Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

EKONOMI KREATIF

No description
by

wita wisak

on 18 May 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of EKONOMI KREATIF

EKONOMI KREATIF
DEFINISI
Menurut ahli ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model-model ekonomi. Di dunia dengan keterbatasan fisik ini, adanya penemuan ide-ide besar bersamaan dengan penemuan jutaan ide-ide kecil-lah yang membuat ekonomi tetap tumbuh. Ide adalah instruksi yang membuat kita mengkombinasikan sumber daya fisik yang penyusunannya terbatas menjadi lebih bernilai. Romer juga berpendapat bahwa suatu negara miskin karena masyarakatnya tidak mempunyai akses pada ide yang digunakan dalam perindustrian nasional untuk menghasilkan nilai ekonomi.
Howkins (2001) dalam bukunya The Creative Economy, Ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi dimana input dan outputnya adalah Gagasan. Gagasan yang dimaksud ialah gagasan yang orisinil dan dapat diproteksi oleh HKI. Contohnya adalah penyanyi, bintang film, pencipta lagu, atau periset mikro biologi yang sedang meneliti farietas unggul padi yang belum pernah diciptakan sebelumnya.
Jadi, Ekonomi Kreatif adalah penciptaan nilai tambah yang berbasis ide yang lahir dari kreativitas sumber daya manusia (orang kreatif) dan berbasis ilmu pengetahuan, termasuk warisan budaya dan teknologi.
Alasan Ekonomi Kreatif
Alasan mengapa Indonesia perlu mengembangkan ekonomi kreatif antara lain karena ekonomi kreatif berpotensi besar dalam:
Memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan; Menciptakan Iklim bisnis yang positif;
Membangun citra dan identitas bangsa; Mengembangkan ekonomi berbasis kepada sumber daya yang terbarukan;
Menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa;
Memberikan dampak sosial yang positif.
MIlESTONE
Periode 2005-2009
Di Indonesia, gagasan pengembangan ekonomi kreatif menguat setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato pembukaan INACRAFT 2005 menekankan pentingnya pengembangan industri kerajinan dan kreativitas bangsa dalam rangka pengembangan ekonomi yang berdaya saing. Setelah itu, Kementerian Perdagangan membentuk Indonesia Design Power dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan desain dan penciptaan merek. Melalui Indonesia Design Power Trade Expo, Kementerian Perdagangan mulai memberikan zona khusus dalam pameran yang diselenggarakan kepada wirausaha kreatif.
Pada tahun 2007, pemerintah menyelenggarakan pameran khusus produk budaya Indonesia, yaitu Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) dengan tema Bunga Rampai Produk Budaya Indonesia untuk Dunia. Pada kesempatan tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penekanan bahwa Bangsa Indonesia harus (1) mengembangkan ekonomi kreatif yang memadukan ide, seni, dan teknologi; (2) mengembangkan produk ekonomi unggulan yang berbasis seni, budaya, dan kerajinan; serta (3) mendorong pengembangan ekonomi warisan atau heritage economy.
Periode 2010-2014
Sejak dikeluarkan Inpres Nomor 6 tahun 2009, ekonomi kreatif semakin bergeliat, media mulai menaruh perhatian kepada pengembangan ekonomi kreatif. Masyarakat mulai memahami apa itu ekonomi kreatif dan potensi pengembangannya ke depan. Pemerintah mulai secara aktif melakukan koordinasi lintar sektor untuk melakukan pengembangan ekonomi kreatif sehingga mucul kebutuhan informasi mengenai ekonomi kreatif yang dapat diakses secara mudah dan cepat. Kebutuhan ini dijawab dengan diluncurkannya portal indonesiakreatif.net yang dapat menjadi penghubung antar-pemangku kepentingan dalam mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia pada tahun 2010.
