Prezi

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in the manual

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Budaya Nusantara (Kebudayaan Toraja)

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah budaya Nusantara
by Tewe Turwanto on 1 April 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Budaya Nusantara (Kebudayaan Toraja)

Desa &
Rumah Research Budaya Toraja Notes Place your own picture
behind this frame! Double click to crop it if necessary San Francisco Budapest Important
Details (cc) photo by Metro Centric on Flickr (cc) photo by Franco Folini on Flickr (cc) photo by jimmyharris on Flickr Stockholm (cc) photo by Metro Centric on Flickr Sistem Kekerabatan Sistem kemasyarakatan Pekerjaan dan Religi Desa-desa di Sulawesi Selatan sekarang merupakan kesatuan- administratf, gabungan sejumlah kampung lama, yang disebut desa gaya baru. Satu kampung lama, biasanya terdiri dari sejumlah keluarga yang mendiami di antara 10 sampai 200 rumah. Rumah-rumah itu biasanya terletak berderet, menghadap ke selatan atau barat. Kalau ada sunga di desa, maka akan diusahakan agar rumah-rumah dibanguan dengan membelakangi sungai. Pusat dari kampung lama merupakan suatu tempat keramat (posisi tana) dengan suatu pohon waringin yang besar, Kecuali tempat keramat tiap kampung selalu ada langgar atau masjidnya. Sebuah kampung lama dipimpin oleh seorang matowa(atau jannang, lompo’, toddo’) dengan kedua pembantunya yang disebut sariang atau parennung. Suatu gabungan kampung dalam struktur asli disebut wanua dalam bahasa Bugis dan pa’rasangan atau bori’ dalam bahasa Makassar. Pimpinan wanua dulu disebut arung pailili’ atau sullewatung dalam bahasa Bugis dan gallarang atau karaeng dalam bahasa Makassar. Rumah dan masjid. Rumah dalam kebudayaan Bugis-Makassar, dibangun diatas tiang terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mempunyai fungsinya yang khusus ialah; (a) Rakkeang dalam bahasa Bugis atau pammakkung dalam bahasa Makassar b) Ale-Bola dalam bahasa Bugis atau kalle-balla’ dalam bahasa Makassar, (c) Awasao dalam bahasa Bugis atau passiringan dalam bahasa Makassar Assets map details doodles notes outlook photo frame Makanan Khas Makasar #Di Sulawesi Selatan ada empat suku besar yang mendominasi struktur masyarakat setempat. Ada suku Mangkasara, yang lebih di kenal di luar dengan nama Makassar, suku Bugis, Mandar dan suku Toraja yang mendiami sebagian besar wilayah ini. Di antara keempat suku tersebut, suku Bugis dan Makassar mendominasi daerah ini baik dari jumlah populasi maupun penyebarannya.
Suku Bugis atau rumpun Bugis itu tidak hanya ada satu suku melainkan 14 suku rumpun Bugis #Suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai 'Bahasa Ugi' dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang disebut ‘aksara’ Bugis. Tulisan ini telah ada sejak abad ke-12 seiring meluasnya pengaruh hindu di kepulauan indonesia. #Suku bangsa Bugis sudah lama berhubungan dengan Australia dan orang pribumi Australia yaitu Aborijin. Para nelayan Bugis secara teratur berlayar ke perairan Australia sebelah utara setidaknya sejak tahun 1650 #Dalam hal pernikahan, suku bangsa Bugis memegang kepercayaan standar tertentu mengenai kecocokan pasangan suami-isteri ideal seperti agama, kekerabatan, status sosial, dan sifat-sifat pribadinya. Karena itu, seleksi pengantin wanita atau pengantin laki-laki adalah soal yang tidak dapat diserahkan pada pemuda Bugis sendiri. Orang tuanya berperan besar dalam memilih pasangan buat anaknya. Dalam pemilihan pasangan tersebut, status sosial dan kemampuan keuangan sangat penting. #Perkawinan antara saudara-saudara sepupu tersebut, walaupun