Introducing
Your new presentation assistant.
Refine, enhance, and tailor your content, source relevant images, and edit visuals quicker than ever before.
Trending searches
Efusi Pleura Maligna
ALUR PENATALAKSANAAN
KESIMPULAN
Pemeriksaan penunjang
CT scan
Temuan CT-scan yang mengarah kepada keganasan adalah adanya nodularitas pleura, pleural rind, keterlibatan pleura mediastinal, dan penebalan pleura lebih 1 cm.
DIAGNOSIS
Rontgen Thorak :
Perselubungan homogen
Pendorongan trakea dan mediastinum ke arah kontra lateral
Pemeriksaan ini dapat mendeteksi cairan dengan volume sekitar 150-200 ml atau lebih.
Thoracic Ultrasonografi
amnesis
Sesak napas (keluhan tersering)
Nyeri dada
Dada terasa penuh,
Batuk kering dan /atau batuk darah
Riwayat kanker dan pembedahan sebelumnya untuk meyakinkan
apakah tumor primer berasalkan dari organ intratoraks atau ekstratoraks.
Thoracic ultrasonografi (TUS) dapat mendeteksi cairan pleura yang sesedikit 5-50 ml dan memiliki sensitivitas 100%.
MANIFESTASI KLINIS
Sesak napas Batuk
Nyeri dada dada
Dada serasa penuh
BB turun
Anoreksia
Mual muntah
FISIOLOGI CAIRAN PLEURA
Tumor dapat mempermudah terjadinya
infeksi -> hipoproteinemia -> akibatnya
keseimbangan kadar protein darah
dan rongga pleura
terganggu perpindahan cairan ke rongga
pleura akibat tekanan osmotik yang tinggi.
Menumpuknya sel-sel tumor meningkatkan kadar protein dalam rongga pleura permeabilitas kapiler meningkat perpindahan cairan dari dalam vaskuler ke rongga pleura.
Masa atau tumor tersumbatnya aliran pembuluh darah vena dan pembuluh limfe rongga pleura gagal dalam memindahkan cairan dan protein.
Beda transudat dan eksudat
Penyebab transudat & eksudat
Biopsi Pleura
Tes cairan pleura rutin
Pemeriksaan histopatologi pleura dapat menegakkan diagnosis efusi pleura ganas sekitar 50 - 70% dengan penemuan sel ganas pada jaringan pleura. Bila dicurigai tumor primer dinding dada (mesotelioma) dapat dilakukan biopsi dengan tuntunan CT-Scan.
Cairan pada rongga pleura secara normal diproduksi melalui filtrasi dari pembuluh darah perifer yang terjadi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstisial sub-mesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura.
Selain itu, cairan pleura juga didapat melalui pembuluh limfe di sekitar pleura.
Tes cairan pleura optional
Torakoskopi
Pemeriksaan ini memiliki ketepatan diagnosis 95-97% tetapi memiliki resiko yang cukup besar seperti pneumothoraks, hematotoraks dan empiema.
Saat ini telah berkembang tehnik yakni Video-Assisted Thoracic Surgery (VATS) yang memudahkan diagnosis sekaligus tatalaksana (lebih baik dan kurang invasif).
Pemeriksaan Fisik
Timbul pada efusi pleura yang mencapai volume 300 ml.
Meliputi :
Gerakan dinding dada berkurang
Perkusi redup
Penurunan vokal fremitus
Pleural friction rub
Penggeseran batas mediastinum ke arah kontralateral efusi
Penurunan suara napas
Riwayat medis dan pemeriksaan fisik
Bronkoskopi
Alur Diagnosis EPG
Temuan Radiologis pada Efusi Pleura
Bronkoskopi memiliki akurasi diagnostik rendah pada pasien dengan efusi pleura tidak terdiagnosis dan tidak boleh dilakukan secara rutin.
Namun, pemeriksaan ini dapat dilakukan jika curiga adanya lesi endobronchial karena hemoptisis, atelektasis, atau efusi maif tanpa pergeseran mediastinum kontralateral.
Torakosentesis (Aspirasi cairan pleura) :
Sebagai uji diagnostik dan terapeutik.
Untuk mencegah edem paru, torakosentesis harus dihentikan apabila pasien mengalami batuk, sesak atau nyeri dada.
Jika setelah torakosentesis pada EPM sesak tidak membaik, harus dipertimbangankan adanya sebab lain seperti atelektasis, emboli paru atau
Analisis Cairan Pleura
Makroskopis
Merah (darah) keganasan, trauma, emboli
Coklat (darah lama) hemothorax
Hitam Aspergillus niger atau Rhizopus oryzae, atau akibat perdarahan masif karena karsinoma metastatik dan melanoma.
