Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Copy of Perang Melawan Penjajahan Kolonial Belanda

No description
by

Shalma Shalma

on 20 October 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Copy of Perang Melawan Penjajahan Kolonial Belanda

Perang Melawan Penjajah
Kolonial Belanda
Perang Tondano
1808-1809
Sulawesi Utara
Pattimura Angkat
Senjata
Sewenang-wenang yang dilakukan VOC di Maluku kembali dilanjutkan oleh Kolonial Hindia Belanda setelah kembali pada tahun 1816 .
Sebab adanya perlawanan di maluku di bawah pimpinan Thomas Matulessi dan belanda di bawah pimpinan Van Den Berg adalah :
Kembalinya Kolonial Belanda di Maluku
Tindakan Belanda yang sewenang-wenang
adanya tekanan-tekanan di bidang ekonomi sejak kekuasaan VOC
Sebab ekonomisnya, yakni adanya tindakan-tindakan Belanda yang sangat menyulitkan penduduk
Kolonial Belanda mengganti uang logam yang menambah kegelisahan


Perang Paderi
1803-1838
Sumatera Barat

Success!
THANK YOU
AND
BYE
Kelompok 3
Perang Melawan Penjajahan Kolonial Belanda
Nama Anggota Kelompok :
1. Dea Claresta
2. Dwi Angga
3. Gina Aulia
4. Kahfi Parsa
5. Lu Aimee
6. Riska Afsari
7. Rozi Kurniawan
8. Shalma Seftiani
9. Siti Norindah Sari
10. Sulaiman

Perang
Tondano
Pattimura
Angkat
Senjata
Perang
Padri
Perang
Diponegoro
Perlawanan
di Bali
Perang
Banjar
Aceh
Berjidah
Perang
Batak
Perlawanan di Bali
Perang Banjar
(1859-1905)
Aceh Berjihad
Perang Batak
Perang Banjar (1859-1905) ialah perang perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Perang Banjar berlangsung antara 1859 -1905 (menurut sumber Belanda 1859-1863). Konflik dengan Belanda sebenarnya sudah mulai sejak Belanda memperoleh hak monopoli dagang di Kesultanan Banjar. Dengan ikut campurnya Belanda dalam urusan kerajaan, kekalutan makin bertambah.
o Faktor ekonomi. Belanda melakukan monopoli perdagangan lada, rotan, damar, serta hasil tambang yaitu emas dan intan. Monopoli tersebut sangat merugikan rakyat maupun pedagang di daerah tersebut sejak abad 17. Pada abad 19 Belanda bermaksud menguasai Kalimantan Selatan untuk melaksanakan Pax Netherlandica. Apalagi di daerah itu diketemukan tambang batu bara di Pangaronan dan Kalangan.
o Faktor politik. Belanda ikut campur urusan tahta kerajaan yang menimbulkan berbagai ketidak senangan. Pada saat menentukan pengganti Sultan Adam maka yang diangkat adalah Pangeran Tamjidillah yang disenangi Belanda. Sedangkan Pangeran Hidayatullah yang lebih berhak atas tahta hanya dijadikan Mangkubumi karena tidak menyukai Belanda.
FAKTOR FAKTOR PENYEBAB PEPERANGAN
• Rakyat tidak senang dengan merajalelanya Belanda yang mengusahakan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan.
• Belanda terlalu banyak campur tangan dalam urusan intern kesultanan.
• Belanda bermaksud menguasai daerah Kalimantan Selatan karena daerah ini ditemukan pertambangan batubara. (Karena ditemukan Batubara di kota Martapura Belanda telah merencanakan untuk memindah ibukota kesultanan ke kota Negara – bekas ibukota pada zaman Hindu).
Penyebab Umum
Lokasi Tempat Perang Banjar berada di daerah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah. Termasuk di daerah sungai Barito. Perang pertama terjadi tanggal 18 April 1859 dengan menyerang pos Belanda di Martapura dan Pengaron. Kyai Demang Lehman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kyai Langlang menyerang Tabanio dan berhasil merebut benteng Tabanio. Perang terus berkobar. Tumenggung Surapati dengan pasukannya berhasil menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda di sungai Barito dengan tipu muslihat pura-pura mau bekerjasama. Sementara Pangeran Hidayat juga terus berjuang menentang Belanda.
JALANNYA PERANG
Akhir dari Perang Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari menggunakan strategi perang gerilya dengan membuat kerajaan baru di pedalaman dan membangun bentengbenteng pertahanan di hutan-hutan. Penghancuran seluruh kekuatan Belanda di Kalangan, Banyu Irang dan Bangkal. Penyerangan dipimpin oleh Pangiran Ardhi Kusuma. Penggempuran dan pengapungan benteng Belanda di Pangaron, pangampuran di pimpin Pangiran Antasari, Pambakal Ali Akbar, Mantri Taming.- Penyerangan di Tabanio, didairah Plihari/Tanah laut. Penyerangan dibawah pimpinan Demang Lehman, Kiai Langlang dan Haji Buyasin.
Akhir dari Perang
Penyerangan di Pulau Pitak, Pulau Telu dan disepanjang sungai Barito dibawah pimpinan Pambakal Sulil dan Surapati. Pembersihan kaki tangan Balanda di Banua Lima (Nagara, Alabiu, Sungai Banar, Amuntai dan Klua) dilakukan oleh Kiai Adipati Anom Dinding Raja, pambakal Gapur, Duwahap, Dulahat dan Panghulu Abdul Gani. - Penyerangan di daerah Marabahan. - Penyerangan didaerah gunung Jabok. - Penyerangan kapal perang Cipanas yang datang di Martapura, rusak dan ditarik kapal Van Os
Sebab Umum terjadinya perlawanan :
Rakyat dibelit dengan berbagai bentuk pajak
dan pungutan.
Semakin menyempitnya daerah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta.
Pihak keraton tidak berdaya menghadapi
campur tangan politik pemerintahankolonial
Pihak keraton hidup mewah dan tidak
memperdulikan penderitan rakyat
Dampaknya :
-kekuasaan wilayah surakarta dan yogyakarta berkurang
-belanda mendapatkan beberapa wilayah yogyakarta
dan surakarta
-banyak yang menguras kas belanda

