Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

b.indo

No description
by

lentara syaina

on 10 December 2012

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of b.indo

Unsur Ekstrinsik Tema Alur: Maju Kepengarangan Totilawati Tjitrawasita Nilai-nilai yang Terkandung Nilai moral
Nilai sosial
Nilai religi Oleh: Faza Fikriansyah R (10)
Hafizha (11)
Lentara Pundi S (13)
Talitha Puspita Sari (27)
Arsya Ali Satria (30) Unsur Intrinsik Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen Jakarta Latar Sudut Pandang Kutipan: “Ketika penjaga menyodorkan buku tamu, hatinya tersentil. Alangkah anehnya, mengunjungi adik sendiri harus mendaftar, padahal seingatnya, dia bukan dokter.... Betul juga, ada gunanya juga menjelaskan identitasnya agar tuan rumah tahu dan memberikan sambutan yang hangat atas kedatangannya. Maka ditulisnya di bawah tanda tangannya, lengkap: Waluyo ANOTOBOTO. Nama keluarganya sengaja dibikin kapital semua, diberi garis tebal di bawahnya. Sekali lagi dia tersenyum, rasa bangga terukir di wajahnya.” 1. Perkenalan Kutipan: “Dia duduk saja di situ, tercenung-cenung. Dicatatnya kejadian itu dalam hati: tamunya Paijo, Menteri; langsung bertemu tanpa menunggu. Lantas dihitung-hitung sudah berapa tahun mereka tidak saling ketemu. Apa Paijo juga gemuk seperti Menteri itu? Tiba-tiba semacam kerinduan naik mencekam naik ke dadanya: Dia ingin melihat adiknya! Serasa hendak diterjangnya tembok yang ada di hadapannya. Karena gelisah dia berdiri, berjalan ke arah pintu.” 2. Munculnya Konflik Kutipan: “Maka hilanglah kegembiraannya. Kerinduan yang hendak dia tuangkan dalam banyak cerita, berhenti sampai di tenggorokannya. Dia tenggelam dalam keasingan. Terentang batas di depannya. Sekalipun tidak diketahuinya bagaimana wujudnya, tapi dia dapat merasakannya. Pada setiap tarikan napas adiknya terbayang ungkapan kegelisahan adik misannya itu, akan kehadirannya.” 3. Konflik memuncak Kutipan: “Night club, Pak, pusat kehidupan malam di kota ini. Tempat orang-orang kaya membuang duit mereka. Lampunya lima watt, remang-remang; perempuan-perempuan cantik, minuman keras, tari telanjang, dan musik yang gila-gilaan. Pendeknya, yahut!” ujar penjaga sambil mengacungkan jempolnya.
“Lantas, apa yang mereka bikin, di situ?” suaranya tercekik membayangkan ketakutan yang besar.
“Berdansa. Bercumbu. Biasa, Pak, Jakarta!” jawab si penjaga dengan ringan.
“Astaga … Gusti Pangeran, nyuwun pangapura…. Dan adikku apa sering ke situ?” ujarnya lirih, mengandung sedu.
“Tidak ke situ, ke Paprika. Tapi sama saja. Malah karcisnya mahal di sana, enam ribu!”
“Enam ribu? Sama dengan dua bulan gajiku,” keluhnya pelahan.
Lampu-lampu yang berkilauan terasa menusuk-nusuk matanya, sedangkan kebisingan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar-samar dia sadari bahwa dia telah kehilangan adiknya: Paijo tercinta! 4. Klimaks Kutipan: Pak Pong yang malang menatap kota dengan dendam di dalam hati. Jakarta, kesibukannya, Bina Graha, gedung-gedung itu, Istana Merdeka, night club, mobil merah telah memisahkan dia dari adiknya. 5. Anti-klimaks Kutipan: “ Ditatapnya bungkusan kecil titipan emboknya, lalu diberikannya kepada si penjaga, “Untukmu. Kain yang dibatik oleh tangan orang tuaku. Di dalamnya terukir cinta ibu kepada anaknya. Coretan tanah kelahiran yang dikirim untuk mengikat tali persaudaraan!”
Dua tetes air mata membasahi pipi yang tua, menandai kejadian waktu itu.” 6. Penyelesaian Penokohan Pak Pong adalah tokoh protagonis.
Pak Pong sebagai tokoh utama terbukti Pak Pong selalu muncul pada setiap peristiwa yang ada.

