Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

KONFLIK DAN PERGOLAKAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI

No description
by

Bunga Shafa

on 23 August 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of KONFLIK DAN PERGOLAKAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI

KONFLIK DAN PERGOLAKAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI
By : Kelompok 1
PKI ada sejak zaman pergerakan nasional sebelum dibekukan oleh pemerintah Hindia Belanda akibat memberontak pada tahun 1926.

Sejak merdeka sampai awal tahun 1948, PKI mendukung pemerintah yang kebetulan memang dikuasai oleh golongan kiri. Ketika golongan kiri terlempar dari pemerintah, PKI menjadi partai oposisi dan bergabung dengan partai serta organisasi kiri lainnya dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang didirikan oleh Amir Syarifuddin pada bulan Februari 1948. Pada awal September 1948, Muso yang menjadi pemimpin PKI, membawa PKI ke dalam pemberontakan bersenjata yang dicetuskan di Madiun pada tanggal 18 September 1948.


1. Pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) Madiun
Untuk meredam aksi Muso, Pemerintah Indonesia melakukan upaya-upaya diplomasi dengannya, bahkan Pemerintah Indonesia juga mengikutsertakan tokoh-tokoh kiri yang lain, seperti Tan Malaka. Namun, karena kondisi politik sudah terlampau panas, pertengahan September 1948, pertempura antara kekuatan bersenjata yang memihak PKI dengan TNI mulai meletus. Tanggal 18 September 1948, Muso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia.

Di awal pemberontakan, banyak yang menjadi korban termasuk para pejabat pemerintah dan pemimpin partai yang anti komunis serta para kaum santri. Puncaknya adalah ketika Divisi Siliwangi berhasil mendesak mundur pemberontak yaitu ketika Muso tewas tertembak serta ketika Amir Syarifuddin tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.

PKI gagal mengambil alih kekuasaan. Aidit dan Lukman berhasil melarikan diri dan mereka berhasil menjadikan PKI kembali menjadi partai besar di Indonesia sebelum peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Ketidakbersatuan bangsa Indonesia saat itu dimanfaatkan oleh Belanda yang mengira Indonesia lemah, untuk kemudian melancarkan agresi militernya yang kedua pada Desember 1948.





Pemberontakan DI/TII yang meluas di beberapa wilayah Indonesia bermula dari sebuah gerakan di Jawa Barat yang dipimpin S.M. Kartowusiryo yang dulunya adalah salah seorang tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ada sebuah perjanjian yaitu perjanjian Renville yang membuka peluang bagi Kartosuwiryo untuk lebih mendekatkan cita-cita lamanya untuk mendirikan negara Islam. Salah satu keputusan Renville adalah harus pindahnya pasukan RI dari daerah-daerah yang diklaim dan diduduki Belanda ke daerah yang dikuasai RI. Di Jawa Barat, Divisi Siliwangi sebagai pasukan resmi RI pun dipindahkan ke Jawa Tengah karena Jawa Barat dijadikan negara bagian Pasundan oleh Belanda.

Akan tetapi Hizbullah dan Sabilillah yang telah berada di bawah pengaruh Kartosuwiryo tidak bersedia pindah dan malah membentuk Tentara Islam Indonesia (TII). Kosongnya kekuasaan RI di Jawa Barat segera dimanfaatkan oleh Kartosuwiryo. Meski awalnya ia memimpin perjuangan melawan Belanda dalam rangka menunjang perjuangan RI, namun akhirnya perjuangan tersebut beralih menjadi perjuangan untuk merealisasikan cita-citanya. Ia menyatakan pembentukan Darul Islam dengan dukungan TII di Jawa Barat pada Agustus 1948.


2. Pemberontakan DI/TII
Meski upaya menanggulangi DI/TII Jawa Barat pada awalnya terlihat belum dilakukan secara terarah, namun sejak tahun 1959, pemerintah mulai melakukan operasi militer.

Operasi terpadu “Pagar Betis” digelar, yaitu pemerintah menyertakan masyarakat juga untuk mengepung tempat-tempat pasukan DI/TII berada untuk mempersempit ruang gerak dan memotong arus perbekalan pasukan lawan. Melalui operasi tempur, Kartosuwiryo berhasil ditangkap pada tahun 1962 dan dijatuhi hukuman mati, dan berakhirlah pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo.

3. Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI)
Terdapat enam teori mengenai peristiwa kudeta G30S tahun 1965, antara lain :
a. Gerakan 30 September merupakan persoalan internal Angkatan Darat (AD), dikemukakan oleh Ben Anderson, W.F. Wertheim, dan Coen Hotsapel. Teori ini didasarkan pada pernyataan pemimpin Gerakan, yaitu Letnan Kolonel Untung bahwa para pemimpin AD hidup bermewah-mewahan dan memperkaya diri sehinngga mencemarkan nama baik AD. Tetapi Jenderal Nasution, Panglima Angkatan Bersenjata ini justru hidup sederrhana

b. Dalang Gerakan 30 September adalah Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA), berasal dari tulisan Peter Dale Scott atau Geoffrey Robinson. Menurut teori ini, CIA bekerjasama dengan suatu kelompok dalam tubuh AD untuk memprovokasi PKI agar melakukan gerakan kudeta. Tujuan akhir CIA ini adalah menjatuhkan kekuasaan Soekarno.
c. Gerakan 30 September merupakan pertemuan antara kepentingan Inggris-AS, dkemukakan oleh Greg Poulgrain bahwa titik temu antara keinginan Inggris yang ingin sikap konfrontatif Soekarno terhadap Malaysia bisa diakhiri melalui penggulingan kekuasaan Soekarno, denan keinginan AS aagar Indonesia terbebas dari komunisme.

d. Soekarno adalah dalang Gerakan 30 September, dikemukakan ileh Anthony Dake dan John Hughes bahwa Soekarno ingin melenyapkan kekuatan oposisi terhadap dirinya, yang berasal dari sebagian perwira tinggi AD. Namun teori ini dilemahkan antara lain dengan tindakan Soekarno yang ternyata kemudian menolak mendukung G30S. Bahkan pada 6 Oktober 1965, dalam sidang Kabinet Dwikora di Bogor, ia mengutuk gerakan ini.


e. Tidak ada pemeran tunggal dan skenario besar dalam peristiwa Gerakan 30 September (teori chaos), dikemukakan oleh John D. Legge bahwa tidak ada dalang tunggal dan tidak ada skenario besar dalam G30S melainkan hanya merupakan hasil dari perpaduan antara unsur-unsur Nekolim (negara Barat), pimpinan PKI, serta oknum-oknum ABRI yang tidak benar.

f. Dalang Gerakan 30 September adalah PKI, dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh bahwa tokoh-tokoh OKI adalah penanggungjawab peristiwa kudeta, dengan cara memperalat unsur-unsur tentara.
Full transcript