dianggap ideal, bukan suatu hal yang diwajibkan, sehingga banyak pemuda dapat saja kawin dengan gadis-gadis yang bukan saudara-saudara sepupunya. Adapun perkawinan-perkawinan yang dilarang karena dianggap sumbang (salimara’) #Perkawinan yang dilangsungkan secara adat melalui deretan kegiatan-kegiatan sebagai berikut 1.Mappuce-puce 2.Massuro (assuro dalam bahasa makassar) 3.Madduppa (ammuntuli dalam bahasa makassar) 4.Pabbajikang 5.Rombongan Erang-erangadalah iring-iringan pengantin dalam baju bodo kuning yang bersiap menuju kediaman mempelai wanita. 6.Passompa ##Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan. Orang Bugis-Makasar lebih banyak tinggal di Kabupaten Maros dan Pangkajene Propinsi Sulawesi Selatan. Mereka adalah penganut agama Islam yang taat. Agama Islam masuk ke daerah ini sejak abad ke-17. Pada zaman pra-Islam religi orang Bugis-Makaasar, seperti tampak dari Sure’Galigo, mengandung suatu kepercayaan dewa tunggal disebut dengan beberapa nama, yaitu 1. Patoto-e, 2. Dewata Seuwa-e, 3. Turie a’rana,
Sisa-sisa kepercayaan ini masih terlihat pada orang To Latang di Kabupaten Sindenreng-Rappang dan orang-orang Amma Towa di Kajjang Kabupaten Bulukumba. Orang Bugis-Makasar masih menjadikan adat mereka sebagai sesuatu yang sakral dan keramat. Sistem adat yang keramat itu di dasarkan lima unsur pokok pangaderreng Tampang Allo Sejarah singkat obyek Tampang Allo ini merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan Sangalla' dan berisikan puluhan Erong, puluhan tau-tau dan ratusan tengkorak serta tulang belulang manusia. Seni Tari Makanan Khas Kue Tumbuk
Makanan ini dibuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan, dicetak dengan bumbu sebelum dimasak, dan dibungkus daun pisang muda. Bentuknya bukat dengan tebal sekitar 2 sentimeter dan diameter 3,5 cm. Biasanya kue ini dihidangkan bersama sambal kacang, bumbu opor ayam/daging, atau dengan sambal hati ayam/kambing. Dalam satu piring hanya diberi satu sampai dua kue tumbuk dan di sisinya diberi aneka sambal tergantung selera yang menyantap. Upacara Rambu Solo’ Dipasang Bongi: Upacara yang hanya diiaksanakan dalam satu malam.
Dipatallung Bongi: Upacara yang berlangsung selama tiga malam dan dilaksanakan dirumah dan ada pemotongan hewan.
Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah serta pemotongan hewan
Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang setiap harinya ada pemotongan hewan. Kerajinan Kerajinan Tenun
Jenis kerajinan ini sangat terkenal di daerah Sa'dan, Rongkong Mamasa dan Simbuang (Toraja Barat), bahan dasar untuk tenunan ini adalah kain yang ditenun dari benang kapas yang dipintal secara tradisional. Bahan pewarna yang asli terbuat dari tanah berwarna dari kulit pelepah (pa'pak), biji serta dedaunan jenis tanaman tradisional tertentu. Warna yang banyak ditampilkan adalah warna merah, kuning, hitam, hijau dan biru di samping warna putih. Kerajinan Merangkai manik – manik
Keterampilan merangkai manik-manik seperti keterampilan menenun jumlahnya sangat terbatas. Keberadaan pengrajin yang juga harus memiliki kemampuan seni tinggi ini, sangat menolong tersedianya asesoris pakaian adat serta bahan dekorasi untuk tempat-tempat berlangsungnya upacara baik Rambu Tuka' maupun pada Rambu Solo' Kerajinan Perhiasan Tradisional dari Bahan Emas dan Perak
Perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, merupakan kelengkapan pakaian (asesoris) maupun untuk peralatan dekorasi, ialah: Gayang Bulaan (keris emas), Rara' (kalung emas), Lola' (gelang emas), Sissin (cincin), Tida-tida (anting-anting dari emas), Manik Kata (kalung). Seni Ukir Salah satu jenis kesenian yang terkenal dan khas Tana Toraja adalah seni ukir, seni sama umurnya dengan leluhur Tana Toraja. Jenis ukiran ini dipakai sebagai ragam dekorasi baik eksterior maupun interior pada rumah adat-adat Toraja (Tongkonan) termasuk pada lumbung padi (Alang Sura'). Macam Passura’ to dolo Pa' Erong
