan semula pada waktu sebelum dilaksanakannya akad batil tersebut

c. Akad batil tidak berlaku pembenaran dengan cara memberi izin

d. Akad batil tidak perlu di-fasakh (dilakukan pembatalan) karena akad ini sejak semula adalah batal dan tidak pernah ada

e. Ketentuan lewat waktu (at-taqadum) tidak berlaku terhadap kebatalan

2. Hukum Akad Batil

2

Akad Fasid

Kata “fasid” berasal kata Arab dan merupakan kata sifat yang berarti rusak.

Akad fasid adalah akad yang pada dasarnya disyariatkan, tetapi sifat yang diakadkan itu tidak jelas.

1. Pengertian

a. Pendapat Mayoritas (Jumhur)

Mayoritas ahli hukum Islam, Maliki, Syafi’i dan Hambali, tidak membedakan antara akad batil dan akad fasid. Keduanya sama-sama merupakan akad yang tidak ada wujudnya dan tidak sah

b. Pandangan Mazhab Hanafi

Teori akad fasid merupakan kekhususan mazhab Hanafi, yang membedakan akad batil dan akad fasid. Akad batil sama sekali tidak ada wujudnya dan tidak pernah terbentuk karena tidak memenuhi salah satu rukun atau salah satu syarat terbentuknya akad. Sedang akad fasid telah terbentuk dan telah memiliki wujud syar’I, hanya saja terjadi kerusakan pada sifat-sifatnya karena tidak memenuhi salah satu syarat keabsahan akad.

2. Hukum Akad Fasid

3

Akad Maukuf

1. PENGERTIAN

Kata “maukuf’ diambil dari kata Arab, mauquf, yang berarti terhenti, tergantung, atau dihentikan. Akad mauquf adalah akad yang dilakukan oleh orang yang memiliki ahliyah (kecakapan) untuk melakukan akad, tetapi ia tidak memiliki kekuasaan karena tidak memperoleh mandat untuk melakukannya.

Dan hukumnya adalah akad semacam ini tidak menimbulkan akibat hukum kecuali disetujui oleh orang-orang yang berkepentingan. Apabila tidak disetujui akad tersebut hukumnya batal. Akan tetapi, menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, akad ini hukumnya batal.

2. Sebab akad menjadi maukuf

Sebab kemaukufan akad ada dua, yaitu:

a) Tidak adanya kewenangan yang cukup atas tindakan hukum yang dilakukan dengan kata lain kekurangan kecakapan

b) Tidak adanya kewenangan yang cukup atas objek akad karena adanya hak orang lain pada objek tersebut.

4

Akad Nafidz Gair Lazim

1. Pengertian

akad nafiz adalah akad yang difasakhkan oleh masing-masing pihak, atau hanya oleh salah satu pihak yang mengadakan akad tanpa memerlukan persetujuan pihak lain.

1) Akad lazim

Pengertian akad lazim adalah suatu akad yang tidak bisa dibatalkan oleh salah satu pihak tanpa persetujuan pihak lain, seperti jual beli dan ijarah (sewa menyewa). Dasar hukum untuk akad lazim ini adalah firman Allah dalam surat Al- Maidah ayat 1:

Hai orang-orang yang beriman penuhilah aqad-aqad itu.

2) Akad ghair lazim

Suatu akad yang bisa di fasakh(di batalakan) oleh salah satu pihak tanpa memerlukan persetujuan dari pihak yang lain.

2 ) Akad nafidz terbagi menjadi kepada dua bagian

3. Hukum Akad Nafidz Gair Lazim

Terdapat beberapa macam akad yang memang sifat aslinya terbuka untuk di-fasakh secara sepihak oleh salah satu pihak tanpa persetujuan pihak lain. Disamping itu, terdapat pula akad yang salah satu pihak mempunyai hak khiyar (opsi) untuk meneruskan atau mem-fasakh akadnya, baik karena hak khiyar (opsi) itu dimasukkan dalam perjanjian sebagai bagian dari klausulnya, maupun karena ditetapkan syarak.

Learn more about creating dynamic, engaging presentations with Prezi