Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Perjuangan Menghadapi Ancaman Disintegrasi

No description
by

Ade Muliani

on 10 August 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Perjuangan Menghadapi Ancaman Disintegrasi

Peristiwa Andi Aziz
Peristiwa Andi Aziz berawal dari tuntunan Kapten Andi Aziz dan pasukannya yang berasal dari KNIL terhadap pemerintah Indonesia agar hanya mereka yang dijadikan pasukan APRIS di Negara Indonesia Timur.

Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)
Pemberontakan RMS dilakukan dengan tujuan memisahkan diri dari Republik Indonesia dan menggantinya dengan negara sendiri. Diproklamasikan oleh Soumokil, didukung oleh mantan pasukan KNIL.
Kelebihan pasukan KNIL RMS adalah mereka memiliki kualifikasi sebagai pasukan komando. Konsentrasi kekuatan mereka berada di Pulau Ambon dengan medan perbentengan alam yang kokoh.

Pemberontakan APRA

Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dibentuk oleh kapten Raymond Westerling pada tahun 1949. APRA adalah misili bersenjata yang anggotanya berasal dari tentara Belanda yang tidak setuju dengan pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). APRA ingin agar keberadaan negara pasundan dipertahankan sekaligus menjadikan mereka sebagai tentara negara federal di Jawa Barat.
Konflik dan Pergolakan yang Berkaitan dengan Kepentingan
Pemberontakan PKI Madiun

Pada awal September 1948 pimpinan PKI dipegang Muso. Ia membawa PKI ke dalam pemberontakan bersenjata yang dicetuskan di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Alasan utamanya tentu bersifat ideologis, dimana mereka memiliki cita-cita ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara komunis. Di bawah pimpinan Muso, PKI berhasil menarik partai dan organisasi kiri dalam FDR bergabung kedalam PKI. Partai ini lalu mendorong dilakukannya berbagai demonstrasi dan pemogokan kaum buruh dan petani.
Konflik dan Pergolakan yang Berkaitan dengan Ideologi
Sejarah pergolakan dan konflik selama masa tahun 1948-1965 terbagi kedalam tiga bentuk:
Konflik dan pergolakan yang berkaitan dengan ideologi
Konflik dan pergolakan yang berkaitan dengan kepentingan
Konflik dan pergolakan yang berkaitan dengan sistem pemerintahan
Pergolakan Dalam Negeri (1948-1965)
"Musuh terbesar bangsa kita bukan yang datang dari luar, tetapi ancaman disintegrasi yang berasal dari dalam sendiri"

C.S.T Kansil, 2005
Perjuangan Menghadapi Ancaman Disintegrasi
Kabinet Natsir
Ade Muliani
Divia Agustina Ahmad
Fika Nurfiyanti Anggiyani
Rara Aisyah Rusdian
Ratih Yustikasari
Thasyavia Tricahyani I.G
Konflik dan Pergolakan yang Berkait dengan Sistem Pemerintahan
Pemberontakan PRRI dan Permesta
Munculnya pemberontakan PRRI dan Permesta bermula dari adanya persoalan di dalam tubuh Angkatan Darat, berupa kekecewaan atas minimnya kesejahteraan tentara di Sumatra dan Sulawesi. Kekecewaan tersebut diwujudkan dengan pembentukan dewan-dewan daerah sebagai alat perjuangan tuntutan seperti Dewan Banteng di Sumatera Barat yang dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein.
Persoalan Negara Federal dan BFO
Konsep Negara Federal dan “persekutuan” Negara Bagian (BFO/ Bijeenkomst Federal Overleg) mau tidak mau menimbulakan potensi perpecahan dikalangan bangsa Indonesia sendiri setelah kemerdekaan. Persaingan yang timbul terutama adalah antara golongan federalis yang ingin bentuk negara federal di pertahankan dengan golongan unitaris yang ingin Indonesia menjadi negara kesatuan.
Dalam konferensi Malino di Sulawesi Selatan pada 24 Juli 1946, pertemuan untuk membicarakan tatanan federal yang diikuti oleh wakil dari berbagai daerah non RI itu, ternyata mendapat reaksi keras dari para politisi pro RI yang ikut serta. Mr. Tadjudin Noor dari Makassar bahkan begitu kuatnya mengkritik konferensi.
"Tujuan yang nyata hanyalah satu, Republik Indonesia Serikat yang merdeka, bersatu, bernaung di bawah bendera Sang Saka Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia sejak beribu-ribu tahun"