Klasifikasi Subsektor Industri Kreatif
Berbeda dengan karakteristik industri pada umumnya, Industri Kreatif merupakan kelompok industri yang terdiri dari berbagai jenis industri yang masing-masing memiliki keterkaitan dalam proses pengeksploitasian ide atau kekayaan intelektual (intellectual property) menjadi nilai ekonomi tinggi yang dapat menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan. Berdasarkan hasil studi, Negara Inggris mengelompokkan Industri Kreatifnya kedalam 13 sektor (Advertising; Architecture; Art & Antiques Markets; Craft; Design; Designer Fashion; Film & Video; Interactive Leisure Software; Music; Performing Arts; Publishing; Software & Computer Services; Television and Radio). Mengadopsi pengklasifikasian tersebut dan didasari dengan beberapa pertimbangan, maka Indonesia mengelompokkan Industri Kreatifnya kedalam 14 kelompok industri (subsektor), seperti yang terlihat dibawah ini:
1. Arsitektur
2. Desain
3. Fesyen
4. Film, Video, dan Fotografi
5. Kerajinan
6. Layanan Komputer dan Piranti Lunak
7. Musik
8. Pasar Barang Seni
9. Penerbitan dan Percetakan
10. Periklanan
11. Permainan Interaktif
12. Riset & Pengembangan
13. Seni Pertunjukan
14. Televisi dan Radio
Intensitas Sumber Daya
Di dalam industri kreatif, kreatifitas memegang peranan sentral sebagai sumber daya utama. Industri kreatif lebih banyak membutuhkan sumber daya ktearif yang berasal dari kreatifitas manusia daripada sumber daya fisik. Namun demikian, sumber daya fisik tetap diperlukan terutama dalam peranannya sebagai media kreatif.
Pada umumnya industri kreatif terdiri dari tujuh kelompok atau golongan utama yang mewakili empat belas subsektor industri kreatif di Indonesia. Tujuh kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kelompok Industri Publikasi dan Presentasi Melalui Media (Media Publishing and Presence). Kelompok ini terdiri dari; Penerbitan & Percetakan dan Periklanan (warna oranye, 2 subsektor)
2. Kelompok Industri dengan Kandungan Budaya yang Disampaikan Melalui Media Elektronik (Electronic Media Presentation with Cultural Content). Kelompok ini terdiri dari; TV & Radio dan Film, Video, & Fotografi (warna ungu, 2 subsektor)
3. Kelompok Industri dengan Kandungan Budaya yang Ditampilkan ke Publik baik secara langsung maupun lewat media elektronik (Cultural Presentation). Kelompok ini terdiri dari; Musik dan Seni Pertunjukan (warna merah, 2 subsektor)
4. Kelompok Industri yang Padat Kandungan Seni dan Budaya (Arts and Culture Intensive). Kelompok ini terdiri dari; Kerajinan dan Pasar Barang Seni (warna coklat 2 subsektor)
5. Kelompok Industri Desain. Kelompok ini terdiri dari; Desain, Fesyen, dan Arsitektur (warna hijau, 3 subsektor)
6. Kelompok Industri Kreatif dengan Muatan Teknologi (Creativity with Technology). Kelompok ini terdiri dari; Riset & Pengembangan, Permainan Interaktif, dan Teknologi Informasi & Jasa Perangkat Lunak (warna biru tua, 3 subsektor).
Model Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
Di Indonesia, Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.
Model pengembangan ekonomi kreatif yang dikembangkan untuk Indonesia berupa bangunan yang terdiri dari komponen pondasi, 5 pilar, dan atap yang saling menguatkan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Penjelasan komponen-komponen bangunan ekonomi kreatif adalah sebagai berikut :
• PONDASI: People (Sumber Daya Insani), aset utama dari industri kreatif yang menjadi ciri hampir semua subsektor industri kreatif
• LIMA PILAR UTAMA yang harus diperkuat dalam mengembangkan industri kreatif adalah:
1. Industry (Industri) yaitu kumpulan dari perusahaan yang bergerak di dalam bidang industri kreatif
2. Technology (Teknologi) yaitu enabler untuk mewujudkan kreativitas individu dalam bentuk karya nyata.
3. Resources (Sumber Daya) yaitu input selain kreativitas dan pengetahuan individu yang dibutuhkan dalam proses kreatif, misal: sumber daya alam, lahan
4. Institution (Institusi) yaitu tatanan sosial (norma, nilai, dan hukum) yang mengatur interaksi antara pelaku perekonomian khususnya di bidang industri kreatif
5. Financial Intermediary yaitu lembaga penyalur keuangan
• ATAP: Bangunan ekonomi kreatif ini dipayungi oleh interaksi triple helix yang terdiri dari Intellectuals (Intelektual), Business (Bisnis), dan Government (Pemerintah) sebagai para aktor utama penggerak industri kreatif.