Karakter Pak Pong
1. Ramah ( secara dramatik)
kutipan : “Sikap tamu itu memang merapatkan rasa persaudaraan. Ditawarkannya rokok ke ujung hidung si penjaga,” 2. Tidak sombong dan rendah hati (secara dramatik)
Kutipan :“Baiklah, tapi jangan panggil saya Tuan, ah. Saya bukan Tuan. Orang awam, sama seperti Saudara. Nama saya Waluyo.” 3. Suka bercanda (secara dramatik)

Kutipan : “Tiba-tiba timbul keinginannya untuk berolok-olok. Sambil menahan ketawa ditulisnya di situ: nama: Soeharto (bukan Presiden). Keperluan: urusan keluarga.
“Cukup?” katanya sambil menunjukkan apa yang ditulisnya kepada penjaga. “Lelucon, lelucon”. Katanya berulang- ulang sambil menepuk-nepuk punggung penjaga yang terlon­gok-longok heran.” 4. Mudah bergaul dengan orang lain (secara dramatik )
Kutipan : “Orang-orang memanggilku ‘Pak Pong’. Lihat saja nanti, Pak Jenderalmu pasti memanggil aku dengan  ‘Pak Pong’, ‘Pak Pong’ terlalu banyak makan singkong, kalau rakus dikasih teletong”
Kutipan : “Petani? Apa potongan saya petani? Bukan! Tapi waktu remaja memang kami suka pencak silat. Rupanya meninggal­kan bekas juga, pada potongan tubuhku. Atau karena baju model cina ini ya? Saya, guru SD di Desa Nggesi. Sekolah ini telah menghasilkan orang-orang besar. Murid saya yang pertama sekolah sudah Kapten, ada juga yang insinyur. Dan Pak Jenderalmu, murid yang paling jempolan. Otaknya tajam se­kali,” katanya sambil mengacungkan ibu jari ke atas, memuji kepandaian adik misannya.” 5. Penyayang ( secara dramatik)
Kutipan : “Waktu tubuh yang kering itu disergap kudis, dia bersepeda sepanjang limapuluh kilometer untuk beli obat ke kota buat adiknya itu. Pagi dan sore menggerus belerang, merebus air dan merendam Paijo pada kemaron yang besar.”
Kutipan : “Lantas saya waktu sudah jadi guru, saya kirimkan seluruh gaji untuk biayanya, sebab di desa kami kan bisa makan apa saja …. “ 6. Tulus dan berpikiran positif ( secara dramatik )
Kutipan : “Kasihan adikku, repot sekali kelihatannya. Tentu di rumahnya banyak tamu, sehingga saya tidak kebagian ruang dan waktu. Kasihan adikku, seharusnya saya tidak meng­ganggunya.”

Kutipan : “Kejadian siang tadi sama sekali tidak membekas pada wajahnya, mukanya tetap berseri-seri. Diterimanya kenyataan itu sebagai hal wajar: adiknya orang besar, sibuk dan banyak acara, mengurus negara.” 7. Lugu ( secara dramatik )
Kutipan : “Bukankah itu mobil Paijo? Jangan-jangan dia menjem­put aku? Kami memang sudah berjanji, jam tujuh, makan malam.” 8. Perhatian ( secara dramatik )
Kutipan : “Astaga … Gusti Pangeran, nyuwun pangapura…. Dan adikku apa sering ke situ?” ujarnya lirih, mengandung sedu.” Pak Pong Paijo 2. Acuh (Tidak Peduli)
Kutipan : “Dari Ibu? Baiklah, nanti saja; sebentar lagi saya harus rapat di Bina Graha.” Paijo adalah tokoh antagonis dan tokoh utama.