-kekuasaan wilayah surakarta dan yogyakarta berkurang
-belanda mendapatkan beberapa wilayah yogyakarta dan surakarta
-banyak yang menguras kas belanda

Dampak dari perang diponegoro
Keinginan Belanda menguasai Bali dimulai sejak tahun 1841.
Seluruh raja di Bali dipaksa menandatangani perjanjian
yang isinya raja di Bali mengakui dan tunduk kepada
pemerintah Belanda. Keinginan Belanda menguasai Bali
selalu tidak berhasil karena Bali masih bersifat konservatif
(masih berlaku adat/tradisi).
Pada tahun 1844 kapal Belanda terdampar di pantai
Buleleng dan dikenakan hukum tawan karang. Belanda selalu turut campur urusan kerajaan di Bali dengan mengajukan tuntutan dengan isi sebagai berikut.a) Membebaskan Belanda dari hukum tawan karang.b) Kerajaan Bali mengakui pemerintahan Hindia Belanda.c) Kerajaan Bali melindungi perdagangan milik pemerintah Belanda.d) Semua raja di Bali harus tunduk terhadap semua perintah kolonial Belanda.

Terjadi pada tahun 1849, pertempuran pertama Belanda mengalami kegagalan. Pertempuran yang kedua Belanda yang dipimpin Jendral Mayor A. V Michiels dan Van Swieten Perang berlangsung selama dua hari dua malam (tanggal 15 dan 16 April 1849) dan menunjukkan semangat perjuangan rakyat Bali yang heroik dalam mengusir penjajahan Belanda. Dalam pertempuran ini, pihak Belanda mengerahkan pasukan darat dan laut yang terbagi dalam tiga kolone.
Perang Puputan Jagaraga
Terjadi pada tahun 1894, pihak Belanda yang di pimpin Michiels berhasil merebut benteng Kusumba sebagai pertahanan Klungkung di daerah selatan Bali.
Perang Puputan
Kusumba
 Terjadi pada tahun 1906 diawali dengan terdamparnya kapal Belanda di Pantai Sanur yang ditawankarangi. Belanda menuntut ganti rugi, namun Raja Badung yaitu I Gusti Ngurah Gede menolaknya, Belanda lalu mendarat dan menuju pusat Kerajaan Badung. Perempuran mati –matian terjadi secara unik. Laki –laki, perempuan dan anak – anak berpakaian serba putih dan membawa keris atau tombakmenyerbu tentara Belanda. Namun sayang semuanya gugur dan Kerajaan Badung berhasil dikuasai Belanda.
Perang Puputan
Badung
Inti Tondano Pertama

