Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI DI D.I KAMPILI KABUPATEN G

No description
by

Ardiansyah Ard

on 2 November 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI DI D.I KAMPILI KABUPATEN G

PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI DI D.I KAMPILI KABUPATEN GOWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE NFR
ARDIANSYAH
312 12 037

DIAN SRI RAHAYU
312 12 038

PEMBIMBING I
DR. IR. ABDUL RIVAI SULEMAN, M.S.
PEMBIMBING II
KUSHARI, S.T., M.T.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Permasalahan dalam studi ini adalah dari 90 ha lahan persawahan di desa moncobalang ada 60 ha yang tidak mendapatkan suplai air irigasi atau mengalami kekeringan di musim kemarau.

Dengan Menghitung kebutuhan air secara spesifik dengan menggunakan metode NFR di daerah yang mengalami kerusakan khususnya di desa moncobalang, maka dapat diketahui debit kebutuhan air irigasi secara spesifik yang sesuai dengan luas daerah irigasi yang akan diairinya.

Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, penulis memandang perlu untuk membahasnya ke dalam suatu rencana penulisan Proyek Akhir dengan judul
“Perhitungan Kebutuhan Air Irigasi di D.I Kampili Kabupaten Gowa Dengan menggunakan Metode NFR”

B. Rumusan Masalah

1. Berapa besar kebutuhan air secara spesifik pada petak-petak kuarter dengan menggunakan metode NFR pada saluran yang mengalami kerusakan di petak tersier Mcb 1 Ki ?

2. Bagaimana pendimensian pada petak-petak kuarter berdasarkan kebutuhan air yang diperoleh pada petak tersier Mcb 1 Ki ?
C. Tujuan

1. Untuk mengetahui kebutuhan air pada petak- petak kuarter dengan menggunakan metode NFR

2. Untuk mendimensi saluran kuarter berdasarkan kebutuhan air yang diperoleh pada petak kuarter.
D. Manfaat Penelitian

1. Dengan mengetahui debit kebutuhan air pada saluran kuarter yang mengalami kerusakan, maka diharapkan penggunaan air untuk irigasi sawah dapat di lakukan dengan lebih efektif, agar ke depannya produktifitas hasil pertanian dari daerah tersebut meningkat.

2. Dengan mengetahui debit kebutuhan air irigasinya maka pendimensian saluran dapat direncanakan pada petak tersier Mcb 1 Ki.
E. Batasan Masalah

Perhitungan kebutuhan air irigasi pada petak-petak kuarter yang mengalami kekeringan.

Penelitian dilakukan di Desa Moncobalang

Perhitungan kebutuhan air dengan metode NFR dilakukan untuk pola tanam padi-padi.

Pendimensian dilakukan pada petak-petak kuarter.
A. Pengertian Irigasi
Irigasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mendatangkan air dari sumbernya guna keperluan pertanian, mengalirkan dan membagikan air secara teratur dan setelah digunakan dapat pula dibuang kembali. Pengairan yang sering pula didengar dapat diartikan sebagai usaha pemanfaatan air pada umumnya, yang berarti irigasi termasuk di dalamnya.

B. Data Yang Diperlukan
1. Data Primer
2. Data sekunder

C. Analisis Curah Hujan
1. Uji Konsistensi
2. Penentuan Hujan Kawasan
3. Curah Hujan Andalan
4. Curah Hujan Efektif


D. Sistem Pembagian Air
1. Sistem Pengaliran Terus Menerus (Continous Flow System).
2. Sistem pembagian air dengan giliran (terputus-putus)
E. Kebutuhan Air Irigasi
Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evapotranspirasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan konstribusi air tanah.
1. Net Field Reqiurement (NFR)
Menurut Bakrie dalam Tarmizi, (2005), Pengantian lapisan air Water Layer Requirment (WLR) dijadwalkan setelah pemupukan dan dilakukan pengantian lapisan menurut kebutuhan. Jika tidak ada penjadwalan seperti itu, dilakukan pemberian air sebanyak 2 (dua) kali, masing-masing 50 mm selama 0.5 bulan atau sekali pemberian sebanyak 100 mm selama 1 bulan (3.3 mm/hari). Penggantian lapisan air dilakukan setelah satu atau dua bulan masa transplantasi.