Karakter Paijo :
1. Berubah (secara dramatik)
Kutipan : “Tapi laki-laki yang bernama Pak Pong menangkap sesuatu yang lain dari wajah adiknya: ketidakwajaran. “ 3. Perhatian (secara dramatik)
Kutipan : “Kakak nginap di Gambir? Kalau begitu, biarlah penjaga mengantarkan kakak ke sana. Nanti malam Kakak saya tunggu, makan malam di rumah bersama keluarga.” 4. Boros( secara dramatik )
Kutipan : “ “Tidak ke situ, ke Paprika. Tapi sama saja. Malah karcisnya mahal di sana, enam ribu!” . “Enam ribu? Sama dengan dua bulan gajiku,” keluhnya pelahan. ” 5. Bangga terhadap keluarganya (secara dramatik )
Kutipan : “Betul mirip memang, dan Pak Jenderal selalu bangga pada keluarganya.” Penjaga adalah tokoh tritagonis.

Karakter Penjaga :
1. Ramah (secara dramatik)
Kutipan : “Pak Pong mau minum apa?” , “Minumnya apa, Pak? Juice? Coca Cola?” 2. Sopan (secara dramatik)
Kutipan : “Tuan, Eh Pak Pong, petani?” ujarnya ragu-ragu, takut kalau menyinggung perasaan.” 3. Perhatian dan rendah hati (secara dramatik)
Kutipan : “Pak Pong …”, sapa penjaga itu dengan lirih. “Kalau Pak Pong mau, biarlah kita bersempit-sempit di gubuk saya. Kereta meninggalkan Jakarta baru besok pagi, jam lima. Ada yang jalan sore, tapi karcisnya sepuluh ribu.” 4. Tulus (secara dramatik)
Kutipan : “Penjaga itu menggeleng lemah, tanpa berbicara. Hanya saja mata yang menatap sedih pada orang yang duduk di dekatnya itu.” Penjaga "Persaudaraan" Tempat Waktu Suasana Kota Jakarta
“Pak Pong yang malang menatap kota dengan dendam di hati. Jakarta, kesibukannya, Bina Graha, gedung-gedung itu, Istana Merdeka, night club, telah memisahkan dia dari adiknya.”
“Malam itu Pak Pong berjalan kaki, keliling kota Jakarta, ditemani sang penjaga.” a. rumah Paijo
“Betul juga, ada gunanya juga menjelaskan identitasnya agar tuan rumah tahu dan memberikan sambutan yang hangat atas kedatangannya.” b. jalan raya
“Lampu-lampu yang berkilauan menusuk-nusuk matanya, sedangkan kebisingan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar-samar dia sadari bahwa dia telah kehilangan adiknya: Paijo tercinta!” a. sedih
“Lampu-lampu yang berkilauan terasa menusuk-nusuk matanya, sedangkan kebisingan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar-samar dia sadari bahwa dia telah kehilangan adiknya.” b. tegang
“Ketika pintu berderit dia tersentak dari lamunannya, dan disaat berdiri hendak menyambut adik misannya, ternyata yang keluar bukan dia.... Tapi si penjaga.” c. bahagia
“Sambil menahan ketawa ditulisnya di situ: nama: Soeharto (bukan presiden).”
“Sekali lagi dia tersenyum, rasa bangga terukir di wajahnya.” a. siang hari
“Kejadian siang tadi sama sekali tidak membekas pada wajahnya, mukanya tetap berseri-seri.” b. malam hari
“Malam itu, Pak Pong berjalan kaki, keliling kota Jakarta, ditemani si penjaga.”
“Kami memang sudah berjanji, jam tujuh, makan malam.” Menggunakan sudut pandang orang ketiga.
- Sambil memegang buku itu dipandangnya penjaga itu dengan hati-hati, kemudian pelan dia bertanya, “Semua harus mengisi buku ini? Sekalipun saudara atau ayahnya, umpamanya?”
- “Dia tahu, siapa saya” ujarnya menjelaskan. Amanat Utamakan keluarga
Jangan seperti kacang yang lupa kulitnya
Hargai pengorbanan orang lain Gaya Bahasa Bahasa Jawa
Bahasa Sehari-hari
Penggunaan istilah asing Lahir di Kediri pada tanggal 1 Juni 1945.
Telah mengenal dunia sastra dari kecil karena lahir dari orang tua yang bekerja sebagai wartawan dan sastrawan.
Menjadi seorang wartawan dan sastrawan yang sangat peduli terhadap budaya dan bahasa jawa. XII IA 6
Full transcript