Pa' Ulu Karua
Pa' Doti Langi'
Pa' Kadang Pao
Pa' Barana‘
Pa' Lolo Tabang
Pa' Daun Bolu
Pa' Daun Paria
Pa' Bombo Uai
Pa' Kapu' Baka 
Pa' Tangke Lumu'
Pa' Bungkang Tasik
Pa' Lolo Paku
Pa' Tangki' Pattung
Pa' Katik
Pa' Talinga Tedong, etc Macam Passura’ Malolle Pa' Sala'bi'
Pa' Tanduk Ra'pe
Pa' Takku Pare
Pa' Bunga Kaliki
Pa' Poya Mundan
Pa' Bulintang Site
Pa' Bulintang Situru'
Pa' Karrang Longa
Pa' Papan Kandaure
Passura' Passulan
Pa' Sepu' To Rongkong Pa’ sepu to rongkong Erong Kerbau dan Erong Babi Tau-tau Pemakaman Kematian bagi masyarakat Toraja menjadi salah satu hal yang paling bermakna, sehingga tidak hanya upacara prosesi pemakaman yang dipersiapkan ataupun peti mati yang dipahat menyerupai hewan (Erong), namun mereka pun mempersiapkan tempat "peristirahatan terakhir" dengan sedemikian apiknya, yang tentunya tidak lepas dari strata sosial yang berlaku dalam masyarakat Toraja maupun kemampuan ekonomi individu, umumnya tempat menyimpan jenazah adalah gua/tebing gunung atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane). Budaya ini telah diwarisi secara turun temurun oleh leluhur mereka. Londa Obyek wisata Londa yang berada di desa Sandan Uai Kecamatan Sanggalai' dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke Selatan, adalah kuburan alam purba Lemo Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, hasil kombinasi antara ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kreasi tangan terampil Toraja pada abad XVI (dipahat) atau liang Paa'. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik. Budaya Mandar Seni Drama Tema Kalindaqdaq humor (kalindaqdaq pangino)
satire (kalindaqdaq paelle)
kritik sosial (kalindaqdaq pappakaingaq)
pendidikan/nasihat (kalindaqdaq pipatudu)
keagamaan (kalindaqdaq masaalla)
kejantanan/patriotisme (kalindaqdaq pettomuaneang)
percintaan/romantik (kalindaqdaq to sipomongeq). Kalindaqdaq Pitu tokke pitu sassaq // Sattindorang buliliq // Sangnging maqua // Baler i tomawuweng (Tujuh tokek tujuh cecak // Seiringan kadal // Semuanya berkata // Kembali puber si orang tua)
Muaq diang tomawuweng // Meqawaler mendulu // Alangi rottaq // Pattuttuang landana (Kalau ada orang tua // Yang puber kembali // Ambilkan sendok nasi // Pukulkan ke batang hidungnya
Uru-uru u itammu // Tappa mengeaq mating // Tappa andiang // Tambar paulinna (Pada saat pertama kali kumelihatmu // Langsung aku jatuh cinta padamu // Lantas tiada // Penawar buat mengobatinya
Tambar diting pa manini // Pauli diting topa // Anna malai // Garring di alaweu (Penawar darimu nanti // Obat darimu jua // Yang melenyapkan // Demam cinta dalam diriku)
Allo bongi mi u sossor // Gayang simballeq bose // U patayang // Pandeng pura u tujuq (Siang malam sudah kuasah setajam-tajamnya // Keris selebar dayung // Kusiapkan menjaga // Gadis yang sudah // ku pinang) Pappasang “jika anda berpikir bahwa gunung hanyalah sekedar
tumpukan bebatuan, tanah dan pepohonan yang tinggi;
maka anda menempatkan diri anda tak lebih dari
tumpukan tulang belulang, daging dan darah saja”
(I’Andi Ributtatoayya). Upacara Pernikahan (fase) Massulajing
messisi’ atau Mammanu’manu
Mettumae atau Ma’duta
Mambottoi Sorong
Membawa Paccanring
Ma’lolang
Mappadai Balaja
Mappasau
Pallattigiang
Mambawa Pappadupa
Matanna Gau
Nilipo
Mando E Bunga
Marola atau Nipemaliangngi Ritual Adat ritual niparakka’I (pelantikan adat)
