Introducing
Your new presentation assistant.
Refine, enhance, and tailor your content, source relevant images, and edit visuals quicker than ever before.
Trending searches
Anggi Zitna Safaah ( K3120009 )
Anwar Abdurrahman Hadi Kusumo ( K3120013 )
Febriani Mayasari Siregar ( K3120021 )
Lusia Intan Pratiwi ( K3120035 )
Rika Dwi Mustikasari ( K3120053 )
Definisi tuna laras menurut para ahli :
1) Samuel A.Kirk (dalam Sunardi, 2006, hlm. 3)
: mereka yang terganggu perkembangan emosi, menunjukan adanya konflik dan tekanan batin, menunjukan kecemasan, penderita neorotis atau bertingkah laku psikotis. Dengan terganggunya aspek emosi dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain atau lingkungannya.
2) Kauffman (dalam Sujtihati Somantri, 2012, hlm. 140)
: anak yang secara kronis dan mencolok berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang secara sosial tidak dapat diterima atau secara pribadi tidak menyenangkan tetapi masih dapat diajar untuk bersikap yang secara sosial dapat diterima dan secara pribadi menyenangkan.
3) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Sunardi, 2006, hlm. 4)
: anak dengan rentang umur antara 6-17 tahun yang mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Menurut Eli M. Bower, anak dengan hambatan emosional atau kelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut:
1.Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, sensori atau kesehatan.
2.Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.
3.Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
4.Secara umum mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi.
5.Bertendensi ke rah symptoms fisik: merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.
Dari berbagai definisi yang telah dijabarkan, dapat ditarik kesimpuan bahwa anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan perilaku, emosi, dan atau sosial sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.
anak yang mengalami gangguan perilaku :
a) berkelahi, memukul, menyerang.
b) Pemarah.
c) Pembangkang.
d) Suka merusak.
e) Kurang ajar, tidak sopan.
f) Penentang, tidak mau bekerjasama.
g) Suka menggangu.
h) Suka ribut, pembolos.
i) Mudah marah, suka pamer.
j) Hiperaktif, pembohong.
k) Iri hati, pembantah
l) Ceroboh, pengacau
m) Suka menyalahkan orang lain.
n) Mementingkan diri sendiri.
a) Cemas.
b) Tegang.
c) Tidak punya teman.
d) Tertekan.
e) Sensitif.
f) Rendah diri.
g) Mudah frustasi.
h) Pendiam.
i) Mudah bimbang.
a) Pelamun.
b) Kaku.
c) Pasif.
d) Mudah dipengaruhi.
e) Pengantuk.
f) Pembosan.
a) Mempunyai komplotan jahat.
b) Berbuat onar bersama komplotannya.
c) Membuat genk.
d) Suka diluar rumah sampai larut.
e) Bolos sekolah.
f) Pergi dari rumah
a) Hasil belajar di bawah rata-rata.
b) Sering berurusan dengan guru BK.
c) Tidak naik kelas.
d) Sering membolos.
e) Sering melakukan pelanggaran, baik di sekolah maupun di masyarakat, dan lain-lain.
a) Karakteristik Sosial
Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain:
b) Karakteristik Emosional
Pada anak tuna laras umumnya masalah fisik/kesehatan yang dialami berupa gangguan makan, gangguan tidur atau gangguan gerakan.
Kelainan lain yang berwujud kelainan fisik yaitu gagap, buang air tidak terkontrol, sering mengompol, dan lain-lain
Ada beberapa
hal yang menjadi penyebab utama seseorang mengalami ketunalarasan. Daniel P. Hallahan, dkk (2009: 270), terdapat empat faktor utama yang menjadi penyebab ketunalarasan
1) Ketidakberdayaan yang dipelajari
(learned helplessness)
2) Keterampilan sosial yang minim
(social skill deficiency)
3) Konsekuensi paksaan
(coercive consequences)
Disimpulkan bahwa dampak yang ditimbulkan dari ketunalarasan individu terlihat dari emosi yang dimiliki anak tunalaras membuatnya ingin melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari aturan. Tindakan-tindakan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu kondisi dilingkungan sekitarnya, sehingga menimbulkan persepsi yang negatif dari masyarakat yang merasa dirugikan oleh tindakan anak tunalaras tersebut.
Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Prestasi yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka memiliki intelegensi yang rendah.
Kepribadian merupakan struktur yang unik, tidak ada dua individu yang memiliki kepribadian sama. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian konflik, dapat menjadikan stabilitas emosi terganggu. Selanjutnya mendorong terjadinya perilaku menyimpang. Keadaan seperti ini yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan dapat menimbulkan frustrasi pada diri individu, serta menimbulkan gangguan seperti pada anak atau remaja tunalaras
tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang ada di dalam diri dan lingkungan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan ia pun kurang dapat mengerti dan menghayati perasaan orang lain
Mereka menganggap dirinya tak berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan, sehingga timbul perasaan kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan lingkungan. Apabila berhasil sekalipun anak tunalaras akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya.
Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan dalam usaha mengatasi permasalahan anak tunalaras, yaitu:
1. Pendekatan Biomedis
Pendekatan ini memandang dan memperlakukan anak tunalaras dari sudut pandang ilmu kedokteran.
Pendekatan ini digunakan untuk siswa tunalaras yang mengalami ketunalarasan karena cedera neurologis.
2. Pendekatan Psikodinamik
Pendekatan psikodinamik menitikberatkan pada segi psikologis anak. Strateginya adalah memahami dan memecahkan masalah yang difokuskan pada penyebab-penyebab hambatan yang dialami siswa
3. Pendekatan Perilaku
Pendekatan perilaku adalah usaha untuk mengubah perilaku yang merupakan problematika sosial dan personal bagi anak.
4. Pendekatan Pendidikan
Siswa tunalaras dengan hambatan emosi dan perilaku kurang mampu berkonsentrasi yang berakibat mereka juga kurang dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Program pengajaran yang tertata rapi dengan harapan-harapan jelas, dan rancangan indikator ketercapaian tujuan pembelajaran yang jelas dipercaya dapat meningkatkan prestasi siswa tunalaras.
5. Pendekatan Ekologi
U pendekatan ini menitikberatkan pada faktor - faktor dan tekanan - tekanan dalam masyarakat. usaha pada pendekatan ini difokuskan pada pengaruh interaksi lingkungan terhadap anak
Sehubungan dengan model yang digunakan dalam memberikan layanan
kepada anak tunalaras Kauffman (1985) mengemukakan jenis-jenis model
pendekatan sebagai berikut.
1) Model biogenetik
Model ini dipilih berdasarkan asumsi bahwa gangguan perilaku
disebabkan oleh kecacatan genetik atau biokimiawi
2) Model behavioral (tingkah laku)
model ini mempunyai asumsi bahwa gangguan emosi merupakan
indikasi ketidakmampuan menyesuaikan diri yang terbentuk, bertahan,
dan mungkin berkembang karena berinteraksi dengan lingkungan.
3) Model psikodinamika
perilaku yang menyimpang atau
gangguan emosi disebabkan oleh gangguan atau yang terjadi
dalam proses perkembangan kepribadian karena berbagai faktor
sehingga kemampuan yang diharapkan sesuai dengan usianya terganggu.
4) Model ekologis
Model ini menganggap bahwa kehidupan ini terjadi karena adanya
interaksi antara individu dengan lingkungannya. .