Soekarno, dalam Konferensi BFO 1948
Dari Konflik Menuju Konsensus
Kesadaran Terhadap Pentingnya Integrasi Bangsa

Kementrian sosial memetakan baha pada tahun 2014 Indonesia masih memiliki 184 daerah rawan konflik sosial. Enam diantaranya diprediksi memiliki tingkat kerawanan yang tinggi, yaitu Papua, Jawa barat, Jakarta, Sumatra Utara, Sulawesi Tengah, dan Jawa Tengah.
 
Sejarah telah memberi tahu kita bagaimana pemberontakan pemberontakan yang pernah terjadi selama masa tahun 1948-1965 yang telah menewaskan banyak sekali korban manusia.
 
Sebagian besar ekonominya tertinggal dibanding daerah lain. Walaupun ada juga daerah maju tetapi interaksi sosialnya masih sangat kaku, sehingga mudah meletup hanya karena masalah sepele.
Indikatornya terlihat sepanjang sepanjang 2013 daerah tersebut bermunculan aneka konflik. Sepanjang 2013 di Papua terjadi 24 peristiwa konflik sosial, Jawa Barat (24), Jakarta (18), Sulawesi Tengah (10), dan Jawa Tengah (10).
 
Di tahun 2014, ketegangan juga justru akan meningkat. Dikarenakan kemensos melancarkan program keserasian sosial di 50 dearah rawan dan penguatan kearifan lokal di 30 daerah. Targetnya mencegah kemungkinan terjadinya konflik.
Perbedaan keinginan agar bendera Merah Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya digunakan atau tidak oleh Negara Indonesia Timur (NIT) menjadi persoalan yang tidah bisa terselesaikan dalam konferensi (1947).
 
Sejak pembentukannya di Bandung pada bulan Juli 1948, BFO telah terpecah kedalam dua kubu. Kubu pertama menolak kerjasama dengan Belanda dan memilih RI untuk diajak kerjasama membentuk Negara Indonesia Serikat yang dipelopori oleh Ide Anak Agung Gede Agung (NIT) serta R.T. Djumhana (negara pasundan) dan R.T. Adil Puradiredja. Kemudian kubu kedua dipimpin oleh Sultan Hamid II (Pontianak) dan dr. T. Mansyur (Sumatra Timur). Kelompok ini menginginkan agar garis kebijakan bekerja sama dengan Belanda tetap dipertahankan BFO. Di kemudian hari, Sultan Hamid II ternyata bekerja sama dengan APRA Westerling mempersiapkan pemberntakan terhadap pemerintahan RIS.
 
Selain pergolakan yang mengarah pada perpecahan, pergolakan bernuansa positif bagi persatuan juga terjadi. Hal ini terlihat ketika negara-negara bagian yang keadaanya ingin dipertahankan setelah KMB, harus berhadapan dengan tuntutan rakyat agar bagian tersebut bergabung dengan RI.

Potensi disintegrasi pada masa kini bisa saja benar benar terjadi bila bangsa Indonesia tidak menyadai adanya potensi semacam itu. Karena itulah kita harus selalu waspada dan terus selalu melakukan upaya untuk menguatkan persatuan bangsa.

Sejarah Indonesia telah menunjukan bahwa proses disintegrasi sangat merugikan. Antara tahun 1948 - 1965, gejolak yang timbul karena persoalan ideologi, kepentingan, atau berkait dengan sistem pemerintah, telah berakibat pada banyaknya kerugian fisik, materi mental dan tenaga bangsa.