ritual assipulupulungan (musyawarah)
upacara assitaliang (penucapan janji)
mappatamma (khataman)
pammunuang (maulidan)
tomesunna’ (sunatan)
pappalikka (perkawinan) Budaya Toraja Upacara Adat Rambu Tuka’ Upacara Rambu Tuka’ Upacara adat Rambu Tuka' adalah acara yang berhubungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi; menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat. Semua acara tsb dikenal dgn nama Ma' Bua', Meroek, atau Mangrara Banua Sura'. Ratapan pada upacara kematian Kegiatan ini terkait dengan ritus kematian, nyanyian yang diselingi teriakan-teriakan kecil itu lebih dimaksudkan sebagai bentuk lain dari ratapan dukacita untuk sang tokoh yang sedang diupacarai. Nyanyian atau lagu ratapan itu sendiri dinamakan ma’bandong. Bahwa isi ratapan yang mereka nyanyikan ternyata lebih memberi tekanan pada kebesaran jasa dan keluhuran budi sang tokoh, bukan ungkapan kesedihan berikut raut wajah-wajah duka seperti halnya suasana kematian pada umumnya, tentu saja itu masalah lain. Produk Budaya Kerajinan
Seni Ukir
Pakaian Adat Seni Ukir Passura' To Dolo
Melambangkan petunjuk hidup, hukum alam, dan sering digunakan untuk upacara – upacara
Passura’ Malolle
Melambangkan perkembangan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia
Passura Pa’barean
Melambangkan ketertarikan dan memiliki motif yang beragam Pa’ulu karua Pa’ Kadang Pao Pa’ Balintong Siteba’ Macam Passura Pa’barean Pa' Manik Bu'ku'
Pa' Ara' Dena'
Pa' Komba Kalua'
Pa' Barra'-Barra'
Pa' Bua Kapa'
Pa' Gayang Seni Ukir Erong
Pada Banua Tang Merambu atau kuburan/patane dikenal hasil pahatan sebagai berikut: Erong, yakni peti mati yang dibentuk seperti lesung, dan digunakan sebagai tempat menyimpan jenazah. Erong ini dipahat bagian dalamnya dan bentuk luarnya seperti kepala hewan kerbau atau babi. Bagian penutup dari erong ini ada juga yang dipahat dalam bentuk ukiran ular/naga atau badan perahu, dan modelnya ada yang persegiempat panjang, ada pula yang berbentuk setengah silinder Seni Ukir Katik
Ini adalah bentuk kepala ayam jantan yang berkokok. Ada juga yang berbentuk ular naga yang merupakan simbol dari hewan yang berkuasa dan berkekuatan besar. Katik ini merupakan pelambang pemimpin yang menjalankan pemerintahan, pengayoman pada masyarakat dengan adil dan benar. Seni Ukir Tau-tau
Ini adalah patung yang menggambarkan si mati. Pada pemakaman golongan bangsawan atau penguasa/pemimpin masyarakat salah satu unsur Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatann Tau-tau. Tau-tau dibuat dari kayu nangka yang kuat, pada saat penebangannya dilakukan secara adat. Mata Tau-tau terbuat dari tulang dan tanduk kerbau. Pada jaman dahulu, Tau-tau dipahat tidak persis menggambarkan roman muka si mati, tetapi akhir-akhir ini pengrajin pahat berkembang hingga mampu membuat persis roman muka si mati. Pakaian Adat Pakaian adat masyarakat Mandar, utamanya yang ada di Polewali Mandar juga sangatlah beragam. Namun bagi orang Mandar untuk mengenakan pakaian adat tertentu, mestinya mengikuti etika dan tradisi yang telah dianut secara turun temurun. Salah satu pakaian adat Mandar yang cukup populer adalah, jenis baju pokko dan passigar.
Pakaian adat ini biasanya dikenakan pada acara perkawinan oleh pengantin atau pada saat seorang perempuan menunggangi kuda pattu’du ( menari ). Juga pada saat dilangsungkan acara – acara tradisi kenduri budaya lainnya, lengkap dengan pernak – perniknya seperti dali (subang), gallang (gelang) dan sebagainya Sistem Kemasyarakatan Tana’ Bulaan : Lapisan bangsawaan tinggi sebagai pewaris Aluk (kepercayaan) untuk memimpin agama.
Tana’ Bassi : Lapisan bangsawan menengah sebagai pewaris kepemimpinan.
