Prezi

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in the manual

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Perkembangan Teknologi di Masa Pra Aksara

No description
by Muhammad Ali Azmi on 16 September 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Perkembangan Teknologi di Masa Pra Aksara

Perkembangan Teknologi di Masa Pra Aksara
2. Antara Pantai dan Gua
Pendahuluan
Zaman batu terus berkembang, memasuki zaman meoslitikum yang hasil kebudayaannya lebih maju dari zaman paleolitikum
a. Kebudayaan Kjokkenmoddinger
b. Kebudayaan Abris Sous Roche
Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, yang berarti sampah dapur (Kjokken= Dapur, Modding= Sampah). Dapat berupa timbunan yang menggunung, atau berupa parit yang dibuat oleh kelompok orang-orang menetap secara sementara atau jangka lama, sebagai tempat pembuangan khusus yang digunakan oleh masyarakat sedenter dan terus menumpuk selama beberapa generasi.
Dalam kaitannya dalam kebudayaan manusia, kjokkenmoddinger adalah tumpukkan kulit siput dan kerang yang menimbun sepanjang pantai Sumatera Timur antara langsa di Aceh sampai Medan. Kjokkenmoddinger memberikan informasi bahwa manusia pada zaman mesolitikum, umumnya tinggak di tepi pantai.
Pada tahun 1925, Von Stein Callenfals menemukan jenis kapak genggam (chopper) pada tumpukkan kerang di pantai Sumatera Timur, chopper yang digunakan berbeda dengan chopper di masa paleolitikum. Kapak tersebut lebih dikenal dengan nama pebble atau Kapak Sumatera (Sumatralith).
Kapak Pebble terbuat dari batu kali yang pecah, dengan bagian luar yang dibiarkan begitu saja dan bagian dalam yang dimodifikasi sesuai keperluan.

Selai kapak pebble , ditemukan juga jenis kapak pendek (Hachecourt) dan jenis batu pipisan (alat penggiling). Di Jawa, batu pipisan umumnya digunakan untuk menghaluskan bumbu dan jamu, fungsi lain batu pipisan adalah untuk menghaluskan tanah agar menjadi cat merah, yang kemudian digunakan untuk upacara dan ritual.
Berdasaran pecahan tengkorak dan gigi yang ditemukan pada Kjokkenmoddinger, diperkirakan bahwa manusia yang hidup pada zaman mesolitikum adalah bangsa Papua Melanesoide.(nenek moyang suku Irian dan Melanesoid.

Abris sous roche adalah goa menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal. Penelitian mengenai kebudayaan Abris sous roche ini juga dilakukan oleh Van Stein Callenfels pada tahun 1928-1931 di Goa Lawu dekat Sampung, Ponorogo (Madiun). Disebut sebagai Sampung Bone Culture karena alat-alat yang ditemukan banyak yang terbuat dari tulang .
Abris sous roche juga ditemukan pada daerah Timor dan Rote oleh Alfred Buhler yang menemukan flakes culture dari kalsedon bertangkai dan hal ini diduga merupakan peninggalan bangsa Papua Melanesoide. Selain itu, di daerah Besuki (Jawa Timur), van Heekeren menemukan ujung panah bergerigi, kapak Sumatera dan kapak pendek.


Hasil kebudayaan Abris sous roche juga ditemukan di Lamancong (Sulawesi Selatan) atau biasa disebut kebudayaan Toala. Kebudayaan Toala ditemukan pada suatu goa yang disebut Goa Leang Pattae dan inti dari kebudayaan ini adalah flakes dan pebble.
See the full transcript