1. Intellectual, kaum intelektual yang berada pada institusi pendidikan formal, informal dan non formal yang berperan sebagai pendorong lahirnya ilmu dan ide yang merupakan sumber kreativitas dan lahirnya potensi kreativitas insan Indonesia.
2. Business, pelaku usaha yang mampu mentransformasi kreativitas menjadi bernilai ekonomis
3. Government, pemerintah selaku fasilitator dan regulator agar industri kreatif dapat tumbuh dan berkembang
Rencana Pengembangan
Dalam rencana pengembangan ekonomi kreatif terdapat lima permasalahan utama, antara lain:
Kuantitas dan kualitas sumber daya insani sebagai pelaku dalam industri kreatif;
Iklim kondusif untuk memulai dan menjalankan usaha di industri kreatif;
Penghargaan/apresiasi terhadap insan kreatif Indonesia dan karya kreatif yang dihasilkan;
Percepatan tumbuhnya teknologi informasi dan komunikasi; dan
Lembaga Pembiayaan yang berpihak kepada pelaku industri kreatif.
Denpasar
Subsektor-subsektor industri kreatif berpotensi di Kota Denpasar adalah subsektor kerajinan, subsektor musik, subsektor penerbitan dan percetakan, dan subsektor fesyen.
1. Subsektor Kerajinan
Potensi produk kerajinan Bali sangat beragam, antara lain: kayu, batok kelapa, perak, anyaman bambu, logam, keramik, furnitur, dupa, aromaterapi, dan lulur. Minat investor asing untuk berinvestasi pada sektor ini cukup tinggi, meskipun realisasinya masih rendah. Sementara itu, pengusaha lokal perlu secara aktif mempelajari pasar karena pasar kerajinan merupakan barang kebutuhan pendukung. Apabila pengusaha lokal dapat meyakinkan investor terutama mengenai potensi pasar maka realisasi investasi dapat ditingkatkan.
2. Subsektor Musik
Pulau Bali dikenal memiliki cita rasa seni yang tinggi terhadap musik. Geliat musik lokal di Bali cukup kuat dengan banyaknya ajang seperti Jambore Musik Bali dan komunitas musik seperti www.musikator.com. Selain itu, daya tarik musik tradisional Bali yang khas dan membawa banyak unsur agama memiliki nilai jual tersendiri.
3. Subsektor Penerbitan dan Percetakan
Bali dikenal sebagai tempat diadakannya ajang-ajang seperti Creative Writing Award dan Ubud Writers Festival yang merupakan ajangwriters terkenal di dunia. Hal ini akan memicu pertumbuhan sektor penerbitan dan percetakan di Bali. Diharapkan dengan pertumbuhan sektor ini maka kualitas penerbitan dan percetakan di Bali akan semakin meningkat
4. Subsektor Fesyen
Tenun khas Bali (endek) dan bordir merupakan andalan industri tekstil dan produk tekstil Bali. Namun produksi industri berskala rumah tangga ini masih kalah bersaing di pasar domestik dibanding dengan produk dari daerah lain. Hanya beberapa industri garmen dengan orientasi ekspor yang mampu mengembangkan desain dan kualitas endek dan bordirnya. Hal itupun sebagian besar karena memenuhi tuntutan pembeli asing. Padahal pasar domestik masih menyimpan potensi yang besar untuk dimasuki produk bordir dan tenun khas Bali. Hal ini muncul dari berbagai pameran yang diikuti oleh para pengrajin Kota Denpasar di berbagai kesempatan.