Tana’ Karurun : Lapisan rakyat kebanyakan yang tidak diperintah secara langsung (Tukang atau orang yang terampil)
Tana’ Kua-Kua : Lapisan hamba sahaya (pengabdi) Teknologi Pelayaran Perahu Sandeq
Sandeq merupakan sebutan untuk perahu layar tradisional khas masyarakat suku Mandar, yang sentra pembuatannya terdapat di Desa Bala, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Perahu ini memiliki panjang lambung sekitar 7—11 meter dan lebar 60—80 sentimeter, dan di samping kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. aat mengarungi laut lepas. Seni Drama Selain alat –alat  musik khas Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, beberapa bentuk kesenian pun dapat dinikmati seperti pertunjukan seni drama tradisional yang alur cerita dan setting penokohannya beranjak dari latar belakang cerita kebudayaan dan tradisi masyarakat Mandar. Karya – karya serupa ini biasanya disusun oleh beberapa kelompok komunitas kesenian rakyat yang memang ajeg melakukan aktivitas pertunjukan kesenian rakyat. Kalindaqdaq Pitu tokke pitu sassaq // Sattindorang buliliq // Sangnging maqua // Baler i tomawuweng (Tujuh tokek tujuh cecak // Seiringan kadal // Semuanya berkata // Kembali puber si orang tua)
Muaq diang tomawuweng // Meqawaler mendulu // Alangi rottaq // Pattuttuang landana (Kalau ada orang tua // Yang puber kembali // Ambilkan sendok nasi // Pukulkan ke batang hidungnya
Uru-uru u itammu // Tappa mengeaq mating // Tappa andiang // Tambar paulinna (Pada saat pertama kali kumelihatmu // Langsung aku jatuh cinta padamu // Lantas tiada // Penawar buat mengobatinya
Tambar diting pa manini // Pauli diting topa // Anna malai // Garring di alaweu (Penawar darimu nanti // Obat darimu jua // Yang melenyapkan // Demam cinta dalam diriku)
Allo bongi mi u sossor // Gayang simballeq bose // U patayang // Pandeng pura u tujuq (Siang malam sudah kuasah setajam-tajamnya // Keris selebar dayung // Kusiapkan menjaga // Gadis yang sudah // ku pinang) Kerajinan Kerajinan Tenun
Jenis kerajinan ini sangat terkenal di daerah Sa'dan, Rongkong Mamasa dan Simbuang (Toraja Barat), bahan dasar untuk tenunan ini adalah kain yang ditenun dari benang kapas yang dipintal secara tradisional. Bahan pewarna yang asli terbuat dari tanah berwarna dari kulit pelepah (pa'pak), biji serta dedaunan jenis tanaman tradisional tertentu. Warna yang banyak ditampilkan adalah warna merah, kuning, hitam, hijau dan biru di samping warna putih. Kerajinan Merangkai manik – manik
Keterampilan merangkai manik-manik seperti keterampilan menenun jumlahnya sangat terbatas. Keberadaan pengrajin yang juga harus memiliki kemampuan seni tinggi ini, sangat menolong tersedianya asesoris pakaian adat serta bahan dekorasi untuk tempat-tempat berlangsungnya upacara baik Rambu Tuka' maupun pada Rambu Solo' Kerajinan Perhiasan Tradisional dari Bahan Emas dan Perak
Perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, merupakan kelengkapan pakaian (asesoris) maupun untuk peralatan dekorasi, ialah: Gayang Bulaan (keris emas), Rara' (kalung emas), Lola' (gelang emas), Sissin (cincin), Tida-tida (anting-anting dari emas), Manik Kata (kalung). Seni Ukir Salah satu jenis kesenian yang terkenal dan khas Tana Toraja adalah seni ukir, seni sama umurnya dengan leluhur Tana Toraja. Jenis ukiran ini dipakai sebagai ragam dekorasi baik eksterior maupun interior pada rumah adat-adat Toraja (Tongkonan) termasuk pada lumbung padi (Alang Sura'). Macam Passura’ to dolo Pa' Erong
Pa' Ulu Karua
Pa' Doti Langi'
Pa' Kadang Pao
Pa' Barana‘
Pa' Lolo Tabang
Pa' Daun Bolu
Pa' Daun Paria
Pa' Bombo Uai
Pa' Kapu' Baka 