Konflik dan pergolakan yang berlangsuung diantara bangsa Indonesia bahkan bukan saja bersifat internal, melainkan juga berpotensi ikut campurnya bangsa asing pada kepentingan nasional bangsa Indonesia.
Teladan Para Tokoh Persatuan
Keteladanan para tokoh pahlawan nasional Indonesia dalam kita lihat dalam pengorbanan jabatannya dan materi dari mereka yang berstatus raja. Sultan Hamengkubuwono IX dan Sultan Syarif Kasim II adalah dua tokoh nasional yang akan dibahas dalam bab ini.
 
Selain tokoh-tokoh yang berkiprah dalam bidang politik dan perjuangan bersenjata, kita juga akan mengambil hikmah keteladanan dari tokoh yang berjuang di bidang seni. Nama Ismail Marzuki mungkin telah kalian kenal sebagai pencipta lagu-lagu nasional. Tokoh Ismail Marzuki ini akan juga kita bahas dalam bab mengenai keteladanan para tokoh nasional ini.

Frans Kaisiepo
Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, 10 Oktober 1921. Pada usia 24 tahun, ia mengikuti Kursus Pamong Praja di Jayapura yang salah satu pengajarnya adalah Soegoro Atmoprasodjo, mantan guru Taman Siswa Yogyakarta. Frans Kaisiepo berjuang sejak masa-masa kemerdekaan RI. Tindakannya yang sangat teguh menyatakan bahwa Papua merupakan bagian dari Nusantara, menjadikan dirinya “dipinggirkan” oleh pemerintah Belanda.

Frans menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Selain itu, Frans menjadi anggota delegasi Papua (Nederlands Nieuw Guinea) yang kala itu membahas tentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), dimana pada saat itu Belanda memasukkan Papua dalam NIT. Di hadapan konferensi, Frans Kaisiepo memperkenalkan nama “Irian” sebagai pengganti nama “Nederlands Nieuw Guinea”, yang secara historis dan politik merupakan bagian integral dari Nusantara Indonesia (Hindia-Belanda).

Setelah melewati beberapa konfrontasi, pada 4 Agustus 1969 dilaksanakanlah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang pada saat itu Frans masih menjadi Gubernur Papua. Jelas Frans Kaisiepo sangat berperan dalam pelaksanaan Pepera tersebut. Hasil dari Pepera tersebut adalah suara bulat dari masyarakat Papua adalah tetap bergabung dengan Indonesia.

Silas Papare
Pria kelahiran Serui, Irian Jaya, 18 Desember 1918 ini begitu mendengar Indonesia telah merdeka, ia pun langsung mengadakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Pada bulan Desember 1945, bersama teman-temannya berusaha mempengaruhi pemuda-pemuda di Irian Barat yang tergabung dalam Batalyon Papua agar melancarkan pemberontakan.

Pada bulan November 1946, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Dan pada Oktober 1949, ia kemudian membentuk Badan Perjuangan Irian yang bertujuan untuk membantu pemerintah Indonesia membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda sekaligus menyatukannya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada tanggal 15 Agustus 1962 diadakan penandatanganan Persetujuan New York antara Indonesia dan Belanda, Silas Papare ikut terlibat sebagai anggota delegasi RI.

Tanggal 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi wilayah Republik Indonesia. Tanggal 7 Maret 1978, Silas meninggal dunia di tanah kelahirannya Serui.
Marthen Indey
Marthen Indey dilahirkan di Doromena, Jayapura pada tanggal 16 Maret 1912. Sebelumnya, ia merupakan polisi Belanda yang kemudian berbalik mendukung Indonesia setelah bertemu dengan beberapa tahanan politik yang diasingkan di Digul, salah satunya adalah Sugoro Atmoprasojo. Pada tahun 1946, Marthen bergabung dengan sebuah organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM).

Pada tahun 1962 Marthen bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia.