Mikroskopis
Jumlah sel berinti sebanyak 1500-4000/μl yang terdiri dari sel-sel limfosit, makrofag dan sel-sel mesotelial.
Sel PMN (proses akut) TB peluritis akut, efusi parapenumonic, infeksi virus.
Sel MN (proses kronis) keganasan, emboli paru, TB
Cairan pleura akan diserap kembali ke tubuh oleh pleura parietal melalui pembuluh limfe dan oleh pleura viseral melalui pembuluh darah mikro.
Produksi cairan pleura normal kurang lebih sekitar 0,01 ml/KgBB/jam hampir sama dengan penyerapannya kembali oleh tubuh dan dapat dikatakan bahwa sekitar 10-20 ml cairan pleura bersirkulasi setiap harinya.
Sitologi
Keakuratan pemeriksaan sitologi dari EPM sekitar 60% (kisaran 40-87%).
Biokimia
Bersifat eksudat dengan rasio protein cairan pleura dan serum > 0,5; lactat dehidrogenase (LDH) > 200 IU; rasio LDH cairan pleura dan serum > 0,6, rivalta (+).
PENATALAKSANAAN
Torakosentesis
Kemoterapi
Pasien dengan efusi pleura masif menekan organ intratoraks pengeluaran cairan.
Dilakukan pada sela iga ke enam atau ke tujuh pada garis mid axilaris atau aksilaris posterior.
Chest tube atau kateter dimasukkan ke dalam rongga pleura yang dihubungkan dengan sistem WSD atau Negatif Continuous Suction dengan tekanan -15 sampai -20 CmH2O.
Pengeluaran cairan pleura dianjurkan tidak sekaligus (maksimal 1,5 liter) peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan edema paru re-ekspansif.
Komplikasi lain adalah cedera paru, hematotoraks, pneumotoraks, emfisema sub-kutis, hipotensi, gagal jantung dan infeksi sekunder
Beberapa efusi pleura ganas mempunyai respon terhadap pemberian kemoterapi sistemik.
Jika proses keganasan tersebut sensitif dengan kemoterapi seperti limfoma dan karsinoma sel kecil, pengobatan dapat mengontrol efusi pleura.
Penatalaksanaan efusi pleura ganas tergantung dari beberapa faktor antara lain penyakit dasar, jenis sel, stadium, luas penyakit, tampilan dan angka harapan hidup.
Banyak penderita yang memerlukan penatalaksanaan invasif untuk menghilangkan gejala seperti torasentesis, pleurodesis, bedah pintas pleuro-peritonial dan pleurektomi.
Mekanisme produksi dan absorbsi cairan pleura ini mengikuti Hukum Starling yaitu jumlah pembentukan dan pengeluaran seimbang, sehingga volume pada rongga pleura tetap.
Cairan pleura berperan sebagai pelumas agar paru dapat bergerak dengan leluasa saat bernapas.
Pleurodesis
Drainase dengan indwelling kateter
Dalam kurun waktu 3 tahun (1994-1997) di RS.Persahabatan Jakarta ditemukan EPG sebanyak 120 dari 229 kasus efusi pleura.
Pemasangan Indwelling kateter
Pleurodesis adalah penyatuan pleura viseralis dengan parietalis baik secara kimiawi, mineral, ataupun mekanik, secara permanen untuk mencegah akumulasi cairan maupun udara dalam rongga pleura.
Pleurodesis telah diterima sebagai terapi paliatif pada efusi pleura ganas yang berulang dengan memasukkan bahan tertentu ke dalam rongga pleura.
pemasangan indwelling kateter jangka panjang dapat memberikan drainase intermitten sampai 1000 ml cairan pleura pada 2 sampai 3 kali periode seminggu.
Terdapat beberapa jenis kateter yang dapat dipakai pada prosedur ini, yang banyak digunakan adalah kateter pleura pleurx.
Pleurektomi
Pleuroperitoneal shunting
Pleurektomi adalah tindakan dengan membuang pleura parietal yang menutupi daerah iga dan mediastinum. Pleurektomi dengan VATS lebih aman walaupun belum banyak digunakan.
Pleroperitoneal shunting adalah sebuah teknik alternatif untuk menangani efusi pleura proses malignansi yang refrakter dengan pleurodesis kimiawi maupun pada pasien dengan trapped lung syndrome.