Pa' Tangke Lumu'
Pa' Bungkang Tasik
Pa' Lolo Paku
Pa' Tangki' Pattung
Pa' Katik
Pa' Talinga Tedong, etc Pa’ Kadang Pao Pa’ Balintong Siteba’ Seni Ukir Katik
Ini adalah bentuk kepala ayam jantan yang berkokok. Ada juga yang berbentuk ular naga yang merupakan simbol dari hewan yang berkuasa dan berkekuatan besar. Katik ini merupakan pelambang pemimpin yang menjalankan pemerintahan, pengayoman pada masyarakat dengan adil dan benar. Erong Kerbau dan Erong Babi Tau-tau Pemakaman Kematian bagi masyarakat Toraja menjadi salah satu hal yang paling bermakna, sehingga tidak hanya upacara prosesi pemakaman yang dipersiapkan ataupun peti mati yang dipahat menyerupai hewan (Erong), namun mereka pun mempersiapkan tempat "peristirahatan terakhir" dengan sedemikian apiknya, yang tentunya tidak lepas dari strata sosial yang berlaku dalam masyarakat Toraja maupun kemampuan ekonomi individu, umumnya tempat menyimpan jenazah adalah gua/tebing gunung atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane). Budaya ini telah diwarisi secara turun temurun oleh leluhur mereka. Londa Obyek wisata Londa yang berada di desa Sandan Uai Kecamatan Sanggalai' dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke Selatan, adalah kuburan alam purba Lemo Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, hasil kombinasi antara ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kreasi tangan terampil Toraja pada abad XVI (dipahat) atau liang Paa'. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik. Tampang Allo Sejarah singkat obyek Tampang Allo ini merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan Sangalla' dan berisikan puluhan Erong, puluhan tau-tau dan ratusan tengkorak serta tulang belulang manusia. Seni Tari Seni tari dan gerak juga menjadi ikon tersendiri masyarakat Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, yang menarik untuk dinikmati sebagai persembahan kesenian tradisional. Mulai dari tari tradisional yang memang menawarkan pergelaran seni tari dengan konsep dasar tari tradisional Mandar seperti Pattu’du hingga pada seni tari yang bersifat ekploratif seperti tari kreasi lainnya. Demikian pula seni gerak lainnya sperti pa’dego dan pa’macca (keduanya sejenis pertunjukan gerak tradisi Mandar) tetapi menyuguhkan gerak – gerak yang indah sehingga layak untuk dikomsumsi sebagai pertunjukan kesenian.
Tari-tarian mandar sebagaimana tari lain di daerah Sulsel pada mulanya berawal dari istana. Namun, tari-tarian yang difungsikan sebagai bagian ritual dari kerajaan akhirnya menjadi tari rakyat yang bukan hanya bertujuan memberikan rasa hormat pada raja sebagai representasi dari dewata, melainkan menjadi tari rakyat yang memberi hiburan yang sehat.
Tari “Patadu” menampakkan suasana langit-bumi yang menyatu dalam gerak kaki para penari yang tak terlepas dari bumi, dan pada saat yang sama pasangan tangan mereka menari-nari bukan tanpa kebebasan, namun kebebasan dengan kendali nilai budaya oleh gerakan yang menandakan adanya aturan yang harus ditaati. Musik yang menggebu-gebu tak mampu memancing emosi para penari untuk ikut-ikutan bergoyang menurut irama gendang. Para penari terkesan menari secara lemah lembut menantang iramagendang yang penuh dengan geliat yang dinamis. Hal yang sama bisa ditemukan pada tari “Pakarena” di dalam seni tari Bugis-Makassar. Seni Sastra Kalindaqdaq
Pappasang
Pemanna Kalindaqdaq tiap bait terdiri atas 4 bait larik (baris).
larik pertama terdiri atas 8 suku kata.
larik kedua terdiri atas 7 suku kata.
larik ketiga terdiri atas 5 suku kata.
larik keempat terdiri atas 7 suku kata.
merupakan puisi suku kata.
