Introducing 

Prezi AI.

Your new presentation assistant.

Refine, enhance, and tailor your content, source relevant images, and edit visuals quicker than ever before.

Loading…
Transcript

Penatalaksanaan Sinkop di Pelayanan Kesehatan Gigi

Pengertian

Pengertian

hilangnya kesadaran seseorang yang terjadi tiba-tiba dan bersifat sementara akibat tidak adekuatnya cerebral blood flow. Hal ini disebabkan karena terjadinya vasodilatasi dan bradikardi secara mendadak sehingga menimbulkan hipotensi

Cerebral Blood Flow (CBF) atau aliran darah serebral adalah jumlah darah yang melewati jaringan otak dalam satuan waktu tertentu, biasanya diukur dalam mililiter per 100 gram jaringan otak per menit (mL/100g/menit)

Bradikardi adalah kondisi di mana detak jantung lebih lambat dari normal, biasanya kurang dari 60 denyut per menit (BPM) pada orang dewasa.

Faktor-faktor pemicu

Faktor psikogenik

Faktor psikogenik

rasa takut, tegang, stress emosional, rasa nyeri hebat yang terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga dan rasa ngeri melihat darah ataua alat peralatan kedokteran seperit jarum suntik

non-psikogenik

non-psikogenik

posisi duduk tegak, rasa lapar, kondisi fisik yang jelek, dan lingkungan yang panas, lembab dan padat

Patofisiologi terjadinya syncope

ANALYSIS

  • Faktor-faktor psikogenik seperti perasaan takut, ngeri atau rasa nyeri yang hebat  peningkatan aktivitas nervus vagus pada jantung dan pembuluh darah perifer bradikardi dan vasodilatasi sistemik  hipotensi secara mendadak penurunan cerebral blood flow yang ditandai dengan munculnya keluhan-keluhan berupa: pandangan keluhan-keluhan berupa pandangan gelap, perasaan mau pingsan & mual (nausea).
  • Hipotensi akan merangsang refleks simpatis berupa takikardi dan vasokontriksi perifer yang secara klinis dideteksi sebagai peningkatan denyut nadi dan keringat dingin pada akral atau ekstremitas atas.

Takikardi adalah kondisi di mana detak jantung lebih cepat dari normal, yaitu lebih dari 100 denyut per menit (BPM) pada orang dewasa saat beristirahat.

Pembuluh darah perifer adalah pembuluh darah yang berada di luar jantung dan otak, termasuk arteri, vena, dan kapiler yang berfungsi untuk mengedarkan darah ke anggota tubuh seperti tangan, kaki, dan organ lainnya

Akral adalah istilah yang merujuk pada bagian tubuh yang berada di ujung atau ekstremitas, seperti jari tangan, jari kaki, telapak tangan, telapak kaki, ujung hidung, dan daun telinga

Presyncope

  • Diawali dengan perasaan tidak nyaman, seakan mau pingsan, dan mual, dan didapatkan keringat dingin di se,uruh tubuh.
  • Apabila berlanjut dapat muncul tanda-tanda dilatasi pupil, penderita menguap, hyperpnea dan ekstremitas atas dan bawah teraba dingin
  • Pada fase ini tekanan darah dan nadi turun pada titik dimana belum terjadi kehilangan kesadaran.

Presyncope

Hyperpnea adalah kondisi di mana seseorang bernapas dengan napas yang lebih dalam dan/atau lebih cepat dari normal, biasanya sebagai respons terhadap peningkatan kebutuhan oksigen dalam tubuh

Syncope

  • Ditandai dengan hilangnya kesadaran penderita dengan gejala klinis :
  • Pernafasan pendek, dangkal dan tidak teratur
  • Bradikardi dan hipotensi berlanjut
  • Nadi teraba lemah
  • Gerakan konvulsif dan muscular twitching pada otot-otot lengan, tungkai dan wajah.
  • Pada fase ini penderita rentan mengalami obstruksi jalan nafas karena terjadinya relaksasi otot-otot akibat hilangnya kesadaran
  • Pada posisi supine pemulihan akan berlangsung cepat.

Syncope

Gerakan konvulsif adalah gerakan tubuh yang tidak terkontrol

Muscular twitching adalah kontraksi otot kecil yang tidak disengaja dan terjadi secara tiba-tiba

Obstruksi adalah kondisi di mana terjadi hambatan atau penyumbatan pada suatu saluran dalam tubuh, yang dapat mengganggu aliran udara, darah, cairan, atau zat lainnya. Obstruksi bisa terjadi di berbagai sistem tubuh

Postsyncope

  • Merupakan periode pemulihan dimana penderita kembali pada kesadaran
  • Pada fase awal postsyncope penderita dapat mengalami disorientasi, mual, dan berkeringat.
  • Pada pemeriksaan klinis didapat nadi mulai meningkat dan teraba lebih kuat, dan tekanan darah mulai naik.

Penatalaksanaan

Monitoring

Monitoring

Pada penderita yang mengalami syncope perlu dimonitor kesadarannya secara berkala dengan melakukan komunikasi verbal dengan penderita. Apabila penderita dapat merespon baik secara verbal maupun non-verbal berarti airway & breathing penderita baik.

Cek Kesadaran

Circulation dapat dinilai dengan memonitor nadi arteri radialis dan pengukuran tekanan darah. Tekanan darah sistolik, meskipun turun, pada umumnya masih berada di atas 70 mmHg. Sebaliknya, pada penderita yang mengalami syok tekanan darah dapat menurun secara drastis sampai di bawah 60 mmHg. Pada hipotensi berat semacam itu dapat terjadi hilangnya kesadaran dimana pnderita tidak memberikan respon dengan rangsang verbal. Hilangnya kesadaran dapat dipastikan dengan tidak adanya respon motorik terhadap rangsang nyeri, misalnya dengan cubitan, pada ekstremitas atas penderita.

Cek Kesadaran

Arteri radialis adalah salah satu arteri utama di lengan bawah yang digunakan untuk mengukur denyut nadi

Tindakan

Tindakan

  • Apabila terjadi penurunan atau kehilangan kesadaran yang disertai hipotensi maka segera lakukan posisi supine, dimana tungkai diletakkan lebih tinggi daripada kepala.
  • Pada penderita yang hilang kesadarannya perlu dilakukan intervensi untuk membebaskan jalan nafas yaitu dengan chin lift dan head tilt yang bertujuan untuk mengangkat pangkal lidah ke anterior untuk membebaskan orofaring dan mengevaluasi fungsi pernafasan dengan look-feel-listen. Diberikan oksigen tambahan dengan sarana face mask dengan tetap mempertahankan terbukanya jalan nafas.

Orofaring adalah bagian tengah dari faring (tenggorokan) yang terletak di belakang rongga mulut.

Tindakan Lanjutan

Tindakan Lanjutan

Menempatkan penderita pada posisi supine atau shock position. Kedua manufer ini akan memperbaiki venous return ke jantung dan selanjutnya meningkatkan cerebral blood flow. Selain intervensi tsb penderita dapat diberikan oksigen murni 100% melalui face mask dengan kecepatan aliran 6-8 liter per menit. Bila intervensi dapat dilakukan segeran maka biasanya kesadaran penderita akan kembali dalam waktu relatif cepat.

Terminasi

Terminasi

Setelah kesadaran pulih tetap pertahankan penderita pada posisi supine, jangan tergesa-gesa mendudukkan penderita pada posisi tegak karena hal ini dapat menyebabkan kembalinya hilang kesadaran yang dapat berlangsung lebih berat dan membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.

Daftar Pustaka

Learn more about creating dynamic, engaging presentations with Prezi