a. Evapotranspirasi Potensial
Evapotranspirasi Potensial (Potential Evapotranspiration) adalah evapotranspirasi yang terjadi apabila tersedia cukup air (dari pertisipasi atau irigasi) untuk memenuhi pertumbuhan optimum). Sedangkan Evapotranspirasi Sesungguhnya (Actual Evapotranspiration) adalah evaporasi yang terjadi sesungguhnya, dengan kondisi pemberian air seadanya (Wiyono, 2000). Dibawah ini adalah bagan evapotranspirasi :

Evapotranspirasi
Evaporasi
Transpirasi
Iklim
Iklim
Jenis, Varietas, Umur tanaman
Besarnya faktor meteorologi yang mempengaruhi besarnya evaporasi adalah sebagai berikut :
1) Radiasi matahari (Penguapan)
Adalah sumber energi yang utama untuk terjadinya penguapan.(Soewarno, 1995)
2) Angin
Jika air menguap ke atmosfir maka lapisan batas antara permukaan tanah dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses penguapan berhenti.agar proses tersebut dapat berjalan terus, lapisan jenuh harus diganti dengan udara kering. Pergantian itu hanya mungkin kalau ada angin, yang akan menggeser komponen uap air. Jadi, kecepatan angin memegang peranan penting dalam proses evaporasi.
3) Kelembaban relatif (Rel Humydity)
Faktor lain yang mempengaruhi evaporasi adalah kelembaban relatif udara. Jika kelembaban relatif ini naik, maka kemampuan udara untuk menyerap air akan berkurang sehingga laju evaporasinya menurun.
4) Suhu (Temperatur)
Seperti telah disebutkan di atas energi sangat diperlukan agar evaporasi berjalan terus. Jika suhu udara dan tanah cukup tinggi, proses evaporasi berjalan lebih cepat dibandingkan dengan jika suhu udara dan tanah rendah dengan adanya energi panas yang tersedia.
b. Debit Andalan
Debit andalan (dependable flow) adalah debit minimum sungai untuk kemungkinan terpenuhi yang sudah ditentukan yang dapat dipakai untuk irigasi.
1) Tata Cara Untuk Menentukan Debit Andalan
Menurut Seiyacrush (1998) untuk menentukan debit andalan, dapat digunakan beberapa metode, hal ini tergantung dari data yang tersedia. Data tersebut bisa berupa data hujan tengah bulan atau debit sungai tengah bulan atau bulanan. Jika kedua data tersebut tersedia, maka dapat diambil salah satu saja. Jika ada data banjir prosedurnya dengan analisa probabilitas data debit sedang jika menggunakan data curah hujan tengah bulanan atau bulanan maka prosedurnya adalah sebagai berikut:
1) Tentukan stasiun hujan yang berpengaruh di daerah aliran tersebut.
2) Catat data hujan tengah bulanan atau bulanan pada rentang waktu yang dikehendaki.
3) Hitung curah hujan rata-rata daerah.
4) Mentranformasikan data curah hujan daerah menjadi debit sesuai metode yang dikuasai (Mock, Nreca, Simple Water Balance).
5) Analisis distribusi frekuensi untuk menentukan tahun atau bulan dasar rencana sesuai dengan metode dan tingkat keandalan yang dikehendaki.
6) Analisis basic month/Basic year diuraikan sebagai berikut.
7) Hitung probabilitasnya
c. Efisiensi Irigasi
Dalam praktek irigasi sering terjadi kehilangan air yaitu sejumlah air yang diambil untuk keperluan irigasi tetapi pada kenyataannya bukan digunakan oleh tanaman.Kehilangan air tersebut dapat berupa penguapan di saluran irigasi, perkolasi dari saluran. menurut buku yang diterbitkan oleh DPU (Departemen Pekerjaan Umum), Pedoman dan Standar Perencanaan Teknis cetakan tahun 1986 penaksiran harga-harga efisiensi adalah sebagai berikut :
1) Efisiensi di saluran dan bangunan pada saluran tersier = 1
2) Efisiensi di saluran dan bangunan pada saluran tersier = 0,9
3) Efisiensi di saluran dan bangunan pada saluran sekunder = 0,9
4) Efisiensi di saluran dan bangunan saluran primer = 0,8