Persajakan kalindaqdaq umumnya bebas, meskipun ada juga yang bersajak-akhir aaaa, abba, aabb.2) Tema Kalindaqdaq humor (kalindaqdaq pangino)
satire (kalindaqdaq paelle)
kritik sosial (kalindaqdaq pappakaingaq)
pendidikan/nasihat (kalindaqdaq pipatudu)
keagamaan (kalindaqdaq masaalla)
kejantanan/patriotisme (kalindaqdaq pettomuaneang)
percintaan/romantik (kalindaqdaq to sipomongeq). Pappasang “jika anda berpikir bahwa gunung hanyalah sekedar
tumpukan bebatuan, tanah dan pepohonan yang tinggi;
maka anda menempatkan diri anda tak lebih dari
tumpukan tulang belulang, daging dan darah saja”
(I’Andi Ributtatoayya). Makanan Khas Kue Tumbuk
Makanan ini dibuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan, dicetak dengan bumbu sebelum dimasak, dan dibungkus daun pisang muda. Bentuknya bukat dengan tebal sekitar 2 sentimeter dan diameter 3,5 cm. Biasanya kue ini dihidangkan bersama sambal kacang, bumbu opor ayam/daging, atau dengan sambal hati ayam/kambing. Dalam satu piring hanya diberi satu sampai dua kue tumbuk dan di sisinya diberi aneka sambal tergantung selera yang menyantap. Upacara Pernikahan (fase) Massulajing
messisi’ atau Mammanu’manu
Mettumae atau Ma’duta
Mambottoi Sorong
Membawa Paccanring
Ma’lolang
Mappadai Balaja
Mappasau
Pallattigiang
Mambawa Pappadupa
Matanna Gau
Nilipo
Mando E Bunga
Marola atau Nipemaliangngi Ritual Adat ritual niparakka’I (pelantikan adat)
ritual assipulupulungan (musyawarah)
upacara assitaliang (penucapan janji)
mappatamma (khataman)
pammunuang (maulidan)
tomesunna’ (sunatan)
pappalikka (perkawinan) Budaya Toraja Upacara Adat Rambu Tuka’
Rambu Solo’ (upacara kematian) Upacara Rambu Tuka’ Upacara adat Rambu Tuka' adalah acara yang berhubungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi; menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat Upacara Rambu Solo’ Dipasang Bongi: Upacara yang hanya diiaksanakan dalam satu malam.
Dipatallung Bongi: Upacara yang berlangsung selama tiga malam dan dilaksanakan dirumah dan ada pemotongan hewan.
Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah serta pemotongan hewan
Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang setiap harinya ada pemotongan hewan. Ratapan pada upacara kematian Kegiatan ini terkait dengan ritus kematian, nyanyian yang diselingi teriakan-teriakan kecil itu lebih dimaksudkan sebagai bentuk lain dari ratapan dukacita untuk sang tokoh yang sedang diupacarai. Nyanyian atau lagu ratapan itu sendiri dinamakan ma’bandong. Bahwa isi ratapan yang mereka nyanyikan ternyata lebih memberi tekanan pada kebesaran jasa dan keluhuran budi sang tokoh, bukan ungkapan kesedihan berikut raut wajah-wajah duka seperti halnya suasana kematian pada umumnya, tentu saja itu masalah lain. Produk Budaya Kerajinan
Seni Ukir
Pakaian Adat Seni Ukir Passura' To Dolo
Melambangkan petunjuk hidup, hukum alam, dan sering digunakan untuk upacara – upacara
Passura’ Malolle
Melambangkan perkembangan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia
Passura Pa’barean
Melambangkan ketertarikan dan memiliki motif yang beragam Pa’ulu karua Macam Passura’ Malolle Pa' Sala'bi'
Pa' Tanduk Ra'pe
Pa' Takku Pare
Pa' Bunga Kaliki
Pa' Poya Mundan
Pa' Bulintang Site
Pa' Bulintang Situru'
Pa' Karrang Longa
Pa' Papan Kandaure
Passura' Passulan
Pa' Sepu' To Rongkong Pa’ sepu to rongkong Macam Passura Pa’barean Pa' Manik Bu'ku'
Pa' Ara' Dena'
Pa' Komba Kalua'
Pa' Barra'-Barra'
Pa' Bua Kapa'
Pa' Gayang Seni Ukir Erong
Pada Banua Tang Merambu atau kuburan/patane dikenal hasil pahatan sebagai berikut: Erong, yakni peti mati yang dibentuk seperti lesung, dan digunakan sebagai tempat menyimpan jenazah. Erong ini dipahat bagian dalamnya dan bentuk luarnya seperti kepala hewan kerbau atau babi. Bagian penutup dari erong ini ada juga yang dipahat dalam bentuk ukiran ular/naga atau badan perahu, dan modelnya ada yang persegiempat panjang, ada pula yang berbentuk setengah silinder Seni Ukir Tau-tau
Ini adalah patung yang menggambarkan si mati. Pada pemakaman golongan bangsawan atau penguasa/pemimpin masyarakat salah satu unsur Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatann Tau-tau. Tau-tau dibuat dari kayu nangka yang kuat, pada saat penebangannya dilakukan secara adat. Mata Tau-tau terbuat dari tulang dan tanduk kerbau. Pada jaman dahulu, Tau-tau dipahat tidak persis menggambarkan roman muka si mati, tetapi akhir-akhir ini pengrajin pahat berkembang hingga mampu membuat persis roman muka si mati. Pakaian Adat Pakaian adat masyarakat Mandar, utamanya yang ada di Polewali Mandar juga sangatlah beragam. Namun bagi orang Mandar untuk mengenakan pakaian adat tertentu, mestinya mengikuti etika dan tradisi yang telah dianut secara turun temurun. Salah satu pakaian adat Mandar yang cukup populer adalah, jenis baju pokko dan passigar.