Perang Tondano adalah Perang antara TouMinahasa dengan penjajah Belanda .
Tondano pertama terjadi pada masa kekuasaan VOC
VOC berhasil menanamkan pengaruhnya di ternate
karena Minahasa menentang usaha monopoli VOC, VOC pun memerangi Minahasa dan Simon Cos (gubernur ternate) mengeluarkan 2 ultimatum, tetapi tidak berhasil dan VOC ditarikmundur ke Manado
Tondano menghadapi masalah dengan hasil pertanian yang menumpuk, tidak ada yang membeli. Dengan terpaksa kemudian mendekati VOC untuk membeli hasil-hasil pertaniannya

Inti Tondano Ke-dua

Tondano kedua ini yaitu pada saat memasuki abad ke-19 pada masa kolonial Belanda
Sebagai Bentuk penolakkan atas
kebijakan Deandels untuk
mengumpulkan calon pasukan
pemuda Minahasa ke Jawa
Oleh sebab itu, kolonial belanda pun melawan minahasa di Tondano, Minawanua
Puncaknya yaitu pada 23 oktober 1808 sampai bulan agustus 1809

Latar Belakang
1. Belanda Menduduki Daerah Siak.
2. Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps, menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan.
3. Ditandatanganinya perjanjian Sumatera antara Inggris dan Belanda pada 1871 yang melanggar isi Traktat London 1824.
4. Akibat perjanjian Sumatera, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, kerajaan Italia, kesultanan Usmaniah Singapura dan Turki Ustmani.

Jalannya Perang Aceh Dari Tahun 1873 Sampai Tahun 1904
Pemerintahan Belanda pada tanggal 18 februari 1873 memerintahkan Gubernur jendral di Batavia untuk mengirimkan untuk mengirimkan kapal dan pasukan yang kuat ke Aceh. Kemudian dikirimlah komisaris Hindia Belanda untuk Aceh yaitu F.N Nieuwenhuysen yang berangkat ke Aceh dengan menggunakan dua kapal perang lengkap dengan pasukannya. Nieuwenhuysen berangkat pada tanggal 7 Maret 1873, tidak lama kemudian datang juru bicara Belanda yang bernama Said Tahir menghadap Sultan Mahmud Syah untuk menyampaikan surat dari Komisaris Nieuwenhuysen. Surat teresbut berisi permintaan kepada Sultan Aceh untuk mengakui kedaulatan Hindia Belanda atas negaranya. Sultan Mahmud syah menolak isi surat tersebut dan tidak bersedia menerima perintah dari komisaris Hindia Belanda tersebut. Surat-surat selanjutnya dari komisaris Hindia Belanda juga ditak diberi jawaban serta ditolak oleh Sultan Aceh, sehingga pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda mulai menyerang Aceh.
Perang Periode Pertama tahun 1873-1874
Aceh sudah mempersiapkan diri dalam menghadapi serangan yang akan dilaksanakan oleh Belanda. Sepanjang pantai Aceh besar dibangun benteng-benteng untuk memperkuat wilayah. Demikian juga untuk tempat-tempat yang penting seperti istana raja, masjid raya Baiturrachman, dan Gunongan juga diperkuat. Terdapat sekitar 3000 laskar pejuang Aceh yang bersiaga disepanjang pantai dan 4000 pasukan lain yang menjaga istana Sultan.
Perang Periode Kedua tahun 1874-1880
Jenderal Pel yang menggantikan Van Swieten pada bulan April 1874 mulai membangun pos-pos pertahanan di Kutaraja. Pada tahun 1877, pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Van Der Heyden. Van Der Heyden mulai melakukan ofensif dengan mengirim ekspedisi untuk menakhlukkan Mukim XXII. Panglima Polim terpaksa mengundurkan diri ke daerah lain. Daerah daerah lain dalam Aceh besar akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Suasana yang dianggap sudah damai dan kesulitan keuangan keuangan mendorong peguasa Kolonial Hindia Belanda menerapkan sistem pemerintahan sipil. Ternyata langkah yang diambil oleh pemerintah Hindia Belanda itu salah. Paska diberlakukannya pemerintahan sipil, perlawana dari rakyat semakin besar sehingga Belanda kembali menerapkan sistem pemerintahan militer.