Berkat jasanya, Marthen diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Tak hanya itu, ia juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun. Marthen meninggal pada usia 74 tahun tepatnya pada tanggal 17 Juli 1986.
Sultan Hamengkubuwono IX
Pada tahun 1940 ia dengan tegas menunjukan sikap nasionalismenya. Dalam pidatonya dengan tegas ia mengatakan: “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa”
Kemampuan diplomasi yang beliau miliki menjadi kekaguman tersendiri bagi rakyat Yogyakarta. 19 hari pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengirim surat pernyataan kepada Pemerintah RI yang memiliki tiga pokok amanat, yaitu:

1. Ngayogyakarta Hadiningrat berbentuk kerajaan yang merupakan Daerah Istimewa, bagian dari RI.

2. Segala kekuasaan dalam negeri dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengkubuwono IX.

3. Hubungan antara Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah negara RI bersifat langsung dan Sultan Hamengkubuwono IX bertanggungjawab langsung kepada Presiden.
Sultan Syarif Kasim II
Berita kekalahan bala tentara Jepang yang menyerah tanpa syarat kepada tentara Sekutu pada 15 Agustus 1945 tersiar di daerah Riau pada akhir Agustus 1945. Sultan Siak sudah mendengar berita proklamasi. Sejak muda sampai akhir hayatnya Sultan Syarif Kasim II terkenal taat beribadah dan beliau sangat dicintai rakyatnya.

Sultan Syarif Kasim II, Sultan dari Kerajaan Melayu yang terkenal penentang pemerintahan Hindia Belanda yang gigih. Jasa-jasa beliau sebagai patriot Tanah Air tentulah tidak dapat dilupakan begitu saja.

Menjelang akhir hayatnya, Sultan dalam jasmaninya hidup dalam kesunyian kebesarannya, tetapi hatinya tetap dalam gegap gempitanya derap maju kemerdekaan bangsa dan negaranya. Di tengah-tengah dentam palu godam pembangunan beliau berbaring dengan tenang di atas “semburan sejuta barrel” kekayaan alam swapraja-nya dahulu di Rumah Sakit Caltex Rumbai, Pekanbaru. Dan dengan iringan asap mesiu “salvo” penghormatan, beristirahatlah untuk selamanya seorang pejuang yang tidak pernah jauh dari hati rakyatnya.

Pada 6 November 1998 melalui Kepres No.109/TK/1998, Pemerintah RI memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Almarhum Sultan Syarif Kasim II (Sultan Siak XII) dengan anugerah tanda jasa Bintang Mahaputra Adipradana.
Ismail Marzuki
Ismail Marzuki atau Bang Maing adalah putra Betawi asli. Lahir di Kwitang, Jakarta pada 11 Mei 1914. Sejak kecil ia tidak banyak menerima kasih saying sang ibu, karena ibunya meninggal ketika ia berusia tiga bulan. Sedangkan kakak kandungnya bernama Anie Haminah yang umurnya berbeda sekitar sebelas tahun.

Ismail menempuh pendidikan di HIS Idenburg, Menteng sampai tamat kelas 7, dilanjutkan ke MULO di jalan Menjangan, Jakarta. Saat itu ia dibelikan ayahnya alat musik seperti harmonika, mandolin, dan lain-lain. Dengan alat musik itu ia bermain musik dan menciptakan lagu. Lagu pertamanya berjudul O Sarinah yang ia ciptakan saat berusia 17 tahun.

Dengan bekal ijazah MULO dan lancar berbahasa Inggris dan Belanda ia diterima bekerja di Socony Servie Station. Tetapi ia tidak lama bekerja disana. Ismail kemudian bekerja di perusahaan dagang KK Nies, yang menjual alat-alat musik dan merekam piringan hitam. Ia senang bekerja disana karena bisa menyalurkan bakatnya dalam bidang musik.

Sejak usia muda Ismail sudah menguasai berbagai alat musik. Sekitar tahun 1936 Ismail bergabung dengan perkumpulan orkes Lief Java pimpinan Hugo Dumas. Disanalah kemampuannya meningkat pesat. Ia sangat kreatif mengaransemen lagu beragam genre, lagu-lagu Barat, irama keroncong, maupun langgam Melayu. Ia yang pertama memperkenalkan instrument akordean kedalam langgam Melayu sebagai pengganti harmonium pompa.
Sejak itu ia memperoleh kesempatan tampil dalam siaran Nederlands Indische Omroap Maatschapij dan tidak pernah meninggalkan dunia radio. Kegiatannya lebih banyak menggubah dan mengaransemen lagu-lagu. Saat pendengar radio meminta Lief Java menyiarkan lagu-lagu Hawaii juga, maka dibentuk sebuah Band Hawaiian dengan nama Sweet Java Islander yang diisi oleh Ismail, Victor Tobing, Hasan Basri, Pek De Rosario, dan Hardjomuljo.

