Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Copy of Budaya dan Perilaku sosial

No description
by

julia ika

on 5 December 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Copy of Budaya dan Perilaku sosial

Budaya dan Perilaku Sosial
Persepsi
Our Project
NESHIA DWI
JULIA IKA
Anggota:
Perilaku Sosial
Ketertarikan Interpersonal dan
Cinta
Ketertarikan Interpersonal
Baron dan bryne (2006, dalam sarwono dan meinarno,
2009)
Sarwono dan meinarno (2009)
Faktor Interaksi
Faktor External
Body
Body
Body
Faktor Internal
Matsumoto (2008)
Kebutuhan untuk berinteraksi
(need for affiliation)
Pengaruh perasaan
Kedekatan (proximity)
Daya tarik fisik
Persamaan-perbedaan
Reciprocal liking
Hatfield dan berscheid (dalam matsumoto, 2008)
Cinta menggelora
Stenberg (dalam sarwono dan meinarno,
2009) mengemukakan bahwa
cinta
memiliki
tiga dimensi, yaitu :
1. Hasrat (passion)
2. Keintiman (intimacy)
3. Komitmen atau keputusan
(commitment/decision)
Cinta Hangat
Temuan-Temuan Lintas Budaya Tentang Ketertarikan Interpersonal dan Cinta
Penelitian lintas-budaya mengenai ketertarikan interpersonal
dan cinta tidak memiliki dasar empiris seluas topik-topik
psikologi sosial lain.
Ting-toomey (1991, dalam matsumoto, 2009)
Membandingkan rating komitmen cinta, keterbukaan, ambivalensi,
dan ungkapan konflik pada 781 subjek dari perancis, jepang dan
amerika serikat
Simmons, vom kolke, dan shimizu (1986, dalam matsumoto,
2009)
Meneliti sikap terhadap cinta dan romantika pada siswa amerika,
jerman, dan jepang
Furnham (1984, dalam matsumoto, 2009)
Menyebarkan survei nilai rokeach pada beberapa kelompok subjek
afrika selatan, india, dan eropa
Social Loafing
Penyebab Social Loafing
Output Equity 
Evaluation apprehension
Matching to standart
Temuan -temuan Lintas Budaya tentang Produktivitas Kelompok
Earley (1989), misalnya, menyelidiki fenomena social loafing pada peserta pelatihan managerial dalam suatu organisasi di Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina.
Budaya-budaya yang lebih kolektivistik, seperti Jepang dan Cina, lebih mendorong tumbuhnya kesalingtergantungan interpersonal & keberfungsian kolektif kelompok dibanding budaya Amerika yang Individualistik.
Konformitas, Ketundukan & Kepatuhan
KONFORMITAS ?
Menurut Baron, Branscombe, Byrne, konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial (Sarwono, 2009).
Konformitas mengacu pada sikap mengalah seseorang pada tekanan sosial, baik yang nyata maupun yang dibayangkan (Matsumoto, 2008).
Kohesivitas kelompok
Besar kelompok
Tipe dari norma sosial
Pertemanan atau rasa suka
Komitmen atau konsistensi
Kelangkaan
Timbal balik
Validasi social
Otoritas
Ketundukan (compliance)
secara umum didefinisikan sebagai sikap mengalah orang pada tekanan sosial dalam kaitannya dengan perilaku sosial mereka, meski mungkin keyakinan pribadi mereka tidak berubah (Matsumoto, 2008).
Kepatuhan
Baron, Branscombe, Byrne (2008, dalam Sarwono, 2009) mengemukakan bahwa kepatuhan merupakan salah satu jenis pengaruh sosial, di mana seseorang menaati dan mematuhi permintaan orang lain untuk melakukan tingkah laku tertentu karena adanya unsur power.
Kepatuhan juga merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas (Matsumoto, 2008).
Faktor individu melepas tanggung jawab pribadi
Individu yang memberi perintah sering menggunakan simbol-simbol
Hal-hal yang terjadi secara gradual dapat menyebabkan kepatuhan
Proses yang terjadi sangat cepat
ATRIBUSI
Kesimpulan yang dibuat oleh seseorang untuk menerangkan mengapa orang lain melakukan suatu perbuatan
KEGUNAAN ATRIBUSI
: Melihat bias-bias yang terjadi ketika seseorang menjelaskan perilaku orang lain, kemudian, pada gilirannya, memperngaruhi perilaku mereka sendiri.
Theory of Correspondent Inferences
Edward James dan Keith Davis
Meaning
Apabila perilaku berhubungan dengan sikap atau karakteristik personal berarti dengan melihat perilakunya dapat diketahui dengan pasti sikap atau karakteristik orang tersebut. Hubungan yang demikian adalah hubungan yang dapat disimpulkan (correspondent inference)
Different With
Seorang yang menyampaikan rasa simpati terhadap suatu musibah belum bisa dikatakan sebagai orang yang simpatik, sebab sebagian orang memang melakukan hal yang serupa.
Bagaimana mengetahui bahwa perilaku berhubungan dengan karakteristik atau sikap ?
1.      Dengan melihat kewajaran perbuatan atau perilaku
2.      Pengamatan terhadap perilaku yang terjadi pada situasi yang memunculkan beberapa pilihan.
3.      Memberikan peran yang berbeda dengan peran yang sudah biasa dilakukan.
Model of Scientific Reasoner
Harold Kelly
Konsep untuk memahami penyebab perilaku seseorang dengan memandang pengamat seperti ilmuwan, yang disebut sebagai ilmuwan
Distinctiveness
Bagaimana seseorang berperilaku dalam kondisi yang berbeda-beda
Tinggi vs Rendah
  Konsistensi
Pentingnya waktu sehubungan dengan suatu peristiwa
Tinggi vs Rendah
Konsensus
>> Konsep tentang konsensus selalu melibatkan orang lain, sehubungan dengan stimulus yang sama. Tinggi vs Rendah
Atribusi Keberhasilan dan Kegagalan
Weiner dan Weiner
Keberhasilan: Atribusi internal-stabil >> Mahasiswa yang berhasil menempuh ujian akhir kemungkinan karena selama kuliah memang selalu mendapat nilai baik dan dia memiliki kesanggupan untuk berusaha, maka dia bisa disebut sebagai orang yang cerdas, berbakat atau berkemampuan tinggi. eksternal-stabil >> bukan karena kemampuannya yang memadai, tetapi karena tugas yang dibebankan relatif mudah. internal-tidak stabil >> orang yang memiliki bakat tetapi keberhasilannya tergantung pada besarnya usaha, sehingga kadang-kadang berhasil tetapi tidak jarang pula gagal. Atribusi eksternal-tidak stabil >> orang yang mendapat undian berhadiah.
Kegagalan: eksternal-stabil >> orang pandai, yang biasanya sukses, suatu ketika mengalami kegagalan karena tugas yang dibebankan terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Pada tahun 1982, Weiner memperluas model atribusinya >> dimensi dapat atau tidaknya penyebab itu terkontrol (controllable). Contohnya : untuk atribusi internal-stabil tak terkontrol adalah sukses karena bakat yang luar biasa sehingga jarang mengalami kegagalan.
Persepsi orang (person perception) mengacu pada proses pembentukan kesan tentang orang lain. Pengaruh kesan dan persepsi tentang orang lain pada bagaimana kita berinteraksi dan menghadapi orang lain (Matsumoto, 2008).
Persepsi sosial
dapat diartikan sebagai proses perolehan, penafsiran, pemilihan, dan pengaturan informasi indrawi tentang orang lain (dalam Sarwono, 2009).
Asch (1946) menunjukkan bahwa orang melakukan persepsi terhadap sifat-sifat dalam hubungan satu sama lain, sehingga sifat-sifat itu dipahami sebagai bagian yang terintegrasi dengan kepribadian orang yang meilikinya.
Dalam proses persepsi sosial, atribusi merupakan langkah awal dari pembentukkan kesan.
Analisa Kasus
Orang Suku Sunda
Kenapa Suku sunda?
Salah satu alasan mengapa budaya Sunda yang kami angkat, yaitu karena budaya Sunda merupakan salah satu budaya tertua yang berada di Indonesia.
Orang Sunda diartikan sebagai penutur asli bahasa Sunda, tinggal di lingkungan masyarakat Sunda, dan berorangtuakan orang Sunda (lihat Rosidi 1985 Warnaen et al. 1987; Ekadjati 1995)
Analisa Kasus Subjek
Ngadeudeul ku congo rambut
‘memberi bantuan dengan ujung rambut’
Artinya: memberi sumbangan atau bantuan kecil, tetapi disertai
kerelaan atau dengan ikhlas hati.
Dari Nilai moral sunda ini menggambarkan suatu Atribusi yang digambarkan melalui ungkapan tradisional
Atribusi
“silih asih, silih asah, dan silih asuh”,
artinya harus saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh
sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban,
kerukunan, kedamaian, ketentraman, dan kekeluargaan.
Salah satu ungkapan tradisional sunda yang menggambarkan perilaku sosial yang masih dijunjung oleh orang sunda hingga saat ini.
Sosial Loafing