d. Kebutuhan Air Selama Penyiapan Lahan
Untuk menghitung kebutuhan irigasi selama penyiapan lahan,digunakan metode yang dikembangkan oleh Van de Goor dan Zijlsha (1968). Metode tersebut didasarkan pada laju air konstan dalam liter/detik selama periode penyiapan lahan

e. Penggunaan Konsumtif
Penggunaan konsumtif adalah jumlah air yang dipakai oleh tanaman untuk proses fotosintesis dari tanaman tersebut.
Penggunaan konsumtif dihitung dengan rumus berikut :
Etc = Kc .Eto

f. Perkolasi
Perkolasi adalah gerakan air ke bawah dari zona tidak jenuh, yang tertekan di antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah (zona jenuh). Daya perkolasi (P) adalah laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan, yang besarnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam zona tidak jenuh yang terletak antara permukaan tanah dengan permukaan air tanah.
Padi = pengolahan tanah, pertumbuhan vegetatif dan generatif.

F. Dasar-dasar Dimensi Saluran
Sebelum mendimensi suatu saluran apakah itu saluran pasangan atau tidak memakai pasangan, terlebih dahulu harus diketahui jenis tanah didaerah lokasi. Hubungan tanah dan air sangat penting pada daerah irigasi termasuk kapasitas tanah didrainase dengan baik dilapangan untuk menahan air yang bermanfaat bagi tanaman, dan aliran, atau gerkan air di dalam tanah. Keadaan penggaraman dan pengapuran, bersama-sama dengan translokasi dan konsentrasi garam yang larut karena gerakan dan penguapan air tanah, juga merupakan hubungan tanah dan air yang penting.
Jenis tanah sangat berpengaruh pada kekuatan saluran khususnya saluran pasangan. Jenis-Jenis tanah mempunyai daya rembesan yang berbeda-beda pula. Besarnya kehilangan air akibat rembesan dapat dihitung dengan rumus Moritz (USBR). s= 0.035C
Dimana :
S = Kehilangan air akibat rembesan, (m3/det per km panjang saluran)
Q = Debit (m/det)
V = Kecepatan aliran (m/det)
C = Koefisien tanah rembesan (mm/hari)
0.035 = Faktor konstanta (m/km)
a.) Saluran Kuarter
1.) Kapasitas Rencana
2.) Bentuk penampang saluran
3.) Desain Hidrolis Saluran
b. ) Perhitungan dimensi saluran
Untuk keperluan praktis baik perencanaan maupun pekaksanaan, maka dibuat 5 (lima) tipe saluran seperti pada Dalam memilih tipe saluran tersier dan kuarter yang layak, maka perlu diperhatikan kecepatan pengaliran yang menyebabkan pengendapan maupun erosi. Untuk itu ditetapkan besarnya kecepatan standar, kecepatan minimum dan kecepatan maksimum seperti pada Tabel 2.15
c. ) Langkah-langkah untuk mendimensi saluran:
1. Bila debit rencana sudah diketahui, pilih kecepatan standar seperti pada Tabel 12, kemudian hitung A = Q/V.
2. Karena perbandingan (B/h) = 0.5
maka A=h (B +mh) = 2 h2, sehingga h = A/2 .
3. Pilih tipe saluran yang sesuai dari Tabel 11.
4. Hitung gradien hidrolis, dari rumus: S = n2 . V2 / R4/3