Karya-karya Ismail pertama mulai direkam ke piringan hitam pada 1937 yang disambut hangat oleh para penggemar musik. Diantara lagu yang direkam antara lain O Sarinah, Ali Baba Rumba, dan Olhe Lheu Dari Kotaradja. Setahun kemudian Ismail mengisi suara dalam film Terang Bulan yang diperankan oleh Rd. Muchtar dalam lagu Duduk Termenung, karena bintang film itu tidak sanggup menyanyikannya. Kesuksesan di dunia film membuatnya diundang ke Malaysia dan Singapura dalam serangkaian pementasan.

Salah satu lagu yang ia ciptakan pada 1939 berjudul Als De Orchideen Bloeien, sangat memikat hati penggemar di seluruh tanah air bahkan hingga ke negeri Belanda. Pemancar Radio Hilversium, Nederland, sering menyiarkan lagu itu atas permintaan pendengar.

Pada masa penjajahan Jepang ia melakukan perlawanan dengan caranya sendiri melalui lagu. Ia menggubah lagu Bisikan Tanah Air serta lagu Indonesia Pusaka. Ia pernah dipanggil oleh Kenpetai untuk dimintai penjelasan saat lagu itu disiarkan secara luas di radio. Ia juga membuat lagu perjuangan untuk Peta (Pembela Tanah Air), yaitu mars Gagah Perwira. Lagu Rayuan Pulau Kelapa ia ciptakan tahun 1944. Ia tidak sendiri, karena komposer lain seperti Cornel Simandjuntak membuat lagu yang menggugah semangat, Maju Tak Gentar, dan Kusbini membuat lagu yang membangkitkan perasaan Bagimu Negeri.

Ismail menikah pada 1940 dengan Eulis Zuraidah. Sampai akhir hayatnya Ismail tidak dikaruniai anak. Tetapi ia memiliki seorang anak angkat bernama Rachmi Aziah.

Pada tahun 1956 Ismail jatuh sakit. Lagu terakhir yang ia ciptakan yang dibuat pada masa sakit berjudul Inikah Bahagia? Pada tanggal 25 Mei 1958 di Jakarta, Ismail meninggal dunia di usia 44 tahun.
Opu Daeng Risadju
Opu Daeng Risadju adalah pejuang wanita asal Sulawesi Selatan yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Opu Daeng Risaju memiliki nama kecil Famajjah. Opu Daeng Risaju itu sendiri merupakan gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu yang disematkan pada Famajjah memang merupakan anggota keluarga bangsawan Luwu. Opu Daeng Risaju merupakan anak dari Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng yang lahir di Palopo pada 1880.

Tidak seperti bangsawan pada umumnya, meskipun berasal dari keluarga bangsawan, Opu Daeng Risaju tidak pernah mengecap pendidikan Barat. Pendidikan yang didapat oleh Opu Daeng Risaju lebih ditekankan pada persoalan yang menyangkut ajaran dan nilai-nilai moral baik yang berlandaskan budaya maupun agama.
Ia juga mendapatkan pendidikan mengenai tata cara kehidupan bangsawan baik di dalam istana maupun di luar lingkungan istana, sebagaimana yang berlaku dalam tradisi keluarga bangsawan. Opu Daeng Risaju juga mendapatkan pengajaran terkait tata cara kepemimpinan, bergaul, berbicara, dan memerintah rakyat kebanyakan.

Selain mempelajari moral yang berlandaskan adat kebangsawanan, Opu Daeng Risaju juga mempelajari peribadatan dan akidah dalam agama Islam. Dalam tradisi Luwu itu sendiri, agama dan budaya merupakan satu kesatuan. Karenanya, sejak kecil Opu Daeng Risaju terbiasa membaca Al-Quran hingga tamat dan mempelajari ilmu-ilmu keagamaan seperti nahwu, syaraf dan balagah.