Perang Periode Ketiga tahun 1880-1896
Memasuki tahun 1880 situasi di Aceh semakin buruk bagi Belanda. Perlawanan rakyat Aceh semakin menghebat dan terjadi diseluruh lapisan msyarakat. Kaum bangsawan seperti Ulebalang langsung memimpin perjuangan di medan pertempuran dan ulama mengobarkan semangat juang di kalangan rakyat Aceh dengan mendengungkan perang Sabil dan mengkhotbahkan kisah-kisah peperangan seperti hikayat perang sabil, dan syair Aceh. Pemerintah Hindia Belanda mulai menyadari kesulutan menakhlukkan aceh. Pada awal tahun 1880 biaya yang dikeluarkan sudah mencapai 115 juta gulden dan pada akhir tahun 1884 mencapai 150 juta gulden
Perang periode keempat tahun 1896-1904
Belanda sudah melaksanakan perang dengan berbagai strategi dari pemimoin perang yang berbeda pula. Tetapi pertahanan Aceh mesih sulit dihancurkan bahkan semangat juang masyarakat Aceh semakin membara. Oleh karena itu Belanda berusaha menyelidiki rahasia dari kekuatan besar Aceh terutama yang menyangkut kehidupan sosial budayanya. Dr. Snouck Hurgrunje yang faham tentang agama islam dan pernah bergaul dengan orang-orang Aceh yang naik haji, oleh pemerintah Hindia Belanda dipandang sebagai orang yang tepat untuk diberi tugas memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi Belanda dalam menakhlukkan Aceh.

Perang Tapanuli, juga dikenal sebagai Perang Batak (1878-1907), merupakan perang antara Kerajaan Batak melawan Belanda. Perang ini berlangsung selama 29.
Alasan meletusnya perang ini adalah:

Raja Sisingamangaraja XII tidak senang daerah kekuasaannya diperkecil oleh Belanda. Kota Natal, Mandailing, Angkola dan Sipirok di Tapanuli Selatan dikuasai oleh Belanda.
Belanda berusaha mewujudkan Pax Netherlandica.

Perang meletus setelah Belanda menempatkan pasukannya di Tarutung, dengan tujuan untuk melindungi penyebar agama Kristen yang tergabung dalam Rhijnsnhezending, dengan tokoh penyebarnya Nommensen (orang Jerman). Raja Sisingamangaraja XII memutuskan untuk menyerang kedudukan Belanda di Tarutung. Perang berlangsung selama tujuh tahun di daerah Tapanuli Utara, seperti di Bahal Batu, Siborong-borong, Balige Laguboti dan Lumban Julu.

Perjuangan dan Perang Gerilya Raja Sisingamangaraja XII
Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh. Saat itu Tanah Batak di mana Raja Si Singamangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda.Tetapi ketika 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1876, Belanda mengumumkan “Regerings Besluit Tahun 1876″ yang menyatakan daerah Silindung/Tarutung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga, Raja Si Singamangaraja XII cepat mengerti siasat strategi Belanda.
Akhir Perang Gerilya Raja Sisingamangaraja XII
Pertahanan Raja Si Singamangaraja XII diserang dari tiga jurusan. Tetapi Raja Si Singamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Kaum wanita dan anak-anak diungsikan secara berkelompok-kelompok, namun kemudian mereka tertangkap oleh Belanda. Tanggal 17 Juni 1907, di pinggir bukit Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Raja Si Singamangaraja XII oleh pasukan Marsose Belanda pimpinan Kapten Christoffel.
Sebab Umum :
Penindasan dan penghisapan oleh bangsa belanda kepada penduduk Maluku
Ketidakpuasan atas kebijakan-kebijakan belanda , salah satunya adalah menebang kayu
Adanya monopoli dagang misalnya dengan adanya hongi atau ekstipasi

Sebab khusus:
Penolakan oleh Van Den Berg atas tuntutan penduduk Maluku


Maluku
Full transcript