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan berlangsung selama 4 bulan dari tanggal 1 Juli s/d 30 oktober dengan perhitungan metode faktor NFR D.I. Kampili Kabupaten Gowa. Adapun lamanya waktu pelaksanaan penelitian, mulai dari pengumpulan data baik primer, sekunder, sampai pada hasil pengolahan data.
B. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data ini diperoleh dari dua sumber yaitu :
1. Data primer
a. Wawancara langsung dengan pihak masyarakat
b. Survey kondisi lokasi penelitian
2. Data sekunder
a. Data curah hujan
b. Klimatologi
c. Laporan – laporan yang berkaitan dengan penelitian.
C. Teknik Pengolahan Data
Data-data yang telah terkumpul tadi baik itu data primer maupun data sekunder kemudian diolah dengan menggunakan Rumus metode :
Metode faktor NFR, dalam perhitungan debit andal menggunakan metode F.J Mock dan untuk pendimensian saluran digunakan dasar-dasar dimensi Saluran


D. Diagram Alir Kegiatan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Analisis Data Curah Hujan
1. Uji Konsistensi
Berdasarkan hasil uji konsistensi dengan menggunakan 2 metode, yaitu metode Kurva Massa Ganda dan metode RAPS, diketahui bahwa data curah hujan pada masing-masing stasiun konsisten dengan wilayah tinjauan.
Hal ini menunjukkan bahwa pada grafik kurva massa ganda, masing-masing stasiun lengkungannya tidak mengalami patahan dan nilai R nya mendekati nilai 1 sesuai dengan persyaratan. Sedangkan pada metode RAPS menunjukkan bahwa data curah hujan masing-masing stasiun konsisten. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji analisa perhitungan untuk nilai Q dan R pada masing-masing stasiun memenuhi syarat sesuai dengan Tabel Nilai Persyaratan Q dan R.

2. Penentuan Hujan Kawasan
Berdasarkan hasil analisa perhitungan curah hujan kawasan dengan menggunakan metode Polygon Thiessen, ada tiga stasiun yang digunakan yaitu sta.Kampili dengan persentase curah hujan kawasan 32,78 %, sta.Manjalling dengan persentase curah hujan kawasan 18,61 %, dan sta.Bilaji dengan persentase curah hujan kawasan 48,16 % dari ketiga stasiun tersebut maka didapatkan yang memiliki persentase paling berpengaruh dengan wilayah tinjauan yaitu pada sta.Bilaji. Disamping itu dalam penentuan curah hujan kawasan didapatkan koefisien DAS pada masing-masing stasiun, yaitu pada sta.Kampili 0,33 mm, sta.Manjalling 0,19 mm, dan sta.Bilaji 0,49 mm

3. Hujan Andalan
Sebelum mendapatkan hujan andalan dan hujan efektif didapatkan curah hujan setengah bulananan rata-rata dalam tabel 1.9. pada lampiran yang selanjutnya digunakan untuk mencari hujan andalan dan efektif dengan rumus analisa frekuensi seperti berikut :
R80 = n/5 + 1
= 10/5 + 1
= 3
Dari hasil analisa perhitungan hujan andalan tersebut maka didapatkan hujan andalan dan efektif dalam tabel kolom no. 3. Dapat dilihat pada tabel 4.5. Curah Hujan Andalan Efektif Padi.

b. Analisis Data Klimatologi
1. Analisis Iklim
Pada analisis iklim diketahui rata-rata setiap bulannya untuk bacaan angin, kelembaban, suhu dan penyinaran yang didapatkan dari rerata klimatologi dan disajikan dalam bentuk tabel dari tabel 2.1. – 2.4. pada lampiran. Analisis iklim ini digunakan untuk mencari perhitungan Evapotranspirasi potensial. b. Analisis Data Klimatologi