Suami Opu Daeng Risaju, H. Muhammad Daud, merupakan seorang ulama yang pernah bermukim di Mekkah. Suami Opu Daeng Risaju ini merupakan anak dari rekan dagang ayahnya. H. Muhammad Daud kemudian diangkat menjadi imam masjid istana Kerajaan Luwu karena menikah dengan keluarga bangsawan dan memiliki pengetahuan yang luas tentang agama.
Opu Daeng Risaju juga merupakan wanita yang aktif dalam Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII). Opu Daeng Risaju kemudian mendirikan cabang PSII Palopo yang diresmikan pada 14 Januari 1930. Opu Daeng Risaju terpilih sebagai ketua PSII Palopo dalam rapat akbar yang dihadiri aparat pemerintah Kerajaan Luwu, pengurus PSII pusat, pemuka masyarakat, masyarakat umumnya, hingga pengurus PSII pusat yaitu Kartosuwiryo.

Akan tetapi, pada masa pendudukan Jepang, tidak banyak kegiatan yang Opu Daeng Risaju lakukan di PSII. Ini disebabkan karena pemerintahan Jepang melarang adanya kegiatan politik Organisasi Pergerakan Kebangsaan, termasuk PSII.

Opu Daeng Risaju mulai kembali aktif pada masa revolusi di Luwu. Revolusi ini diawali dengan kedatangan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) di Sulawesi Selatan yang berkeinginan untuk menajajah kembali Indonesia. Pemberontakan terhadap NICA mulai terjadi pada saat tentara NICA menggeledah rumah Opu Gawe untuk mencari senjata, akan tetapi tidak menemukannya.
Merasa tidak puas dengan ini, tentara NICA kemudian mendatangi masjid dan menginterogasi orang-orang di dalam masjid. Akan tetapi, karena masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, NICA memutuskan untuk mengobrak-abrik masjid bahkan menginjak Al-Quran.

Melihat hal ini, para pemuda memberikan ultimatum kepada tentara NICA di Palopo untuk segera kembali ke tangsinya dan tidak berkeliaran di kota. Karena ultimatum ini tidak digubris oleh tentara NICA, timbullah konflik senjata yang sangat besar antara tentara NICA dan para pemuda pada tanggal 23 Januari 1946. Konflik senjata ini kemudian merambat ke kota-kota lainnya di Palopo, salah satunya ialah kota Beloppa tempat Opu Daeng Risaju tinggal.

Peran Opu Daeng Risaju dalam perlawanan terhadap tentara NICA di Belopa sangatlah besar. Opu Daeng Risaju membangkitkan dan memobilisasi para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap tentara NICA.
Pada tahun 1949, setelah kedaulatan RI mendapat pengakuan, Opu Daeng Risaju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya Haji Abdul Kadir Daud. Dalam PSII pun Haji Abdul Kadir Daud tak lagi aktif sejak 1950 dan hanya menjadi sesepuh di organisasi tersebut.

Opu Daeng Risaju wafat di usianya yang ke 84, tepatnya pada 10 Februari 1964. Pemakamannya dilakukan di perkuburan raja-raja Lokkoe di Palopo tanpa ada upacara kehormatan, sebagaimana yang biasanya dilakukan terhadap sosok pahlawan yang wafat.
Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya diplomasi dengan Muso, bahkan sampai mengikutsertakan tokoh-tokoh kiri yang lain, yaitu Tan Malaka untuk meredam gerak ofensif PKI Muso. Namun kondisi politik sudah terlampau panas, sehingga pada pertengahan September 1948, dengan TNI mulai meletus. PKI dan kelompok pendukungnya kemudian memusatkan diri di Madiun. Muso pun kemudian pada tanggal 18 September 1948 memproklamirkan Republik Soviet Indonesia.
 