Beberapa upaya yang akan dilakukan Pemerintah Kota dalam rangka pengembangan ekonomi kreatif di Bali diantaranya yaitu :
1. Mengupayakan adanya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, para pelaku industri kreatif, kalangan akademisi dalam sebuah blueprint rencana pengembangan ekonomi kreatif.
2. Sosialisasi kepada masyarakat, baik lewat media cetak, elektronik maupun online, serta penyelenggaraan seminar dan penerbitan buku-buku.
3. Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia (SDM) dengan pola pembinaan, pelatihan dan pendampingan langsung, sehingga akan tercipta pelaku bisnis industri kreatif yang memiliki jiwa entrepreneurship.
4. Memfasilitasi pelaku bisnis industri kreatif dengan berbagai kemudahan akses pembiayaan usaha, baik perbankan maupun nonperbankan.
5. Pemerintah bersama DPR perlu membuat regulasi atau mulai memikirkan penerbitan Rancangan Undang-Undang (RUU) mengenai ekonomi/industri kreatif.
6. Dalam rangka menyikapi dinamika perkembangan ekonomi global pada era industri kreatif, Kota Denpasar memolakan pembangunan dengan empat strategi pokok yang saling mendukung dan saling menguatkan yaitu (1) pemberdayaan lembaga adat, budaya, dan pemahaman agama, (2) penguatan sistem ekonomi kerakyatan, (3) peningkatan kualitas sumber daya manusia dan (4) keamanan lingkungan yang kondusif.
Bandung
Bandung adalah salah satu kota yang cukup kondusif untuk mengembangkan industri kreatif. Masyarakat kota Bandung yang toleran terhadap ide-ide baru dan menghargai kebebasan individu menjadi modal utama Bandung dalam pengembangan industri kreatif. Selain itu, kota Bandung merupakan tempat yang sangat potensial untuk mensinergikan dan mengkolaborasikan perguruan tinggi, pelaku bisnis, masyarakat, pemerintah dan media dalam rangka menciptakan kultur ekonomi kreatif. Perkembangan ekonomi kreatif di kota Bandung menunjukan peningkatan yang cukup memuaskan.
Sejauh ini,subsektor industri kreatif yang dapat dijadikan unggulan kota Bandung diantaranya yaitu musik, fashion, seni, desain, arsitektur, IT dan makanan (kuliner).
1. Subsektor Fesyen
Bandung adalah kota yang berhasil mengembangkan industri fashion. Bukti nyata atas perkembangan pesat industri fashion di kota Bandung adalah pesatnya pertumbuhan FO (factory outlet) dan Distro (distribution store) sebagai agen distribusi produk tekstil yang mengandalkan kreatifitas. Industri kreatif fashion sudah menjadi icon kota Bandungng. Kekuatan utama industri kreatif adalah desain, keragaman bahan baku, kekhususan merek, dan keunikan produk. Keberhasilan creative fashion di Bandung tidak terlepas dari keberadaan industri tekstil dan keunikan pendistribusiannya yaitu FO dan Distro.
2. Subsektor Arsitektur
Selain melahirkan arsitek terkenal, bangunan di kota Bandung juga dapat menjadi obyek wisata arsitektur. Bangunan dan taman di kota Bandung sudah menjadi obyek wisata yang biasa dikunjungi wisatawan luar negeri maupun dalam negeri. Bangunan-bangunan yang menjadi obyek wisata di Bandung diantaranya Gedung Sate, Gedung Merdeka, Grand Hotel Panghegar dan baunguan-bangunan di kota lama. Perkembangan pesat industri arsitek di kota Bandung juga membuka peluang usaha jasa arsitek di kota Bandung.
3. Subsektor Teknologi Informasi
Bukan hanya pusat seni dan budaya, Bandung juga mempunyai potensi di bidang pengembangan teknologi. Industri kreatif di bidang IT juga berkembang pesat di Bandung. Kampus ITB yang menjadi bagian dari kota Bandung berpotensi sebagai tempat pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi. Pengembangan kreatifitas anak muda Bandung dengan pengetahuan teknologi yang dimilikinya menjadikan industri kreatif di bidang teknologi informasi berkembang pesat di kota Bandung.
Full transcript