Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

tumbuhnya ruh kebangsaan dan nasionalisme

No description
by

steve ferdianto

on 8 September 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of tumbuhnya ruh kebangsaan dan nasionalisme

A. Menganalisis
Tumbuhnya Ruh Kebangsaan dan Nasionalisme
Nadia Wulandari
Natasha Maria
Priskila Cherisca
Ricky Martin
Samella Eunice
Steven Ferdianto

2. Pers Membawa Kemajuan
Pers merupakan sarana berpartisipasi dalam gerakan emansipasi, kemajuan,
dan pergerakan nasional. Pada dekade itu ditandai dengan jumlah penerbitan
surat kabar berbahasa Melayu yang mengalami peningkatan.


3. Modernisme dan Refornisme Islam
Reformasi = gerakan untuk memperbaharui cara berpikir dan cara hidup
umat menurut ajaran yang murni.
Abad ke - 19
Gerakan salafi melawan kaum adat
KESIMPULAN:
1. Politik Etis
Dikenal sebagai politik balas budi, yaitu merupakan suatu pemikiran oleh kolonial yang memegang tanggung jawab atas kesejahteraan pribumi.
Membangun jati diri keindonesiaan
XI MIA 1
Kebijakan tersebut dikenal dengan
Trilogi Van Deventer yang meliputi:

1. Irigasi, yakni membangun dan memperbaiki pengairan untuk keperluan pertanian

2. Emigrasi, yakni perpindahan penduduk

3. Edukasi, yakni memperluas bidang
pendidikan.
SEKIAN,
Terima Kasih
Latar Belakang
Pada awal abad ke-20, kebijakan kolonial Belanda mendorong untuk menguasai seluruh wilayah Nusantara. Kebijakan pelaksanaan tanam paksa, eksploitasi terhadap tanah dan penduduk berdampak pada penurunan kesejahteraan hidup rakyat, seperti hilangnya hak milik tanah.

Kebijakan tersebut mendapat kritik dari kaum intelektual Belanda sendiri, yaitu C. Th. van Deventer pada artikel Een Ereschuld (Hutang Kehormatan) yang isinya ia meminta Belanda untuk mengembalikan hak kaum bumiputera yang telah memberikan kemakmuran pada Belanda
Kritik itu mendapat perhatian serius dari pemerintah Belanda. Kemudian Ratu Wilhelmina menyatakan suatu kebijakan baru yang disebut Politik Etis, tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
Kebijakan Politik Etis
Dampak Politik Etis
Politik Etis membawa pengaruh dengan munculnya suatu kemajuan. Pendidikan gaya barat memunculkan sekelompok intelektual yang disebut "priyayi baru".

Kaum muda terpelajar inilah yang kemudian membentuk kesadaran
nasional
, kesadaran bahwa rakyat bumiputra harus mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain untuk mencapai kemajuan. Semangat era etis inilah yang menjadi kemajuan menuju modernitas.
- Pembangunan infrastruktur mulai diperhatikan
- Perhatian pemenuhan kebutuhan pangan
- Emigrasi sebagai tenaga kerja murah
Awal Mula Berkembangnya Pers
Dimulai pada abad ke-20, penerbit Tionghoa mulai bermunculan. Para penerbit Tionghoa itulah yang menjadikan pertumbuhan surat kabar berkembang pesat. Penerbit bumiputra pertama di Batavia adalah:
R.M. Tirtoadisuryo
F.D.J Pangemanan
R.M. Tumenggung Kusuma Utaya
Orang-orang yang aktif di dunia pers adalah:
H.C.O. Clockener Brousson dari
Bintang Hindia
E.F Wigger dari Bintang Baru
G. Francis dari Pemberitaan Betawi
Tokoh Muda:
dr. Abdul Rivai
dr. Abdul Rivai yang baru datang dari Belanda menganjurkan pada tokoh muda di Hindia untuk membentuk sebuah organisasi. Dalam tulisan-tulisannya dalam Bintang Hindia ia selalu memuat tentang “kemajuan” dan “dunia maju”.
3 Golongan menurut Rivai:
Kaum olot
Kaum kuno
Kaum muda: orang yang senantiasa ingin mendapatkan harga
diri melalui pengetahuan dan ilmu.
Untuk mencapai kemajuan dan terwujudnya dunia maju, Rivai menganjurkan agar ada organisasi bernama
Persatuan Kaum Muda
didirikan cabang di semua kota-kota penting di Hindia.