Di awal pemberontakan, pembunuhan terhadap pejabat pemerintah dan para pemimpin partai yang anti komunis terjadi. Tetapi pasukan pemerintah yang dipelopori Divisi Siliwangi kemudian berhasil mendesak mundur pemberontak. Puncaknya adalah ketika Muso tewas tertembak. Amir Syarifuddin juga tertangkap. Tokoh-tokoh muda PKI sepertinya Aidit dan Lukman berhasil melarikan diri. Merekalah yang kelak di tahun 1965, berhasil menjadikan PKI kembali menjadi partai besar di Indonesia sebelum terjadinya Gerakan 30 September 1965. Ribuan orang tewas dan ditangkap pemerintah akibat pemberontakan Madiun ini. PKI gagal mengambil alih kekuasaan.
Pemberontakan DI/TII

Kartosuwiryo
Cikal bakal pemberontakan DI/TII yang meluas di beberapa wilayah di Indonesia bermula dari sebuah gerakan di Jawa Barat yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo. Salah satu keputusan Renville adalah harus pindahnya pasukan RI dari daerah-daerah yang diklaim dan diduduki Belanda ke daerah yg dikuasai RI. Akan tetapi laskar bersenjata Hisbullah dan Sabilillah yg telah berada di bawah pengaruh Kartosuwiryo tidak bersedia pindah dan malah membentuk Tentara Islam Indonesia (TII). Dan tak lama kemudian ia menyatakan pembentukan Darul Islam (DI). Permasalahan mulai muncul saat Pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat, Kartosuwiryo tidak mau mengakui tentara RI kecuali mereka mau bergabung dengan DI/TII. Akhirnya akibat sikap Kartosuwiryo itu, pemerintah mulai melakukan operasi militer. Melalui operasi ini, Kartosuwiryo berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Amir Fatah

Di jawa tengah, awal kasusnya juga mirip, dimana akibat persetujuan Renville daerah Pekalongan-Brebes-Tegal ditinggalkan TNI. Terjadi kevakuman wilayah ini dan Amir Fatah beserta pasukan Hizbullah yang tidak mau di TNI-kan segera mengambil alih. Saat pasukan TNI kembali ke wilayah tesebut, ketegangan antara Amir Fatah dan TNI sering terjadi, Amir Fatah pun ikut memproklamirkan berdirinya Negara Islam di Jawa tengah. Akhirnya perlawanan pun terjadi. Perlawanan Amir Fatah tidak terlalu lama. Pada Desember 1951 ia menyerah


Kiai Haji Machfudz (Kyai Sumolangu)

Pemberontakan ini didukung oleh AUI yg awalnya bekerja sama dengan tentara RI dalam menghadapi belanda. Namun kerjasama antara AUI dengan tentara RI mulai pecah ketika pemerintah hendak melakukan demobilisasi AUI. Pada akhir Juli 1950, Kyai Sumolangu melakukan pemberontakan. Sesudah sebulan bertempur, tentara RI berhasil menumpas pemberontakan.
Kahar Muzakar

Pemberontakan ini disebabkan akibat ketidakpuasan para bekas pejuang gerilya kemerdekaan terhadap kebijakan pemerintah dalam membetuk tentara republik dan demobilisasi yang dilakukan di Sulawesi Selatan. Kahar Muzakar yang saat itu berkedudukan sebagai koordinator KGSS meminta seluruh anggota KGSS dijadikan tentara. Namun permintaan ini ditolak karena tidak sesuai kebijakan. Kahar Muzakar tidak menerima kebijakan ini, lalu ia memberontak bersama pasukannya. Selama memberontak ia mengaku sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia Kartosuwiryo. Pemberontakan berakhir pada tahun 1965. Pada tahun ini Kahar Muzakar tewas tertembak dalam suatu penyergapan.