2. Perhitungan Evapotranspirasi Potensial (ETo)
Berdasarkan hasil analisa perhitungan evapotranspirasi potensial dengan meggunakan metode Penmann Modifikasi didapatkan nilai Eto setiap bulannya dalam satuan mm yang disajikan dalam bentuk tabel pada tabel 4.6. Perhitungan Evapotranspirasi Potensial dengan Metode Penmann Modifikasi.
c. Analisis Debit Andalan
Berdasarkan hasil analisa perhitungan debit andalan dengan menggunakan metode F.J Mock maka diketahui debit andalan Q80 % dengan urutan probabilitas dengan menggunakan rumus analisa frekuensi seperti berikut : R80 = n/5 + 1
= (10/5) +1
= 3
Dari hasil perhitungan tersebut maka didapatkan debit andalan curah hujan dalam tabel kolom no. 3 dilihat pada tabel 4.7. dan dapat disajikan dalam bentuk kurva hubungan antara debit andal rata-rata (debit sungai) dengan waktu (setengah bulanan) pada gambar 4.4.

d. Analisis Kebutuhan Air Irigasi
Setelah mendapatkan hasil dari beberapa faktor dalam menentukan kebutuhan air, maka untuk perhitungan selanjutnya yaitu mencari kebutuhan air irigasi dengan metode NFR (Net Field Reqruitment), dimana dalam perhitungan tersebut yang harus diketahui adalah nilai rata-rata penggunaan konsumtif (Etc) selama masa tanam, perkolasi berdasarkan ketentuan perencanaan yang didapatkan dari modul tata guna air yaitu antara 2 - 5,mm/hari, nilai rata-rata curah hujan efektif (Re) selama masa tanam, dan penggantian lapisan air (WLR).
Setelah melakukan pengolahan data untuk mendapatkan nilai NFR maka diketahui nilai NFR terbesar 1,038 lt/det/ha pada bulan nopember ke 2 dimana pada bulan nopember di daerah tersebut dilakukan penyiapan lahan.
e. Pendimensian Saluran Pada Petak Kuarter
Pendimensian pada petak kuarter dilakukan dengan menggunakan nilai NFR terbesar 1,038 lt/det/ha kemudian dikalikan dengan luasan dari setiap petak kuarter pada daerah tersebut untuk mengetahui debit rencana dengan satuan m3/det, selanjutnya menghitung tinggi muka air ( ) lebar dasar saluran ( b = (A/h)- mh ) dan tinggi jagaan ( ). Maka pendimensian saluran pada petak kuarter sudah dapat direncanakan.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, setelah dilakukan perhitungan kebutuhan air pada D.I Kampili Desa Moncobalang dapat di ambil kesimpulan bahwa :
1. Berdasarkan metode NFR besarnya debit kebutuhan air irigasi untuk D.I Kampili desa moncobalang dengan nilai maksimal 1,038 lt/dtk/ha pada proses penyiapan lahan.

2. Berdasarkan luas dan kebutuhan air pada petak tersier Mcb 1 ki yang diperoleh dengan menggunakan metode NFR maka pendimesian saluran kuarter di lakukan dengan membagi petak tersier Mcb 1 ki menjadi 6 petak kuarter setiap petak kuarter di aliri oleh 1 saluran kuarter.
B. Saran
1. Untuk meminimalkan penggunaan air di sarankan untuk proses penyiapan lahan sebaiknya di lakukan pada bulan januari, di karenakan pada bulan tersebut ketersedian air cukup banyak.

2. Diperlukan pemanfaatan saluran pembawa air untuk petak kuarter yang optimal sehingga debit air yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan debit untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Kebutuhan air sawah untuk padi ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
penyiapan lahan,
penggunaan konsumtif, perkolasi dan rembesan, pergantian lapisan air dan curah hujan efektif.



Evapotranspirasi
Evaporasi
Transpirasi
Iklim
Iklim
Jenis, Varietas, Umur tanaman
Full transcript