Bengkung ngariung bongkok ngaronyok
‘melingkar/lengkung dalam berkumpul bungkuk dalam berhimpun’
Artinya: bersama-sama dalam suka dan duka

Lain palid ku cikiih, lain datang ku cileuncang
‘bukan hanyut karena air kencing, bukan datang karena air hujan’
Artinya: bukan hadir tanpa tujuan
Konformitas, Ketundukan, dan Kepatuhan
Dén hormat maring pusaka, leluhur, wong atua karo, guru, lan ratu.
‘harus hormat terhadap pusaka, leluhur, kedua orang tua, guru, dan raja’
Artinya: pusaka leluhur, kedua orang tua, guru, dan raja harus
dihormati
persepsi dan pembentukan kesan
Henteu asa jeung jiga
‘tidak merasa sangsi dan ragu’
Artinya: sudah merasa seperti saudara, bersahabat
Persepsi subjek dalam penilaian terhadap orang lain tidak hanya berdasarkan kenampakan, terutama daya tarik fisik, mempengaruhi penilaian orang tentang kepribadian.Aspek-aspek lain dari kenampakan juga berpengaruh terhadap persepsi kita tentang orang lain. Mungkin hal ini akibat dari ajaran budaya Sunda yang subjek sukai yaitu menghormati dan menghargai alam semesta, dimana semua manusia merupakan bagian dari alam semesta sehingga membuat subjek tidak memberikan kesan dan menjadikan penampilan sebagai pembentukan persepsinya terhadap orang lain.
(passion), keintiman (intimacy), dan komitmen atau keputusan (commitment/decision)
Kawas gula jeung peueut
‘seperti gula dengan nira yang matang’
artinya : hidup rukun sayang menyayangi, tidak pernah berselisih.
Ulah kawas seuneu jeung injuk
‘jangan sepert api dengan ijuk’
Artinya: jangan mudah berselisih.agar pandai mengendalikan napsu-napsu
negatif yang merusak hubungan dengan orang lain.
Hatunur Nuhun Ka Sadayana
MUHAMMAD FALAH
Full transcript