Modernisme = Perubahan ke arah modern ( upaya mengejar
ketertinggalan melalui pencarian mendasar etik kepada
Islam untuk kebangkitan politik dan budaya.)
Gerakan Reformasi islam dirintis di
Sumatera Barat pada abad ke - 19 dan
menyebar ke tempat lainnya
Abad ke - 20
Menekankan pada pencarian etik modernitas dari dalam melawan tradisonalisme dan kemunduran umat Islam
Empat ulama muda Minangkabau kembali dari menuntut ilmu di Mekah :
Syekh Muhammad Taher Jamaluddin (1900)
Syekh Muhammad Jamil (1903)
Haji Abdul Karim Amrullah (1906)
Haji Abdullah Akhmad (1899).
Murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi seorang imam besar Mazhab syafi’i di Masjid Mekah yang berasal dari Minangkabau
Perintis pembaruan itu adalah
Syekh Taher
Jamalludin yang sebagaian besar
pengalamannya berasal dari Asia Barat.
Majalah Al Imam
adalah sarana yang mereka gunakan untuk menyebarkan gerakan pembaruan keluar dari Minangkabau.
Di samping itu Al-Imam juga memuat ajaran agama dan
peristiwa-peristiwa penting dunia.
Tokoh yang kemudian muncul adalah
H. Abdullah Akhmad
yang mendapat pendidikan di Mekah,selanjutnya mendirikan sekolah dasar di Padang (1909). Ia mendirikan
majalah Al-Munir
yang menjebarkan agama Islam yang sesungguhnya
dan terbit di Padang tahun 1910-1916.
Di Padang Panjang,
Haji Abdul Karim Amrullah
mulai menumbuhkan kesadaran akan perlunya
perubahan metode pengajaran dan sistem
pendidikan tradisonal menjadi lebih modern seperti sekolah Belanda.
Daftar Sekolah yang didirikan - Pendirinya :
Sekolah Diniyah di Padang (1915) - Zainuddin Labai.
Sekolah Diniyah Puteri(1923) - Rahmah , adik Zainuddin Labai
Kedua sekolah ini memberikan pengajaran umum dan merupakan sekolah agama yang modern dan Sekolah Diniyah Puteri merupakan sekolah putri pertama di Minangkabau
Roh kebangsaan dan nasionalisme yang tumbuh dalam diri bangsa Indonesia muncul karena rasa senasib dan sepenanggungan dalam menghadapi penjajahan.

Karena tumbuhnya roh kebangsaan dan nasionalisme itulah, bangsa Indonesia mampu bangkit dan berjuang melawan penjajah.
Sebelumnya, bangsa Indonesia masih terpencar-pencar sehingga mudah dimanfaatkan oleh bangsa penjajah.

Namun, setelah bangsa Indonesia paham bahwa kemerdekaan adalah hak setiap orang, roh kebangsaan dan nasionalisme mereka tumbuh dan menjadikannya sebagai senjata utama melawan penjajah.
Karenanya, roh kebangsaan tidak muncul begitu saja. Tetapi melalui proses yang berat dan panjang. Namun, hal itulah yang membuat bangsa Indonesia memiliki roh kebangsaan dan nasionalisme yang besar.

Sekarang giliran generasi penerus bangsa yang harus semakin menumbuhkkan roh kebangsaan dan nasionalisme.
Full transcript