Pakaian adat ini biasanya dikenakan pada acara perkawinan oleh pengantin atau pada saat seorang perempuan menunggangi kuda pattu’du ( menari ). Juga pada saat dilangsungkan acara – acara tradisi kenduri budaya lainnya, lengkap dengan pernak – perniknya seperti dali (subang), gallang (gelang) dan sebagainya Sistem Kemasyarakatan Tana’ Bulaan : Lapisan bangsawaan tinggi sebagai pewaris Aluk (kepercayaan) untuk memimpin agama.
Tana’ Bassi : Lapisan bangsawan menengah sebagai pewaris kepemimpinan.
Tana’ Karurun : Lapisan rakyat kebanyakan yang tidak diperintah secara langsung (Tukang atau orang yang terampil)
Tana’ Kua-Kua : Lapisan hamba sahaya (pengabdi) Budaya Mandar ASAL USUL *Bugis beasal dari kata To Ugi = orang bugis. To Ugi artinya pengikut La Sattumpugi, raja Kerajaan Tiongkok (Wajo)
*Kerajaan pertama di Bugis adalah Wemang Nriwuk, Luwuk, dan Tompoktikka dgn Luwuk sbg pemimpinnya
*Abad 15 terjadi perubahan besar dalam sosio-politik, ekonomi, dan agama
*Akhir abad 15 muncul beberapa kerajaan baru : Gowa (Makassar), Bone, dan Wajo'. Rambu Solok Rambu Solok Upacara kematian Upaca Rambu Solok Rambu Solok Prinsip hidup suku Mandar adalah Sibalipari yang artinya sama-sama menderita. Jadi antara suami dan istri sama sama menderita..
Selain itu juga terkenal istilah
Sirindo-rindo (bekerjasama/gotong royong)
Siamasei (sayang menyayangi, kasih mengasihi)
Sianuang Pamai (gembira sama gembira, susah sama susah) Sistem Budaya Masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah beratahan lama contohnya mereka membedakan pakaian antara anak-anak,remaja, dan orang tua begitu pula dengan bangsawan
Aspek sosial dunia bahari khas Mandar dijelaskan ikatan emosional antar punggawa posasi dengan sawi nya yang seperti mitra kerja bukan hamba dan tuan. Selain itu punggawa pottana, pappele, pande lopi, sampai sando bekerja tak pernah putus
Mereka mengganggap bekerja di laut merupakan pekerjaan paling dihormati dan tahu betul beradaptasi dengan laut. Sistem Sosial Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.
Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma. Penempatan Tau pada tebing yang dipahat menghadap timur di bawahnya terhampar areal persawahan dimaksudkan sebagai permintaan akan kesejahteraan hidup masyarakat Tau Tau adalah salah satu prosesi Budaya yang tetap dilestarikan meskipun mereka telah menerima kepercayaan lain
Tau tau merupakan perwujudan leluhur yang dianggap masih hidup Sistem Budaya Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut agama dan kepercayaan asli ALUK TADOLO. Kini mereka menganut agama Kristen (67%), Katolik (24%), Islam (8%), Hindu Toraja (1%). Kepercayaan orang Toraja disebut juga Sa'dan. Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Asal Usul pa'tedong pa'barre’allo pa're'po'sanguba ne'limbongan
(kerbau) (matahari) (menari) (perancang legendaris) Beberapa Motif Ukiran Toraja Ma’randing Tari Ma’gellu Tari Ma’gellu Ma’gellu
Boneballa’
Pa’gellu
Burake
Dau Bulan
Madandan
Manimbong
Pa’randing
Pa’pangngan Seni Tari Tongkonan Pakaian Adat Passuling : suling
Pa’pelle : batang padi mirip terompet
Pa’pompang : musik bambu
Pa’karobi : alat keci berbenang halus
Pa’tuali’ : bambu kecil
Pa’geso’geso’ : gesek, dari kayu dan tempurung Seni Musik Tradisional End of Celebes Culture Q & A ??? Regards
:: JONG CELEBES::
@tewe_tewe
@MeylinaManurung
@ci2tarigan
@SuluDaily
@UmarKhaf
@taufik_surya
Fb.com/meini.wahyuutami THANKS FOR WATCHING
See the full transcript