Ibnu Hajar

Ketika penataan ketentaraan mulai dilakukan di Kalimantan Selatan oleh pemerintah pusat di Jawa, tidak sedikit anggota ALRI divisi IV yang merasa kecewa karena diantara mereka ada yang harus didemobilisasi. Suasana mulai resah, penangkapan terhadap mantan anggota-anggota ALRI divisi IV mulai terjadi. Diantara pembelot mantan anggota ALRI divisi IV adalah Ibnu Hajar. Ia berhasil mengumpulkan pengikut dan menamai pasukan barunya dengan nama Kesatuan Rakyat Indonesia yang Tertindas. Kerusuhan mulai terjadi. Akhir tahun 1954, Ibnu Hajar memilih bergabung dengan pemerintahan DI/TII Kartosuwiryo. Konflik dengan tentara republik pun terjadi bertahun-tahun. Sampai pada tahun 1963 Ibnu Hajar menyerah.
Daud Beureuh

Pemicu pemberontakan ini adalah penetapan wilayah Aceh sebagai bagian dari provinsi Sumatra Utara. Para ulama yg tergabung di PUSA menolak hal ini. Mereka menuntut agar Aceh memiliki otonomi sendiri dan mengancam akan bertindak bila tuntutan tidak dipenuhi. Pemerintah berupaya menempuh jalan pertemuan, namun mengalami kegagalan. Akhirnya pada tahun 1953, setelah Daud Beureuh melakukan kontak dengan Kartosuwiryo, ia menyatakan Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia yang dipimpin Kartosuwiryo. Konflik ini pun berkecamuk tak menentu berapa tahun, sampai akhirnya pemerintah mengakomodasi dan menjadikan Aceh sebagai daerah istimewa pada tahun 1959.
Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI)
Terdapat enam teori mengenai peristiwa G30S tahun 1965, yaitu:
Gerakan 30 September merupakan persoalan internal Angkatan Darat
Dikemukakan antara lain oleh Ben Anderson, W.F. Wertheim, dan Coen Hotsapel, teori ini menyatakan bahwa G30S hanyalah peristiwa yang timbul akibat adanya persoalan di kalangan AD sendiri. Letnan Kolonel untung mengatakan bahwa para pemimpin AD bermewah-mewahan dan memperkaya diri sendiri sehingga mencemarkan nama baik AD.
Dalang gerakan G30S adalah dinas intelejen Amerika Serikat (CIA)
Teori ini berasal antara lain dari tulisan Peter Dale Scott atau Geoffrey Robinson. Menurut teori ini AS sangat khawatir Indonesia jatuh ke tangan komunis. Karena itu CIA kemudian bekerjasama dengan suatu kelompok dalam tubuh AD untuk memprovokasi OKI agar melakukan gerakan kudeta.
Gerakan 30 September merupakan pertemuan antara kepentingan Inggris-AS
Menurut teori ini G30S adalah titik temu antara keinginan Inggris yang ingin sikap konfrontatif Soekarno terhadap Malaysia bisa diakhiri melalui penggulingan kekuasaan Soekarno, dengan keinginan AS agar Indonesia terbebas dari komunisme.

Soekarno adalah dalang gerakan 30 September
Teori yang dikemukakan antara lain oleh Anthonu Dake dan John Hughes ini beranjak dari asumsi bahwa Soekarno berkinginan melenyapkan kekuatan oposisi terhadap dirinya yang berasal dari bagian perwira tinggi AD. Karena PKI dekat dengan Soekarno, partai ini pun terseret.
Tidak ada pemeran tunggal dan sekenario besar dalam peristiwa gerakan 30 September
Diikemukakan antara lain oleh John D. Legge, teori ini menyatakan bahwa tidak ada dalang tunggal dan tidak ada skenario besar dalam G30S. kejadian ini hanya merupakan hasil dari perpaduan antara, seperti yang disebut Soekarno: “unsur-unsur Nekolim (Negara barat), pimpinan PKI yang keblinger serta oknum-oknum ABRI yg tidak benar”.

Dalang gerakan 30 September adalah PKI
Menurut teori ini tokoh-tokoh PKI adalah penanggung jawab peristiwa kudeta, dengan cara memperalat unsur-unsur tentara. Daranya adalah serangkaian kejadian dan aksi yang telah dilancarkan PKI antara tahun 1959-1965. Dasar lainnya adalah bahwa setelah G30S, beberapa perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan diri CC PKI sempat terjadi di Blitar Selatan, Grobogan, dan Klaten.
Full transcript